
Malam itu ia tidak tahu kemana barang-barangnya akan dibawa. Dua hari lagi, hotel yang ia pesan harus ditinggalkan. Dalam taksi lelaki itu hanya bisa menyandarkan kepalanya. Sebelum akhirnya pak sopir bertanya, “Mas kita mau kemana?”
“Kuningan!” jawabnya singkat, ya hanya itu tempat tujuannya satu-satunya.
Tempat yang tidak ingin ia tinggali. Tempat yang amat ia hindari. Dan tempat yang membuat pengalaman terburuk.
Mobil tiba-tiba berhenti, membuyarkan lamunannya.
“Kita sudah sampai Mas!” Informasi dari sopir membuatnya mengalihkan pandangannya ke rumah berlantai empat, dengan dominasi warna putih kekuningan. Ada tiga mobil yang terparkir rapi di depan rumah, satu jenis Mercedes Benz berwarna hitam, Toyota Rush berwarna putih, dan Bnw.
Melihat semua kekayaan ayahnya yang tampak di depan mata. Tak lantas membuatnya bergairah bangga. Sebab baginya cinta adalah kekayaan yang nyata.
Ali turun dari mobil, meminta pak sopir, mengeluarkan kopernya. Sedangkan ia menekan bel berkali-kali.
Setelah tiga menit pintu dibuka oleh sosok perempuan yang umurnya lebih tua beberapa tahun darinya.
Ali langsung melengos saat melihat ibu tirinya, muak.
“Woy ... ini benar-benar kejutan. Sang Ali, datang menginjakkan kakinya ke rumah ayahnya, sendirian tanpa pawang! Dimana istri pertamamu itu?” ucap Marni menyilang kedua tangannya. Namun tatapan matanya tertuju kearah taksi yang terparkir di depan rumah. Dimana pak sopir sedang mengeluarkan koper besar.
Marni tersenyum sinis, kearah Ali.
“Apa tujuanmu kemari untuk tinggal di sini? Ups ... apa yang terjadi pada rumah tanggamu?” sindirnya memasang wajah puas.
“Bukan urusanmu!”
“Hah? Hahahaha tentu saja itu urusanku. Kau akan tinggal di rumah suamiku, bagaimana itu tidak urusanku.”
“Apa kau lupa, beberapa bulan yang lalu kau mengusir ayahmu dari rumahmu?” Marni menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.
Ali tahu wanita yang ada di depannya itu sedang menguji kesabarannya. Dengan cara mengingatkan kesalahannya dulu.
“Apa kau tidak punya malu?” hinanya yang membuat Ali murka.
“Banyak bacot ... modal ***** saja kebanyakan lagak ...ya kalau pepatah bilang, kere munggah bale (Orang miskin yang mendadak kaya)”
“Emm tapi itu terlalu berkasta, Anda itu tidak lebih seperti kir-ik munggah bale.” Ali tersenyum menyeringai, Marni mengangkat tangannya ingin menampar lelaki yang memanggilnya dengan panggilan anak anjing.
__ADS_1
Namun secepat kilat Ali mencekal pergelangan tangannya, dan menghempaskan kasar.
“Ck ... nikmatilah hidupmu yang bahagia ini. Tapi ingatlah keserakahanmu ... meminta pertanggung jawaban darimu,” ujarnya menepuk kedua tangannya, seraya membalikkan badan.
Meninggalkan ibu tirinya.
Malam itu Ali tak butuh penghinaan. Untuk tetap diizinkan tinggal di rumah ayahnya.
Lelaki itu segera menghampiri pak sopir dan meminta kopernya untuk dimasukkan lagi.
“Maaf ya Pak! Karena kejadian ini, Bapak harus dua kali bekerja lebih keras,” katanya membantu pak sopir memasukkan kopernya.
“Tidak apa-apa Mas! Ini sudah tanggung jawab saya.”
Taksi itu keluar dari pekarangan rumah berlantai empat. Namun tiga detik kemudian mobil Alphard hitam itu masuk pekarangan.
“Kok ada taksi ke rumah?” gumam Brahmanta yang duduk di bangku penumpang. Menoleh ke belakang.
“Menurut kamu siapa Azel?” Brahmanta bertanya kepada sopirnya.
Pemuda tampan yang duduk di balik kemudi, hanya menjawab singkat. “Mungkinkah teman Nyonya, Pak?”
Ali yang berada di dalam mobil, berusaha menghubungi seseorang. Namun untuk yang ketiga kalinya, lagi-lagi orang yang ia hubungi tidak kunjung mengangkat.
“Sial ... kenapa lama sekali menjawab teleponku,” umpatnya, dan untuk yang terakhir kalinya telepon terhubung.
Ali segera mengutarakan maksud dan tujuannya menelepon, pada lawan bicaranya. Yang berada di seberang sana.
“Oke ... makasih.” ucapnya mengakhiri panggilan.
“Pak, kita ke Cilandak ya.”
Setelah kurang satu jam, akhirnya taksi yang ia tumpangi sampai ke rumah yang ia tuju. Ali segera keluar dari mobil, menghampiri Arfa yang duduk di undakan menunggu kedatangannya.
“Sorry Bro, malam-malam ke sini!” katanya menepuk pundak Arfa disela pelukan singkat itu.
“Ah ...lu kayak siapa aja. Mendingan langsung masuk,” timpalnya.
__ADS_1
“Saya bantu pak sopir ngeluarin, koper dulu. Kasihan...” Ali langsung berlari kearah taksi, yang diikuti oleh Arfa dari belakang.
“Makasih ya Pak!” ujarnya mengambil dompet disaku celana, dan mengangsurkan, beberapa pecahan uang berwarna biru kepada pak sopir.
“Ah ...iya Mas, tapi ini terlalu banyak!”
Ali tersenyum simpul, dan berkata, “Itu setara dengan kerewelan penumpang Bapak, malam ini!
“Hatur nuhun, mugia Allah ngabales kasaéan anjeun,” ujarnya menundukkan kepalanya.
(Terima kasih, semoga Tuhan membalas kebaikan Anda)
Si empu hanya mengangguk, tanpa perlu tahu makna yang diucapkan pak sopir.
“Fa, sekali lagi saya ucapkan terima kasih! Karena lu sudah mau menampung barang-barang ini,” kata Ali menatap kopernya.
“Ah, santai aja kali kebetulan Anindita akan kuliah di Rotterdam, otomatis kamarnya enggak ada yang pakai. Jadi lu bisa nyimpen barang-barang lu disana, sepuasnya,” ujar Arfa mengangkat dua koper ke teras rumah.
“Dit, bantuin Kakak napa!” teriak Arfa membuat seorang gadis berlari keluar rumah.
“Apa? Eh ... Kakak Ali!” Gadis itu berlari mendekati Ali dan mencium punggung tangan sahabat kakaknya.
“Sudah gede, loh!” komentar Ali melihat Anindita yang tingginya hampir mengimbanginya.
“Amargi kathah dhahar, dados ageng Kak!”
(Karena banyak makan, jadi besar Kak)
“Halah, sok kejawa-jawaan, enggak bisa juga,” celetuk Arfa yang membuat Ali menggeleng.
Anindita tersenyum kecut.
“Dah, sana masukkan koper ini ke kamarmu!”
Tanpa diminta untuk yang kedua kalinya, gadis itu langsung nurut.
“Eh, ya Li tadi gua udah ngabarin Irene. Katanya kalau lu butuh batuannya dia siap membantu!” Info Arfa membuat Ali mengangguk kecil.
__ADS_1
TBC...