Kau Rela Ku Lepas

Kau Rela Ku Lepas
Ch34 : A Three S Two


__ADS_3

Gelak tawa terdengar nyaring. Dari dalam ruangan VIP.


Ketukan pintu dari luar, berhasil membuat lima lelaki yang asik bersenda gurau terhenti.


“Masuk,” ujar lelaki berbaju pasien yang menyandarkan punggungnya di ranjang rumah sakit.


Setelah mendapatkan izin, Meisya pun langsung masuk ke dalam ruangan. Perempuan itu menangkupkan kedua tangannya, seraya memberikan salam kepada sahabat suaminya.


“Akhirnya Ibu negara datang juga,” ujar Aidin yang duduk di ujung ranjang dekat kaki pasien.


“Wah ... terima kasih atas kunjungannya,” puji Meisya kepada teman suaminya.


Yang ia kenal sebagai geng A3S2 (A Three S Two). Yang ia ketahui, nama geng A3S2 diambil dari inisial kelimanya.


“Ya sudah begini saja, silahkan mengobrolnya dilanjut. Saya izin keluar, Bib aku tunggu diluar ya,” pamitnya kepada suaminya.


Ali mengangguk menyetujui.


Meisya terkejut ketika membuka pintu, bertatapan dengan Wan Aina yang akan masuk.


“Kok keluar Mbak?” tanya Aina canggung.


“Temannya datang, tidak enak rasanya. Jika saya berada di tengah-tengah mereka,” jawab perempuan itu menutup pintu.


Memutuskan duduk di kursi tunggu.


Suasana canggung itu terjadi ketika Wan Aina. Memutuskan untuk duduk di samping Meisya. Hubungan keduanya untuk saat ini belum membaik. Namun rasa dendam, sesungguhnya tak benar-benar ada. Hanya ego yang menjadi penghalang untuk memperbaiki keadaan.


“Tadi Ayah, datang!” pungkas Wan Aina.


“Sendiri?” Melirik kearah istri muda suaminya.


Wan Aina mengangguk pelan.


Jika di luar ruangan keadaan begitu canggung. Maka lain halnya di dalam. Lima sahabat itu saling melemparkan candaan.


Yang berhasil membuat Ali terhibur.


“Berarti tadi malam itu, posisinya mau pulang. Soalnya mobil lu menghadap ke barat Bro!” kata Setefan, pria itu memang menyempatkan diri untuk pergi ke TKP. Setelah mendapatkan informasi dari Arfa


Flashback on.


Mobil Alphard berwarna putih itu melaju dari berat. Dengan kecepatan tinggi. Hujan deras yang mengguyur kota Jakarta. Membuat sebagian pengendara sulit untuk melihat kondisi jalan.

__ADS_1


“Astagfirullah,” pekik Ali ketika mengetahui jika di depannya ada truk yang melawan arus. Lelaki itu memutuskan untuk banting setir. Guna menghindari truk tangki tersebut. Namun naas mobilnya justru membentur pembatas beton. Yang mengakibatkan mobil Alphard itu terombang-ambing, menghadap ke barat.


...***...


“Bayangan lu waktu itu apa Li?” tanya Sean.


“Mati ...seandainya nih ada mobil dari belakang. Dengan kecepatan tinggi, wasallam Bro... Lu tahu? Saya di dalam mobil itu pilihannya hanya dua mati dan tidak selamat. Alhasil gua berusaha ngerem dan kembali menabrakkan mobil gua ke beton lagi.” ujarnya menceritakan kronologis kejadian sebelum ia tak sadarkan diri.


“Tapi jujur nih ... kalau gua lihat dari mobil lu yang ancur dan ringsek. Orang pasti beranggapan penumpangnya enggak selamat,” monolog Setefan.


MembuatMembuat Ali meringis.


“Stef yang ancur kan bagian kiri! Sedangkan posisi setir ada di kanan.” Arfa menceletuk.


“Tapi Fa, selaku bystander yang terakhir. Gua setuju dengan pernyataan Stef barusan.”


“Jujur nih ...Li, gua baru buka grup chat jam setengah sepuluh. Arfa ngasih informasi lu kecelakaan itu jam setengah delapan. Di susul Stef mengirim gambar mobil lu yang ringsek, jam sembilan kurang. Melihat isi chat, gua langsung lemas seketika. Satu yang ada di bayangan gua waktu itu. Gua kehilangan satu sahabat,” papar Sean yang membuat Ali berpikir.


Apakah ini sebuah anugerah?


Jika mengingat semua orang menganggap, ia tak terselamatkan dari kejadian naas dini hari tadi.


