Kau Rela Ku Lepas

Kau Rela Ku Lepas
Ch38 : Omelan Berujung Kissing


__ADS_3

Pagi itu jam setengah delapan, Ali telah berdiri tepat di depan gerbang rumah utama. Dari kejauhan ia bisa melihat Meisya berjalan kearah garasi. Bisa dipastikan jika istrinya akan pergi ke butik. Langkahnya, ia percepatan untuk menemui istri pertamanya.


Betapa terkejutnya Meisya mendapati suaminya berdiri di belakangnya. Ketika ia baru saja membuka pintu mobil.


“Bib....!” Mendongak membuat matanya bersilobok dengan manik Ali.


Cepat perempuan itu menunduk.


Hal ini membuat Ali berspekulasi, mata bengkak istrinya. Disebabkan karena menangis.


Lelaki itu menghela nafas panjang.


“Aku lapar,” ujarnya datar, memasang wajah paling apatis.


“Memangnya Aina tidak masak?”


“Aku ingin kare buatanmu.”


Lelaki itu tersenyum penuh arti, ia ingin tahu. Apa Meisya akan tetap membuatkannya. Atau justru lebih mementingkan bisnisnya. Mengingat jika lusa, ia telah melukai perasaan istri pertamanya.


Dengan menolak mentah-mentah permintaan Meisya, agar ia tinggal di rumah utama. Bahkan selama tiga hari terakhir, ia tidak mengunjungi rumah utama. Begitupun sebaliknya, istri pertamanya juga tidak berusaha menemuinya.


“Baiklah, ayo aku buatkan.” Meisya menutup pintu mobil kembali. Dan menarik lengan suaminya.


Ali hanya mengikuti langkah istrinya. Mungkin inilah yang ia suka dari Meisya, perempuan satu itu. Tak pernah menyimpan dendam.


“Kenapa penutup wajahnya enggak dibuka?” tanyanya yang telah duduk di kursi dapur.


Meisya menoleh, dan menggeleng.


“Biar tidak ribet saat ingin berangkat ke butik.” Meisya kembali menumis bumbu.


Ali mengangguk, bukan itu alasan yang sebenarnya. Ia tahu persis, istri pertamanya itu berusaha menyembunyikan wajahnya yang sembab karena menangis. Dan tentu ia tahu sebabnya.


“Bagaimana jika aku tidak mengizinkanmu pergi. Apa kau akan tetap pergi?”


Meisya menghentikan aktivitasnya, dia terkejut dengan pertanyaan yang bersifat perintah itu.

__ADS_1


“Jika ingin melaksanakan puasa sunah saja ... Seorang istri harus izin pada suaminya. Jika di izinkan ...boleh dilaksanakan. Namun jika sebaliknya ...Aku yakin kau tahu jawabannya,” tukasnya kembali.


Nada terdengar mengancaman.


Lelaki itu mengumpat dirinya sendiri, ia tidak pernah berpikir. Akan menjadi suami yang posesif dan overprotektif seperti detik ini.


“Aku akan tetap bersamamu. Dan menyerahkan pekerjaanku pada karyawan,” jawab perempuan yang menunduk dalam.


Ali tersenyum mendengarnya, lelaki itu berdiri dari duduknya. Dan keluar dari dapur menuju ruang keluarga. Dilihatnya bik Tin sedang menyapu kolong sofa.


Ia berdeham, membuat bik Tin terlonjak kaget.


“Eh salam ...eh salah ...duh Bapak kenapa bikin kaget saja.”


Paruh baya itu memegangi dadanya.


“Habisnya saya lihat bik Tin asik bergumam sendiri. Saya jadi tidak tega jika harus memanggil,” ujarnya tak merasa bersalah.


“Apa bedanya Pak? Dengan berdeham yang membuat jantung Bibi deg-degan kaget?” protes bik Tin, namun sang empu hanya diam.


“O ...ya Bik! Apa yang dilakukan dia tiga hari terakhir ini?” tanya Ali melirik kearah dapur.


