
Manusia yang terbiasa bekerja, setiap harinya. Mungkin akan merasakan ada hal yang kurang, jika tidak melakukan aktivitas tersebut.
Sama halnya dengan Ali, Seminggu lebih, ia tidak duduk di kursi kerjanya, memantau layar laptop. Berdiskusi dengan rekan teamwork-nya. Hingga melakukan presentase di depan banyak kelien.
“Kamu istirahat dulu saja, masih ada beberapa hari lagi. Untuk bekerja,” kata Meisya, ketika pagi-pagi suaminya. Memberi tahu jika ingin bekerja.
Padahal jelas tertulis dalam surat, kantor memberikan izin selama dua Minggu.
“Tidak bisa begitu, aku itu seorang karyawan kantor. Yang memiliki tanggung jawab penuh dalam kerjaan.”
Lelaki itu berjalan kearah meja kerjanya. Memasukkan laptop dengan tangan kirinya.
Melihat suaminya kesusahan, Meisya segera membantu.
Ali terdiam, membiarkan istrinya mengambil alih pekerjaannya. Tak bisa ia pungkiri. Beberapa hari ke belakang ini. Semua pekerjaannya terbengkalai, sebab ia hanya bisa menggunakan satu tangannya saja.
Satu pelajaran yang ia dapatkan dalam musibahnya itu. Rasa syukur dikala tangannya baik-baik saja tidak pernah terucap.
Namun ketika tangannya patah, ia sadar. Jika fasilitas yang Tuhan berikan. Memiliki sebuah tujuan seperti kebaikan, kemudahan, dan ibadah.
Lantas bagaimana dengan orang yang terlahir cacat?
Atau seseorang yang kecelakaan kehilangan anggota tubuhnya?
Itulah yang menjadi renungannya akhir-akhir ini. Dari renungannya, ia berpikir.
Bahwasanya Tuhan, memiliki cara yang begitu dahsyat untuk kehidupan penyandang difabel. Pepatah mengatakan ‘dibalik kelebihan ada kekurangan'.
Ia juga memiliki sebuah quote. Bagi difabel.
‘Dibalik keterbatasannya, tersimpan kelebihannya'
“Benar kamu mau kerja hari ini juga?” tanya Meisya meyakinkan dirinya sendiri.
“Hem, bagaimana lagi. Sudah Seminggu tidak ada income sama sekali. Yang ada pengeluaran membengkak. Biaya rumah sakit untuk check up. Belum lagi keperluan rumah tangga. Rasanya pengeluaran bulan ini bareng semua, pajak tanah, hingga mobil. Bikin kepalaku ingin meledak saja.”
“InsyaAllah semua pasti bisa terlewati. Kan masih punya tabungan, butik alhamdulillah lancar, kita bisa menggunakan uang itu dulu,” sahut Meisya mengelus pundak suaminya.
“Andai saja aku tidak memiliki dua istri. Pasti tidak seruwet ini.”
Perkataan yang keluar dari mulutnya. Berhasil membuat Meisya tersinggung. Dan merasa bersalah.
Tepat jam setengah tujuh, lelaki itu sudah duduk di kursi makan. Menunggu istrinya menyiapkan makanan. Ia memicikkan mata, ketika mendengar suara desisan dari mulut istrinya.
Membuatnya mengalihkan pandangan dari ponsel ke wajah istrinya.
“Kamu kenapa, sakit?”
Raut khawatir terpasang di wajahnya. Ketika melihat wajah istrinya pucat.
“Nggak, sudah ayo dimakan,” jawab Meisya tersenyum, satu tangannya mencekam perutnya yang nyeri.
Namun ketika tatapan mata suaminya mengarah perut, Ia segera melepaskan. Mengambil gelas untuk diisi air.
“Apa nanti mau aku antar?”
Inilah cara yang tepat mengalihkan pembicaraan.
Dengan konsep bertanya lebih dulu.
“Tidak perlu, aku sudah pesan grab. Kamu benar enggak apa-apa?” tanya Ali penuh selidik.
__ADS_1
“Apa aku harus jingkrak-jingkrak untuk membuatmu yakin. Jika aku fine-fine aja?”
“Ingat jangan lupa makan, dan minum obat magg.” Ali kembali meningkatkan, seraya mengunyah sisa makanan dalam mulutnya.
