Kau Rela Ku Lepas

Kau Rela Ku Lepas
Ch06 : Nasehat Si Banting Tulang


__ADS_3

Deru mobil masuk garasi, mampu mengalihkan konsentrasi Meisya yang sedang membaca.


“Lebih baik aku temui dia,” ujarnya beranjak dari duduknya, dan meletakkan buku bacaan di meja.


Sebelum menemui suaminya. Perempuan itu terlebih dahulu, masuk ke dapur mengambil segelas air.


Meisya melangkahkan kaki menuju pintu yang terhubung dengan garasi. Matanya berbinar melihat sang suami, keluar dari mobil.


Dan kini lelaki itu berjalan kearahnya.


Meisya mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan suaminya takzim.


Membuat perempuan itu mendapatkan balasan dikedua pipinya yang terhalang niqab. Sejurus kemudian, Meisya menggandeng lengan Ali untuk masuk ke dalam rumah.


“Terima kasih!” Ali menerima segelas air dari tangan istrinya.


“Mantra cinta!” Ali tersenyum ketika meniup air yang tinggal separuh, lalu menyodorkan istrinya.


“Jatuhnya kayak Mbah Dukun!” komentar Meisya.


“Kala jatuhnya kayak Mbah Dukun. Sebelum jatuh kayak apa istri?” Banyolan sang suami membuat Meisya tersedak, karena menahan tawa.


Ali menepuk punggung istrinya. “Pelan-pelan kalau minum, untung duduk!”


“Ya kamu, bikin banyolan enggak tahu tempat!” Mendengus kesal.


“Ya maaf, kalau begitu!” pinta Ali tulus, menggaruk kepala yang tak gatal.


...***


...


Disisi lain, gadis cantik itu sedang berdandan di depan cermin. Wan Aina yang telah selesai mandi dan shalat ashar. Dia memutuskan untuk memoles wajah, dan menata rambutnya dengan bantuan sisir ajaibnya.


Gadis itu tersenyum tatkala melihat pantulannya sendiri. Dibalik senyuman yang manis, ada harapan yang ingin terealisasikan.


Harapannya tidak muluk-muluk, pujian dari suaminya sudah cukup baginya. Jika itu terasa tinggi, setidaknya apa yang dilakukan bisa membuat suaminya memandangnya.


Sebagai seorang istri yang berusaha menyenangkan hati suami.


Wan Aina menuruni anak tangga dengan wajah bersemangat, sesekali bersenandung kecil. Seketika langkah kakinya terhenti di pertengahan anak tangga. Ketika hendel pintu utama bergerak.


“Kenapa aku lupa, mengunci pintu!” ujarnya menepuk jidat berulang-ulang.


Mimik wajahnya seketika pucat.


Terlihat jelas gadis itu ketakutan.


Bagaimana jika yang membuka pintu adalah orang yang tak dikenalnya?


Mengingat baju yang dia pakai terlalu pendek.


Pintu terbuka, membuat jantungnya berdetak.


...***

__ADS_1


...


Sejauh sepuluh langkah dari tempatnya berdiri. Ali melihat istri mudanya mematung di pertengahan tangga. Netra hitam itu menelusuri lekuk tubuh istrinya dari atas ke bawah.


“Huft, ternyata kamu Mas! Aku pikir orang lain!” Wan Aina melangkahkan kaki, yang tadi sempat kaku. Saat tiba-tiba pintu dibuka.


Gadis itu mencium tangan suaminya dengan hikmat, meminta tas kerjanya.


Namun Ali menolak dengan halus. “Tidak perlu, ini tidak terlalu berat.”


Berjalan di belakang sang suami. Membuat Wan Aina menggerutu kesal.


“Reaksinya begitu datar, apa aku tidak menarik? Mengingat beberapa novel yang aku baca, setiap lelaki yang melihat pasangannya mengenakan baju seksi. Reaksi tokoh lelakinya pasti menelan ludah dengan kasar. Tapi jakun Mas Ali, biasa saja. Tidak bergerak turun. Atau jangan-jangan, dia kehabisan air liur” gumam Wan Aina.


Ali yang kebutuhan berjalan di depan Wan Aina. Menghentikan langkahnya, saat mendengar gumaman tidak jelas dari mulut istri mudanya.


“Astagfirullah, agrh....”


Ali mendesis ketika seseorang, menatap punggungnya. Ia pun menoleh. Dilihatnya Wan Aina sedang mengelus kening.


