
Entah untuk yang keberapa kalinya. Ali duduk di kafe, di kursi yang sama. Menatap dan mendengar suara anak lelaki yang sama.
Hingga detik ini, ia tidak pernah melihat paras anak lelaki itu dengan jelas. Apalagi bertegur sapa.
Ia tak lebih mengagumi dalam diam.
Apakah nyalinya seciut itu?
Hingga tak berani berkenalan. Tentu bukan, Ali hanya tidak diberi kelonggaran waktu untuk berkenalan. Sebab selalu saja ada telepon masuk, yang mengharuskannya meninggalkan kafe.
Could you find a way to let me down slowly?
(Bisakah kamu mencari cara untuk mengecewakanku secara perlahan?)
A little sympathy, I hope you can show me.
(Sedikit simpati, kuharap kamu bisa menunjukkannya)
If you wanna go then I'll be so lonely.
(Jika kamu ingin pergi maka aku akan begitu kesepian)
If you're leaving baby let me down slowly.
(Jika kamu pergi, sayang, kecewakan aku secara perlahan)
Let me down, down.
(Kecewakan aku)
Let me down, down.
(Kecewakan aku)
Ali menikmati lagunya, hingga tersadar. Jika lirik lagunya, hampir mirip dengan cerita cintanya. Sosok yang ia cintai, benar-benar menyakiti perasaannya secara perlahan. Mengecewakan dan menghancurkan kebahagiaan tanpa disadari.
Sungguh ia belum sepenuhnya bisa menghilangkan cinta kepada Meisya. Belum bisa pula melupakan dan memaafkan kesalahan perempuan itu karena menyuruhnya menikah. Meskipun ia juga tak bisa dibilang benar. Sebab ia tak pernah mencoba mencari tahu alasan Meisya melakukan hal itu.
Ia pun lantas berdiri meninggalkan tempat duduknya. Berjalan keluar dengan langkah gontai.
Tak ia sadari jika anak lelaki berkaus hitam. Melepaskan kepergiannya dengan tatapan penuh tanya.
Ali memutuskan untuk duduk di kursi depan kafe. Dengan keadaan lesu, entah mengapa suasana hatinya berubah. Namun tiba-tiba saja seseorang bertanya, “May I sit in with you?”
Ali yang tadi menatap jalan raya dipenuhi oleh mobil menoleh.
__ADS_1
Lelaki itu tampak tertegun melihat orang yang bertanya padanya. Apa ia sedang berhalusinasi atau memang benar. Ia menggeleng cepat, namun orang itu masih ada kemungkinan memang bukan halusinasi.
“How? Can I sit with you?” tanyanya memastikan.
“Ah ... iya-iya!” jawab Ali tampak gugup.
Sungguh ia tak percaya jika anak lelaki yang ia kagumi. Menyapanya disaat hatinya tidak dalam kondisi baik.
Namun entah mengapa hal itu kian berbeda. Hatinya berdebar penuh kebahagiaan, jauh lebih membahagiakan daripada menjadi lulusan terbaik di fakultasnya dulu.
Namun entah mengapa ia, tidak bisa mengawali pembicaraan.
“Ah....” Mereka serempak mengeluarkan suara. Membuat Ali tertawa, sedangkan anak lelaki itu hanya tersenyum samar.
“Kamu dulu saja,” saran Ali melirik wajah anak lelaki itu. Sebenarnya ia ingin terus memandang. Namun hal itu ia urungkan, sebab boleh jadi akan membuat anak lelaki itu tidak nyaman.
“ May I get acquainted with you?”
(Bolehkah saya berkenalan denganmu?)
Ali berdecak tak percaya, melihat gaya sopan anak yang duduk di sampingnya. Dan meja sebagai penghalang.
“Saya jauh lebih ingin mengenalmu, saya Ali dan kamu?” tanyanya mengajak salaman.
“Aprit?” Ali mengulangi ucapan anak lelaki itu, untuk diingat.
Malam itulah menjadi awal bagi keduanya saling mengenal. Waktu terus berlalu, perkenalkan pertama itu. Selalu diingat oleh Ali sebagai hal yang baik. Hingga tiba suatu waktu, anak lelaki itu bertanya mengenai alasannya yang selalu duduk di kursi nomor 08 di kafe.
Ia tak bisa menjawabnya dengan jujur. Sebab alasan ia duduk di kursi yang sama, hanya untuk anak lelaki itu. Dan benar saja, caranya berhasil. Membuat Aprit penasaran dan datang menghampirinya. Ali tersenyum mengingatnya.
