
Malam itu Ali bersandar di kepala ranjang. Menunggu Meisya keluar dari kamar mandi. Ia tampaknya tak sabar. Untuk bertanya siapa dalang yang berhasil mencuci otak istri pertamanya.
Pintu terbuka, membuatnya menoleh. Dilihatnya istrinya sedang mengelap wajah. Kemudian merangkak naik keranjang dan memijat kakinya.
“Bib....”
“Hem...” Alisnya menyatu, ketika Meisya mencebikkan bibirnya.
“Ada apa?” tanyanya melihat Meisya yang ingin menyampaikan sesuatu. Namun terlihat enggan.
“Enggak jadi!” Menggeleng cepat.
“Kalau kamu enggak terbuka, bagaimana aku bisa paham dan mengetahui keinginanmu.”
Mengalihkan pandangannya ke layar televisi yang menyala.
“Emmm ....” Meisya menggigit bibir bawahnya sebelum melanjutkan ucapannya, “Sebenarnya lima Minggu terakhir ini. Kamu kenapa setiap hari Sabtu sering keluar?” protesnya.
Ali terdiam, ternyata istri pertamanya menyadari perubahan waktunya.
“Memang kenapa?” jawabannya santai.
“Ya enggak kenapa-napa, biasanya kan Sabtu-Minggu kamu habiskan untuk bersama istri-istrimu.” Meisya menatap Ali, tangannya terus memijat.
“Cari suasana baru saja ...jujur sampai detik ini. Aku belum bisa menerima kenyataan bahwa aku kini, suami dari dua perempuan. Ini bertentangan dengan nilai yang aku pegang,” ujarnya santai.
Setelah bertemu dengan psikiater, ia lebih bisa meregulasi emosinya. Bahkan ia juga menerapkan jalur terus terang saat menyampaikan pendapatnya dengan lawan bicaranya.
Pemilihan kalimat dan nada yang santun. Tanpa memojokkan lawan bicaranya. Adalah pilihannya.
“Seperti ...kamu yang enggak mau bersentuhan dengan lawan jenis. Meskipun kau dalam keadaan darurat....”
Meisya tertunduk merasa bersalah. Ia tahu bagaimana susahnya menerima perkara yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang selama ini menjadi pedoman hidup.
“Aku minta maaf Bib! Karena keputusanku kau bertentangan dengan nilai yang kau pegang. Dan ini mungkin, membuatmu tidak bahagia,” cicitnya pelan menahan tangis.
Ali menghela nafas berat, mengulurkan tangannya dan menggenggam erat tangan Meisya.
“Boleh aku bertanya?” tanyanya yang membuat Meisya mengangkat kepala dan menatap maniknya.
Perempuan itu mengangguk lemah.
__ADS_1
“Jujur saja, waktu di rumah Abah. Aku sempat menganalisis alasan seseorang ingin dimadu,” ungkapnya yang membuat Meisya terkejut.
Perempuan itu melengos.
Sedangkan Ali merasakan sinyal amarah yang mulai aktif dalam hatinya. Ketika terbesit statusnya direndahkan. Ia menarik nafas panjang, menahan emosi negatif itu.
Boleh jadi apa yang ia pikirkan salah dan keliru.
“Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hal ini. Pertama tekanan dari diri sendiri, tekanan dari suami, dan yang terakhir tekanan dari lingkungan....”
Meisya memejamkan matanya, ada rasa nyeri. Ketika mendengar penjelasan suaminya.
“Sebagai seorang suami ... aku tidak pernah menekanmu. Stelah hasil tes keluar, apakah perilaku suamimu ini berubah?” tanyanya dengan bola mata yang terus bergerak. Pertanda ada sesuatu yang ia tahan.
Meisya terdiam, lagi-lagi ia tertunduk. Perempuan itu tidak merasakan perubahan yang cukup besar pada suaminya. Ketika hasil tes keluar. Bahkan Ali justru lebih perhatian padanya.
”Ayo jawab, apa aku mencapakanmu? Atau justru aku sering bicara kasar padamu, setelah hasil tes itu keluar?”
Meisya menggeleng sekuat tenaga, menahan tangisannya.
“Tidak ...itu tidak terjadi hiks,” ujarnya menutup mulut suaminya.
Dada Ali naik turun, mendapati istrinya menangis tersedu-sedu memeluknya.
