Kau Rela Ku Lepas

Kau Rela Ku Lepas
Ch56 : Perubahan Signifikan


__ADS_3

Beberapa Minggu telah berlalu, pagi itu ia bersiap berangkat ke kantor. Untuk melakukan survei lapangan ke NTT-Kupang.


Ucapan Hung bisa dipegang, selama dua Minggu terakhir, pemuda itu mencucikan bajunya, bahkan cara menyetrika baju terbilang memuaskan.


Tok ...tok...


Ali yang sedang memakai dasi, dikagetkan dengan ketukan seseorang.


“Hung! Ada apa?” tanyanya dari balik daun pintu, yang ia buka sedikit.


“Waduh ...Mas Ali saya pangling banget, dengan gayanya pagi ini. Biasanya enggak pernah pakai jas, pagi ini terlihat lebih sangar, dengan tatapan rambut jalan kutu, brewoknya yang tipis-tipis juga enggak ada. Sekarang jauh terlihat lebih muda, Mas! Bahkan lebih muda dari saya?” puji Hung, memperhatikan lawan bicaranya dari atas ke bawah.


Setelah jas berwarna biru muda, dengan dalaman kemeja putih. Yang terlihat licin, ringan, dan halus.


Ah ... ternyata kemeja putih itu yang ia setrika. Tiga hari yang lalu.


“Sebetulnya tidak ada perubahan dalam gaya saya, hanya saja saya merapikan rambut dan brewoknya. Yah ...kan sekarang nongkrongnya sama anak muda. Saya harus bisa mengimbangi dari gaya dan cara berpikir.”


“Ya enggak, biar enggak kayak Bapak-bapak?” Menggerakkan wajahnya kearah Hung.


“Haha, iya masuk akal juga sih? Tapi omong-omong pakaian rapi memakai jas, berarti Mas kerja kantoran?” Rasa penasaran Hung, membuat Ali harus mengorbankan waktunya.


Namun ia juga tidak enak, jika mengusir pemuda yang mau mencucikan bajunya.


“Memang kamu kira saya kerja apa?” godanya mengerutkan keningnya. Membuat lawan bicaranya, kegep.


“Ayo jawab, pakaian kemeja ketat masuk ke dalam celana. Cocoknya kerja apa?” Menjadi penghuni kos-kosan membuatnya, suka menggoda rekan kosnya. Apalagi jika bahas cewek-cewek yang menjadi gebetan Hung, dkk.


Ia berpikir jiwanya kembali muda.


Meskipun umurnya berkurang setiap harinya.


“Eh ... saya lupa kemari ingin bayar hutang. Alhamdulillah mamak TF,” ungkapnya mengalihkan pembicaraan. Tidak mungkin ia jujur, pada lelaki di depannya itu. Yang ia pikir sebagai penagih hutang dari rumah ke rumah. Bisa-bisa kalau susah, tak dibantu lagi.


“Lunas ya Mas?” katanya saat Ali menghitung uangnya.


“Sip!” Mengancungkan jempolnya.


“Saya pamit kalau gitu, makasih ya Mas!” pamitnya menangkup kedua tangannya, sembari membalikkan badannya, namun langkahnya terhenti.

__ADS_1


Ketika seorang memanggilnya.


“Ada apa Mas, apa ada yang kurang?” tanyanya membalikkan badannya, memasang wajah takut.


“Bukan, kan kamu sudah bayar utang kamu. Ini saya bayar jasamu, dua Minggu terakhir telah mencucikan baju saya!”


Hung tertegun saat Ali menyodorkan nominal berbeda dengan uangnya tadi. Uang yang di sodorkan lebih rapi, dan warnanya juga tidak random, seperti uangnya tadi, ungu, hijau, kuning semua ada.


“Tidak Mas, saya ikhlas!” ujarnya namun tak bisa dipungkiri. Dengan kata ‘ikhlas', ia berharap Ali memaksanya untuk menerima.


Sungguh itu fitrah manusia.


“Sudah terima saja, saya enggak mau riba. Dengan cara melipat gandakan uang saya dengan energimu!” Ali menarik tangan pemuda itu dan meletakkan uang kertas di telapak tangan Hung.


“Kamu berhak ...atas uang ini. Sebab kamu telah menghabiskan waktu dan energimu. Untuk mencuci dan menyetrika,” tuturnya mengusap bahu Hung.


“Makasih Mas, tanpa saya sadari ....Mas Ali mengajari saya untuk bekerja. Pekerjaan yang tak pernah terbesit dalam pikiran saya sebelumnya. Ternyata bisa menghasilkan uang.” Rasanya Hung ingin memeluk lelaki yang ada di depannya. Namun ia urungkan, sebab tak semua orang bisa memahami perasaan senangnya. Ia takut jika pelukan itu diartikan sebagai suatu bentuk memanfaatkan atau ketergantungan, jika ia sedang butuh.


***


Pembicaraannya dengan Hung, berdampak pada keterlambatannya sampai kantor. Padahal sebelum jam sembilan ia dan rekannya harus sampai ke bandara.


