
Kebiasaan yang tak pernah, dilakukan saat berada di Jakarta. Berubah saat menginap di rumah mertuanya.
Sama halnya pagi ini, Ali harus mandi sebelum sholat subuh. Rasa dingin yang menyerang tubuhnya, membuat ia mengeratkan giginya. “Jangan ketawa, suami lagi kedinginan juga,” kesalnya melirik kearah Meisya.
Yang menertawakan keadaannya, tak lebih seperti ayam yang kecebur sumur, selama tiga jam.
Perempuan itu merapatkan bibirnya, sekuat tenaga, menahan tawanya.
“Ya sudah sini peluk,” ujarnya merentangkan kedua tangannya. Berlari kearah suaminya.
Namun Ali justru menghindarinya. “Enggak, aku sudah wudhu! Sana jauh-jauh, kamu juga harus wudhu,” tukasnya, membuka almari pakaian.
“Ingat Bib, mandi pagi itu banyak manfaatnya tahu,” ujar perempuan itu, membuka pintu kamar mandi.
“Ya ...itu kan buat yang kuat dingin, nah aku kan tidak....” sanggah lelaki itu cepat.
“Semua tergantung pada niatnya, buktinya saat kamu junub ... oke-oke saja. Karena harus subuh!”
Ali mendesis salah tingkah. “Kalau itu bentuk penyelamatan diri.”
“Maksudnya?” Memicingkan matanya.
Ali tersenyum penuh arti. Tentu Meisya bisa menangkap arti senyuman suaminya.
“Tidak perlu diperjelas,” potong Meisya saat Ali akan angkat bicara. Cepat perempuan itu masuk kamar mandi.
Ali pun segera bergegas keluar kamar. Bersamaan dengan itu, pintu kamar Abah juga terbuka.
Paruh baya itu tersenyum melihat menantunya, memakai sarung dan baju koko.
“Kita berangkat bareng. Kebetulan pagi ini Abah enggak ada gandengan,” ujarnya berjalan beriringan dengan menantunya.
“Memang ibu kenapa?” Ali melirik Abah.
“Ibumu itu sedang sakit perut, berbeda dengan Meisya yang lebih memilih sholat di rumah. Karena memang sebaik-baiknya tempat shalat bagi wanita yaitu rumah....”
Keduanya melangkahkan keluar. Momen yang paling Ali senangi saat menginap di rumah mertuanya, ialah. Bisa melihat segerombolan anak santri keluar dari kamar masing-masing menuju masjid.
__ADS_1
“Assalamu’alaikum Bah, Mas Ali!” sapa lelaki tanggung pada mereka.
“Wa’alaikumussalam!”
Dari jauh datanglah tiga lelaki berjalan menghampiri Abah dan Ali yang melepaskan sandal, masuk ke dalam masjid.
Ketiganya mengucapkan salam serempak. Kembali sepasang menantu dan mertua itu menjawab.
“Mas Ali, kapan datang?” tanya salah satu diantara ketiganya.
“Tadi malam Ustadz!” jawab Ali singkat.
Abah melirik kearah menantunya, wajah Ali terlihat kesal. Entah karena apa, ia tak tahu.
Namun saat ia sadar jika ada ustadz Iman. Abah mulai berspekulasi, jika Ali merasa tidak nyaman dengan ustadz Iman. Yang dulu pernah mengkhitbah Meisya, namun ditolak.
“Ya sudah mending langsung ke dalam bentar lagi masuk ikomat,” ujar Abah, seolah menjauhkan menantunya dari ustadz Iman.
Mungkin dengan cara ini rasa kesal Ali hilang.
Dari kejauhan sosok perempuan paruh baya itu berjalan kearah masjid sambil membawa tas belanjaan.
“Bah, ingat ini hari Sabtu jatah nganter ibu ke pasar,” ucap Atan melirik Abah.
Para ustadz tersenyum. Mereka semua tahu jika Abah dan keempat putranya memiliki jadwal mengantar ke pasar.
Abah segera berdiri dari duduknya, sebelum istrinya datang dan mengucapkan salam.
“Wa’alaikumussalam!” jawabannya serempak.
Tidak dengan Ali yang tertunduk, larut dalam pikirannya sendiri. Hingga tak menyadari jika ibu mertuanya datang.
“Ayo Bu, Abah antar! Abah lupa jika ini hari Sabtu, jadi ngumpul dulu....”
“Enggak, Abah terusin aja jagongannya! Ibu mau diantar sama Ali,” jawab ibu membuat Abah dan ketiga anaknya ternganga.
“Kalau ada yang muda yang tua didamprat,” celetuk Arsa menahan tawa.
__ADS_1
“Hal yang Abah sukai saat Ali kemari keluarga lengkap. Namun dibalik itu semua, Abah juga merasa terancam dengan kedatangannya. Ibu mulai melupakan Abah!” celetuk Abah pelan.
Membuat semua menunduk terkekeh.
“Ingat umur Bah, ayo Li antar Ibu ke pasar.”
Ali terperanjat saat bahunya ditepuk oleh seseorang.”Hah?” Memasang wajah bingung.
“Sudah ikut saja ... cari pahala....” Arga terkikikk geli melihat adik iparnya di tarik oleh ibu.
“Cari pahala? Memangnya ada tempat khusus selain masjid, sekolah dan tempat kerja?” tanya Ali menjauh, sebab ibu mertuanya menarik lengannya.
“Ke pasar, nganter mertua juga pahala,” sahut Atan.
Ali geleng-geleng kepala, menggerutuki kebodohannya. Karena kebanyakan melamun tidak sadar dengan sekitar.
“Ali ganti baju sama ambil kunci mobil dulu ya Bu,” katanya.
“Iya, pakai motor aja ... Ibu yakin jika Seminggu terakhir kamu enggak pernah naik motor,” ujar ibu tersenyum, mengingat jika menantunya tak memiliki motor.
“Jangankan motor ...becak saja pernah Bu....”
“Semua kendaraan Ali pernah menaikinya, hanya satu yang belum,” katanya tersenyum penuh arti.
Entah mengapa Ali begitu lepas saat bicara dengan ibu mertuanya.
“Apa?” tanya ibu penasaran.
“Gerobak....”
Ibu kesal karena Ali malah bercanda.
“Jelas kau bukan mie, bukan pula es kelapa ... jadi wajar!”
TBC....
Bersama ibu mertuanya, Ali tanpa beban.
__ADS_1