
Selepas shalat isya, Ali pun segera kembali ke kamar. Ia mengambil ponselnya dari laci. Menghela nafas berat, sebelum akhirnya mengirimkan pesan kepada seseorang.
Tak butuh waktu lama, ia pun mendapatkan balasan.
“Telepon sajalah,” gumamnya menghempaskan bokongnya ke kasur.
Panggilan tersambung, seditik kemudian. Seseorang mengucapkan salam padanya.
“Wa'alaikumussalam, belum tidur?” tanyanya, seraya melirik kearah pintu kamar.
Cemas jika tiba-tiba istri pertamanya masuk.
“Aina kau mengikuti perintah saya kan?” tanyanya, sebelum berangkat ke Banten, ia meminta Wan Aina untuk tidur di rumah utama.
Sebab rumah yang ditinggali oleh istri mudanya belum kedap suara. Terlebih ia juga belum memasang lampu otomatis, yang akan tetap menyala. Sekalipun lampu padam dari pusatnya.
“Jangan bilang kamu tidak mengikuti permintaan saya,” tebaknya, saat istri mudanya diam.
Ali mengusap wajahnya kasar, sebagai seorang suami sudah tugasnya. Untuk membuat istrinya merasa nyaman dan aman.
“Jangan keras kepala, semua ini demi kebaikan kita ...Raga saya memang di Banten ...Tapi pikiran saya bercabang ... untuk di sini dan di sana.”
Ia menghela nafas berat, setelah menikah untuk yang kedua kalinya. Beban pikirannya bertambah. Belum lagi jika sudah menyangkut pekerjaan.
Ia merasa tidak memiliki waktu untuk memikirkan dirinya sendiri. Sebab energinya terkuras untuk memikirkan perasaan kedua istrinya.
“Disini saya cemas karena nenek sakit. Bahkan Abah sudah mengumpulkan anak dari nenek. Jadi, Mas harap. Kamu bisa nurutin perkataan Mas! Aina ...tidurlah di rumah utama, saya akan merasa lega. Jika kau mengikuti perintah saya. Sebab di rumah utama. Kamu tidak akan mendengar guntur, terlebih lagi, jika lampu mati kau tidak akan bangun dan merasa sesak,” tuturnya,
“Setidaknya beban pikiran saya akan berkurang,” ujarnya dengan suara berat.
Pintu diketuk membuatnya, mengalihkan pandangannya.
“Li makan dulu, Abah dan yang lain menunggumu.”
Ali menutup mulutnya rapat, ada hal aneh menyeruak ke hatinya. Rasa bersalah sebagai seorang menantu pada mertuanya karena lebih asik tleponan dengan perempuan.
Hingga membuat keluarga istri pertamanya kelaparan karena menunggunya.
Disisi lain merasa bersalah kepada istri keduanya. Sebab pembicaraan malam ini harus berakhir begitu singkat.
“Iya Bu!” sahutnya sedikit mengeraskan suaranya.
Mendengar langkah kaki pergi menjauh dari kamar. Ia yang tadi sempat menutupi bagian speakers ponselnya. Kini ia taruh ke telinga kembali.
“Aina ingat pesan saya, tidur di rumah utama. Jaga kesehatan dan jangan bergadang, saya tutup teleponnya dulu. Assalamu’alaikum!”
Lelaki itu segera mematikan ponselnya setelah mendengar jawaban salam dari Wan Aina.
Cepat Ali memakai sendal dan keluar dari kamar.
Sampai diruang tamu para kerabat sudah duduk memutar untuk makan bersama.
“Nah yang ditunggu datang juga,” celetuk pria berjenggot putih yang Ali ketahui sebagai abangnya Abah.
__ADS_1
Lelaki itu tersenyum canggung, telapak tangan berkeringat.
Tidak bisa dibayangkan bagaimana reaksi. Keluarga besar Abah, jika mengetahui yang sesungguhnya.
Telponan dengan wanita lain.
“Ngapain saja di kamar, ini keluarga besar sedang ngupul. Kamu malah menyendiri,” tanyanya yang lain, disaat Ali ingin duduk.
