Kau Rela Ku Lepas

Kau Rela Ku Lepas
Ch02 : Nelangsa Parokialisme


__ADS_3

Dorongan keras dari luar. Membuat pintu utama terbuka lebar. Meisya mengelus dadanya terkejut. Saat melihat suaminya berjalan melewatinya dengan langkah lebar.


“Bib, ada apa?”


Namun Ali tak mengindahkan pertanyaannya.


Lelaki itu menaiki tangga satu persatu.


Perempuan itu lantas menengadah kepalanya. Dilihatnya sang suami membanting pintu kamar dengan kasar. Membuatnya kembali mengelus dada.


‘Kenapa dia terlihat kesal’ batinya.


Ia segera meletakkan


piring kotor yang ada ditangannya. Menaiki tangga dengan cepat untuk sampai ke kamar. Baginya sang suami lebih penting. Ketimbang pekerjaannya.


Meisya mendorong pintu kamarnya pelan.


Tatapan Ali tertuju keluar jendela. Hingga tak menyadari. JikaJika Meisya sudah berdiri di belakangnya, menatap punggungnya lekat.


‘Lima tahun aku bersamanya, jarang melihatnya seperti ini’ gumam Meisya dalam hati.


Perempuan itu lantas memeluk tubuh sang suami dari samping. Dagunya bertumpu di bahu kokoh suaminya.


Biasanya sang suami akan membalikkan badan, kemudian memeluknya.


Namun malam ini tidak!


“Bib!” panggilnya sedikit menelengkan kepalanya. Memeriksa wajah lawan bicaranya.


Terlihat lesu. Dan diam membisu.


Tiga kali Meisya memanggil suaminya.


Ali tetap bergeming.


Tangan kekar itu, mulai melepaskan tangan istrinya, yang melilit pinggangnya.


Hal ini membuat Meisya, terkejut. Pasalnya lima tahun mengarungi rumah tangga. Sang suami lebih mendominasi manja padanya.


“Apa kau tidak mencintaiku?”


Meisya menunduk, pertanyaan seperti ini.


Akhir-akhir ini sering keluar dari mulut Ali.


“Kenapa kau hanya diam?” tanya Ali mengguncang kedua bahu Meisya. Membuat istrinya mendongak menatapnya.

__ADS_1


Dua pasang netra hitam itu beradu. Terpancar jelas jika mereka saling mencintai.


Meisya melengos, perempuan itu menyeka air matanya, yang mulai menggenang di pelupuk mata.


“Tanpa aku menjawab kau pasti tahu Bib!” papar Meisya. Rasanya sulit untuk menatap kembali netra suaminya.


Jika itu terjadi, perempuan itu percaya tangisnya akan pecah.


“Benarkah?” tanya Ali mencoba mengikis jarak.


Membuat Meisya mundur, dengan sempoyongan.


“Lantas mengapa kau memintaku untuk bersumpah untuk menikah kembali?” cecarnya dengan wajah menahan amarahnya.


Ini kali kedua Ali membentak istrinya. Selama mengarungi biduk rumah tangga.


Meisya ketakutan membuat badannya bergetar hebat.


“Aku tahu kau pasti ingin jadi ayah-kan? Tapi aku tidak bisa memberikan semua itu Bib!” ujarnya dengan suara bergetar menahan tangisnya.


Ali terkekeh getir, mendengar penjelasan istrinya.


“Itu dulu! Saat aku tidak tahu, takdir seperti apa yang aku dapatkan!”


“Apa aku harus mengingatkan sebuah filosofi! Yang kau ajarkan padaku?” bentaknya, membuat Meisya terenyak.


“Anak? Ya! Aku ingin menjadi seorang ayah! Tapi itu dulu!” ujarnya penuh keyakinan.


'Manusia tidak memiliki kuasa untuk memiliki apa pun yang dia mau. Tetapi dia memiliki kuasa untuk tidak mengingini apa yang belum dia miliki. Dan dengan gembira memaksimalkan apa yang dia terima. (Seneca dalam bukunya Letters from a Stoic)'


“Tapi, setelah aku renungkan perkataan Seneca. Aku bertanya pada diriku, kenapa aku harus mengingini sesuatu yang mungkin tidak ditakdirkan untukku?” tanyanya yang membuat lawan bicaranya, menutup mulut rapat.


“Padahal jelas, ada sesuatu yang aku miliki! Dan harus selalu aku inginkan, ya itu kamu. Aku bersyukur. Memiliki kamu, bahkan itu cukup! Aku tidak merasa kekurangan, tapi kamu....” Tunjuknya melangkah mundur.