“Mas kenapa berhenti tiba-tiba, sofa masih jauh!” protes Wan Aina.


Namun lelaki itu bergeming dengan bibir terkatup, menatap istrinya lekat.


Mampu membuat Wan Aina salah tingkah.


“Bicara yang jelas, biar saya paham. Jangan hanya menggumam, Aina mau apa?” tanyanya membuat lawan bicaranya ternganga.


Gadis itu langsung menggeleng cepat. ”Ti-tidak ada!”


Bak magnet sang istri mengikutinya dari belakang.


“Biar Aina siapkan, airnya ya Mas?” ucap Wan Aina, seolah ingin tunjuk kebolehan, jika ia bisa melakukan tugas seorang istri.


“Tidak perlu, saya bisa sendiri,” timpalnya, yang mendapatkan sahutan dengan cepat.


“Itu sama halnya menyabotase pahala istri Mas!” Wan Aina segera membekap mulut. Saat sadar siapa yang diajak bercanda.


Ali lelaki yang selalu memasang mimik serius, tak akan bisa tertawa dengan jokesnya.


***


Setelah shalat berjamaah, Wan Aina lebih dulu ke bawah, untuk menyiapkan makanan.


Selisih tiga menit, Ali menyusul. Menarik kursi dan duduk dengan tenang.


Lelaki itu melihat istrinya sedang menata piring di kitchen counter. Ali mengamati setiap gerakan tubuh istrinya, dari menjijit hingga membungkuk sambil membuka base cabinet.


Rambut lurus Wan Aina tergerai dengan rapi, dipadu-padankan dengan baju kodok berbahan jeans, satas lutut yang tampak pas ditubuh Wan Aina yang berisi.


Ali bingung dengan dirinya sendiri.


Mengapa gairahnya sebagai seorang lelaki normal, tidak membuncah sama sekali.


“Bagaimana pekerjaan di kantor hari ini?” tanya Wan Aina, membuyarkan lamunannya.

__ADS_1


“Lancar!” jawabnya singkat.


Tampaknya Wan Aina berusaha menepatkan dirinya sebagai seorang istri. Tahu jika suaminya irit bicara, ia pun tak sungkan untuk mengawali pembicaraan.


“Mau lauk pauk apa?”


“Apa pun yang kau tuang ke dalam piring, saya makan. Tapi untuk malam porsinya jangan berlebihan.”


Ali tipe lelaki yang tak banyak protes mengenai makanan.


Seperti pepatah makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan.


Keduanya menikmati makanan tanpa bersuara, bagi Ali ini biasa. Namun bagi Wan Aina, ini terlihat seperti. Perempuan yang sedang makan disiang hari saat bulan Ramadhan. Karena kedatangan tamu bulanan.


Makanan yang ada dipiring Ali, habis tak bersisa.


Cita-rasa makanan lezat, bisa didapatkan saat badan sehat.


Makanan akan terasa nikmat, jika memakannya dengan metode mindfulness.


Wan Aina langsung meletakkan sendok. Ketika mendapati piring suaminya kosong.


.


“Kenapa tidak dihabiskan?” tanya Ali heran.


Wan Aina diam menunduk, gadis itu menganggap jika suaminya selesai, dia juga harus selesai.


Terlepas dari habis dan utuhnya makanan.


Interpretasi seperti ini mungkin di dapatkan dari serial Bollywood.


Tanpa etika perut gadis itu berbunyi, Wan Aina mengumpat.


Ali hanya menggeleng. “Habiskan dulu, jangan karena teman makanmu telah selesai. Kau juga harus selesai.”


“Ini rumahmu, jadi lakukan semua hal seperti yang kau inginkan. Jangan sungkan,” tutur Ali.


Hati Wan Aina menghangat mendengar nasehat suaminya. Yang terlihat care padanya. Walaupun dengan suara datar khas Ali.


Lelaki itu mencari sesuatu disaku celananya.


“Uang bulanan, saya harap kamu bisa mengelolanya dengan baik.” Meletakkan amplop di dekat tangan istrinya.


Jujur Wan Aina bahagia, sekaligus takut.


Bagaimana kalau ia, tak bisa mengelola keuangan?


Bukan tanpa alasan si banting tulang sudah mewanti-wantinya. Agar tidak boros dan menghambur-hamburkan uang dengan mudah.


Untungnya seminggu ke depan, ia tak perlu beli bahan dapur.


Sebab semua kebutuhan dapur sudah lengkap. Saat pertama kali ia menginjakkan kaki di rumah suaminya.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2