
Sadari tadi Ali terlihat melamun, melihat hal itu Aidin yang tempat kerjanya kebetulan berhadapan dengan Ali. Ia memperhatikannya.
‘Apalagi yang ada dalam pikirannya? Ini kali pertama aku melihatnya bingung, setelah pergi ke psikiater' batinnya melirik Ali yang duduk bersandar sambil memainkan bolpoin di tangan.
Nyatanya Aidin yang notabenenya sahabat sekaligus rekan kerjanya. Bisa merasakan tahapan perubahan yang terjadi pada diri Ali. Pasca menjalani terapi CBT.
“Cari makan Bang!” ajak Aidin mengetuk meja Ali.
“Apa?” Ali tersadar dari lamunannya, dan kembali bertanya, ketika mendapati Aidin berdiri di sampingnya “Sejak kapan kau di sini?”
“Duh Gusti ... makanya jangan ngelamun. Biar awareness pada keadaan,” sinis Aidin melipat kedua tangannya di dada.
Ali berdecak mendengar bantahan Aidin.
“Mau ngajak apa?” tanyanya kembali, namun sebelum Aidin menjawab. Terlebih dulu ia berucap, “Kalau ngajak cari makan, untuk saat ini enggak bisa. Ada hal yang harus saya selesaikan ... Akan tetapi kalau kamu mau take way untuk saya ... masih bisa diterima,” imbunya menepuk pundak Aidin. Membuat sang empu, memasang wajah jijik. “Cih ... ogah banget,” ketus Aidin.
Ali berdiri dari duduknya. Dan berlalu meninggalkan ruangan.
“Anjirr ...dikacangin,” dengusnya ketika melihat Ali keluar ruangan.
“Mau kemana sih tuh orang, lagaknya mencurigeni....”
“Eits ...panas dong masa mencuri kok api(geni). Yang lebih ekstrim dong, maling kutang.” Aidin terkekeh dengan jokes bahasa Jawanya yang keluar dari mulutnya begitu saja.
...***
...
Di sebuah ruangan dua lelaki itu saling berhadap-hadapan.
Sebelum memutuskan untuk bertemu dengan ayahnya, tentunya Ali sudah memberi kabar terlebih dahulu. Entah mengapa melihat wajah ayah Brahmanta.
Ia jadi teringat dengan cerita Wan Aina Seminggu yang lalu. Namun sekuat tenaga ia tak memperlihatkan kekecewaan yang mendalam itu.
__ADS_1
“Ada apa Li? Jarang-jarang kau mau menyisihkan waktu untuk bertemu denganku. Apa kau sudah siap, meneruskan perusahaan ini?” tanyanya mengawali pembicaraan. Seraya melirik tangan anaknya yang masih menggunakan gendongan. “ Sudah dua bulan, kenapa tidak ada perubahan?” tanyanya lagi, yang tak memberikan kesempatan. Kepada putranya untuk menjawab.
Ali mendengus, sepertinya pertanyaan terakhir ayahnya. Lebih mengenai perasaannya.
Apa ada yang Ali sembunyikan dari orang lain?
“Entahlah ..tapi ....”
“Ada hal penting yang harus Ali sampaikan pada Ayah!” Namun ucapannya terhenti ketika mendengar pintu diketuk dari luar.
“Masuk!” jawab Brahmanta dingin.
Pintu dibuka dari luar, masuklah lelaki berumur kurang lebih sama dengan umur putranya. Lelaki itu menenteng dua plastik berisi makanan.
“Permisi Pak! Saya mengantar makanan yang Anda pesan.” Meletakkannya di meja dekat sofa.
“Kau bisa keluar,” titah Brahmanta, membuat asprinya mengangguk paham.
Tak sengaja mata Aspri itu bersilobok dengan manik Ali. Namun entah mengapa Aspri itu langsung melengos dan memutuskan untuk keluar.
Membuat Ali mengikuti langkahnya.
“Kalau boleh Ali menyampaikan pendapat. Jika Ayah benar-benar menginginkan aku, meneruskan pekerjaan Ayah. Aku ingin cucunya mbok Inah, diangkat menjadi tangan kanan Ayah!”
Brahmanta yang tadi sedang mengeluarkan kardus pizza, terhenti ketika Ali menyampaikan pendapat.
“Memangnya kenapa? Ayah kan sudah ada Aspri! Dan enggak semudah itu....”
“Terlalu banyak alasannya ...oleh karena itu Ali ingin cucunya Mbok Inah, jadi tangan kanan Ayah....”
“Dan ya, enggak ada yang sulit jika diusahakan,” tukasnya kembali.
“Kamu kesini mau bahas tentang perusahaan?”
__ADS_1
Ali menggeleng menyuapkan pizza ke dalam mulutnya dengan tangan kirinya. “Enggak ... hanya saja karena Ayah bicara perusahaan. Ali jadi ke pikiran untuk menjadikan Nazel sebagai tangan kanan Ayah!” jawabannya santai kembali mengambil satu potong pizza lagi.
Melihat hal itu, hati Brahmanta bahagia. Selain bakpao buatan ibunya, Ali juga menjadi pizza sebagai makanan yang ia sukai.
“Ya alasannya apa? Ayah harus tahu itu
“
“Intinya jika Nazel, masuk di perusahaan jadi tangan kanan Ayah. Itu akan membantuku, ketika aku telah siap bertanggung jawab atas perusahaan ini. Dia bisa menjelaskan tentang beberapa hal dan membimbingku untuk menjalankan perusahaan.”
“Terlebih lagi ia lulusan terbaik, dan aku lihat dia punya potensi besar dalam hal ini. Jangan hanya dijadikan sopir pribadi. Ali meminta Ayah membiayai pendidikannya bukan hanya dijadikan sopir. Lingkungan kita membutuhkan inovasi, dari generasi mendatang. Tujuannya untuk maju lebih cepat. Ketimbang harus menunggu mereka berumur kepala tiga. ”
Brahmanta terdiam, sadari dulu putranya enggan berurusan dengan asprinya bernama Randy. Entah apa alasannya.
“Kamu ke seni mau ngebahas apa?” katanya menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
Ali terdiam, menghabiskan sisa makanan yang ia kunyah. Sebelum akhirnya menenggak air, untuk membersihkan mulutnya. Ia menarik nafas panjang, rasanya begitu berat untuk mengatakan maksud kedatangannya menemui ayahnya.
...***
...
Pemuda itu bersiul berjalan masuk ke dalam ruangan. Dan menenteng plastik makanan. Dahinya berkerut ketika tak mendapati siapapun.
“Ini Abang kemana? Kenapa belum balik?” gumam Aidin heran.
Pemuda itu celingak-celinguk. Bersamaan dengan itu sang empu baru masuk ruangan dengan wajah tertekuk.
Melihat hal itu Aidin jadi pemasaran, namun ia memutuskan untuk tidak terlalu kepo dengan urusan orang.
“Bang, tadi saya bungkusin makanan. Nanti langsung TF saja ke rekening,” selorohnya ketika Ali memegang kresek yang teronggok di meja kerja.
Namun sang empu tidak menanggapi.
__ADS_1
TBC...