
Dalam sebuah ruangan dengan pencahayaan temaram. Ali menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Seminggu lamanya ia tidur di sofa bed, membuat badannya pegal-pegal.
Nyatanya meskipun sofa model kekinian, tetap saja tidak seperti kasur yang nyaman dan luas.
Semua itu salahnya, mengapa ada acara menghindari tidur dengan Wan Aina.
Badan yang pegal-pegal, mungkin saja seminggu ke depan akan kembali bugar. Mengingat tidak perlu lagi tidur di sofa bed, sebab dirinya akan tidur di ranjang dengan istrinya Meisya.
Kini matanya melirik ke pintu kamar mandi, sudah sadari tadi Meisya di dalam. Namun tak kunjung keluar.
“Istri kau sedang apa?” teriak Ali, yang mungkin bisa didengar Meisya yang ada di dalam kamar mandi.
Pintu terbuka, lelaki itu bisa melihat wajah istrinya yang lebih cerah.
“Perutku mulas, jadi buang hajat dulu!” jawab Meisya merangkak ke ranjang.
Baru juga menyelonjorkan kakinya, suaminya tiba-tiba saja menjadikan pahanya sebagai bantal. Ali terlihat seperti anak kecil yang manja, saat bersamanya.
Belaian lembut dirambut, membuat Ali memejamkan matanya. Menikmati setiap belaian demi belaian.
Ia rindu hal ini.
“Aku merindukan momen seperti ini istri!” kata Ali seraya membenamkan wajahnya di perut istrinya.
“Bagaimana butikmu?” tanyanya. Mengelus pipi istrinya dengan lembut.
“Costumer meminta beberapa design gaun, buat lamaran....”
“Oh ya ... aku dengar dari Wan Aina, akhir-akhir ini kamu sibuk. Apa pekerjaan begitu banyak? Hingga kau sering tertidur di ruang baca?” selidik Meisya curiga, dia tahu betul. Ali tak pernah tidur larut meskipun pekerjaan begitu banyak.
Mendengar pernyataan istrinya, seketika mimik wajah Ali berubah kesal. Ia tak suka jika sedang bersama Meisya harus membahas Wan Aina.
Ini terlihat memojokkan statusnya sebagai seorang suami dari dua wanita.
“Inilah yang membuat aku tidak setuju poligami. Sebagai seorang suami dituntut adil. Padahal jelas, manusia tidak akan pernah adil ...apalagi masalah perasaan,” cetusnya mengangkat kepalanya dari pangkuan sang istri.
Meisya menghela nafas berat.
Akhir-akhir ini Ali memang mudah terpancing emosi.
__ADS_1
“Jangan salahkan aku, atas apa yang terjadi pada Wan Aina! Jelas-jelas sejak awal aku tidak setuju untuk menikah kembali, butuh waktu untuk aku menyesuaikan posisiku sekarang,” jelas lelaki itu duduk memeluk lututnya.
Meisya yang sadar akan kekesalan suaminya malam itu. Segera memeluk dari belakang.
“Memangnya kau siap, melihat suamimu senyam-senyum sendiri, karena jatuh cinta lagi?” Ali tersenyum sinis, tak sadar jika perkataannya, bisa membuat hati Meisya nyeri.
Ia mencoba mengingatkan pada istrinya, akan kemungkinan yang bisa terjadi.
Ia ingin tahu akan kesiapan mental istrinya, untuk menerima sesuatu hal yang tidak pernah istrinya bayangkan sebelumnya.
Seperti kata pepatah:
‘Bagian paling terpenting semua rencana adalah merencanakan rencana kita tak berjalan sesuai rencana'(Morgan Housel_The Psychology Of Money)
“Ketahuilah, seseorang tidak bisa jatuh cinta dengan orang yang beda di waktu yang bersamaan. Akan ada salah satu yang kalah!”
“Dari sudut pandangku, kau menyuruhku menikah lagi. Hanya bermodalkan, keyakinanmu akan cintaku padamu. Kau tahu ...aku begitu mencintaimu, dan mungkin tidak ada seorang pun yang aku cintai melebihi dirimu!” jujurnya, merasakan adanya pergerakan dari kepala istrinya, yang bersandar di punggungnya.
“Akan tetapi ...aku tidak menampik. Bahwa perasaan bisa berubah seiring waktu! Ingatlah istri, apa yang aku rasakan padamu saat ini, itu akan berbeda nantinya, enggak usah lama-lama. Saat aku sudah bisa menerima Wan Aina sebagai Istriku. Maka kamu akan bisa merasakan perubahan cinta yang dulunya mungkin 99%, hanya tinggal sekian!”
Penjelasan panjang Ali seketika membuat Meisya lemas, ketakutan.
