Kau Rela Ku Lepas

Kau Rela Ku Lepas
Ch40 : Memetik Buahnya


__ADS_3

Perjalanan ke rumah dihabiskannya untuk menggerutuki kesalahannya.


Aidin yang duduk di balik kemudi, sesekali melirik ke samping.


“Tidak ada gunanya menyalakan diri Bang!” ujar Aidin iba.


Sadari sang sahabat mendapatkan telepon dari istri mudanya. Lelaki itu terus mengeumpat.


“Semua itu salah saya ...maggnya kambuh itu karena ulah saya,” lirih Ali.


Ketika teringat telepon dari Wan Aina, yang mengatakan jika saat ini Meisya sedang melawan nyeri diperut. Berkali-kali ia membenturkan kepalanya ke senderan kursi.


“Din apa saya mampu menjalani kehidupan ini?”


Kalimat yang keluar dari mulutnya itu, berhasil membuat Aidin menatapnya.


Aidin terdiam, enggan bertanya, alasannya. Hal ini ia lakukan untuk menjaga privasi sahabatnya. Mungkin saja Ali tidak sadar dengan ucapannya sendiri. Mengingat beberapa bulan yang lalu Ali, enggan membeberkan masalahnya. Dari situlah ia mendapatkan pelajaran. Untuk lebih hati-hati saat menanyakan hal yang sifatnya private.


“Toxic relationship ... mungkin itu yang terjadi tiga bulan ini.” Ali menyadarkan kepalanya di pintu, menatap sahabatnya lemah. Butuh masukan.


Namun sang empu tetap bergeming.


“Saya sadar penuh dengan ucapan yang keluar saat ini. Jadi kau bisa memberikan komentarmu,” tambah Ali.


Lelaki itu berpikir mungkin saja Aidin. Tak mau menjadikan keadaan ini menjadi sebuah momentum. Untuk mengorek dan mengetahui permasalahan rumah tangga seseorang, apalagi jika seseorang itu bicara tanpa sadar.


“Apa yang Abang akan lakukan ke depannya?”


Pertama kali angkat bicara, Aidin memilih konsep bertanya. Tujuannya agar tidak mendahului lawan bicaranya, sebab dengan itu ia akan tahu keinginan Ali.


Melihat Ali menggeleng lemah, Aidin menghela nafas berat.


“Segera buat jadwal ke psikiater gimana? Mungkin dengan panduan profesional, Abang bisa tersadarkan, dengan beberapa hal. Yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya ... atau justru ... pernah terbesit tapi dilupakan,” usulnya memegang setir erat, tatapannya tertuju ke jalan yang macet.


“Itu yang saya inginkan ... kira-kira dua hari lagi bisa enggak ya....”


“Emm ....” Aidin tampak berpikir.


“Gini saja, biar saya yang menghandle itu. Dan bertanya kepada psikiater yang tadi nomornya sempat saya kirim. Untuk saat ini ...Abang fokus sama teteh!”


Ali menepuk pundak Aidin tidak percaya. Meski baru mengenal sekitar enam tahunan. Ternyata Aidin memiliki empati cukup tinggi.


Mendapati jalan yang longgar Aidin segera menambah laju mobilnya, untuk sampai ke tempat tujuan.


Setelah dua puluh tiga menit di perjalanan. Akhirnya mereka sampai di depan rumah berlantai tiga.


Ali langsung turun disusul Aidin dari belakang.


Ali menaiki tangga dengan cepat. Sedangkan Aidin ragu untuk mengikuti sahabatnya. Mengingat jika dia bukan siapa-siapa, ditambah lagi istri pertama sahabatnya. Sosok yang menjaga kehormatannya.


Sedangkan diatas Ali langsung menerobos masuk ke dalam kamar.


Wan Aina yang duduk di samping kiri ranjang, seraya mengelus punggung Meisya. Tersentak saat pintu terbuka.


