Kau Rela Ku Lepas

Kau Rela Ku Lepas
Ch53 : Waktu Tak Berpihak


__ADS_3

Keputusannya untuk bercerai, mengharuskannya untuk menyelesaikan permasalahan dengan cepat.


Seperti janjinya, sore itu ia akan mengantarkan Meisya ke rumah Abah.


Jujur saja nyalinya sangat ciut. Dan bagaimana pula terlukanya keluarga besar Abah. Atas keputusannya itu.


Mobil hitam itu memasuki pekarangan rumah berlantai tiga.


Perempuan yang tadi sedang berbicara dengan pembantunya, langsung keluar. Setelah mendengar deru mobil berhenti.


Meisya segera berlari kearah mobil yang ia ketahui milik ayah mertuanya. Ia bingung harus duduk di kursi penumpang atau di samping kemudi. Mengingat statusnya dengan Ali, susah ditebak.


Masihkah mereka berstatus sebagai suami-istri dalam agama?


Mengingat Ali tak pernah mengucapkan talak, dengan jelas.


Namun kembali lagi, Ali telah berniat menceraikan dia.


Namun disaat ia bingung dengan pikirannya. Tiba-tiba saja pintu mobil bagian penumpang bergeser membuka sendiri. Itu berarti ia harus duduk di belakang.


Sejurus kemudian, ia baru sadar. Jika Ali juga duduk di kursi penumpang sambil menatap layar.


“Oh, ternyata dia mengajak Nazel!” gumamnya melirik kearah kemudi. Dan segera duduk di kursi penumpang memakai sabuk pengaman.


“Bagaimana, kabarnya Zel?” tanyanya kepada sopir pribadi ayah mertuanya.


Membuat Ali yang duduk di sampingnya melirik.


Lelaki itu heran mengapa istri pertamanya tak menyapanya. Atau karena saat Meisya baru masuk, ia lebih fokus ke layar ponsel. Jadi perempuan itu mendiamkannya.


Ali geleng-geleng kepala, menyangkal. Jika dirinya detik itu sedang cemburu.


“Tidak ... itu tidak boleh terjadi!” sanggahnya membuat Meisya yang duduk di sampingnya menoleh.


Pun dengan Nazel yang tadi ingin buka suara, menjawabi pertanyaan Meisya ter urungkan.


Karena Ali lebih dulu bersuara.


“Kamu kenapa?” tanya Meisya menelengkan kepalanya. Melihat sikap aneh Ali.


Ali menggaruk tengkuknya salah tingkah. Dan menggerutuki kebodohannya.


“Ah ... tidak lupakan saja.”


Setelah percakapan itu, mereka tak terlibat percakapan. Ali memutuskan untuk memejamkan matanya dan Meisya hanya diam menunduk. Sesekali melirik kearah Ali.


Perjalanan yang membutuhkan waktu kurang lebih, dua jaman. Terlihat begitu lama, jika ketiganya tidak terlibat pembahasan yang menyenangkan.


Mobil itu berhenti di SPBU, membuat Ali membuka matanya, dan memperbaiki duduknya.


“Aku ingin tahu alasan kamu. TF uang, padaku,” cicit Meisya membuat Ali yang tadi memandang luaran menoleh.


Lelaki itu menghela nafas panjang.


“Aku tidak bisa menerima, saranmu. Anggap saja aku membeli, rumah yang ditempati oleh Aina.”


“Ck ...kamu itu keras kepala banget. Aku heran deh,” kesalnya menatap tajam Ali.


Pun dengan Ali, lelaki itu juga menatapnya tak kalah tajam.


“Apa kamu tidak sadar, jika kamu juga sama keras kepalanya kayak aku.”


“Ah ... sudahlah omong sama kamu itu, enggak ada habisnya. Kamu pasti tahu caranya menimpali,” kesal Meisya.


“Ya memang itu kenyataan, kamu keras kepala!” gemasnya ingin menangkup wajah Meisya.


“Ehem....” Dehaman dari depan membuat Ali menarik tangannya yang sebentar lagi menyentuh Meisya.


Kedua orang itu saling buang muka, salah tingkah.


***


Setelah hampir dua jam lebih, akhirnya mereka telah sampai di rumah Abah. Mobil itu memilih parkir di luaran pondok, sebab bertepatan dengan adzan magrib. Membuat pondok ramai dipenuhi santri yang akan ke masjid.