“Aku berangkat,” ujarnya hanya menghabiskan separuh makanannya.
***
Pertama kali masuk kerja dengan satu tangan digendong.
Terlihat meragukan bukan?
Mungkin sebagian orang meragukan kemampuannya.
Apa yang ia bisa lakukan dengan satu tangannya itu?
Bercengkerama dengan keyboard laptop saja butuh dua tangan.
Namun hari itu ia berusaha melakukan sesuatu yang ia bisa.
Selebihnya jika memang ia merasa butuh bantuan, meskipun tidak dianjurkan.
Untuk merepotkan orang yang seteam dengannya.
Dengan berat hati ia harus melakukannya.
“Pak Ali sudah masuk?” tanya Miranda terkejut.
Mendapati Ali yang tengah duduk di kursi kerja.
Ali mengangguk kecil.
“Oh ...ya Mir nanti seandainya saya membutuhkan bantuan. Tolong di bantu.”
“Pasti Pak! Santuy kita bekerja pakai otak bukan otot.” Miranda tertawa renyah seraya menghempaskan bokongnya di kursi kerja.
“Kalau menurut saya dua-duanya, kita pakai otak juga otot. Sesimpel saat kita meprint dokumen. Pertama otak kita yang bekerja, untuk memahami cara ngeprint. Setelahnya baru menggunakan otot jari kan?” ujarnya memantau laptopnya.
“Berarti maksud Pak Ali, manusia itu harus berpikir dulu sebelum melakukan sesuatu.”
“Memang manusia, dibedakan dari hewan dan tumbuhan. Kan tujuannya untuk itu. Berpikir baru bertindak.”
“Berarti kalau ada seseorang yang melakukan sesuatu tanpa berpikir, itu layaknya hewan Pak? Ambil contoh yang lagi hits Pak! Perselingkuhan, KDRT, pembunuhan karena harta warisan ... Mungkin....”
“Semua itu masuk kategori dipikirkan. Karena mau selingkuh harus ngatur strateginya, gimana caranya enggak ketahuan. Mau bunuh orang pun sama. Akan tetapi, yang mereka pikirkan tertuju pada rasa puas ...apa yang ia dapat.”
“Bukan konsekuensinya. Sebab saat memutuskan untuk membunuh, dan berselingkuh. Mereka dikendalikan oleh nafsu dan keserakahan. Untuk KDRT mungkin, karena memang dia temprament ... dan pandangan saya meyakini. Saat melakukan kekerasan itu dia sadar. Jika yang dilakukan itu salah.”
“Tapi kenapa tetap dilakukan?”
“Mungkin dia tidak bisa mengendalikan dirinya. Bukankah hal seperti ini sering terjadi ketika kita sedang marah dan kesal? Entah itu melukai diri, barang atau justru orang yang berada di sekitar kita,” ujar Ali menghela nafas berat.
Apa yang ia katakan adalah yang pernah ia lakukan.
Namun bedanya ia melakukan kekerasan verbal.
“Tapi menurut pandangan saya pribadi. Emosi dan temperamen adalah dua hal yang berbeda Pak! Emosi lebih menjorok kepada perasaan yang dirasakan saat kita merasa terancam dengan suatu keadaan. Ini tanda kutip, kalau emosi marah. Sebab emosi dasar, ada 6 terkejut, takut, marah, senang, jijik, dan sedih.”
“Sedangkan untuk temperamen ini lebih mengarah pada sikap bawaan seseorang, dan bagaimana seseorang itu berperilaku ketika merasakan suatu emosi tersebut. Biasanya mereka cenderung keras, egonya cukup besar. Mereka mempunyai banyak tuntutan baik untuk dirinya sendiri atau orang lain.”
Ali bernafas lega, ketika ia mendengar penjelasan Miranda tentang perbedaan emosi dan tremperamen. Setidaknya amarah yang sering terjadi padanya, bukan bagian dari habitnya. Melainkan perasaan yang belum sepenuhnya bisa ia kontrol.
__ADS_1
“ It’s so time ghibah,” suara cempreng itu berhasil membuat keduanya mengalihkan pandangannya.
Ali melengos mendengar suara cempreng yang memenuhi ruangan.