“Katakan, yang sejujurnya Baik!” Bersuara dengan suara berat.


“Begini ... ketika Bapak, memutuskan untuk tinggal dengan mbak Aina. Ibu masuk ke dalam, dengan sesenggukan.” Bik Tin menghela nafas berat, sebelum kembali berucap, “Hingga sore, Ibu tidak keluar kamarnya.”


Rahang Ali mengeras mendengar penuturan asisten rumah tangganya. “Berarti dia melewatkan makan siang?”


Bik Tin mengangguk cepat. “Bahkan saat keluar dari kamar, Ibu tetap memakai penutup wajahnya. Dan juga saat bicara terdengar isakkan....”


Tangan Ali terkepal, tampak tak suka dengan keputusan istrinya. Yang mogok makan bak anak kecil.


Melihat wajah majikannya berubah bringas, bik Tin ketakutan sendiri. Untuk menceritakan semuanya.


“Terus apa lagi Bik?” Nada bicaranya naik satu oktaf.


“I ...itu Pak anu....”

__ADS_1


“Ceritakan yang sejujurnya, saya akan mendengarkan,” ucap Ali menurunkan suaranya, agar asisten rumah tangganya nyaman bercerita dengannya.


Bik Tin menarik nafas panjang, sebelum akhirnya bercerita. “Selama tiga hari ini, ibu selalu dikamar. Beliau keluar saat ingin mengisi teko saja. Setelah itu tidak keluar lagi ...terlebih lagi beliau juga tidak makan masakan Bibi! Tapi setiap malam, ibu makan mie instan Pak!”


Mendengar hal itu, Ali langsung melangkahkan kakinya menuju dapur dengan amarah yang membuncah.


***


Namun hati lelaki itu luluh, ketika melihat istrinya menghidangkan makanan di meja dapur. Dengan penuh semangat, sungguh salah rasanya. Jika ia memarahi istrinya karena mogok makan.


Apalagi jika di ingat kembali, apa yang terjadi kepada Meisya. Berawal darinya.


Apa mungkin, ia tega menambah luka lagi di hati istri pertamanya?


“Bib ... ternyata kamu sudah ada di sini? Aku pikir kau ada di kamar,” ujar Meisya ketika berbalik badan. Sang suami sudah berdiri di ambang pintu.


“Perut lapar pasti tahu jika makanan sudah dihidangkan,” jawabnya berjalan kearah meja makan.


Menarik kursi untuk duduk.


“Apa kau tidak makan?” tanyanya saat istrinya mengambilkan nasi untuknya.


“Tidak, aku tidak lapar!” jawab Maisya yang berdiri di samping suaminya.


“Aku bertanya apa kau tidak makan? Bukan tanya tentang kau yang lapar? Apa jngan-jangan kau memang mogok makan ya?” Menatap tajam istrinya, yang membuat perempuan itu menunduk dalam.


“Kau pikir kau hebat? Dengan memutuskan untuk tidak makan? Kau lupa dengan penyakitmu ini Hem?” Ali menarik lengan Meisya, yang membuat tubuh istrinya condong kearahnya.


“Kau selalu mengomel saat aku telat makan. Tapi kenapa itu tidak kau lakukan pada dirimu sendiri?”


Bik Tin yang dari tadi menguping, paruh baya itu merasa bersalah dengan majikan perempuannya. “Maaf Buk! Karena saya Ibu jadi dimarahi Bapak,” gumamnya pelan, perasaannya dipenuhi oleh rasa bersalah.


“Sekarang makan, jangan sampai magg kambuh. Mentang-mentang berapa hari ini nginap di hotel berbau obat. Jadi ingin lagi gitu? Hem....”


Meisya tersenyum dibalik niqabnya, mendengar ocehan suaminya yang berakhir candaan.


Perempuan itu terkejut, ketika suaminya menarik lengannya kembali. Membuat tubuhnya membungkuk. Senyumannya lebih merekah, tatkala sang suami memberikan kecupan di kedua pipinya.

__ADS_1


Cup ...cup


TBC...


__ADS_2