__ADS_1


Di dalam mobil keringat dingin membasahi dahi Ali. Melihat hal itu Meisya, sebagai seorang yang mengenal karakter Ali. Ia pun berusaha menenangkan suaminya. Dengan cara yang berbeda dari biasanya. Jika biasanya ia akan mengelus dan menggenggam tangan lelaki itu. Untuk saat ini, mungkin harus dengan ucapan mengejek atau banyolan saja.


“Ada apa dengan Tuan keras kepala? Kenapa dahinya basah, aku rasa rooftop tidak dibuka,” ujarnya mendongak dan kembali melirik kearah suaminya, seraya berkata, “Dan ya hari ini tidak hujan ... lantas dari mana air itu berasal!”


“Kau jangan mengejekku ... masalahnya ... nanti kalau Abah tidak terima anaknya dikembalikan. Bisa-bisa aku digeruduk ratusan santri. Mati ditempat, disolatkan ditempat dikebu— Emmmm!” Ali mendelik saat tiba-tiba Meisya membekap mulutnya.


“Hust! Jangan bilang begitu tidak baik,” ucapan meletakkan jari telunjuk di bibirnya.


Tatapan keduanya beradu, sorot mata mereka masih saling mengagumi satu sama lainnya.


Nazel yang ada di depan melirik dari kaca spion. Pemuda itu membenamkan wajahnya di setir, melihat kedua pasangan yang duduk di kursi penumpang. Sedang bermesraan.


“Mau nunggu sampai kapan?” suara berat Nazel, membuat dua orang yang sedang terbuai langsung tersadar dan melepaskan sabuk pengaman.


Keduanya terlihat sama-sama canggung. Namun Ali berusaha mengalihkan apa yang hatinya rasakan. Dengan cara mengajak Nazel bicara.


“Sholat dulu Zel, siapa tahu setelah sholat jodoh datang,” godanya kepada pemuda tampan itu.


Nazel tak menjawab, namun ia mengikuti saran putra atasannya.


“Aku langsung ke masjid ya? Nanti bada sholat langsung ke rumah,” pungkasnya meninggalkan Meisya.


Perempuan itu hanya bisa menarik nafas panjang.


Malam itu Ali dan Nazel sholat di shaf belakang, keduanya juga kompak tertinggal satu rakaat dengan imam. Ali bersyukur hingga tiba ia mengakhiri sholat keluarga besar Meisya belum melihat.


Sebelum akhirnya, satu dua santri mengingat wajahnya. Dan mulai berbisik dari telinga ke telinga, hingga kabar itu terdengar di telinga Abah yang kebetulan jadi makmum di belakang imam.


Setelah jamaah bubar meninggalkan masjid. Abah yang biasanya berdiam hingga isya, malam itu ia juga ikut meninggalkan tempat duduknya. Dan mencari keberadaan menantunya. Apa kabar burung itu benar?


Hingga di luaran masjid paruh baya itu tak menemukan sosok yang ia cari. Ia pun bergegas ke rumah dan setiap jalan ke rumah ia, mencari mobil yang terparkir di depan aula. Namun nihil tak ditemukan.


“Apa telingaku salah mendengar,” gumamnya masuk ke dalam rumah. Dan matanya membulat sempurna, ketika mendapati sosok yang ia cari sedang duduk di ruang tamu. Dengan pemuda tampan yang ia ketahui sebagai sopir besannya.


Ali dan Nazel langsung berdiri ketika, melihat Abah datang dari luar. Dua lelaki itu menyalami tuan rumah.


“Tangannya sudah sembuh Li?” tanya Abah menatap tangan menantunya.


Ali tersenyum mengangguk, dia bersyukur. Dan benar saja Meisya belum menceritakan perceraian mereka.


“As’salammualaikum!” ucapan salam serempak itu mampu mengalihkan pandangan ketiga orang yang duduk di ruang tamu.


“Panjang umurnya yang ditanya datang,” seru Abah setelah menjawabi salam dari putra-putranya.


“Tumben Li, kesini enggak ngabarin?” sapa Atan seraya dulu dikursi tunggal samping Ali.


Si empu hanya tersenyum samar, menunggu Meisya yang tadi mengirimkan pesan padanya. Jika sedang menunggu ibu keluar dari kamar.