“Kau tahu Bib, kenapa aku memperbolehkan kau berpoligami?” tanya Meisya memecah keheningan.
Lelaki itu menoleh sejenak.
“Ada banyak alasan Bib! Ini bukan tentang balasan mendapatkan surga-Nya, seperti yang aku katakan dulu. Ini juga bukan tentang, aku yang ingin melihat kamu menjadi ayah! Akan tetapi ...ini tentang kepemilikan yang dipinjamkan! Aku sadar Bib, pasangan yang diberikan-Nya, pada kita. Hannyalah sebuah pinjaman. Oleh sebab itu, sebagai yang dipinjami aku harus siap kapan saja kehilangan.”
“Bukanya aku tidak menghargaimu atau apa. Aku sangat-sangat menghargaimu, aku juga sangat mencintaimu. Lima tahun hidup bersama denganmu, cintaku semakin besar. Dan pucuk tertinggi mencintai adalah mengikhlaskan, aku mau melihat kamu bahagia. Aku berpikir, kamu takut untuk meminta izin berpoligami.” Meisya menggenggam tangan suaminya kuat.
“Aku tahu, kamu tidak mau menyakiti perasaanku. Oleh sebab itu, aku memberikan kesempatan untukmu berpoligami. Dan melihatmu tidak tertarik dengan tawaranku. Hal ini membuat aku beranggapan, jika kamu masih tidak enak hati. Jadilah aku memaksamu agar poligami,” papar Meisya menatap manik mata suaminya lekat.
Lelaki itu hanya mampu menghela nafas, bisa dibilang hati istrinya sangatlah luas. Seperti seorang ibu yang rela bilang kenyang, demi anaknya makan. Padahal masih lapar.
Mungkin seperti itulah keadaan istrinya sekarang.
Di eluslah pipi istrinya. Dengan satu tangannya.
“Aku tahu maksudmu baik, tapi enggak semua yang baik bisa diterima dengan baik.” Menarik napas sejenak untuk melanjutkan ucapannya, “Sedikit kesalahanmu dalam memutuskan permasalahan ini, dengan impulsif! Harusnya kamu tanya ke aku, dari hati ke hati! Mencari solusi bersama. Sementara kita masih bisa memperbaiki keadaan yang akan datang. Mungkin seperti mengadopsi anak! Yang memungkinkan hubungan kita akan tetap baik, masih seperti sedia kala!”
__ADS_1
Setiap kalimat yang di ucapkan Ali, mampu membuat Meisya menyesali semua.
Alo menyelesaikan permasalahan menggunakan akal (rasional). Sedangkan Meisya memutuskan permasalahan dengan perasaan (nafsu/ irasional).
“Bagaimana dengan permintaan ayah?” Meisya menggigit lidah, ketika tersadar dengan ucapan sendiri.
“Ayah?” Ali mengerutkan dahi.
Apa yang belum ia ketahui? Pasalnya saat dulu ia bertanya pada Meisya. Apa ayahnya yang menyuruhnya untuk merelakan menikah lagi. Meisya memilih tak berkomentar.
“Aku tanya padamu, apa ayah yang memaksamu?” Mencakup wajah Meisya, penasaran.
Namun sang istri justru menelan ludah, dan menggeleng.
Harusnya dulu ia mengambil jurusan psikologi agar mudah meneliti wajah dan emosi seseorang.
“Tidak Bib!” jawab Meisya tenang.
“Jangan bohong, katakan yang sesungguhnya. Apa ayah atau justru kuntilanak” tanya lelaki itu serius, kuntilanak yang ia maksud adalah ibu tirinya.
“Kau itu orang yang rasional tapi kadang-kadang juga sableng. Masa ayah mengancam, ya jelas tidak. Orang dia bukan mafia.”
“Lah kalau dia mafia, berarti aku nikah sama anaknya mafia dong hehehehe!” Meisya terkekeh geli. Sekuat tenaga Ali berusaha menahan tawa.
“Gadis bercadar terpaksa menikahi anak mafia! Atau gadis berniqab menikahi anak tiri mafia, Cocok Bib jadi judul novel!”
“Tidak lucu!” sanggahnya melengos membelakangi sang istri. Bibirnya tertarik membentuk senyuman.
“Apanya? Buktinya kamu tersenyum,” ujar Meisya menelengkan kepala untuk melihat wajah suaminya.
Ali memeluk tubuh Meisya, lalu menghempaskan ke belakang. Membuat tubuh mereka terkapar di atas ranjang.
“Ciuman seratus kali untuk istriku!” ujarnya memeluk tubuh istrinya.
Meisya tertawa kegelian.
“I not ice cream!” teriak Meisya ketika Alo menjilati pipinya.
“But to me you cream for my lips!” Mengecup bibir istrinya.
__ADS_1
BTC...