“Ehem, ngapain senyam-senyum pagi-pagi?” kaget Aidin membuat Ali mendengus.
“Seperti orang kasmaran saja? Saya tidak menyangka jika Abang mudah move-on!” kata Aidin berjalan ke meja kerjanya.
“Emamg kamu enggak senang kalau saya senang?” tanya Ali dibalik layar laptop.
“Bukan begitu ... tapi enggak nyangka saja gitu! Baru beberapa bulan.”
“Oh ya sama siapa?” tambahnya lagi seraya membuka map.
“Apanya yang sama siapa?”
“Kasmaranya ... atau jangan-jangan sana advokat itu,” tebak Aidin mengangkat kepalanya yang tadi tertunduk.
Ali mengerutkan keningnya tidak percaya. “Sok tahu, saya sama Airin itu sebatas teman enggak lebih. Terlebih lagi saya dan dia memiliki tembok penghalang yang kokoh, jadi susah untuk bersama,” jelas Ali mengingat beberapa hal yang bertolak belakang dengan Irene.
__ADS_1
“Namun tak bisa saya pungkiri, jika bersamanya saya bisa lupa waktu. Sebab kita nyambung kalau ngomong. Meskipun kadang ada beberapa hal yang incompatible. Namun dari situ pembicaraan justru ngalir, untuk mengetahui alasan dia berpikir seperti itu dan alasan saya menentangnya.”
“Ya siapa tahu, berawal dari lupa waktu, nyaman saat ngobrol. Kebablasan sakabehane....” sahut Aidin dengan nada naik.
“Maksud kamu, saya bisa telanjur nyaman gitu?” Tatapnya penuh intimidasi.
Aidin tersenyum menyeringai.
“Omong kosong! Itu tidak mungkin, jika dari saya pribadi ...sebab ada beberapa hal yang benar-benar tidak sesuai dengan prinsip saya. Begitupun Airin!” tegasnya penuh keyakinan.
“Lah mengapa yang menjadi penghalang?”
“Terlalu kompleks!”
“Childfree kan Li?” sahut seseorang membuat Ali dan Aidin menoleh.
Ali terdiam tak menjawab, apa yang Arfa ucapan adalah salah satu alasan yang bertentangan dengan prinsipnya.
“Enggak juga,” jawabnya datar.
“Menurut Abang, alasan seseorang childfree apa?” Aidin memutarkan kursinya.
“Entahlah, kita enggak bisa menyimpulkan begitu saja bukan?”
“Akan tetapi jika seseorang memutuskan childfree, terus dia bilang. Anak itu sebuah masalah ... itu terdengar kurang tepat. Sebab pada dasarnya ... hidup itu tak lepas dari permasalahan ... akan tetapi sebagai manusia ... kita bisa memilih permasalahan apa yang ingin kita hadapi.”
“Contoh dalam kehidupan pribadi. Saya memutuskan bercerai ...itu berarti saya memilih kesepian. Dan seandainya, saya memilih mempertahankan. Permasalahan yang saya hadapi akan berbeda lagi, entah masalah finansial, adu mulut ...ya masih banyak lagi lah. Sama halnya dengan pilihan lu, belum kawin kan Din?” tanya balik.
“Bisa dibilang ...iya!” Menyengir.
“Pilihan yang kita ambil menentukan konsekuensi apa yang kita dapat. Dan ya, baiknya Airin itu, dia enggak bilang. Buat apa punya anak bikin susah, nyari masalah baru saja. That is not true! Bahkan saya bisa bilang, dia mengakui keputusannya itu tidak sepenuhnya benar.” Memberikan jeda sejenak.
“Tapi kembali lagi, dia tidak memberikan alasan yang detail.”
“Nah, lu tahu darimana Fa?” selidik Ali.
“Dari kakaknya, yang kebetulan ketemu diacara resepsi tetangga!”
“Mungkin enggak sih disaat kita memutuskan belum menikah, atau childfree. Kita bilang saja belum siap menanggung tanggung jawab itu. Jadi kita meredah, bukan bicara yang enggak-enggak. Yang mengiringi seseorang tambah membenci keputusan yang kita ambil,” sela Aidin berpikir.
“Saya setuju karena setiap keputusan yang kita ambil, itu pasti baik untuk kita. Alasan mengapa seseorang tidak setuju dengan keputusan kita, ya karena tidak sesuai prinsip dan pedoman hidup merekakan?” sambung Arfa.
Orang yang paling tepat, menentukan apa yang terbaik bagi diri. Adalah pemilik raga. Bukan orang lain.
TBC ...
__ADS_1