
“Aku tidak mau membahasnya.” Gadis itu berbicara tegas, mendorong tubuh suaminya agar menjauh.
Wan Aina bergegas meninggalkan suaminya yang membutuhkan penjelasannya.
“Aina, saya mohon beritahu. Apa yang sebenarnya terjadi? Ketika saya tak sadarkan diri.”
“Mengapa kalian terlihat renggang.”
Lelaki itu berjalan cepat membuntuti istrinya masuk ke dapur.
Sedangkan Wan Aina menahan emosi. Jika teringat kejadian di taman rumah sakit. Belum lagi ingatannya kini, dipenuhi oleh kejadian tadi pagi. Ketika sang suami mengigau perempuan lain. Saat bersamanya.
“Kita ini keluarga Aina. Jadi Mas, ingin kamu jujur. Apa yang terjadi antara kau dan dia? Dan kenapa pula, tadi pagi kamu ngambek?”
Wan Aina membalikkan badannya tiba-tiba. Sorot matanya memancarkan amarah yang mendalam.
“Kau ingin tahu?” Menatap suaminya tajam.
Ali terdiam, bentuk persetujuan.
“Mas, apa kau tidak sadar. Apa yang terjadi padamu semua itu karena ulahnya.”
Wan Aina menunjuk kearah tangan suaminya.
Lelaki berambut hitam itu, sudah paham. Sekalipun informasi yang diberikan istri mudanya, hanya sepenggal cerita.
“Semua yang terjadi, memang sudah saatnya Aina!”
“Percuma kau bertanya ... jika ujung-ujungnya kau membelanya,” sentak Wan Aina tepat di wajah sang suami.
“Bukan begi—“ Cepat Wan Aina memprotes ucapan Ali.
“Bukan begitu ... bukan begitu apa? Jelas-jelas semua itu salahnya, andai saja kalian tidak berdebat malam itu. Pasti kau tidak akan kecelakaan....”
Mata merah Wan Aina, membuat sang suami tahu. Jika gadis cantik itu, begitu khawatir dengan keadaan mas Ali-nya.
Ali menarik bahu istrinya, lelaki itu memeluk tubuh Wan Aina. Dengan satu tangannya, tak peduli dengan rasa nyeri di tangan kanannya. Yang belum memakai gendongan tangan.
“Dia juga menyalahkan fobiaku ... hiks!” Suaranya terdengar lemah, Wan Aina membenamkan wajahnya di dada suaminya.
Ali terdiam membiarkan istrinya terus bercerita. Tidak baik rasanya, jika ia memotong dan memberikan nasihat detik itu juga. Untuk saat ini istrinya hanya perlu didengarkan olehnya.
“Dan terlebih lagi, kau selalu saja. Memikirkannya, baik saat sadar maupun tidak. Apa aku tidak memiliki tempat di pikiranmu?”
Mendongak menatap sang suami. Gadis itu ingin melepaskan pelukannya, namun Ali segera menahan kepala istrinya agar tetap bersandar di dadanya.
“Kalau Mas, bilang tidak ada kau percaya?”
“Tuh kan benar!” Wan Aina memukul punggung suaminya. Berusaha lepas dari pelukan suaminya.
Namun Ali kembali menekan kepalanya untuk diam diposisi semula.
__ADS_1
“Ternyata benar apa kata penelitian... jika pikiran negatif itu susah diubah kepikiran positif, namun sebaliknya pikiran positif mudah berubah ke pikiran negatif” ejek Ali mengomentari ucapan istrinya.
“Sekarang gini saja, coba dipikir. Kenapa hati Mas, tergerak untuk menemanimu saat hujan datang? Padahal waktu itu, saya bersama dengan perempuan yang ...katamu ...selalu memenuhi pikiran saya.”
“Kenapa saya tidak memutuskan untuk bersamanya? Dan bodoh amat dengan keadaanmu. Mengapa pula saya harus bertengkar dengan, perempuan yang katamu selalu saya pikirkan.”
Kembali Ali mengulangi kalimat yang sama. Untuk mengubah cara berpikir istri mudanya itu. Dan benar saja, hati istri mudanya menghangat. Mendengar pernyataan yang keluar dari mulutnya. Diperkuat dengan pelukan yang semakin erat.
“Kalau tidak karenamu ...saya harap penjelasan kali ini bisa membuatmu paham.”
“Aku tidak paham!” Wan Aina menyahuti ucapan Ali dengan ketus.
Gadis itu menyembunyikan senyumannya di dada suaminya. Sejujurnya ia ingin mendengar pernyataan dari mulut suaminya secara gamblang.
Ali menghela nafas berat, sungguh lelaki itu tidak mengerti. Kenapa semua perempuan harus diberikan kepastian yang jelas.
“Ilmu TK kok enggak paham,” celetuk Ali, enggan bicara terus terang.
“Ilmu TK gimana?” Wan Aina mendongak.