Meskipun beberapa waktu lalu sempat marahan, nyatanya kedua perempuan itu sudah baikan. Semua itu tak lepas dari nasihat suaminya. Beberapa kali Ali mengumpulkan keduanya, untuk membahas permasalahan, mengenai pertengkaran mereka. Pertemuan keempat akhirnya mereka damai dan saling minta maaf satu sama lainnya.


Ali tertegun melihat istri pertamanya terguling ke kanan, kembali lagi ke kiri sambil mencengkeram perutnya erat. Menggeram menahan sakit.


Melihat hal itu Ali langsung berlari mendekat.

__ADS_1


“Istri kau akan baik-baik saja,” ucapnya mengelus kepala Meisya. Perempuan itu mendongak menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.


“Sakit Bib!” jerit Meisya menggenggam erat tangan kiri suaminya.


“Bertahanlah kita ke RS sekarang.”


Ali tertunduk dalam, mengingat keadaannya sekarang. Yang tidak bisa apa-apa dengan satu tangannya.


“Kau masih bisa berjalan?” tanyanya dengan tatapan sendu. Melihat istri pertamanya menggeleng dan kembali berteriak kesakitan. Ia tampak terpukul.


Sedangkan Wan Aina yang juga ada disana memutuskan untuk diam, dan terus mengelus pinggang Meisya.


“Aku minta bantuan Aidin ya?” kata Ali beranjak dari duduknya.


Namun langkahnya terhenti, ketika Meisya menarik tangannya. Menolak keras idenya.


Ali kembali bersuara, “Aku tahu ini bertentangan dengan nilai yang kau pegang. Tapi ini urgent.”


“Eng ...gak jang...an ... aku ...enggak ..mau agrhhhhhhhhhhh!”


Ali mengusap wajahnya kasar, pikirannya buntu. Membuat ia melontarkan pertanyaan. Yang seharusnya tidak perlu ditanyakan.


Sebab bisa menjadi boomerang.


“Aina kenapa tadi tidak dibawa saja langsung ke RS?” Melirik kearah Wan Aina.


“Kau menyalahkan aku?” sanggah Wan Aina tidak habis pikir dengan pikiran suaminya.


Melihat hal itu Meisya yang kesakitan semakin putus asa.


“Mas cuma tanya Aina,” geram Ali berdiri dari ranjang.


Tak disadari dari ketiga orang itu. Ada sepasang telinga yang mendengar pertengkaran mereka. Sadari tadi Aidin berdiri di depan pintu masuk, bukan tanpa alasan. Sebelum ia memutuskan ke atas. Terlebih dulu ia mencoba menimbang-nimbang keputusannya.


Apakah benar jika ia ke atas?


Lantas bagaimana jika Ali membutuhkan bantuannya.


Mendengar pertengkaran dan jeritan kesakitan. Aidin jadi paham dengan kondisi sahabatnya yang serba salah. Melihat hal itu ia langsung menelepon seseorang.


“Halo lu sudah sampai mana? Lama banget, gua sumpahin ...tiga menit enggak ke sini juga. Jadi perawan tua lu,” cetusnya memelankan suaranya.


“Heh ...gua balikin sumpahnya ke lu ... sebelum tiga menit kalau gua udah sampai sana ...lu yang jadi perjaka tua,” sahut seorang wanita yang ada dalam telepon.


“Jangan banyak ngomong, lu dimana Markonah?”


“Depan rumah.”


Aidin langsung mematikan sambungan teleponnya. Sebelum Dena sampai dilantai atas, dia langsung mengetuk pintu kamar Ali. Jangan sampai Dena mendengar pertikaian yang sedang berlangsung kali ini.


Mendengar pintu diketuk Ali dan Wan Aina menoleh. Saling menatap satu sama lainnya. Cepat Ali melangkahkan kakinya dan membuka pintu.


Betapa terkejutnya ia, ketika melihat sosok perempuan berjas putih dengan tas di tangannya. Ia menatap Aidin, penuh tanya.


Namun si empu hanya cengar-cengir menggaruk kepalanya.


