
Ali langsung berdiri dan menghamburkan tubuhnya kearah Aidin. Ia tak menyangka jika keempat sahabatnya datang.
Aidin menepuk pundak Ali sebagai bentuk penguatan.
“Jalani saja dulu, pasti bisa....”
“Al, sudah saatnya giliran kita!” info Irene.
Terdengar dari luar suara hakim membuka persidangan.
“Sebelum mulai persidangan marilah kita membaca doa terlebih dahulu.”
“Dengan membaca kalimat bismillahirrahmanirrahim. Kamis 1 November 2018. Pengadilan agama Jakarta Selatan yang memeriksa perkara perdata. Dengan ini dibuka dan terbuka untuk umum....”
Hakim itu mengetuk palu tiga ketukan.
Pihak berperkara dan kuasa hukum memasuki ruangan
Ali berjalan beriringan dengan Irene. Dan Meisya yang didampingi oleh kuasa hukumnya.
Ali menundukkan kepalanya menyapa perempuan yang ia cintai. Meisya membalasnya dengan anggukan kepala.
Perempuan itu sedikit terkejut dengan, penampilan suaminya. Pasalnya ini kali pertama mereka bertemu kembali, setelah mengantarkan ia ke Banten.
Disaat hati meminta untuk mengagumi lelaki yang masih menjadi suaminya. Ada kewarasan yang menyadarkannya dari nafsu setan.
Mungkin ini adalah awal ia harus membuang semua gairah cinta. Hasrat menyukai, dan memikirkan.
“Astagfirullah!” gumamnya tersadar dari lamunannya.
Hakim menyuruh termohon dan pemohon duduk. Berdampingan dengan kuasa hukum masing-masing.
“Sidang dinyatakan terbuka untuk umum!”
Tak.
Duduk di berhadapan dengan hakim, membuat jantung Ali berdetak. Dalam kondisi seperti ini ayahnya tidak terlihat batang hidungnya.
Apa Brahmanta tidak menganggap dirinya anak?
Menambah pikiran dengan hal-hal negatif membuat dahinya berkeringat.
“Tenang Al ... nih usap keringat!” bisik Irene menyodorkan sapu tangan.
“Bagaimana pemohon apakah Anda akan meneruskan sidang ini?” tanya hakim. Membuat Ali duduk tegak.
“Yakin yang Mulia!”
“Bagaimana dengan termohon, apakah dalam keadaan suci?” Hakim itu melirik kearah Meisya.
__ADS_1
“Iya saya suci!” jawab Meisya suaranya terdengar bergetar. Namun matanya memandang lurus kearah hakim.
“Sebelumnya kepada pemohon, apakah saudara sudah siap dengan penggugatan?”
“Saya siap yang Mulia!” tegas Ali.
“Untuk mengucapkan ikrar talak, apakah pemohon akan membacakan sendiri. Atau dituntun oleh Hakim?”
“Dituntun saja yang Mulia!”
“Baik silakan berdiri!” perintah hakim itu membuat Ali berdiri.
“Silakan beristighfar tiga kali!” perintah Hakim.
Ali terdiam sejenak, dia menarik nafas berat. Entah mengapa dalam hal ini, ia merasa ibunya sedang menatapnya.
Namun demi tidak membuang-buang waktu. Ia pun melakukan apa yang hakim perintahkan.
“Bismillahirrahmanirrahim, pada hari ini Kamis 1 November 2018.” Hakim itu menuntun pemohon, Ali pun mengikuti.
“Bismillahirrahmanirrahim, pada hari ini Kamis 1 November 2018. “
“Saya....” Hakim itu meminta Ali menyebut namanya dan nama ayah.
“Saya Mahbub Ali Al-Rasyid bin Brahmanta!”
“Menjatuhkan talak satu hari ini....”
Bagaimanapun Meisya adalah perempuan yang sangat ia cintai. Namun takdir berkata lain. Ia harus melepaskan. Dikala cinta masih membara. Meskipun tak bisa dipungkiri, ada hal yang masih belum bisa ia maafkan. Yaitu ketika istrinya lebih mempercayai orang lain, ketimbang dirinya sebagai suami.
“Kepada ... sebut nama istrinya,” pinta hakim.
“Istri saya Meisya Alqanaah binti Abdul Rahman!”
Seketika ruangan persidangan begitu hening. Semua kepala tertunduk, tak terkecuali Ali dan Meisya.
