
Perjalanan malam itu akan membutuhkan waktu kurang lebih dua jam. Sepanjang jalan keduanya tidak pernah berhenti bicara. Malam itu Ali menemukan hal yang jarang ia dapatkan sebelumnya. Yakni menikmati candaan santai dengan Meisya. Cubitan kecil dari sang istri, saat mulutnya mulai mengeluarkan racun puitisnya.
Sebelum hatinya menjadi gundah. Mengingat sebentar lagi, ia akan sampai di rumah mertuanya. Ini kali pertama ia kembali ke rumah Abah, dengan status yang tak lagi sama. Ia mengusap air mukanya kasar.
Apa yang akan orang lain pikirkan tentangnya?
Melihat kegusaran yang terpampang jelas di raut wajah sang suami. Meisya berusaha menenangkan. “Kamu kenapa?”
Ali melirik istrinya, dan mengulas senyuman. Berusaha menyembunyikan sesuatu yang mengganjal dalam hatinya.
Mobil putih itu mulai memasuki gapura, ia membelokkan mobilnya kearah kanan. Dari kejauhan, terlihat gerbang rumah Abah terbuka lebar.
Seolah menunggu kedatangannya.
Klakson sengaja tak dinyalakan, jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Mungkin sebagian para santri sudah terlelap.
Lelaki itu segera memarkirkan mobilnya.
Keduanya keluar dari mobil, menghampiri Abah yang baru saja keluar dari masjid. Tak lupa mengucapkan salam.
“Wa'alaikumussalam!” jawab Abah melerai pelukannya dari sang menantu. Dan berganti memeluk putri tercinta.
“Abah sehat?” tanya Meisya mendongak.
Perempuan itu tersenyum saat ayahnya mengucapkan hamdalah.
“Ya sudah, mending kita ke rumah. Toh sudah malam, pasti menantu lelaki Abah lelah. Karena perjalanan yang lumayan memakan waktu,” ujarnya menepuk bahu Ali. Agar mengikuti langkahnya.
Tentu saja paruh baya itu tahu, jika sang menantu telah menikah kembali. Ia ingat, bagaimana Ali meminta izin padanya. Hingga ia menyetujuinya. Ali memberi kesan yang begitu baik. Sampai tidak ada celah baginya untuk menolak.
Sesampainya di dalam rumah, mereka disambut hangat oleh keluarga yang masih terjaga menunggu kedatangannya.
“Li gimana kabarnya?” tanya Atan kakak tertua Meisya.
Meisya menjadi anak bungsu dari lima bersaudara.
“Seperti yang dilihat!” jawab Ali tersenyum seraya melerai pelukan dari kakak ipar.
Lelaki itu celingak-celinguk mencari keberadaan Meisya. Bukannya saat ia sedang berbincang dengan kakak iparnya. Meisya masih ada di sampingnya.
Cepat sekali perempuan itu menghilang.
“Cari siapa Nak?” tanya ibu mertuanya.
Dengan setengah tersenyum Ali mengatakan. Jika ia mencari istrinya.
“Oh ... istrimu itu. Ada dikamar nenek ...kau tahukan. Meisya itu begitu menyayangi neneknya ... begitu pun juga nenek! Beliau selalu memanggil nama Mei beberapa hari terakhir ini....”
Ali mengangguk setuju, jika diingat kembali. Meisya dan nenek adalah dua orang yang saling menyayangi. Bahkan tahun pertama ia membina rumah tangga dengan Meisya. Nenek sempat ikut tinggal bersama mereka selama 6 bulan. Sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah, karena sering jatuh sakit.
__ADS_1
“Kamu mau minum apa Li, biar Ibu buatkan,” kata ibu mertua yang sudah tak canggung lagi.
Bahkan sepasang menantu dan mertua itu bak ibu dan anak kandung.
“Tak perlu repot Bu, nanti kalau Ali haus akan ambil sendiri. Mending Ibu istirahat saja....”
“Biar kami yang menjaga nenek,” tukas Ali memandang wajah ibu mertuanya yang terlihat lelah.
Mungkin saja akhir-akhir ini. Ibu mertuanya sering terjaga. Untuk merawat nenek.
“Ibu takut Li, nenek sekarang suka ngomong ngelantur. Sudah begitu, kadang lupa dengan orang sekitar,” keluh ibu mertua meremas ujung hijab.
Ali mengusap bahu ibu mertuanya, menenangkan. “Bu, jangan terlalu dipikirkan. Bukankah hal ini wajar? Dengan bertambahnya usia daya ingat juga semakin turun. Nanti Ali juga pasti mengalami hal yang sama seperti nenek, ya kan Bu?” tuturnya, membuat ibu mertuanya ternganga. Wajah yang tadi lesu berangsur cerah.
“Kamu itu bisa aja, tapi sebelum kamu. Sepertinya Ibu dulu deh,” jawab ibu mertuanya cemberut.
Ali tersenyum tipis, saat cemberut ibu mertuanya persis seperti Meisya.
