
Pemakaman berjalan dengan lancar. Masih jelas di ingatan. Kala itu ia hanya berjalan menuntun istrinya. Mengiringi tempat peristirahatan terakhir nenek.
Hingga di pemakaman, ia tak ikut masuk ke liang lahat, untuk menerima jenazah. Sebab sang istri lebih membutuhkan keberadaannya. Untuk menguatkan.
Maka tadi malam, telah diputuskan. Jika Meisya akan tetap tinggal di rumah Abah, selama tujuh hari ke depan.
Sedangkan ia akan tetap ke Jakarta karena pekerjaan.
“Bib sebaiknya, kamu pesan grab. Aku khawatir, kalau kamu mengendarai mobil sendirian.”
“Takutnya membahayakan, keselamatanmu. Mengingat akhir-akhir ini jatah istirahatmu berkurang,” saran Meisya kala itu, mendapatkan anggukkan kepala dari suaminya.
Dalam perjalanan ke Jakarta, sepanjang jalan Ali tertidur. Hingga tak menyadari jam di ponselnya menunjukkan pukul enam.
“Mas tidur aja, nanti kalau sudah sampai saya bangunin. Masih satu jam lagi, lumayan loh Mas” ujar sopir taksi meliriknya penumpangnya dari kaca spion.
Ali tersenyum samar sebagai jawaban.
“Pak nanti kita berhenti di kafe,” katanya seraya menatap layar ponselnya. Yang mendapat persetujuan dari sopir taksi.
Selisih lima puluh lima menit. Mobil berwarna hijau itu berhenti.
Lelaki itu segera keluar dan masuk kembali ke mobil dengan dua plastik berisi rice box plus minuman.
“Kok cepat sekali Mas,” komentar sopir saat penumpangnya menutup pintu.
“Kebetulan saya kenal dengan pemiliknya, jadi saya meminta take away.”
“Ini buat Pak sopir, saya makan dulu ya?” tuturnya menaruh sebungkus plastik di samping kursi kemudi.
“Makasih ya Mas, saya jadi tidak perlu ngeluarin uang untuk makan,” katanya tertawa renyah.
Lelaki itu mengangguk dan mulai membuka bungkus makanannya.
Tepat jam tujuh Ali sampai kantor.
“Bahan untuk persentase sudah siapkan?”
Ali yang baru masuk ruangan seketika menghentikan langkahnya, saat Aidin bertanya kepada Miranda.
__ADS_1
“Persentase?” sahut Ali dengan dahi berkerut, membuat keduanya menoleh.
“I please don't say forget....”Aidin menangkupkan telapak tangannya.
“Tenang saja, saya sudah mempelajari semuanya,” tuturnya. Seketika Aidin langsung menghela nafas lega.
“Best ...bisa diandalkan Abangku yang satu ini,” ujar Aidin mengacungkan jempolnya.
“Bagaimana bisa, Pak! Jika bahannya ada di saya,” sahut Miranda tiba-tiba, membuat kedua lelaki itu menatapnya.
“Dan saya tidak pernah merasa mengirim file via email!” tambahnya lagi.
“Tunggu-tunggu, kamu tidak pernah merasa ngirim file ke dia.” Tunjuk Aidin menatap Miranda dan Ali bergantian.
“Terus apa yang kau pelajari?” tanya Aidin berkacak pinggang.
Ali segera membuka aplikasi agenda kegiatan kantor. Lelaki itu menepuk jidatnya berulang-ulang. Ketika membaca agenda kegiatan yang ia tulis begitu mendetail, Hari Selasa jam 10 meeting di Bintaro—bahan persentase masih ada ditangan Miranda. Hari Rabu—meeting di Bandung. Bahan sudah dikirim empat hari yang lalu. Lewat email.
“Mampus saya pikir, ini hari Rabu. Miranda cepat berikan bahan persentase hari ini,” ujarnya mulai gusar.
Ali melirik kearah Aindin, wajah pemutih 30 tahun itu terlihat datar. Tak seperti biasanya yang tengil.
“Tenang saja, saya sudah sempat mempelajarinya kemarin Kamis, jadi sekarang tinggal mendalaminya,” ujar Ali berusaha tenang.
“Kok bisa?”
“Ceritanya panjang,” jawab Aidin sepertinya enggan membahas lebih jauh lagi.
“Tapi untungnya meeting diundur jam satu.” Infonya kembali ketempat kerjanya.
Ali bernafas lega mendengar ucapan Aidin. “Terlihat tidak profesional ... akan tetapi lumayan menguntungkan untuk perusahaan kita,” tambah Aidin tersenyum miring.