Memang benar sebelum akhirnya memutuskan ke atas. Aidin sempat menelepon Dena, selaku teman sekolahnya dulu yang kini berprofesi sebagai dokter. Bukan tanpa sebab ia melakukan hal itu. Jika kembali teringat dengan istri sahabatnya yang sedang sakit. Pasti harus dirawat, namun kembali lagi. Tidak memungkinkan juga, bagi istri sahabatnya berjalan menuruni tangga dalam keadaan sakit.


“Maaf, bisa saya mengecek kondisi istrinya Mas?” tanya Dena heran, melihat gelagat Ali yang tidak langsung mempersilahkan ia masuk.

__ADS_1


“Ah ... iya-iya Mbak silahkan,” ujarnya tersadar.


Setelah Dena masuk ke dalam, Ali segera menutup pintu. Dan duduk di tangga satu undakkan di atas Aidin.


“Sekali lagi thanks? Saya tidak ke pikiran untuk menghubungi dokter kemari.”


“Wajar, orang kalau emosi jarang berpikir jernih,” jawabnya memandang layar ponselnya.


Mendengar hal itu Ali menunduk malu. Jika mengingat kesalahan yang baru saja ia lakukan. Akan tetapi rasa penasarannya kepada Aidin lebih mendominasi.


“Apa yang membuat lu memutuskan untuk memanggil dokter? Padahal saya belum menyuruh?” Ali melirik kearah sahabatnya heran heran.


Aidin membuang napas sejenak, sebelum menjawab. “Sesimpel, melihat pakaian istri Abang dan keadaan saat ini....”


Ali kembali menepuk pundak Aidin, bentuk terima kasih.


“Apa yang Abang tanam waktu itu. Mungkin sudah saatnya memetik buahnya saat ini,” tegasnya dengan bibir tertarik ke atas.


...***


...


Masih teringat jelas dalam benak Aidin, dulu saat ia masih menjadi sopir taksi. Ada seorang lelaki keluar dari mobil menghampirinya dan bertanya.


Kala itu ia sedang bersandar di samping mobil.


“Mobilnya kenapa bro, mogok?”


“Kehabisan bahan bakar Bang!”


“Oh ... begitu ...ya sudah begini saja enggak usah khawatir... Masnya tunggu disini. Biar saya cari SPBU terdekat.”


“Nuwun Bang?” ujarnya, menangkup kedua tangannya.


Ali yang kala itu kurang lebih baru berumur 30 tahun mengangguk mengacungkan jempolnya. Dan berlalu. Tak butuh waktu lama, Ali kembali dengan jerigen bahan bakar dan corong.


“Omong-omong sudah berapa lama jadi supir taksi?” tanya Ali menuangkan bahan bakar ke tangki mobil.


“Baru Mas, sambil nunggu ijazah keluar. Karena nunggak...”


“Nunggak?” Dahi Ali berkerut.


“Enggak bisa melunasi gitu Mas!”


“Oh ...memang ambil jurusan apa?”


“Ekonomi Mas!” jawabnya lesu.


“Bagaimana kalu saya pinjami uang. Jangan sampai disia-siakan ijazahmu untuk cari kerja. Nanti saya bisa rekomendasikan kamu ke kantor saya....”


“Benar Mas? Mas punya kantor toh?” Pemuda 24 tahun itu begitu antusias. Mendengar tawaran dari seseorang yang baru dikenalinya. Meski ia tak tahu namanya orang itu.


“Hem ... maksud saya, kantor yang saya kerjai sekarang. Kebetulan saya kenal dengan pemilik perusahaannya,” tanggap Ali merendah.


Maka hal itu pula yang selalu Aidin ingat. Dulu Aidin bukan siapa-siapa. Namun uluran tangan Tuhan, telah menjadikan Ali sebagai lantaran kesuksesannya.


Becik ketitik olo ketoro. Jangan heran, jika ada orang yang baik memetik sebuah kebaikan.


***

__ADS_1


TBC...


__ADS_2