
Silih berganti orang-orang keluar-masuk masjid. Untuk ikut tahlilan bersama. Mulai dari santri, para tetangga dan kerabat.
Jam setengah sembilan malam jenazah nenek sudah dimandikan. Dan akan dimakamkan jam setengah tujuh pagi.
Jam menunjukkan pukul empat. Ali melirik kearah istrinya yang tertidur dengan wajah sembab. Lima menit setelah pingsan, Meisya tersadar. Akan tetapi tangisannya tambah histeris.
“Nenek ikuti ucapan Mei ya ...bismillahilladzi ...la yadurru ...ma asmihi ...syaiun ...fil ardhi ...walafissamai ...wahuwassami ul ...alim....”
Ali terdiam saat istrinya kembali menggumam dalam keadaan setengah sadar. Kalimat yang baru saja diucapkan istrinya. Ialah bacaan yang selalu diperdengarkan untuk nenek setiap pagi dan sore.
Sebab dengan mengingat nama-Nya. Tak ada sesuatu yang membahayakan baik di bumi maupun di langit.
Lelaki itu mengelus kepala istrinya. Tentu dia bersyukur, jika istrinya tertidur seperti detik ini. Ketimbang menangis saat melihat jenazah nenek dimandikan. Ia mengecup kening istrinya. Disaat Meisya kembali melafadzkan bacaan yang sama.
Lelaki itu melirik kearah jam dinding, saat mendengar adzan subuh.
“Aku harus mengabari ayah, tapi aku tidak bisa meninggalkannya,” pikirnya melirik kearah Meisya.
Ali beranjak dari ranjang, membuka pintu kamar pelan. Tepat saat itu putrinya Arsa yang berusia lima tahun lewat.
“Zahwa, Paman boleh minta tolong tidak?” tanyanya mengulum senyum.
“Tolong apa Paman?” Mendongak kearah lelaki, yang sering mengajaknya ke Indomaret untuk beli eskrim.
Dimata Zahwa, paman Ali adalah lelaki yang royal. Ia bahkan pernah mengatakan. Alangkah indahnya, jika pamannya tidak memiliki anak. Sebab kasih sayang paman, akan tertuju padanya.
“Kamu masuk kamar, temani bibi—“
“Memangnya Paman mau kemana?” potongnya cepat. Membuatnya mendapat cubitan dipipi, dari sang paman.
“Zahwa pemilik mata kelereng. Jika ada orang bicara, sebaiknya jangan dipotong ya? Hal ini bertujuan, agar kita ...mendapatkan seluruh informasi dengan penuh. Yang membuat kita paham, namun jika Zahwa tidak paham. Mintalah orang itu untuk menjelaskannya kembali. Hal ini enggak berlaku saat bicara dengan orang saja. Namun saat disekolah Zahwa, juga bisa mempraktikkannya,” tutur Alo menangkup wajah keponakanya yang gembul.
Bocah itu mengangguk cepat. “Tapi Paman, mau kemana? Kenapa harus Zahwa, yang menemani bibi Mei?” tanyanya.
“Paman mau ambil ponsel, dan menunaikan shalat.”
“Paman ambil ponsel saja, enggak usah shalat. Aku takut jika di ruangan sendirian. Nanti kalau nenek buyut, datang gimana?”
Ali ternganga, mendengar penjelasan Zahwa.
“Lah kan sama bibi, dan mana ada. Nenek buyut datang, orang neneknya ada di masjid.”
“Lah bibi kan tidur, itu berarti Zahwa sendiri. Enggak ada yang bisa diajak ngobrol. Mending Paman, langsung lari dan kembali lagi,” perintahnya menunjuk ke tangga.
“Cepat Paman....!” gertaknya yang membuat Ali segera berlari menaiki anak tangga.
Ali sampai di kamarnya dengan nafas terengah-engah. Mungkin ini adalah olahraga pagi sebelum subuh, dengan mata sayu. Sebab tidak bisa tidur semalaman.
Lelaki itu segera merampas ponselnya yang ditaruh di kasur. Saat ingin menutup pintu. Terlebih dulu ia mengambil peci yang tergantung di samping pintu.
__ADS_1
Ali membuka pintu kamar kakak iparnya. Dilihatnya Zahwa sedang duduk bersandar di ranjang. Sambil menatap wajah Meisya.
“Paman ...paman lama! Aku takut tahu saat Bibi bicara dengan mata tertutup,” gerutunya memasang wajah kesal.
“Maafin Paman ya Zahwa, tapi Paman mau bilang syukron ... sudah mau menemani Bibi,” ucapannya.
“Paman mau beliin aku kacang sukro?” tanyanya antusias.
Berbanding terbalik dengan Ali yang mengerutkan dahi. “Syukron sayang ... Allahuakbar ...bukan sukro.” Ali memijat pelipisnya, bisa-bisanya. Suasana berduka, berubah jadi tanya jawab dengan bocah bermata kelereng.
Mata Zahwa begitu jernih dan bulat.
“Tapi Zahwa jadi pengen makan kacang sukro Paman!”
Ali merogoh sakunya, melihat hal itu Zahwa antusias. Kantong paman, pastilah bisa mengabulkan permintaannya.
Dia tidak perlu Doraemon lagi. Sebab kantong paman Ali jauh lebih bisa membuat perutnya kenyang.
“Sepuluh ribu Paman?” Membuka uang yang terlipat, dengan dahi berkerut.
“Iya, kamu beli saja nanti dapat.”
“Aku mau dua Paman, nanti kalau adik minta gimana?”
