
Mungkin selama ini Ali mengaggap. Bahwa hanya dirinyalah yang menjadi korban dalam pernikahannya.
Namun setelah berkonsultasi dengan psikiater, cara berpikirnya kian berubah. Ia juga menemukan beberapa hal. Yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Atau yang pernah terbesit, namun ia campakkan begitu saja.
Masih teringat jelas dalam benaknya, lima Minggu yang lalu ia pergi ke psikiater untuk yang pertama kalinya.
Ia harus mengantre dan mengisi beberapa catatan yang harus ia isi, sebelum namanya dipanggil.
Sesi pertama, berkisar 45 menit. Kala itu psikiater menanyakan keluhan utama, yang membuatnya menemui psikiater.
Dalam waktu yang singkat itu, ia harus menyampaikan informasi yang valid mengenai problemnya. Ia tidak bisa mengatakan semua hal seenaknya. Mengingat tarif pengobatan itu berdasarkan durasi waktu sehingga harus benar-benar optimal dalam memanfaatkannya.
Sesi berikutnya, psikiater mendiagnosa jika ia mengalami Anxiety disorder. Hal itu sangat umum mengingat ada lebih dari 2.000.000 kasus di Indonesia per-tahunnya.
Ali termenung mengingatnya, namun dari Minggu ke Minggu kehidupannya jauh lebih baik.
Lelaki itu memandang keluar jendela mobil.
“Pak kita berhenti di pantai,” titahnya kepada sopir Grab.
“Baik Pak!”
Lelaki kembali menyadarkan kepalanya di balik jendela mobil.
Ingatannya kembali, ketika psikiater memintanya menjalani pengobatan cognitive behavioral therapy. Salah satu jenis psikoterapi yang bertujuan untuk memperbaiki proses pola pikir dan perilaku.
Dalam sesi terapi ini, ia diajak mencari tahu. Akar permasalahan, menyadari perasaan dan pikiran yang muncul saat ada masalah. Mengelola pola pikir hingga membentuk ulang pola pikir yang salah atau negatif.
Minggu selanjutnya, ia diminta untuk mencatat jurnal secara mandiri. Jurnal biasanya terdiri dari 3 kolom yang berisi situasi pemicu, pikiran otomatis yang muncul, dan perasaan yang menyertai.
Hal itu dilakukan secara konstan bertujuan untuk mengetahui kemajuan yang dialami dirinya.
Cepat ia keluar dari mobil, setelah mengucapkan terima kasih kepada pak sopir.
__ADS_1
Ia melangkah mendekati ombak. Menatap hamparan air yang seolah mengenai langit, justru membuat kepalanya berdenyut.
Namun silir angin yang menerpa tubuhnya membuatnya memejamkan mata. Menikmati waktu sendiri.
Tujuh Minggu pasca kecelakaan, dia bersyukur tangannya yang patah ada kemajuan.
Ia pun memutuskan untuk duduk di pinggir pantai menikmati senja. Seraya mengingat sesuatu.
Bibirnya tertarik ke atas, lelaki itu menunduk menertawakan keadaannya dulu.
“Sungguh sangat egois, bagaimana aku bisa berpikir sedangkal itu....”
“Hanya memikirkan diriku ... aku menganggap ... jika diriku ini korban atas keegoisan seseorang ... tapi bagaimana dengan Aina?” tatapannya menerawang, berpikir keras.
Tangannya segera mengambil ponselnya yang ada di saku jaket. Dan membuka aplikasi catatan.
“Apa alasan Aina mau menikah denganku?”
Ia mencoba menganalisis kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada Wan Aina.
“Paksaankah?” Dahinya berkerut tatapannya kearah ombak yang saling mengejar.
Ia mulai membuat daftar konsekuensi ketika Wan Aina menerima lamaran ayahnya.
“Pertama, menjadi yang kedua akan dipandang sebelah mata.”
Ia meringis, menulis konsekuensi pertama di ponselnya.
“Menjalani kehidupan yang tidak normal. Apalagi istri kedua, tidak diinginkan setiap perempuan.”
“Terlebih lagi, ia hanya melihat fotoku saja. Bukannya ia bisa menemukan, yang lebih dariku. Lebih muda, lebih tampan, dan tentunya lebih bisa mengimbanginya dari segala aspek.”
“Lantas mengapa dia mau jadi yang kedua....”
__ADS_1
Menggeleng keras.
“Tunggu-tunggu ...dia pernah bilang kehadirannya tidak diinginkan oleh siapapun. Apa maksudnya?”
Kembali Ali teringat kejadian saat ia bertengkar dengan istri mudanya[eps28].
“Kehadiranku tidak pernah diinginkan oleh siapa pun ...hiks!”
“Ya aku tidak berguna ... aku selalu menjadi akar masalah dalam kehidupan orang lain. Kalau begitu tidak ada gunanya lagi aku hi—“
Ali memijat pelipisnya, wajah istri mudanya yang berderai air mata. Memenuhi pikirannya, seolah kejadian itu sedang berlangsung detik ini.
Ia tertunduk dalam, hatinya merasa bersalah. Mengingat perilakunya terhadap Wan Aina.
“Maafin saya Aina, sebagai seorang suami saya terlalu sibuk dengan apa yang saya hadapi. Hingga melupakan beban apa yang kau tanggung.”
Senyuman tipis itu menghiasi bibirnya, jika ingat sifat istri mudanya sama dengannya.
“Reaktif ...kau sangat mudah terpancing emosi, sama halnya denganku ... nyonya ter-singgungan. Mungkin itu cocok disematkan untuknya,” gumamnya, mencoba memprediksi wajah istri mudanya.
Ketika ia memanggil dengan sebutan nyonya ter-singgungan. Ia terkekeh geli membayangkan mimik wajah Wan Aina saat kesal.
Kembali ia menghela nafas panjang, tiba-tiba saja ia teringat sesuatu.
“Berbulan-bulan menikah, kenapa aku tidak pernah diminta mengantarkan pulang ke rumah ayahnya? Bahkan aku tidak pernah melihat ia teleponan dengan keluarganya?”
Ia merasa aneh dengan sikap istri mudanya, yang berbeda dengan Meisya seminggu sekali pasti berkabar dengan keluarga yang ada di Banten. Dan itu dilakukan saat bersamanya.
“Aku harus mencari tahu hal ini, dan ya. Aku juga harus mencari tahu siapa yang berhasil memprofokasi istri, hingga memintaku menikah kembali.”
Berdiri dari duduknya. Meninggalkan deburan ombak yang kian tenang itu.
TBC...
__ADS_1