“Bukan ghibah Mis, melainkan discussion,” sanggah Miranda tidak terima.
“Tidak ada bedanya juga kali Mir!” ungkap Deandra kepala divisi umum.
Ruang kerjanya ada dibawah lantai ruangan Ali.
“Tentu beda ...kalau ghibah objeknya tertuju pada orang lain. Lebih sering membahas keburukan. Tapi kalau discussion mencakup semua aspek kehidupan. Menyampaikan pendapat, memecahkan masalah, dan lebih mendominasi seorang untuk belajar dari kesalahan orang lain. Maupun dari diri sendiri. Bukan main hakim sendiri.”
“Oh ya ... omong-omong kenapa Mimisan kemari, cari mas Aidin?” tanya Miranda, telanjur hafal sifat Deandra yang datang ke ruangnya.
Hanya untuk menguber perjaka tua yang karismanya tidak luntur.
Ali tidak bisa menahan tawanya dibalik layar komputernya. Tidak bisa dibayangkan seorang Aidin yang sangar dari gaya berpakaian dan tatanan rambut fadenya. Harus tikus-tikusan dengan Deandra, yang lebih akrabnya dipanggil mimisan. Alasannya Cuma satu karena wanita itu sering memakai lipstik tebal nan merah bak darah.
“Nah tuh Mas Aidinnya datang.” Miranda terkekeh melihat Aidin tersenyum kecut.
Sadar akan keberadaan Deandra. Perempuan dengan rambut dikuncir itu langsung membalikkan badannya.
“Ada apa nyari saya Mouse ...eh Mis maksudnya....”
Ali menutup mulutnya dengan kepalan tangannya. Meredam tawanya, ketika Aidin memanggil Deandra dengan panggilan hewani.
“Astagfirullah, Mis Deandra! Itu kenapa mulutnya merah? Apa tadi sebelum berangkat makan ayam mentah,” ketus Aidin membuat Deandra mencebikkan bibir.
“Ih ...Mas Aidin, kalau ngomong itu suka nyakitin hati orang,” jawab Deandra menghentakkan satu kakinya kesal.
“Kalau enggak mau disakiti, jangan keluyuran ke divisi lain, Mis! Kerja .... kerja....*
“Mir, lu udah ngeprint file ke bentuk dokumen kan?” tanya Aidin, tak peduli dengan keberadaan Deandra.
“Sudah Mas!”
“Lu ngapain masih disini? Sudah masuk jam kantor,” tegas Aidin melirik Deandra yang berdiri di sampingnya.
Melihat Deandra pergi menjauh, Ali mulai angkat bicara. “Layak jomblo orang model lu kayak kanebo kering.”
“Lah orang nyari itu yang normal. Bukan kayak model layangan putus. Jalan saja bawanya enggak santai, jingkrak-jingkrak mulu. Abang loh yang ngasih nama layangan putus, awas saja nanti anaknya kayak Deandra....”
Aidin tersenyum penuh kemenangan. Melihat Ali membeku beristighfar, mungkin takut jika sumpah serapah terealisasikan.
Tak terasa jam menunjukkan pukul setengah dua belas. Kedua sahabat itu berjalan keluar ruangan untuk mencari makan
“Oh ya Bang, saya sudah menemukan psikiater yang pas,” ungkap Aidin membuka obrolan.
Ali yang berjalan di sampingnya melirik sejenak. “Oh ya dimana?” tanyanya antusias.
“Jarak sepuluh menit dari kantor. Dengan jalan kaki.”
“ Lisensi dan izin praktik resmi enggak nih?” tanya Ali waspada.
“Jelas udah tervalidasi dari masyarakat. Tinggal Abang buat jadwal yang tepat untuk bertemu, saya kirim nomornya sekarang,” kata Aidin menyalakan ponselnya.
Ali pun merogoh saku celananya. Lelaki itu mulai menyalakan ponselnya yang tadi sengaja ia matikan. Belum sempat mengaktifkan jaringan internet. Istri mudanya lebih dulu meneleponnya via seluler. Cepat ia mengangkat.
“Iya, ada apa Aina?” tanyanya cepat, lelaki itu termangu mendengar penjelasan singkat Wan Aina.
“Saya akan ke sana....”
__ADS_1
TBC...