“Zahwa yang cantik....” Sihir matra pujian kali ini akankah berhasil. “Dengan uang yang Paman kasih, kamu bahkan bisa lebih mendapatkan satu kacang sukro.”
“Paman bohong, kacang sukro 1 bungkus harganya delapan ribu. Jadi bagaimana aku bisa dapat lebih?” protesnya.
Baginya metode pembelajaran secara demonstrasi. Akan membuat waktu belajar menyenangkan. Sebab orang tua bisa menggunakan barang, sebagai media yang cukup relevan untuk mengajar. Tanpa disadari hal ini mampu. Membantu anak mengasah kemampuannya tanpa ada unsur paksaan.
“Oh ...gitu ya Paman! Tapi Paman, apa kacang sukro ikut inflasi juga?” tanya Zahwa penasaran.
Ali terkesiap mendengarnya, bagaimana mungkin. Anak lima tahun tahu tentang inflasi, dirinya saja saat itu umur 18 tahun baru belajar manajemen keuangan.
“Kamu tahu dari mana?” tanya Ali menatap lekat.
“Lah Paman lupa, waktu itu kan. Paman bahas itu sama Abi! Aku kan ada disana. Ya jadi mendengarkan. Terus minta dijelaskan lagi sama Abi!”
“Memangnya apa yang kau pahami tentang inflasi?”
“Kalau kata Abi, harganya jadi mahal. Memang benar itu Paman?”
“Ya benar,” jawabannya mengangguk.
“Berarti kacang sukro mengalami inflasi tidak?” tanyanya.
“Ya tentu saja, dulu kacang sukro harganya sepertiga dari sekarang.”
“Sepertiga, itu berapa?” tampaknya Zahwa masih awam dengan pecahan itu.
__ADS_1
“Kalau setengah itu, delapan dibagi dua berapa?” Zahwa tampak menghitung hari jemarinya.
“Empat!”
“Nah kalau sepertiga berarti delapan dibagi tiga. Jadinya berapa?”
Gadis bulat itu kembali menghitung. Melihat keponakannya kesusahan. Ali berusaha menjelaskan dengan gamblang.” Gini kalau Zahwa punya permen delapan, terus dikasih ke Paman, sama bibi dan Zahwa kira-kira dapat berapaan?”
“Tapi kalau Zahwa punya permen delapan, Zahwa enggak akan bagi-bagi Paman!”
Ali menepuk jidatnya, sepertinya analogi yang digunakan tidak memuaskan. Atau memang keponakannya itu Aidin versi bocil.
“Terserah Zahwa saja, Paman mah ngikut apa katamu. Nanti kalau sudah besar. Paman renggut kamu jadi manager keuangan di perusahaan kakek Brahmanta...!”
ntahh mengapa bicara dengan Zahwa membuat ia kesal-kesal gemas. Sekelebat bayangan jika yang mengajaknya bicara itu anaknya. Akankah Semesta menghendaki dirinya.
Menjadi seorang ayah?
Lantas bagaimana caranya, hingga saat ini dia belum pernah menyentuh Wan Aina.
Bibir yang tadi tertarik membentuk senyuman, berangsur normal.
“Maksudnya kerjanya cuma menjejer uang Paman. Wah enak ... sekarang saja aku bisa Paman. Coba saja kalau Paman mau, nanti aku jejer uangnya Paman dari sini sampai pintu.” Tunjuknya kearah pintu.
Ali terkekeh mendengarnya, analogi Zahwa tentang manager keuangan okey juga.
Dasar dari manajemen keuangan, ialah mampu memperhitungkan dan mengalokasikan. Dana pengeluaran maupun pemasukan secara efisien dan terperinci.
Morgan Housel_ dalam bukunyaThe Psychology of Money. Mematahkan pendapat seseorang.. Jika’ Mengelola uang dengan baik tidak ada hubungannya dengan kecerdasan kita. Akan tetapi lebih banyak berhubungan dengan perilaku kita. Sebab sebuah perilaku sukar untuk di ajarkan, bahkan kepada orang-orang yang sangat cerdas.’
“Ya mungkin seperti itu, setelah menganalisis jumlah semua uangnya. Atau uangnya dijejer katamu(dibariskan) kita bisa memutuskan untuk mengeluarkan berapa, untuk apa, dengan begitu kita akan tahu. Jika ada pengeluaran atau pemasukan....”
Meisya mulai mengerjap-ngjapkan matanya. Sepertinya pembicaraan dua orang beda umur itu. Mengganggu tidurnya.
Meisya mendongak, dilihatnya seorang gadis berwajah bulat duduk di sampingnya. Dan sang suami berdiri sambil menatap ponsel.
Disaat itu Ali mulai mengalihkan pandangannya. Saat Meisya tanya jam padanya.
“Waduh lima belas menit lagi matahari terbit,” ucap Ali terkejut.
Ia pikir tidak begitu lama berbicara dengan Zahwa. Namun mengapa membuatnya kesiangan mengerjakan shalatnya.
Pembicaraan dengan Zahwa ternyata menyenangkan, buktinya dia lupa jam.
“Kenapa kamu enggak bangunin aku sih Bib?” protes Meisya mengelap matanya yang sembab.
Ali menatap Zahwa, meminta pertanggung jawaban. Karena bicara dengan nona kecil itu. Dia telat subuh dan lupa mengabari ayahnya.
“Dua jam lagi kan pemakaman nenek,” ujar Meisya kembali menangis.
__ADS_1
Mampir di novel satunya yuk Melamar Tuan Velden
Maaf ceritanya tidak memuaskan!