
Sehari sebelum pertemuan keduanya. Pasangan suami-istri yang berada di tempat yang berbeda. Mulai mengevaluasi diri.
Malam itu Ali termenung, nilai yang selama ini ia pegang, telah patah. Predikat sebagai suami idaman, sepertinya sudah luntur. Tatkala dia mengeraskan suaranya untuk membentak istrinya. Ia merasa bersalah, atas kemerahan yang tak bisa ia kendalikan.
Malam itu ia yang bermalam di hotel Bandung. Mulai menyalahkan dirinya sendiri.
“Agrhhhhhhhhhhh!” teriaknya menjambak rambutnya kasar.
“Bodoh ... kenapa aku mudah tersulut emosi....”
“Dan mengapa juga, aku mengatakan semuanya pada Aina. Tentang aku yang berusaha ... menepatkan diriku sebagai seorang suami dari dua wanita.” Ia melemparkan tubuhnya dikasur.
“Bukankah itu memang kewajibanku ...sebagai seorang suami. Yang harus mampu ...bersikap adil.”
“Apa yang sebenarnya ingin aku tunjukkan pada Aina?” Ali bangkit dari berbaringnya.
“Apa aku ingin dia tahu, jika posisiku lebih sulit. Ketimbang dia menjadi wanita yang kedua....”
“Apa aku ini hanya butuh validasi saja?”
Ia kembali duduk nafasnya tersengal-sengal. Ingatannya kembali, kepada Aidin. Yang mengomentari tentang perubahan sifatnya, yang susah meregulasi emosi.
Ali menarik nafas dalam-dalam. Mencoba bertanya, kepada dirinya sendiri apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Mengapa sering marah?
Apa ini ada sangkut pautnya karena banyak pikiran?
Dan hal itu pula membuat susah tidur. Hingga mengakibatkan emosinya tidak stabil.
“Akar dari permasalahan ini terjadi. Tatkala istri memintaku menikah lagi.” Matanya memerah menahan amarah.
Kembali menarik nafas panjang, untuk meregulasi kemarahan yang akan terjadi.
“Sejujurnya aku belum bisa menerima pernikahanku dengan Aina. Dan disaat yang bersamaan, aku diharuskan untuk menerima kenyataan. Jika aku adalah lelaki dua istri.”
Ia memang belum bisa menerima pernikahan keduanya. Akan tetapi, apa yang dikatakan pada Wan Aina. Jika ia berusaha menyayanginya. Itu benar, terlebih lagi. Ia merasakan ketulusan cinta dari istri mudanya. Begitu tulus dan dalam.
“Tuntutanku sebagai seorang suami terlalu banyak. Belum lagi mengenai kerjaan, semua itu menyarang diotak. Patas saja, jika aku sering emosi. Tidak ada ruang dalam pikiranku, untuk santai. Semua yang ada dalam otak hanya tekanan dan penyesalan.”
***
Disisi lain seorang gadis, melemparkan ponselnya ke atas ranjang. Setelah panggilan diputus secara sepihak. Dia berteriak histeris dan menangis.
“Kenapa setiap yang aku lakukan selalu salalu salah dimatamu mas!” ujarnya tertunduk lemas di samping ranjang.
Memukul pinggiran ranjang berkali-kali.
“Tentang semua yang kau katakan tadi. Itu semua tugasmu....” Terjeda karena terisak. “Sudah tugasmu berlaku adil padaku. Sudah tugasmu juga, menyayangiku. Sebagaimana aku mencintaimu....”
“Dan aku juga melakukan tugasku menanyakan kabarmu. Tapi kau....” Dijeda terkekeh getir. “Melupakan tugasmu untuk mengabariku. Sesibuk apa pun itu ... kau wajib mengabari. Hal itu bisa membuat seorang istri merasa berharga dan penting. Terlebih lagi tidak kepikiran dengan keadaanmu,” ujarnya dengan suara lemah yang didominasi oleh sesenggukan.
“Kau memang tidak menganggapku istri ...hiks ...aku membencimu ...aku tidak berarti apa-apa dalam kehidupanmu....”
__ADS_1
Mungkin setiap kalimat yang terlontar dari mulutnya terdengar egois. Akan tetapi, jika mengingat umurnya. Mungkin hal ini wajar, quarter life crisis sangat rentang di umur seusianya. Dimana usia remaja, jarang sekali. Mau memandang permasalahan dari beberapa sudut.
Maka kesedihan yang mendalam itu, sebagai pengantar tidurnya menit itu juga.
...***
...
Jam tujuh pagi Ali sampai di Jakarta. Lelaki itu memutuskan pulang ke rumah. Untuk menemui istrinya. Hal itu mampu membuat Aidin berkomentar.
“Ngapain ke rumah Abang segala, nanti kita telat.” Aidin menggerutu kesal. Jika saja dia yang berada di balik kemudi, pasti ia akan melajukan mobilnya ke kantor.
“Saya harus menemui Aina, sebentar ini urgent Din!” Lelaki itu membelokkan mobilnya masuk kompleks perumahan.
“Itu urusan pribadi, jadi jangan dicampur adukkan di pekerjaan.”
“Urusan keluarga, kalau udah urgent mengalahkan semuanya.”
“Itu tidak profesional....”
Mobil Jeep itu berhenti di depan rumah dua lantai. Ali mengulurkan kepalanya, ketika melihat pembantu rumahnya menyapu halaman.
“Bik, Aina ada?”
Bik Tin yang sedang menyapu halaman menoleh ke sumber suara. Dilihatnya sang majikan duduk dikursi kemudi.