Suara langkah kaki mendekati ruang keluarga membuat Ali menoleh. Entah mengapa dadanya menjadi sesak, melihat perempuan paruh baya yang digandeng oleh istrinya.


Malam itu ia akan menyakiti perasaan keluarga besar Meisya.


“Ali ya Allah, kenapa kalian kemari enggak bilang-bilang,” tegur ibu saat menantunya mencium punggung tangannya.


Lagi-lagi lelaki itu hanya tersenyum tipis.


Sebelum akhirnya Meisya meminta ibunya duduk.


“Kalian berdua ini kenapa, mengumpulkan kami di sini?” selidik Arsa heran.


Membuat Ali dan Meisya saling melirik satu sama lain.


Malam itu Ali harus gentleman mengutarakan maksud kedatangannya malam itu.


Ia menarik napas dalam-dalam, sebelum akhirnya berucap, “Pertama-tama Ali, ucapan terima kasih kepada Abah dan ibu, Akang-akang yang sudah menerima kedatangan Ali malam ini!”


Mendengar ucapan yang terlalu sopan itu, membuat orang yang ada di sana. Merasakan ada sinyal yang tidak baik, terkhusus ibu. Perempuan paruh baya itu, jantungnya berdetak lebih cepat.


“Untuk yang kesekian kalinya, Ali ingin mengucapkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya! Khusus untuk Abah dan Ibu, selaku orang tuanya Eisya. Dengan berat hati, Ali mengembalikan putri tercinta Abah, ke pelukan Abah!”


Deg! Jantung mereka seakan berhenti berdetak. Ruangan sunyi, tatapan Abah kosong, sedangkan kakak lelaki Meisya, menunduk dalam. Ibu menekan dadanya, yang nyeri.


Meisya terkejut melihat nafas ibunya tersengal-senggal.

__ADS_1


“Ibu-ibu!” teriak Meisya membuat semua orang berdiri, tak terkecuali Ali. Lelaki itu merasa bersalah atas keadaan ibu. Ali duduk bersimpuh di depan Ibu mertuanya, ingin membantunya minum. Namun seseorang menarik kerah baju dari belakang. Membuat ia berdiri. Menoleh.


“Brengsek ...kau!” teriak Athan memukul sudut bibir Ali kertas. Membuat lelaki itu meringis tak melawan.


Melihat hal itu Nazel ingin membalas pukulan Athan, namun ketika Ali mengangkat tangannya. Bentuk kode untuk diam, pemuda itu langsung diam ditempat.


“Setelah kau dapat gadis cantik dan lebih muda. Kau mencapaikan Meisya? Jika tidak bisa poligami, jangan lakukan,” bentaknya mencekam kerah baju Ali.


Melihat kakaknya ingin memukul wajah suaminya lagi. Meisya berlari dan mendorong tubuh kakaknya untuk menjauh.


“Sudah Cukup! Tuduhan Akang sama Kak Rasyid! Apa yang Akang tuduhkan itu salah,” teriak Meisya berdiri di depan Ali.


Semua orang menatap kearahnya heran.


“Kak Rasyid tidak pernah ingin poligami! TAPI AKU YANG MEMAKSANYA! Karena aku tidak bisa memberikan keturunan. Jadi disini yang pantas disalahkan aku. Bukan kak Rasyid!” teriaknya membuat tangisnya pecah seketika


Mereka semua termangu.


Keluarga besar memang tahu mengenai Meisya yang tidak bisa memberikan keturunan. Oleh karena itu, mereka setuju saat Ali izin menikah kembali. Namun mereka tidak tahu alasan yang sesungguhnya.


“Kau jangan, membela suamimu terus. Sampai kapan kau bisa menutupi aibnya?” hardik Arsya yang tadi sedang memberikan ibunya minum.


“Bukan aku yang menutupi aibnya. Tapi dia yang menutupi aibku. Abah sekarang Meis tanya. Beberapa bulan yang lalu, tepatnya Kak Rasyid meminta izin untuk poligami. Apa dia bilang, Meisya telah memberikan izin padaku menikah? Tidak kan?”


Abah terdiam, apa yang diucapkan putrinya itu benar.


“Kalian tahu sebabnya?” Tunjuknya pada setiap anggota keluarga.


Dan berakhir di Arsa.


