Kau Rela Ku Lepas

Kau Rela Ku Lepas
Ch64 Mencari


__ADS_3

Dua hari di kota Pulau Seribu Masjid. Tak lantas membuat rasa kangennya dengan Aprit menghilang. Sungguh ia ingin segera pulang dan mencari remaja tanggung itu di rumah singgahnya.


“Kopi....” Aidin menyodorkan cangkir yang masih mengeluarkan uap, kearahnya.


Ia pun menerima dan kembali menatap pantai, dari balkon kamar mereka nginap.


“Apa ada masalah? Kurang fokus beberapa hari terakhir ini?” Aidin yang berdiri di sampingnya, menyeruput kopi dan meletakkan lagi ke lepek. Berdeting pelan.


Ali menarik nafas panjang, melirik lawan bicaranya.


“Seperti yang saya ceritakan dulu!” singkatnya.


Aidin mengangguk paham, tahu arah penjelasan Ali.


“Boleh saya berkomentar?”


Ali kembali melirik, dahinya mengkerut. Penasaran. Satu-satunya orang yang paling tahu keadaannya sekarang adalah Aidin. Setelah berstatus singgel, ia sering sharing dengan Aidin. Dan yang lain.


Effort membuka diri, untuk menemukan hal baru dan yang tak pernah terpikirkan. “Coba saja....”


“Terlalu terburu-buru,” kata Aidin, Ali memasang mimik wajah tak paham. Membuat Aidin menarik nafas dan berusaha menjelaskan.


“Kasarnya begini ...ada seseorang memutuskan untuk tidak mencuri lagi. Suatu hari ia bertemu dengan orang baru, ia pun bercerita jika ia tidak mau mencuri lagi. Namun tiba-tiba saja, orang baru itu menawarinya mencuri. Bagaimana perasaannya?” Aidin menggantung ucapannya, melirik sahabatnya, berusaha keras mencerna perkataannya.


“Ilfil? Marah? Atau justru ia merasa direndahkan?” pungkas Aidin kembali menyesap kopi.


Ali termenung, pandangannya menerawang jauh.


“Mungkin itu yang di rasakan siapa A....” Aidin mencoba mengingat nama, remaja tanggung yang selalu Ali bahas.


“Aprit!” sahut Ali cepat.


“Ah ... iya si Emprit!”

__ADS_1


Mendengar hal itu Ali terlihat kesal.


“Jadi maksud kamu, saya terlalu cepat memintanya menjadi putra gitu?” simpul Ali membuat Aidin menjentikkan tangannya bagian kiri.


“Benar ... disaat ia berusaha untuk tidak bergantung pada orang lain. Abang ... tiba-tiba saja, secara tersirat. Ingin dia bergantung pada Abang! Mungkin saja, anak itu merasa ... kenapa orang lain tidak percaya dengan kemampuannya. Jika ia bisa hidup tanpa bantuan seseorang.”


“Mengingat....” Aidin kembali menggantung ucapannya. Berhasil membuat Ali kesal karena mati penasaran.


“Dari cerita Abang, dia tipe yang tidak mau dikasihani.”


Mulai malam itu Ali mengevaluasi diri. Berbicara dengan Aidin, membuat ia tahu di mana letak kesalahannya.


Siang itu ia baru keluar dari bandara. Dan berpisah dengan sahabatnya, untuk pulang ke rumah masing-masing. Setelah melakukan dinas, yang cukup lama.


Setibanya di kos, ia langsung membersihkan badannya dan beristirahat sejenak. Sebelum memutuskan untuk mencari alamat rumah singgah, yang ibu panti berikan.


Malam harinya, ia segera meluncur membelah jalanan dengan motor maticnya. Tujuannya hanya satu. Jika bertemu dengan Aprit, ia akan meminta maaf. Karena permintaannya, yang terlalu ekstrim. Dan mengesampingkan egonya dulu.


“Benar ini, tempatnya?” tanyanya melihat sekitar yang dipenuhi oleh rumah-rumah warga.


“Parmisi, maaf apa disini ada rumah singgah, yang dijadikan tempat tinggal anak-anak yang membutuhkan tempat tinggal?” tanya pada ibu hamil yang kebetulan lewat.


