
Tepat jam setengah tujuh malam. Ali baru saja pulang dari kantor. Ia langsung membuka pintu utama, kebetulan pintu tak dikunci.
Atau memang penghuni rumah itu ceroboh. Pintu terbuka lebar, namun gadis yang duduk di sofa, sambil mengusap wajahnya, dengan tisu itu tak menyadari kehadirannya.
Ali yang tadi menatap ke bawah, perlahan mendongakkan kepalanya saat mendengar suara orang tersedu-sedu.
“Aina!” panggilnya.
Sang istri yang menangis, kini menatapnya dari kejauhan.
Cepat lelaki itu berlari mendekati istrinya.
“Kamu kenapa menangis?” tanyanya mengelap air mata Wan Aina.
Wan Aina mendongak. Apa yang terjadi dengan suaminya, kenapa tiba-tiba perhatian. Bukankah selama menikah, suaminya tidak peduli dengannya. Mengingat hal itu ia kembali menunduk.
Melihat istrinya hanya diam sambil terisak. Ali berpikir. Mungkinkah ia harus mengaplikasikan saran dari Meisya. Beberapa Minggu yang lalu.
“Aina kamu kenapa?” tanyanya mencakup wajah istrinya, yang membuat tatapannya bertemu dengan manik Wan Aina.
Wan Aina melengos, menghindari bertatapan dengan suaminya.
“Aku baik. Yang tidak baik itu mulut tetangga. Selalu merendahkanku ...hiks!” adu Wan Aina dengan sesenggukan.
Bibir lelaki itu terkatup rapat, mencerna perkataan Wan Aina.
“Merendahkanmu?” Lelaki itu mengulangi perkataan Wan Aina kembali.
Dahinya terlipat. Mungkinkah istrinya mendapat perlakuan tak menyenangkan dari tetangga kompleksnya.
“Iya, setiap aku belanja ...hiks! Ibu-ibu langsung bisik-bisik!” jelas Wan Aina mengesang hidungnya dengan tisu.
“Positif thinking aja, mungkin ibu-ibu itu tidak membicarakan tentangmu!” ruahnya agar istrinya tak bersedih, untuk hal yang belum benar.
“Kamu tidak tahu hiks ... saat aku beli sayuran mereka bisik-bisik tapi bisa didengar! Bahasanya pelakor, azab merebut suami orang. Wanita penggodalah. Banyak banget, kenapa bicara seperti itu saat ada aku di sana? Terus saat aku pergi mereka tertawa bersama, seolah bersorak-sorak! Apa karena aku jadi yang kedua?”
Ali terpana dengan ucapan yang keluar dari mulut istri mudanya, tangannya mengepal. Ada rasa amarah yang tersirat dari pancaran sinar matanya. Ia tidak habis pikir, mengapa ibu-ibu kompleks setega itu, dengan istrinya.
Bagaimana pun Wan Aina masih muda, emosinya masih meledak-ledak. Tidak seperti Meisya yang mungkin akan lebih luwes menghadapi, hal seperti ini dengan cara santai.
“Sekarang Mas tanya, memang kamu pelakor?” tanya Ali, yang mendapatkan gelengan kepala.
“Aina merasa tidak ...jika Aina, wanita penggoda?”
Wan Aina menggeleng lebih cepat.
__ADS_1
Ali mengangguk kecil. “Terus kenapa Aina marah, kan Aina tidak termasuk salah satu yang disebutkan ibu-ibu kompleks!”
Istri mudanya tertunduk setelah mendengar ucapannya.
“Aina, dengarkan Mas! Pendapat seseorang terhadap kita, itu tidak bisa kita kontrol. Jadi kamu enggak boleh fokus ke hal-hal yang tidak bisa kamu kontrol.”
“Karena itu akan memperbudak dirimu! Seperti saat ini, kau menangis hanya karena ucapan seseorang. Padahal belum tentu mereka, menggunjingmu. Kalau pun iya, apa itu. Bisa menurunkan derajatmu sebagai seorang wanita? Tidakkan?” ujarnya berusaha membuat Wan Aina tenang. Dan berharap ke depannya Wan Aina bisa lebih santai, saat menghadapi ibu-ibu kompleks.
“Tapi susah!” keluh Wan Aina yang membuat Ali menggeleng.
“Pelan-pelan, ayo kita belajar bareng! Saya juga belum bisa sepenuhnya menerapkan hal ini di keseharian saya!” timpalnya merangkul istrinya, supaya tidak rendah diri.