Seketika lelaki itu terdiam, apa yang harus ia jawab.
Tidak mungkin bicara yang sejujurnya bukan?
“Wajar Kang, jika Ali dikamar, butuh istirahat kayaknya. Kemarin malam sampai sini jam sebelas. Keluar dari kamar Emak, kalau enggak salah setengah satuan. Subuh sudah bangun, dilanjut ngantar saya ke pasar. Bada Dzuhur ngantar Abah untuk mengisi ceramah,” celetuk ibu.
Ali melirik kearah Ibu mertuanya. Entah mengapa ia merasa, jika ibu mertuanya sedang menutupi apa yang sebenarnya terjadi. Itu berarti ibu mertuanya mendengar, jika tadi ia sedang teleponan dengan Wan Aina.
“Padat banget jadwalmu Li!” sahut yang lain membuat Ali mengalihkan pandangan dari ibu mertuanya ke arah paruh baya berkumis.
Ali hanya tersenyum samar. Saat ini matanya celingak-celinguk mencari istrinya. Beberapa istri kakaknya, keluar masuk dapur untuk menjamu para lelaki. Tapi kenapa ia tak menemukan istrinya.
Melihat hal itu Abah yang duduk di sampingnya, berucap pelan. “Istrimu itu ada di kamar neneknya, kamu bisa menemui dia setelah makan.”
Ali mengangguk pelan. Meskipun tinggal di tempat yang sama. Seharian ini ia jarang bertemu dengan istrinya. Padahal sebelum ke Banten, ia berpikir bisa menikmati quality time dengan Meisya sepuasnya.
Nyatanya itu hanya angan belaka.
Setelah makan bersama, Ali menarik diri. Dia ingin segera menemui istrinya yang berada di kamar nenek. Namun sebelum sampai ke ruangan nenek. Ia berpapasan dengan ibu mertuanya.
“Bu, apa dia sudah makan?” tanyanya berdiri di depan ibu.
“Sadari siang dia hanya fokus dengan nenek, hingga melewatkan makan siang. Ibu sudah mengingatkan ...Tapi sepertinya istrimu, terlalu mencemaskan keadaan nenek yang semakin memburuk.”
Ali menghela nafas berat.
“Ibu tenang ya? Nanti aku akan bicara padanya.” Ali segera melangkahkan kakinya menuju kamar nenek.
Ali mengetuk pintu yang terbuka sedikit, tidak perlu mendapatkan jawaban. Lelaki itu segera menyembulkan kepalanya ke dalam.
Malam ini di kamar nenek, dipenuhi oleh cucu-cucunya.
Meisya yang tadi sedang memijat kaki nenek, menoleh saat pintu terbuka. Dilihatnya sang suami sedang menatapnya.
“Makan dulu, nanti kamu sakit,” ujar Ali berdiri dibalik pintu.
“Iya Dik Mei, makan dulu biar kita disini menemani Nenek!”
Meisya menoleh kearah sepupunya.
Ersa selaku kakak iparnya, menyetujui ucapan sepupu iparnya.
Dengan berat, Meisya bangkit dari duduknya.
“Kamu enggak mau lihat Nenek, dulu?” tanya Meisya pada Ali.
__ADS_1
Lelaki itu melirik sekilas ke ranjang. Ada perasaan aneh yang memenuhi hati dan pikirannya. Meski hanya melihat raut wajah nenek.
Cepat ia menampik semua perasaan yang memorak-porandakan ketenangannya.
Ali pun melangkahkan kakinya mendekat ke ranjang. Sulit baginya membuka mulut, untuk bertanya kepada nenek. Yang kebetulan membuka matanya, saat ia berdiri di samping ranjang. Ia melirik kearah istrinya, dengan wajah sendu. Dan kembali ke nenek, yang sudah menutup matanya kembali.
Lelaki itu membuang napas pelan.
“Lebih baik kamu makan dulu, nanti kembali jaga Nenek!” bisik Ali menarik tangan istrinya keluar kamar.
“Aku tidak naf-su Bib!” jawabannya lemah, tiba di luar pintu.