Paruh baya itu berjalan mendekati majikannya. Saat sudah di samping mobil Jeep. Bik Tin menjawab, “Mbak Aina-nya baru saja keluar rumah untuk belanja.”
***
Malam itu Wan Aina yang ingin ke rumah utama terkejut. Ketika tiba-tiba, ada taksi berhenti di depan rumahnya.
“Siapa ya?” gumamnya penasaran.
Pintu mobil terbuka, tahu jika Ali yang keluar yang dari mobil. Wan Aina segera berbalik arah masuk ke dalam rumah.
“Aina...!” teriak Ali mengejar istrinya.
Lelaki itu berlari saat pintu utama akan ditutup dari dalam.
“Minggir ... ngapain kemari....” Wan Aina masih berusaha menghalangi suaminya masuk ke dalam rumah.
“Kamu masih marah ... karena percakapan tadi malam? Saya minta maaf,” ujar Ali mengganjal pintu dengan tubuhnya, agar tidak tertutup.
Mudah baginya untuk mendorong dengan kasar dan pintu akan terbuka lebar.
Namun ia tak melakukan hal itu, sebab ia tak mau. Jika istrinya jatuh terhuyung ke belakang.
Mempertahankan pintu tetap terbuka sedikit adalah pilihan yang tepat.
“Minggir ....minggir ... aku tidak mau melihatmu lagi!” kesal Wan Aina.
Ali tetap bergeming dari tempatnya.
__ADS_1
Ia mulai berpikir, mungkin hal seperti ini tak akan terjadi. Pada hubungannya dengan Meisya. Ketika mereka sedang ada selisih kecil. Diam menjadi pilihan. Namun hal ini juga kian hilang. Mengingat setelah Meisya, memintanya untuk menikah kembali. Mulutnya akan terbuka dan mengomel.
“Aina ... ayolah biarkan Mas masuk. Jangan sampai orang melihat kita sedang bertengkar. Ini aib keluarga ... sudah seharusnya kita menyembunyikannya....” ujarnya celingak-celinguk, berharap tidak ada orang yang melihat.
Kalimat panjang yang Ali ucapkan, berhasil membuat kerasnya emosi Wan Aina meredam. Gadis itu mulai meninggalkan pintu utama. Membiarkan sang suami masuk ke dalam.
Ali segera menutup pintu utama.
“Berikan Mas, kesempatan untuk menjelaskan. Kenapa saya tidak mengabari. Kenapa saya membentakmu. Semua itu ada alasannya,” jelas Ali menarik pergelangan tangan istrinya. Yang membuat tubuh istrinya berbalik kearahnya.
Dua pasang mata itu, saling mengisi. Namun pemilik mata coklat itu, melengos.
“Lepas....”
Gadis itu berusaha melepaskan cengkeraman suaminya.
“Aku tidak peduli dengan alasanmu ... semua sudah kau jawab tadi malam ...kau tidak pernah menganggapku ...siapa aku?” Wan Aina terkekeh, malam ini ia tidak memperbolehkan suaminya memotong ucapannya.
“Wanita yang hanya bisa menuntut dan menuntut ... Ya kan?” ujarnya mengelap air matanya yang mulai menetes.
Ali membisu, ternyata ucapannya tadi malam. Membekas di ingatan istrinya.
“Kehadiranku tidak pernah diinginkan oleh siapa pun ...hiks!”
“Bu-buk—“
Wan Aina segera memotong ucapan suaminya.
“Apa yang aku lakukan selalu salah ... padahal aku pikir itu yang baik,” ujarnya mundur, ketika suaminya ingin menggapai tangannya.
“Ya aku tidak berguna ... aku selalu menjadi akar masalah dalam kehidupan orang lain. Kalau begitu tidak ada gunanya lagi aku hi—“
“Emppppppp!” Wan Aina memukul dada suaminya.
Entah bagaimana ceritanya bibirnya bisa menyatu dengan suaminya. Kejadian ini terjadi begitu cepat, ketika tiba-tiba pergelangan tangannya di tarik.
“Bapak....” pekiknya dari belakang.
Ali terkejut setengah main. Lelaki itu segera melepaskan penyatuan bibirnya. Tampaknya Ali terlihat canggung ketika beradegan ciuman. Tiba-tiba saja pembantu rumahnya, datang. Ia berpikir jika hanya mereka berdua yang ada di rumah ini. Nyatanya semua itu keliru.
Wan Aina segera pergi meninggalkan suaminya, seraya mengusap bibirnya. Ini kali pertama ia berciuman. Dia sangat malu karena bik Tin memergokinya.
Ali melirik kearah istrinya yang sudah tak terlihat lagi. Lelaki itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ciuman yang terjadi tadi, tujuannya untuk membungkam mulut istrinya. Yang bicara ngawur. Tidak ada niatan lain selain itu.
“Bik, saya harap apa yang Bibik dengar dan lihat. Bi Tin bisa menjaganya,” ujarnya memperingatkan.
Bik Tin mengangguk, tentu ia tahu maksud majikannya. Bagaimana pun, ia sudah lama hidup bersama majikannya. Daripada istri-istri majikannya.
“Ya sudah saya ke kamar dulu,” Bik Tin melepas kepergian majikannya dengan bergumam.
'Bapak lelaki baik, yang berusaha menutupi aib istri A dari istri B. Pun sebaliknya ... semoga Tuhan senantiasa memberikan kebahagiaan dan ketenangan jiwa bapak ’.
TBC...
__ADS_1