“Yang penting jangan lupakan Ali, Bu!”
“Yang penting itu jangan lupakan, Abah yang tiap hari menemanimu Bu,” sahut Abah, membuat kedua orang itu menoleh.
All menggaruk tengkuknya salah tingkah. Bagaimana bisa, ia menyuruh istri orang. Selalu mengingatnya hingga tua.
“Nah kan pawangnya datang ... Makanya Li sebelum kau cakap. Kau tengoklah kanan-kiri, kau tidak tahu saja bagaimana mertuamu itu, posesif sekali,” sahut Arsa putra kedua Abah.
Dari keluarga istrinya, Ali menemukan kembali arti sebuah keluarga. Dari sinilah lelaki itu bisa merasakan candaan dan banyolan. Yang menyempurnakan statusnya sebagai seorang anak dan adik.
Lelaki itu menyembulkan kepalanya, dilihatnya ada tiga perempuan. Sedang duduk mengitari kasur nenek.
Dua diantaranya adalah istri kakak iparnya. Sedangkan yang satu miliknya.
Ia pun melangkah ke dalam.
Dilihatnya nenek sedang berbaring, kepalanya mendongak. Meski matanya terpejam, kata Meisya nenek tidak tidur. Perlahan ia mendekat.
“Assalamu’alaikum, Nenek! Cepat sembuh ya,” ujar Ali mengajak nenek berbicara.
Bukan tanpa alasan istrinya yang meminta hal itu.
“Haahh?” gumam nenek masih memejamkan matanya. “Siapa itu?” Telinganya tampak merespons dengan baik. Atau menang kebetulan.
“Kak Rasyid, Nek!” sahut Meisya.
Awal pernikahan Meisya memang memanggil suaminya dengan sapaan ‘kakak'.
Nenek membuka matanya perlahan. Pertama kali yang dilihat adalah wajah lelaki. Tampaknya agak lupa dengan cucu menantunya.
“Ingat sama aku kan Nek?” tanya Ali serius.
__ADS_1
“Kamu siapa?” tanya nenek heran.
Sontak saja lelaki itu menelan ludahnya, benar kata ibu mertuanya. Jika nenek sudah mulai pikun. Tapi entah mengapa, nenek tidak melupakan nama Meisya.
“Rosidi Nek, yang waktu itu pernah ngajak Nenek ngebut pakai becak ingatkan Nek?” tanya Ali, teringat lahirnya panggilan Rosidi.
Ketika nenek tinggal bersamanya.
...***...
Di satu hari nenek mengatakan jika ingin keluar jalan-jalan mengelilingi kompleks perumahannya yang berada di Jakarta.
Namun saat Ali telah siap untuk mengambil kunci mobil. Nenek bilang padanya, jika beliau ingin. Mengelilingi kompleks dengan jalan kaki, atau naik kendaraan selain mobil.
Ha ini membuat lelaki itu berpikir, tidak mungkin ia mengelilingi kompleks dengan jalan kaki.
Mengingat jika jalan nenek lebih lambat dari siput. Bisa-bisa satu jam hanya seperempat meter. Ia pun mulai berpikir keras, untuk mendapatkan solusi.
Entah kebetulan atau tidak, tiba-tiba tukang becak lewat. Ia pun menyewanya. Namun saat ia sudah duduk di samping nenek . Nenek mengatakan, jika harus ia yang menggenjot becaknya.
Akhirnya ia setuju untuk menggowes becak. Seperti yang nenek mertuanya katakan.
Namun saat melewati rumah seorang tetangga yang memelihara anjing . Membuatnya was-was, jika anjing besar jenis Labrador Retriever mengejarnya.
Dan benar saja, itu terjadi.
Alhasil ia meminta nenek untuk tenang dikala becak berjalan cepat.
Tiba di rumah nenek, mulai marah padanya. “Mei katakan pada suamimu. Mulai detik ini aku tidak akan memanggilnya Rasyid! Suamimu itu sudah kayak pembalap, yang sukanya ugal-ugallan di sirkuit. Siapa itu namanya? Pembalap asal Italia ... Ros-ros....”
“Rossi!” jawab Meisya.
“Iya itu, Rossi—di!”
“Rossi Nek!” sahut Ali membenarkan.
“Nah kalau kau beda, bukan Rossi. Ugal-ugalan kau dikompleks dengan becak pula, udah gitu membahayakan nyawa Nenek dan banyak orang....”
...***...
Ali tersenyum tipis mengingat kejadian konyol dengan nenek mertuanya.
“Yang mana, enggak mungkin yang mau bikin nyawa Nenek hilangkan?” sahut nenek.
Membuat tiga perempuan yang ada di dalam ruangan tersenyum lega. Respons nenek seperti orang yang akan kembali sehat.
Ali menelan ludahnya, bagaimana mungkin nenek. Mengingatnya sebagai penghilang nyawa seseorang.
Bukankah ini sudah tugasnya malaikat Izrail.
__ADS_1
Mana mungkin ia menyabotasenya.
TBC...