“Analoginya seperti...lidi bentuknya hampir mirip I. Cangkul seperti huruf L. Bentuknya gelas menyerupai huruf U.”
“Dibaca?”
“ILU!”
“I Love U!” Ali tersenyum menyeringai.
“Lah kata lovenya dimana?” tanya istrinya dengan dahi berkerut.
“Kamu ingin tahu?” Menatap manik istrinya lekat. Ali tersenyum melihat istrinya mengangguk di dadanya.
“Sebab penglihatanmu tertuju pada ...apa yang saya berikan kepadanya. Ketimbang apa yang saya berikan kepadamu. Oleh karena itu kamu tidak bisa merasakan cinta saya. Karena kamu berfokus pada yang orang lain dapatkan. Bukan apa yang kamu miliki.”
Wan Aina malu dengan ucapan suaminya. Pernyataan sang suami benar-benar membuka matanya untuk sadar.N
amunn apakah kesadaran itu berlangsung lama?
Atau justru hanya detik ini saja, setelah itu kembali ke semula.
“Mata hatimu tertutup oleh selaput cemburu. Yang membuatmu merasa jika saya tidak mencintaimu.”
Wan Aina gemas dengan ucapan suaminya, yang membuatnya terus merasa malu dengan dirinya sendiri. Hingga membuat gadis itu menggigit pundak suaminya.
Lelaki itu meringis ketika tiba-tiba, singa jutek menerkam bahunya.
“Aina kenapa kau menggigit saya?”
Wan Aina terkekeh malu, gadis itu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ali tersenyum tipis, permasalahannya dengan Wan Aina sedikitnya telah menemukan titik terang.
“Cie malu tapi he'em,” goda Ali menahan tawa.
__ADS_1
Mendekat hal itu, Wan Aina berusaha keras mencerna ucapan suaminya.
“Bisanya malu-malu tapi mau. Ini kenapa jadi malu tapi he’em!” gumamnya yang bisa didengar oleh suaminya.
“Sudah enggak usah dipikirin, sini bantu Mas pakai gendongan.” Menarik tangan istrinya ke ruang tamu.
Setelah sampai di ruang tamu, lelaki itu segera mengambil ponselnya yang menyala. Sepuluh kali panggilan dari seseorang tidak ia angkat, karena menggunakan mode silent.
“Ibu!” gumamnya, dan bersamaan dengan itu panggilan kembali dilayangkan oleh nomor yang sama.
Ia lekas menjawab, dan memberikan kode kepada Wan Aina yang sedang memasang arm sling padanya untuk diam.
“Wa’alaikumussalam, ada apa Bu? Maaf Ali, tidak langsung menjawab,” jawabnya merasa tidak enak hati dengan ibu dari Meisya.
“Bagaimana kabarmu?” Suara dari ponsel, terdengar khawatir.
Setelah mengetahui ia kecelakaan, keluarga Meisya langsung berangkat ke Jakarta memastikan kondisinya.
Di waktu itu pula Abah dan ibu bertemu dengan Wan Aina, kedua mertuanya menerima baik kehadiran istri mudanya.
Namun terkadang apa yang terlihat berbeda dengan kenyataan.
Ya itulah prasangkanya waktu itu.
Dan mungkin itu juga terjadi pada Wan Aina, yang selalu tersenyum lebar kepada mertuanya.
“Alhamdulillah, doakan agar cepat sembuh ya Bu! Biar enggak ngrepotin orang terdekat,” jawabnya, melirik kearah Wan Aina.
Dan mengucapkan terima kasih kepada istrinya dengan gerakan bibir.
“Iya kamu jangan lupa minum obat. Apa Mei ada bersamamu?”
Ali terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Karena hari itu ia bersama dengan istri mudanya.
Wan Aina yang kebetulan mendengar pembicaraan itu. Ia langsung berbisik ditelinga Ali.
“Bilang kau sedang sendiri, aku akan pergi ke dapur. Maka jawabanmu tidak dikategorikan berbohong. Terlebih lagi, kamu tidak akan menyakiti hatinya.”
Ali tersenyum mendengar ide yang istrinya berikan. Ia menatap Istri mudanya berlari ke dapur tanpa alas kaki. Bertujuan supaya ibu mertuanya tidak mendengar suara apapun.
“Kebetulan Ali sedang sendiri....”
“Apa ibu ingin bicara dengannya?” tawarnya, berharap ibu mertuanya tidak mengiyakan tawarannya.
“Tidak!” Ali bernafas lega.
“Ibu hanya ingin tahu keadaanmu, ya sudah Li! Ibu tutup, banyak istirahat biar sembuh.”
Ali menutup panggilan teleponnya. Lelaki itu tersenyum menyeringai menatap istri mudanya yang berkutat dengan perangkat dapur.
“Idenya boleh juga! Dasar Kancil....”
__ADS_1
Ia geleng-geleng tidak percaya dengan isi otak Wan Aina. Istrinya sangat cerdik seperti kancil.
TBC...