Perasaan sedih, kecewa melebur menjadi satu. Tetesan air mata meluncur deras di balik niqab.
Ibu dan Abah yang duduk di belakang putrinya menangis, tangan mereka saling menggenggam, bentuk penguatan.
Hati orang tua manakah yang tak hancur. Melihat putri satu-satunya dihadapkan dengan cobaan besar ini. Atan yang juga ikut menyaksikan sidang ini hanya mampu menghela nafas berat.
Bergeser sedikit jarak tak jauh dari tempat duduk keluarga pihak Meisya. Empat lelaki yang duduk berjejer tatapannya lurus kearah sahabatnya yang sedang berdiri. Menundukkan kepala dengan punggung bergetar.
Aidin tampak menggigit bibirnya ada rasa takut dan kecemasan. Dalam dirinya, terhadap keadaan sahabatnya. Ia tak nyaman dalam situasi saat itu.
“Baik silakan duduk kembali!!” perintah hakim yang membuat Ali mengikutinya.
Melihat hal itu Stefan menunduk dan memijat pelipisnya. Tak berani memandang sahabatnya yang terlihat hancur. Dan ia tak bisa membayangkan. Andai yang berdiri di depan hakim adalah dirinya.
__ADS_1
Irene mengelus pundak Ali, iba.
“Dengan ditetapkannya perkawinan. Dengan pemohon atas nama Mahbub Ali Al-Rasyid bin Brahmanta. Dan Meisya Alqanaah binti Abdul Rahman. Sebagai termohon. Putus karena perceraian.”
“Yang kedua dibebankan biaya perkara kepada pemohon. “
Hakim itu mengetuk palu sekali lagi.
“Mengenai surat cerai atau akta cerai. Bisa diurus setelah persidangan ini!”
“Sidang perkara ikrar talak nomor 08-Kamis 1 November 2018 ditutup dengan mengucapkan hamdalah!”
Kembali lagi hakim mengetuk palu tiga kali.
Hakim berdiri membuat semua orang ikut berdiri.
Hakim keluar dari ruangan persidangan.
Keempat sahabat itu menghampiri Ali yang mendongak menatap atap ruangan persidangan. Menahan linangan air mata.
Lelaki itu memeluk tubuh Sean. Pria yang memiliki selasih umur 8 tahun itu memeluknya erat.
Arfa menepuk pundaknya dan berkata, “Status kita sama .... enggak apa-apa lu enggak sendiri!” hiburnya.
Di sisi lain, perempuan berniqab itu memeluk ayahnya, menangis di pelukan lelaki tua.
Abah tak kuasa menahan air matanya. Paruh baya itu hanya bisa mencium dan mengelus pundak putrinya.
“Sabar Mei ... insya Allah semua bisa kita hadapi!”
Keluarga Meisya dan kuasa hukum keluar dari persidangan. Bersamaan dengan itu, Ali dan sahabatnya juga melangkahkan keluar.
Namun lelaki itu memutuskan untuk, menyapa Abah. Pasalnya tadi sebelum persidangan dimulai, ia tak sempat menyapa.
“Baik-baik ya Li! Meskipun hubungan pernikahan sudah putus, silaturahmi tetap harus terjalin!” Tersenyum simpul mengelus pundak mantan mantunya.
“Insya Allah! Bu jaga kesehatan!” Menatap mantan Ibu mertuanya lekat.
Paruh baya itu, menitihkan air matanya. Mengangguk kecil.
Meisya yang menunduk tak sengaja melirik kearah jari manis Ali. Yang masih tersemat cincin kawin mereka. Perempuan itu mendongak yang membuat matanya bertatapan dengan Ali yang berdiri di depan Ibunya.
Kedua orang itu kompak melengos, membuat orang yang memandangnya ikut salah tingkah.
Namun tidak dengan Irene yang memasang wajah datar sambil menyilang kedua tangannya di dada.
“Enggak ada yang jaga sekarang, kamu harus menjaga kesehatan. Jangan lupa makan biar maag tidak kambuh,” suara pelan dari balik niqab bisa didengar oleh telinga banyak orang.
“Menasihati orang lain memang gampang, tapi menasihati diri sendiri itu susah!” perhatian balik yang tersirat, dari mulut Ali berhasil membuat semua orang baper dibuatnya.
__ADS_1
Ingat sudah putusan.
TBC....