“Karena dia, lebih rela dibilang lelaki tak setia. Ketimbang mempertaruhkan martabat istrinya.”


“Kalian pikir ... dia langsung mau ... menerima tawaranku! TIDAK! Dia tidak seperti itu. Jadi aku minta, jangan menyalahkan dia,” ujarnya dengan air mata yang membasahi pipi dibalik niqabnya.


Semua terdiam mendengar penjelasannya. Namun ada beberapa orang yang tidak habis pikir dengan keputusan Meisya.


“Kau bodoh, Mei! Yang sunah kau lakukan. Tapi kau mempertaruhkan kewajibanmu. Sebagai seorang pasangan, tugasmu adalah mempertahankan pernikahan.”


Ali yang tadi terdiam mengepalkan tangannya. Ketika seorang menghina pasangannya.


“Dan kau tidak akan pernah mendapatkan, lelaki seperti Ali. Kau telah mensia-siakannya. Apa kau tahu, betapa Bodohnya kamu!” teriak Arsa gemas dengan cara berpikir adiknya. Hingga tak menyadari tangannya terangkat ingin memukul adiknya.


Melihat hal itu Ali yang berdiri di belakang istrinya, menarik pergelangan tangan Meisya kasar. Membuat tubuh Meisya berbalik memeluk tubuhnya.


Sedangkan tangan kirinya mencekal pergelangan tangan Arsa.


“Selama saya menjadi suaminya. Saya berusaha tidak main tangan padanya, dan saya juga tidak akan membiarkan siapapun melukainya. Didepan saya, selagi dia menjadi istri sah saya!” tegas Ali menghempaskan tangan Arsa kasar.


“Saya mengembalikan pada kalian. Tujuannya agar dia mendapatkan support system yang membuatnya bangkit dari keterpurukannya. Bukan memperolok-olek.” Ali menatap setiap keluarga dengan tatapan datar, namun saat matanya beradu dengan Abah tatapannya berubah penuh harap.


“Abah, apa yang terjadi padaku dan Meisya. Sudah digariskan, aku ingin perceraian ini baik-baik saja. Ini keputusan yang tepat, bagi kehidupan kami berdua!”


“Dan ya Kang Athan ... saya tidak ingin hidup bahagia diatas penderita orang. Dan satu lagi ... saya juga tidak mau menjalani kehidupan ini dengan rasa bersalah. Dengan memilih salah satu diantara Eisya dan Aina! Saya tidak sebodoh itu....” tegasnya yang membuat semua orang mengatupkan bibirnya.


Ali berbisik ditelinga Meisya yang sadari tadi menangis diperlukannya. Membuat perempuan itu melerai pelukannya.


Ali berjalan mendekati ibu yang duduk dengan kondisi lemah. Lelaki itu bersimpuh di depannya.


“Ali minta maaf Bu, atas apa yang terjadi.” Tertunduk dalam, menahan menyesal.


Paruh baya itu mengelus kepala menantunya. Dengan bibir yang menahan tangisnya.


“Li ...kadang manusia tidak bisa mengendalikan cara kerja dunia. Sudah cukup bagimu, berusaha mempertahankan pernikahanmu. Sebagai Ibunya Mei, aku minta maaf atas kesalahannya!”


Ali menggeleng, menggenggam erat tangan ibu mertuanya.


“Tidak Bu, semua yang terjadi enggak sepenuhnya salah Eisya! Jadi Ali mohon ibu jangan minta maaf atas, kesalahan yang tidak sepenuhnya salah ibu atau Eisya!”


“Meskipun kau cerai dengan Mei, hubungan kita enggak akan putuskan Li?” tanya ibu membelai rambut menantunya.


Ali tersenyum menggeleng, “Silahturahmi harus tetap berlanjut Bu! Hubungan ibu dan anak tidak ada putusnya. Kita masih bisa berhubungan dengan baik.” harapnya membuat orang yang ada di sana. Terharu dengan hubungan anak menantu dan ibu mertuanya.


“Kalau begitu, Ali pamit undur diri,” pamitnya memeluk ibu mertuanya. Dan beralih ke Abah yang memeluknya erat. Bahkan pria paruh baya itu rela, mengantarkannya hingga mobil.

__ADS_1


TBC...


Waktu tak berpihak dimana hubungan yang masih baik harus berjarak. Canda tawa yang harusnya ada harus dihilangkan


__ADS_2