Beberapa jam terakhir dihabiskan Ali untuk memahami isi dari pembahasan yang akan dibahas nanti.
Perjalanan ke Bintaro dimajukan, mengingat jalanan Jakarta selalu macet. Siang itu ia hanya duduk di samping kemudi, sambil memahami lembar demi lembar isi dokumen. Sedangkan Aidin fokus menyetir.
“Saya melihat, setelah menikah produktivitasnya kinerja Abang menurun ya?” ungkap Aidin dalam kesunyian.
Ali menoleh melirik kearahnya.
__ADS_1
“Sebelumnya saya minta maaf, ini terkesan lancang. Tapi sebagai seorang sahabat. Saya berhak mengingatkan.” Kata Aidin penuh keyakinan.
Ali terdiam, enam tahun lebih ia mengenal Aidin. Tentunya sedekit-banyak ia tahu karakter Aidin seperti apa. Jika pembahasannya serius, raut wajahnya akan datar. Setiap ucapan terdengar menusuk namun berarti.
“Saya perhatikan, setelah menikah bukanya semangat tambah. Justru semakin kelihatan sulit untuk meregulasi emosi. Banyak pikiran?”
“Sok tahu....”
“Lihat saja kantong mata mulai menghitam, sepertinya berat badan juga mulai turun. Atau jangan-jangan ketenangan saat tidur mulai hilang. Alhasil menguap terus saat kerja ... menyebalkan,” oceh Aidin.
Ali hanya diam, ia tahu. Jika Aidin tertarik mempelajari tingkah laku manusia.
“Kalau enggak banyak pikiran apa namanya?” tantang Aidin melirik kearah Ali sejenak.
“Sedetail itu kah kau memperhatikannya?” sinis Ali.
“Enggak usah diperhatikan sudah terlihat nyata.” Terkekeh geli, sebelum melanjutkan ucapannya, “ Bang permasalahan yang kau miliki berdampak pada proyek. Estimasi yang Abang perhitungan untuk biaya hotel di Bintaro, keliru semua.”
Ali terenyak mendengarnya. Ternyata ini alasan dibalik isi dokumen berubah 48%.
“Yang benar Din?” tanya Ali berusaha menyangkalnya.
Bahwa dirinya bisa teledor, dan hampir membuat perusahaan malu. Karena perhitungannya lebih besar, ketimbang perhitungan yang baru direvisi Aidin.
“Gila ...Pak Artono, tidak terima. Karena biaya yang harus dikeluarkan tidak etis dengan letak dan pembangunan hotel. Masa selisih kok hampir ratusan juta. Dapat teguran ...saya langsung meeting sama yang lain. Rampung jam setengah sebelas malam,” kesal Aidin memukul setir saat lampu merah.
Ali terdiam mendengar ucapan Aidin. Dalam hatinya ia menggerutuki kebodohannya.
“Sebenarnya pernikahan kedua ini, atas kehendak siapa?” tanya Aidin kembali melajukan mobilnya. Sedikit menaruh curiga pada Ali.
Selama ini Ali tidak pernah bercerita tentang alasan ia menikah kembali. Kepada sahabatnya. Baginya urusan rumah tangga tidak perlu diumbar sana-sini. Dengan alasan mendapat masukkan. Yang justru malah membuka pintu masuk, bagi orang luar tentang keadaan rumah tangganya. Jangan sampai jenis kanibalisme kian bertambah. Menjadi friendivora.
Namun nyatanya, dengan menyimpan semuanya sendiri. Ia juga belum bisa menyelesaikan permasalahannya. Hingga ke akar-akarnya.
Akankah ia harus curhat untuk menemukan solusi?
Melihat respons Ali yang hanya diam. Membuat Aidin paham, jika lelaki yang sudah ia anggap sebagai kakak lelakinya. Tampaknya masih belum bisa terbuka padanya.
“Ini saran ya Bang, alangkah baiknya. Jika ada masalah, coba membuka diri untuk bercerita. Saya tidak meminta, Abang curhat kepada teman. Sebab boleh jadi, mereka tidak memiliki solusi terhadap masalahmu. Jalan satu-satunya ...atur jadwal temui yang profesional saja.” Aidin memberikan saran tanpa diminta. Akan tetapi, boleh jadi sarannya efektif bagi Ali.
__ADS_1
Aidin adalah salah satu, orang terdekat Ali yang merasakan perubahan sahabatnya. Sebab mereka lebih sering menghabiskan waktu bersama, karena satu ruangan.
TBC...