Lelaki itu kembali terkekeh, membuat Meisya semakin ketakutan.


“Menyalahkan dirimu sendiri, atas takdir ini!”


“Kau merasa harus bertanggung jawab, atas hal yang tidak kamu perbuat! Aku tidak menyukai hal seperti ini istriku. Kau utuh, kau tidak bisa hamil itu bukan kendali kamu! INGAT ITU!” teriakannya menggema.


Lelaki itu tersungkur dengan air mata yang membasahi pipinya.


Melihat suaminya tertunduk dalam. Meisya pun tak bisa lagi menahan tangisannya. Yang tadi sempat disimpan.


“Bi-bib terkadang hiks ...tak per-lu membuat sebuah kesalahan untuk bertanggung jawab. Hiks …hiks ....”


Dengan bibir bergetar, Meisya mencoba menjelaskan keadaannya sebagai istri yang tak bisa memberikan keturunan.

__ADS_1


“Jika selandainya kita bangun di pagi hari hiks. Tiba-tiba ada seseorang, yang meletakkan bayi di depan pintu rumah kita. Tentu ini bukan kesalahan kita. Akan tetapi, bayi tersebut akan menjadi tanggung jawab kita. Entah kamu urus, atau kamu buang, atau kau mengabaikannya. Itu merupakan masalah, yang berkaitan dengan kita. Sebagai pemilik rumah!”


“ Keputusan yang kita ambil adalah bentuk tanggung jawab yang kita pilih! Itulah yang terjadi padaku.”


“ Memang benar aku tidak bisa memberikan keturunan untukmu. Dan aku sadar ...itu tidak dalam kendaliku. Akan tetapi ...aku masih bisa menjadikanmu sebagai seorang ayah. Hanya dengan cara mengikhlaskanmu menikah,” jelasnya dengan tegas.Berusaha tegar, supaya suaminya tahu. Jika keputusan yang diambil adalah benar.


“Tentu! Tapi mengapa kau mengambil tanggung jawabku sebagai seorang suami hah?” sergah Ali mendongak.


“Kau menyuruhku menikah! Tapi kau, tidak memberikan aku tanggung jawab, untuk memutuskannya. Kau menyabotase dengan cara memintaku bersumpah atas keadaanmu.”


Ini adalah pertengkaran kedua orang yang saling mencintai. Ingin membahagiakan, satu sama lain, namun caranya bertentangan.


“Dan seperti kisah bayi yang baru kau ceritakan tadi. Saat ini aku bertanggung jawab, atas keputusan yang kau ambil!” Lelaki itu bangkit dari bersimpuhnya. Dan mengusap wajahnya kasar.


Meisya terlonjak kaget mendengar ucapan suaminya.


Namun perempuan itu tak sampai sakit hati, akan tuduhan yang Ali berikan.


Pasalnya memang benar.


Namun dia merasa bersalah karena sok tahu. Tentang apa yang terbaik bagi suaminya secara personal.


“Tanggung jawab yang harus aku jalankan. Bukan hal mudah, aku tidak sanggup. Aku manusia biasa yang tidak bisa adil. Mengapa kau, tidak berterima kasih kepada Tuhan, memiliki suami yang setia padamu! Yang tidak pernah berniatan menduakanmu. Apa kau sudah tidak menginginkanku lagi?”


Perempuan itu langsung membekap mulut suaminya. Meisya menggeleng, tak membenarkan perkataan sang suami.


“Aku hanya ingin, kau bahagia! Bib, sebagai seorang istri, aku merasa tidak utuh. Karena tidak bisa memberikanmu keturunan. Aku minta maaf. Tapi kau bukan hanya milikku saja. Masih ada yang berhak atas dirimu!”


batinnya yang tak bisa. Didengar oleh lawan


bicaranya.


TBC...


Nelangsa artinya sedih.


Parokialisme merupakan sebuah pandangan


pribadi terhadap dunia(sesuatu) hanya didasarkan pada perspektif dan nilai-nilai sendiri.


(Sinonim parokial : pikiran picik, cupet,


pendek akal, kardil, suntuk, sempit, singkat akal)


Inti sari sinopsis (Meisya bersedih,


karena saat mengambil keputusan ia hanya menggunakan satu sudut pandang saja)

__ADS_1


^^^...Terima Kasih Sudah Meluangkan Waktunya Untuk Membaca!...^^^


__ADS_2