“Oh, benar Mas! Itu rumah dua lantai yang terbuat dari kayu!” tunjuk ibu hamil kearah bangunan kayu jati yang masih kokoh.


Setelah mengucapkan terima kasih, ia pun lantas melangkahkan kakinya. Dari kejauhan ia bisa melihat beberapa lelaki duduk lesehan sedang asik mengobrol. Jantungnya berdebar senang, karena sebentar lagi ia akan berjumpa dengan Aprit. Ia pun mempercepat langkahnya dan menyapa, membuat semua orang menatapnya dan menerima uluran tangan. Tujuh remaja dan satu bapak-bapak. Namun sayang ia tak menemukan wajah oriental milik Aprit.


Seketika harapannya hancur, senyuman di wajah hilang seketika.


“Cari siapa A?” tanya bapak-bapak berwajah sumeh.


“Ah ... begini sebenarnya saya kesini mencari remaja tanggung bernama Aprit, apa benar dia tinggal di sini!”


“Aprit, dia belum balik Bang!” sahut anak remaja berumur 17 tahunan. Membuat Bang Ape, pengagun jawab rumah singgah menoleh.

__ADS_1


“Kalau boleh tahu kapan pulangnya ya?” tanya Ali taksabaran.


“Bentar lagi pulang, tunggu saja di sini Bang!” jawab si pemuda.


Dibalik pohon mangga, remaja tanggung itu bersembunyi. Ia mencoba mengintip, apa benar lelaki yang memakai jaket berbaur dengan Bang Ape dan teman-temannya adalah. Orang yang sama yang menawarinya untuk menjadi putranya.


“How did him get here?” gumamnya heran, berpikir. Disaat yang bersamaan, matanya melirik kearah tangan kirinya yang berpegang pada pohon. Matanya melebar ketika, ular piton mendekati tangannya. Ia segera menutup mulutnya dengan tangan satunya, menahan nafas. Ketika ular itu melewati telapak tangannya. Memejamkan matanya ketika merasa dinginnya tubuh ular.


“Oh My God! Help me!” batinnya berusaha membuka matanya, apa ular itu sudah melewatinya.


“Hah!” Membuang napas kasar saat ular itu naik ke atas. Seketika tubuhnya tertunduk lemas, membuat kakinya menginjak kayu.


Membuat perhatian Bang Ape dan penghuni rumah singgah menoleh. Namun Aprit lekas menggeser tubuhnya, ngumpet.


“I Hope him comes home soon.” Menggaruk telinganya yang gatal karena nyamuk.


Ali yang sedang duduk bersama Bang Ape, dikagetkan dengan bunyi ponselnya.


“Maaf, Bang dan Adik-adik ... saya izin angkat telepon!” ujarnya berdiri yang membuat Bang Ape mengangguk.


Setelah hampir dua menit, berbicara menjauh dari bang Ape. Ia kembali dan pamit pulang karena ada temanya yang menunggu di kosnya.


“Hati-hati, nanti kalau Aprit pulang saya sampaikan!” Ali mengangguk seraya menjabat tangan dan pergi kearah motornya.


Mendengar suara orang mestarter motor, April menelengkan kepala. Ia bernafas lega, ketika lampu belakang motor metic. Mulai menjauh. Sebelum Bang Ape dan temannya mengalihkan pandangannya, ia langsung berdiri dan menepuk dedaunan yang ada di pundaknya dan berlari kearah Bang Ape.


“Le, tadi ada orang yang cari kamu! Orangnya baru cabut!” ujar Bang Ape, ketika mendapati Aprit jalan kearahnya.


Aprit terdiam, dan berucap, “Sorry Bang! I went up first to pee!” katanya melewati Bang Ape, dengan cepat.


“Omong apa tuh, pengen makan tempe? Atau ngehina namaku?” Dahi Bang Ape berkerut, saat anak asuhnya berbicara dengan bahasa Inggris.


Tiga bulan lamanya tinggal dengan, orang baru membuat Aprit kesusahan berinteraksi. Ia hanya akan mengangguk jika dipanggil. Menggeleng jika diajak berkumpul. Sebab ia tahu, ia akan susah memahami bahasa Bang Ape dan teman-temannya. Karena memakai bahasa Jawa.

__ADS_1


__ADS_2