“Kamu sudah makan?” tanyanya, melirik kearah lantai, beberapa tisu berserakan ke mana-mana. Itu berarti sang istri lumayan lama menangis.
“Aku tidak lapar,” jawab Wan Aina disela-sela isakan.
Ali bangkit dari duduknya, berjalan kearah dapur.
***
Wan Aina hanya bisa menatap dari kejauhan apa yang suaminya lakukan. Lelaki itu menggulung lengan kemeja hingga sikut. Kemudian memasang celemek dan membuka kulkas.
'Ada apa dengannya, dia tiba-tiba menjadi suami siaga!' batin Wan Aina tersenyum.
Melupakan gunjingan para ibu-ibu kompleks.
“Harum sekali!” gumam Wan Aina pelan. Mengendus aroma masakan suaminya.
Hingga tak menyadari jika Ali sudah berdiri di sampingnya. Membawa piring dan segelas air.
“Bisa geser?” Tanpa diminta untuk yang kedua kalinya, Wan Aina menggeser duduknya.
Lelaki itu meletakkan gelas ke meja terlebih dahulu. “Makanlah!” Ali menyodorkan piring kearah Wan Aina.
Gadis itu tak langsung menerima, rasanya gengsi jika mengingat tadi dia bilang tidak mau makan.
Namun ketika disodori piring langsung, menerima.
“Aku tidak lapar.”
Sungguh lelaki itu tahu, jika Wan Aina gengsi. Menerima makanan buatannya.
Ia menghela nafas berat, memotong omlet dengan sendok. “Buka mulutmu, saya rasa kau butuh mengisi bahan bakar, karena habis menangis tadi!”
Mendengar ejekan Ali , gadis itu malah menutup mulutnya rapat.
__ADS_1
“Buka!” titah Ali bersungguh-sungguh.
Namun mendapatkan gelengan kepala.
“Cepat buka....” Memegang dagu Wan Aina dengan satu tangan.
Gadis itu terus menggeleng.
“Suadah aku katakan tidak lap—“ Wan Aina melotot saat suaminya berhasil memasukkan omlet, ke dalam mulutnya saat dia berbicara.
“Kunyah!” ujar Ali mewanti-wanti. “Sudah berapa jam kau menangis?” ejeknya, membuat Wan Aina mencebikkan bibirnya.
“Setelah makan, bersihkan tisu yang berserakan di lantai!” perintahnya mengajari sang istri untuk tidak jorok.
Wan Aina mengangguk pelan.
“Omletnya enak, lembut!” cerocos Wan Aina setelah beberapa kali suapan.
“Tinggal giling saja ya enak, masak ada yang masakan. Makan ada yang nyuapi” sinisnya, membuat Wan Aina berhenti mengunyah.
Rupanya gadis itu mudah tersinggung.
“Ayo buka mulutmu lagi. Ini tinggal satu. Setelah itu kita jamaah!” Mengacungkan sendok di depan mulut Wan Aina.
Tapi sayang istrinya menggeleng tidak mau.
“Buka mulutmu Aina!” tegas Ali. Namun gadis yang menjadi istrinya itu bergeming.
Ali terlihat kesal akan sifat childish Wan Aina. Lelaki itu berdiri dari duduknya sambil memakan omelet yang tinggal satu suap itu.
'Dasar bocah, enggak mau saat suapan terakhir. Dari tadi kemana saja!' batinnya meletakkan piring ke meja.
“Taruh piring ke wastafel, saya mau mandi dulu!” Menyambar tas kerjanya yang tadi ditaruh meja.
Setelah menaruh piring ke wastafel, Wan Aina memutuskan untuk menyusul suaminya ke atas.
Gadis itu membuka pintu kamar, dilihatnya, lelaki yang berstatus suaminya itu sedang melepaskan dasi.
“Aina siapkan airnya ya Mas?” ujar Wan Aina membuka pintu kamar mandi. Namun sebelum dirinya benar-benar masuk ke dalam kamar mandi. Suara Ali, membuat mengurungkan niatnya.
“Tidak perlu, saya bisa sendiri!” Membuka kancing kemejanya.
“Ya sudah biar aku membantumu, melepaskan kancing!”
“Tidak perlu Aina, saya bisa sendiri!” jawaban yang masih sama dari Ali, membuat dada Wan Aina sesak.
__ADS_1
“KENAPA?”
TBC...