“Gua kesal, Aidin yang biasanya heboh. Cuma diam enggak muncul-muncul. Biasanya dia kan pemberi informasi terfalit,” tambah Sean menepuk pundak Aidin, yang hanya diam sadari tadi.


Melihat hal itu Ali hanya terkekeh, ia tahu. Pasti Aidin shock dengan kabar kecelakaannya. Mengingat jika tadi malam Aidin orang terakhir yang ia temui.


“Lu tahu darimana Fa?” selidik Ali.


“Sopir pribadi Bokap lu!”


Ali mengangguk paham, teman se-kantornya memang tidak ada yang tahu. Jika ia putra dari pak Brahmanta. Namun Arfa yang sadari SMP mengenalnya pasti tahu. Mengingat dulu pernah menginap di rumahnya. Dan dari situ ketiga sahabatnya perlahan juga mengetahui kebenaran tentangnya.


“Gimana Bang rasanya di smackdown mesin?” kekeh Aidin.


“Istilah biasanya nyemackdown perempuan.” Kembali Aidin berucap dengan alis bertaut.


Sontak Ali menendang bokongnya yang kebetulan duduk diujung ranjang pasien.


“Sialan, mentang-mentang saya punya dua istri. Jadi kamu bebas menghina dan memperolok-olok status saya,” ujarnya dengan raut wajah datar.


Membuat ketiga sahabatnya menahan tawa.


“Ya sudah, kalau begitu kita perolok-olok status Pak Bos sebagai duren,” ujar Aidin nyengir.

__ADS_1


“Heh Merki, lu enggak usah ngajak-ngajak yang enggak benar. Gini-gini saya pernah nyemackdown wanita ya, jadi saya sudah masuk katagori. Lelaki tulen ...lihat saja produk luncuran saya. Sangat lucu....” Arfa memperlihatkan foto putrinya yang kebetulan dijadikan sebagai wallpaper.


Aidin tersenyum kecut. Arfa menyindirnya sangat santai. Namun mengenai mental.


“Stef, mobil saya kira-kira masih bisa diperbaiki enggak?” tanya Ali berharap mobil pertama yang ia beli dengan jernih payahnya sendiri.


Masih terselamatkan.


“Masuk ke rosokan,” jawab si ahli otomotif.


Ali menelan ludahnya kasar. “Memang bentuk mobilnya seperti apa? Coba lihat gambarnya,” ujarnya yang membuat Arfa mendekat dan memperlihatkan foto mobil berwarna putih.


*Astagfirullah,” ucapannya lemas.


Melihat hal itu para sahabat memberi nasehat.


“Li ...dengar, mobil memang tidak bisa diselamatkan. Tapi lu yang selamat ... terlebih lagi. Melihat kondisimu, tidak terlalu parah. Bahkan gua bilang 25% enggak ada. Lu enggak kehilangan ingatan, anggota tubuh masih lengkap. Itu saja sebuah kebesaran.”


“Paling-paling recovery tangan sebulan paling lama tiga bulan. Biaya rumah sakit, juga enggak nyampai puluhan juta. Jadi bisa gua bilang, hal ini tidak ada apa-apanya dibanding mobil,” tukas Sean.


“Mentang-mentang jurusan akuntan ... semua diperhitungkan, brengsek lu Sean!” timpal Ali yang membuat tawa.


“Bagaimana pun itu harta yang saya miliki,” tambahnya lagi.


“Sudah saatnya di kurangi Bang!” sahut Aidin menepuk kaki Ali.


Setelah pembicaraan hampir empat puluh menit, geng A3S2 pamit. Namun lain halnya dengan Aidin, yang masih berbicara dengan Ali.


Hal itu membuat Arfa yang berada di ambang pintu. Memanggil namanya.


“Ki ayo...!”


Aidin menoleh sebentar kemudian menatap Ali.


“Bagaimana mau tetap dilanjutkan?”


“Lanjut, saya percayakan ke kamu. Sudah saatnya pikiran saya waras,” ujarnya dengan suara berat.


Kehilangan mobilnya menambah beban pikiran tersendiri. Padahal beban yang satu belum juga terselesaikan.


Sadari masuk dalam ruangan, Meisya ingin menghamburkan tubuhnya kearah suaminya. Ingin bicara panjang lebar. Namun semua itu harus ia tahan, mengingat jika Wan Aina lebih mendominasi.


Tiga kali sesi makan, Wan Aina yang selalu menyuapi suaminya. Melihat hal itu, Ali pun merasa tidak enak. Lelaki itu paham betul, saat ini Meisya merasa bersalah. Dan tak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Oleh sebab itu istri pertamanya hanya diam.

__ADS_1


'Kau istimewa dan selalu begitu' batinnya menatap Meisya yang duduk di sofa sambil menatap mushaf di layar ponsel.


TBC...


__ADS_2