“Harus makan, kalau kau jatuh sakit. Bagaimana kau bisa merawat nenek?” Ali berjalan merengkuh tubuh istrinya.
Meisya berdecak kesal. Namun Ali lekas memberikan tawaran yang tidak bisa ditolak oleh istrinya.
“Gimana kalau kita makan sepiring berdua. Aku rindu, sudah lama kita tidak makan seperti itu. Aku tunggu di teras,” ujarnya pergi, tak butuh mendengar jawaban. Sebab jika ia masih bersama Meisya, perempuan satu itu akan memiliki segudang alasan.
Pemilihan teras kamar, menjadi tempat candle light dinner, malam ini. Sebab seseorang tidak bisa melihat mereka dari bawah. Terlebih lagi jarak bangunan kamar santri dan teras kamar Meisya, terbilang cukup jauh.
Ali segera membentangkan karpet kecil. Seraya menunggu kedatangan istrinya. Sebenarnya ia sudah kenyang, akan tetapi. Jika Meisya tidak ditemani makan, bisa-bisa perempuan satu itu. Tidak makan hingga pagi.
Lelaki itu tersenyum tipis melihat istrinya berjalan dengan nampan plastik berisi nasi dan lauk-pauk.
“Sudah cuci tangan?” tanya Meisya meletakkan nampan plastik dan sebotol air dari tangan kirinya.
Ali mengangguk. Kedua pasangan itu menikmati makanan dengan hikmat.
Sesekali Ali menyuapi istrinya dengan tangannya langsung. Begitu pun sebaliknya. Hingga tiba-tiba Meisya bersuara. “Bib, aku takut...” ujarnya dengan mimik serius.
Ali terdiam, dia mencari tahu apa yang ditakutkan istrinya.
Apa ini tentang kesehatan nenek?
“Oh ...ya aku lupa ... Tadi Abah bilang jika wanita lebih baik shalat di rumah. Bisa kau menjelaskannya. Aku ingin bertanya pada Abah, tapi waktunya tidak pas,” ujarnya mengalihkan pembicaraan. Dari pada melihat istrinya sedih saat makan.
“Seorang perempuan memang diperbolehkan shalat di masjid. Namun shalat di rumah jauh lebih baik dan lebih besar pahalanya. Bahkan lebih baik daripada shalatnya dimasjid Nabawi.”
“Kala itu Rasulullah SAW. Didatangi oleh Istri Abu Humaid As Sa'idi! Ummu Humaid bertanya; Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin shalat berjamaah bersamamu.”
“Rasulullah SAW, menjawab. Aku telah mengetahui hal itu. Bahwa engkau sangat ingin shalat berjamaah bersamaku. Namun shalatmu di dalam kamar khusus untukmu (bait) lebih utama ... dari shalat di ruang tengah rumahmu (hujrah) ....Shalatmu di ruang tengah rumahmu lebih utama ...dari shalatmu di ruang terdepan rumahmu ...Shalatmu di ruang luar rumahmu lebih utama ...dari shalat di masjid kaummu ...Shalat di masjid kaummu lebih utama ...dari shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi).”
“Menurut kamu, alasan dibalik itu semua apa?” Dahi Ali berkerut.
“Menghindari tabarruj, dan jauh dari campur baur dengan lawan jenis (ikhtilath)”
Setelah selesai makan, Meisya akan beranjak dari duduknya. Namun terurungkan ketika suaminya bersuara.
“Aku tahu tentang rasa takutmu ... tetapi aku tidak tahu, bagaimana cara menghilangkan ketakutan itu. Aku pernah ada diposisi itu ... dan tidak ada yang bisa menghilangkan ketakutan akan sebuah perpisahan....”
Meisya tertegun mendengarnya, ternyata Ali tahu ketakutannya kehilangan nenek. Meskipun ia tak mengatakan banyak.
Perempuan itu menghamburkan tubuhnya kearah suaminya. Menangis di pelukan sang Habib.
__ADS_1
Lelaki itu hanya bisa mengelus punggung istrinya. Inilah alasannya mengalihkan pembicaraan, supaya istrinya bisa makan terlebih dahulu. Sebelum akhirnya kesedihannya pecah.
TBC...