Kau Rela Ku Lepas

Kau Rela Ku Lepas
Ch17 : Begitu Sulit


__ADS_3

Rembulan telah menggantikan posisi matahari. Namun masalah tadi siang tak kunjung terselesaikan. Terlihat jelas, jika kesalah paheman yang diawali dari kunjungan ayahnya ke rumah. Berdampak pada hubungannya dengan para istrinya.


Setelah makan bersama di rumah Wan Aina, Ali memang menyempatkan diri untuk mengantar Meisya pulang. Meskipun jarak rumah yang Wan Aina tepati terbilang dekat dengan rumah utama.


Seharusnya malam ini jadwal ia tinggal dengan Meisya. Namun melihat istri mudanya yang sedang marah dan emosi padanya.


Lelaki itu pun meminta izin kepada Meisya, agar malam ini diperbolehkan tinggal dengan Wan Aina.


Meskipun jadwal telah jatuh tempo.


Untung saja tidak susah membujuk Meisya, perempuan satu itu memang bisa diandalkan. Meskipun di awal Meisya menaruh rasa curiga padanya.


Namun saat mengingat bagaimana Wan Aina mudah memutar otak saat urgent. Ia pun mencoba mengaplikasikannya, detik dimana Meisya meminta alasan darinya.


Mengapa ingin tinggal semalam dengan Wan Aina?


“Sebenarnya ada beberapa kesalahpahaman yang terjadi antara aku dan Aina beberapa hari lalu. Aku harus meluruskan hal ini secepatnya. Jadi mengertilah! Dan jangan mengira ...jika ini ada sangkut pautnya denganmu!” ujarnya penuh penekanan. Membuat Meisya tak lagi bertanya.


Sesungguhnya permasalahan yang terjadi. Antara ia dengan Wan Aina tentu berhubungan dengan gelang milik Wan Aina. Yang detik itu telah tersemat di pergelangan tangan Meisya.


Fakta selanjutnya, karena lelaki itu terlalu mencintai Meisya. Sampai-sampai tak rela, jika istri pertamanya, mengetahui.


Bahwa tadi siang orang tuanya ke rumah. Boom meledak tatkala Marni mengatai Meisya mandul.


***


Perlahan ia menarik gagang pintu. Menyembulkan kepalanya terlebih dahulu. Untuk memastikan apa istri mudanya sudah terlelap.


Mengingat jam menunjukkan pukul sembilan malam, untung saja kunci cadangan ada ditangannya.


Sebelum naik ke atas, terlebih dulu lelaki itu menemui bik Tin. Agar kembali ke rumah utama menemani Meisya. Ali terkekeh geli, jika teringat protes bik Tin padanya.


“Selama bapak, memiliki dua istri! Saya jadi ikut memiliki jadwal tidur, seperti bapak. Saat bapak dengan ibu, saya harus tidur di sini dengan mbak Aina! Begitu pun sebaliknya, untungnya bapak enggak meminta saya ngurusin dua rumah sekaligus. Kalau itu benar-benar terjadi, tidak ada bedanya saya dengan bola. Oper sana—oper sini!”


“Benar juga kata bik Tin, aku merasa hidupku seperti bola di lapangan. Oper sana-sini. Seolah aku tak memiliki kendali atas diriku sendiri,” gumamnya memejamkan matanya.


Ali merasa jika kehidupan yang ia jalani. Bukan dirinyalah yang mengendalikan melainkan ayahnya.

__ADS_1


Mulai dari ambil jurusan apa?


Akan jadi apa?


Dimana ia kerja?


Dengan siapa ia menikah?


Semua itu ada ditangan ayahnya. Malam itu ia sadar, jika selama hidupnya. Dia tak pernah berjalan atas kemauannya sendiri.


Ali telaah membiarkan seseorang mencuri tanggung jawabnya.


“Aku lupakan dulu, tentang hal itu. Malam ini aku harus menyelesaikan masalahku dengan Wan Aina!” ujarnya berusaha mengendalikan dirinya sendiri, yang sejujurnya ingin memaki kebodohannya yang baru disadari.


Akankah kesadaran itu bertahan lama?


Entahlah!


Lelaki itu mulai melangkahkan kakinya. Dalam pencahayaan yang temaram, dirinya masih bisa melihat. Gadis berambut panjang, duduk di tepi ranjang. Bahu gadis itu bergetar.