Setelah hampir belasan menit, akhirnya sampai di kantor. Ali segera mengambil ransel dan tas kerjanya. Bersamaan dengan itu, ia bertemu ayahnya yang kebetulan ingin masuk kantor.


Tampaknya hubungan sepasang ayah dan putra itu, terlihat tenggang. Indikator pemicunya tak jauh-jauh dari pengusiran Marni pada Ali beberapa Minggu yang lalu.


Padahal jelas, malam sebelum ia mengambil barang-barangnya di rumah Meisya. Ayahnya mengirimkan pesan padanya, untuk membawa barangnya ke Kuningan.


Tapi apa? Nyatanya ia di usir. Harusnya ayahnya mengkoordinasi Marni. Jika ia akan menitipkan barangnya.


Tapi apakah itu murni kesalahan ayahnya?


Entahlah.


“Gagah!” Brahmanta menepuk pundak putranya dengan tatapan tak percaya.


Namun bagi Ali, orang tua yang memuji anaknya itu terlihat wajar. Yang tidak wajar disaat orang tua memuji anak orang lain, sebagai pembanding bukan motivasi.


Brahmanta menatap anaknya lekat ia tahu betul, jika putranya tak suka berpakaian formal dan bossy. Bahkan saat bertemu dengan klien Ali tetaplah Ali yang selalu memakai kemeja polos dan celana hitam. Mungkin ini kali pertama, putranya memakai jas dan dasi yang rapi.

__ADS_1


Putranya memang selalu berpakaian sederhana, atau justru ala kadarnya.


“Saya permisi Pak!” sahut Ali tak ingin jika karyawan melihat kedekatannya dengan ayahnya. Meskipun ada dua satpam mempertahankan mereka berdua. Namun keprofesionalan Ali, membuat dua satpam itu beranggapan. Apa yang terjadi saat ini. Tak lebih dari atasan menyapa pegawainya.


Setibanya di ruangan, di sana ia dikejutkan dengan adanya Arfa dan Deandra.


“Wah ...Ki benar apa kata Sean waktu itu. Masa Iddah tidak ada adanya masa inndaaahhhh,” seloroh Arfa saat melihat Ali masuk ruangan.


Aidin dan dua sahabatnya yang sedang mengamati seketsa bangunan di lembaran besar menoleh.


“Anjai .... gebrakan pasca memutuskan bercerai ... benar-benar .....” Aidin geleng-geleng tak melanjutkan ucapannya.


Tiga perempuan yang ada di sana menatap Ali intens, berhasil membuatnya salah tingkah.


“Bukan ... begitu ... saya baru sadar jika penampilan kita itu memiliki impact di pekerjaan kita. Kalau kita rapi ... boleh jadi orang yang bekerja sama dengan kita merasa nyaman, dan mungkin mereka merasa dihargai, karena kita profesional sebagai pekerja kantor, itu dampaknya untuk mereka.”


Meletakkan tas kerjanya di meja, seraya berucap,“ Whereas an impact on yourself(Sedangkan dampak pada diri sendiri) ... membuat kita juga lebih dihargai rekan kerja bahkan bisa dijadikan inspirasi bagi orang lain.


“Dan ya ... dengan pakaian rapi ... terlihatlah internal motivation, optimisme, antusiasme, high responsibility dan kedewasaan kita.”


“Itu saya baru sadari saat ini, jadi dari nasihat seseorang. Saya belajar untuk memperbaiki diri. Terlebih lagi, kita akan bertemu pak Bupati Kupang! Jadi kita harus meprepare semuanya dengan baik. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa memuaskan pengguna jasa kita. Masalah pakaian, itu sebagai dorongan saja.”


“Lu banyak berubah Li!” cetus Arfa.


“Makanya kali-kali nongkrong di kosan saya,” sahutnya tidak serius.


“Terus rambut dipotong dalam rangka apa?” sahut Aidin.


Mata Ali mengerling matanya ke atas, tampak berpikir. “Buang sial!” jawabannya asal, membuat semua orang tertawa.


***


Satu jam kemudian mereka sudah memasuki bandara. Dan menunggu Miranda keluar dari security check. Disela-sela itu Aidin yang berjalan di belakang Ali berusaha menyejajarkan langkahnya dan berkata, “Sudah sampai mana kasusnya?”


“Besok jadwal sidang mediasi, tapi kerjan ini lebih penting. Mungkin saja Semesta telah berkehendak. Doakan saja, semoga berjalan dengan cepat!”


Dari raut wajah sahabatnya, Aidin tahu lelaki yang berjalan di sampingnya. Berusaha untuk bangkit dari keterpurukannya. Dan ia yakin, Ali tak akan mudah kembali mempercayai cinta. Setelah rumah tangganya berantakan.


Hidup harus tetap berjalan, mungkinkah ini alasan Ali mengubah cara berpakaiannya. Untuk menghibur hatinya yang rapuh. Dan ingin membebaskan dirinya sendiri. Untuk kesehatan mental dan kebahagiaan hati.

__ADS_1


TBC....


__ADS_2