“Lantas jika itu tidak terjadi .... mengapa kau memaksaku menikah?”
“Jujurlah padaku, kau mendapat tekanan dari mana. SEHINGGA KAU TAK MENGHARGAIKU SEBAGAI SUAMIMU....” Murka Ali berusaha melepaskan pelukan istrinya.
Meisya terkejut ketika Ali mendorongnya. Perempuan itu mendongak, menatap suaminya berdiri di samping ranjang dengan rahang yang mengeras menahan amarah.
Pada dasarnya manusia menang lebih sensitif jika harga dirinya diredakan. Ya mungkin itu yang Ali rasakan.
“Dengan kamu mengikuti pendapat seseorang, mengenai rumah tangga kita. Itu berarti ...kamu telah merendahkan statusku sebagai seorang suami,” ujarnya berusaha menahan teriakan.
“Ingatlah status suami itu lebih tinggi. Dan seorang istri harus mengikuti, selagi itu tidak bertentangan dengan agama yang kau pegang!” ujarnya berjalan keluar kamar untuk meredam emosinya.
Namun langkahnya terhenti ketika seseorang memeluknya dari belakang. Ia meringis saat tangan kanannya bersentuhan dengan milik Meisya.
“Bib ... jangan pergi hiks ... aku menyesal karena telah melukai egomu....”
Mendengar hal itu Ali memejamkan matanya, untuk meredam emosi yang belum bisa ia kendalikan sepenuhnya. Ia sadar, bahwa dirinya juga bersalah. Mengapa dulu mengikuti ucapan istrinya untuk menikah kembali. Terlepas dari sumpah yang istrinya katakan. Hal ini menunjukkan jika ia lelaki yang tak berprinsip.
__ADS_1
“Sekali lagi aku tanya. Siapa yang berhasil memprofokasi dirimu? Ucapan siapa?” Giginya bergemeretak, tangan kirinya mengepal.
Meisya terdiam tidak menjawab, perempuan itu hanya menyembunyikan tangisannya dibalik punggung sang suami.
Melihat tidak ada respons dari sang istri. Ali geram dibuatnya, ternyata istri pertamanya benar-benar tidak mau jujur padanya.
“Baik ...kalaukalau begitu, lepaskan pelukanmu. Aku akan tidur di ruang tamu,” gertaknya melepaskan tangan istrinya yang memeluknya dari belakang.
“Enggak mau,” sanggah Meisya semakin mengeratkan pelukannya.
Tak sadar jika itu bisa menyakiti tangan suaminya.
“Kalau begitu jawab pertanyaanku.”
“Kalau aku menjawab, apa kau akan percaya?” Memiringkan kepalanya untuk melihat mimik suaminya.
“Hem!”
“Kalau itu tekanan dari diriku sendiri apa kau percaya? Aku mengatakan yang sesungguhnya....”
“Omong kosong ...kau mempermainkanku!” Ali melepaskan pelukan istrinya dan berjalan cepat kearah pintu.
Namun Meisya segera berlari menghadangnya. Perempuan itu merentangkan kedua tangannya didepan pintu agar sang suami tidak membuka pintu.
“Aku tidak sedang bercanda kali ini. Minggirlah....”
“Aku juga tidak mau kamu keluar dari kamar ini....” cicitnya pelan.
“Aku lelah jika harus berdebat seperti ini. Cepat minggir!” teriak Ali tak sampai hati berperilaku keras pada istrinya.
“Aku tahu, makanya aku ingin kau dikamar. Tidur bersamaku,” ujarnya berharap.
“Kau bahagia dengan keadaan sekarang?” tanya Ali yang membuat istrinya mengerutkan keningnya.
“Maksudku berbagi suami....”
Meisya menunduk dalam tidak menjawab. Bibir Ali tertarik keatas, sebab pertanyaannya kali ini, telah mewakili semua jawaban dari semua pertanyaannya.
“Kesimpulannya adalah kamu menyuruhku menikah lagi. Bukan atas kehendakmu, melainkan kau telah diprofokasi oleh seseorang. Dan sekarang kau tidak bahagia ... atau bahkan menyesali ...keputusan yang telah kau ambil.”
Detak jantung Meisya berhenti sesaat, perkataan suaminya begitu menohok dan benar.
__ADS_1
TBC...