Lelaki itu menebak jika istri mudanya sedang menangis.


Perlahan langkah kakinya membawa ke dekat istrinya. Berdiri di samping Wan Aina. Seraya mengusap kepala istrinya, yang tertunduk dalam.


“Saya minta maaf Aina! Karena perbuatan Mas tadi siang membuatmu terluka. Semua kesalahan saya yang buat. Akan tetapi malah kamu yang harus berkorban!” ujar Ali merasa tidak enak hati.


Merasa tidak ada jawaban dari istrinya, lelaki itu memutuskan untuk duduk di samping Wan Aina. Jujur saja selama mengarungi bahtera rumah tangga dengan Meisya.


Ali tak pernah melakukan hal semacam ini. Karena memang mereka jarang sekali cek-cok. Dalam hubungan rumah tangga pertamanya. Meisya lebih mendominasi, perempuan itu lebih dewasa meskipun umurnya lebih muda setahun darinya. Untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Meisya berusaha memahami permasalahannya terlebih dahulu. Untuk menemukan problem solving, yang tepat.


Jalan keluar mudah didapatkan tatkala kedua belah pihak saling terbuka, dan mampu mengesampingkan ego masing-masing.


Maka dengan istri mudanya, Ali seakan-akan harus bisa menjadi suami seutuhnya.


Bahkan Alam seolah memberi tahunya. Kewajiban seorang suami itu mengayomi istrinya. Bukannya bersikap kekanak-kanakan dan egois.


Saat lelaki itu ingin memegang tangan Wan Aina, gadis itu segera menyembunyikan tangannya. Seolah tak sudi jika tangannya digenggam suaminya.

__ADS_1


Toh sadari menikah, lelaki yang duduk di sampingnya kelewat kaku. Bahkan masih bisa dihitung berapa kali Ali mencium keningnya. Berapa kali Ali tersenyum, atau memulai pembicaraan.


“A—“ Wan Aina segera memotong ucapan Ali.


“Ngantuk, mau tidur!” katanya, diiringi dengan sesenggukan kecil.


Lelaki itu pun tak berniat menghalangi keputusan istrinya. Mungkin memang istrinya butuh istirahat, dan menenangkan diri.


Cepat Ali berdiri dari ranjang. Tatkala melihat istrinya bersiap membaringkan badannya. Lelaki itu segera menarik selimut, untuk menyelimuti tubuh istrinya.


Dan mulai menyalakan lampu kamarnya, ruangan yang tadi temaram kini terang benderang. Ia tahu jika Wan Aina tidak biasa tertidur pulas jika lampu mati. Bahkan saat istrinya sudah terlelap pun akan terbangun. Jika lampu tiba-tiba mati.


Wan Aina mengatakan. Jika lampu mati tiba-tiba, itu akan membuatnya susah bernafas. Saat ia bertanya apa istrinya memiliki penyakit asma. Wan Aina menggeleng.


Sama halnya dengan Wan Aina, lelaki itu pun mulai merebahkan tubuhnya di samping istrinya, namun belum juga ia menarik selimut. Sang istri sudah mengubah posisinya, memunggunginya.


Bersama dengan Wan Aina. Lelaki itu sering sekali menghela nafas. Guna tidak emosi.


`Kuatkanlah mental dan kesabaran saat bersamanya' batin Ali.


Jarum jam didinding sudah berubah. Kini jarum terpendek ada di angka satu, sedangkan jarum terpajang berada di tengah-tengah angka enam. Metanya masih saja terbuka, sadari tadi lelaki itu selalu mengubah posisinya. Berharap segera tertidur, akan tetapi semua sia-sia.


Bahkan gadis yang tertidur di sampingnya sudah terlelap empat jam yang lalu. Tentu beda dengan dirinya yang susah untuk memejamkan mata.


“Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku tidak bisa tidur agrh!” ujarnya menjambak rambutnya kasar.


Pertama kali memejamkan matanya. Ia kembali teringat saat dirinya berteriak kepada Wan Aina.


Memejamkan mata untuk kedua kalinya. Ia teringat dengan Meisya. Ketika ia meminta izin untuk bermalam di rumah Wan Aina.


Bagaimana perasaan Meisya, yang sesungguhnya?


Apakah istri pertamanya kecewa dengan keputusannya?


Ali benar-benar merasa bersalah dengan kedua istrinya. “Sial!”


Plak!

__ADS_1


TBC...


__ADS_2