Kau Rela Ku Lepas

Kau Rela Ku Lepas
Ch23 : Tiga Subkatagori


__ADS_3

Proses penyaringan informasi ke saraf otak. Tak jarang membuat manusia yang terlelap dalam tidurnya, terusik.


Sadari lima menit, Ali terus mencari posisi yang enak dan nyaman. Untuk mempertahankan tidurnya. Namun sayangnya, hal itu tak ia dapatkan.


Cepat Ali duduk, menatap jam dinding.


“Jam tiga!” Katanya mengusap wajahnya kasar.


Apa yang sebenarnya terjadi padanya, akhir-akhir ini?


Susah tidur, hingga selalu terbangun di tengah malam.


Lelaki itu melirik kearah samping, dilihatnya sang istri tertidur sangat pulas. Satu hal yang terbesit di pikirannya malam itu.


Sang istri kecapean dan terlalu cemas, pada nenek.


Satu kecupan manis di kening istrinya. Sebelum akhirnya beranjak ke kamar mandi. Jika diingat, pernahkah ia mencium Wan Aina secara diam-diam.


Tentu saja jawabannya, tidak.


Ali mengusap wajahnya kasar, jika mengingat keadaannya saat ini. Ia sadar betul. Bahwa dirinya tak mampu untuk adil kepada istri-istrinya.


Mungkin hal ini pula yang membuatnya susah tidur dan selalu terbangun di sepertiga malam?


Informasi itu terus memenuhi otaknya dan tak pernah berhenti, sekalipun ia tertidur.


Ali menutup pintu kamar Meisya pelan. Dengan wajah yang segar dan pakaian yang rapi.


Ia melangkah menuruni tangga. Dilihatnya beberapa saudara Abah, tertidur di ruang tamu beralaskan karpet. Dan sarung sebagai selimut.


Samar-samar telinganya mendengar suara perempuan, sedang berbincang dari kamar nenek yang kebetulan terbuka sedikit. Sepertinya mereka sedang bergadang menjaga nenek.

__ADS_1


Lelaki itu segera melangkahkan kakinya, menuju pintu utama. Membukanya pelan, guna tidak mengganggu para kerabat, yang mungkin saja baru tertidur. Stelah semalaman menjaga nenek.


Rembulan menyapa penglihatannya, ketika ia mendongak. Selaput tipis debu berhasil menutupi pancaran bulan. Sebelum akhirnya ia bisa melihat kembali bulan dengan jelas.


Kini Ali berdiri di dalam ruangan sakral. Untuk melakukan dua rakaat shalat sunah. Ia duduk dan merenung. Hatinya berbicara, pikirannya dipenuhi adanya Tuhan, yang sedang mengawasinya.


“Apa yang terjadi padaku?” gumamnya dengan mata terpejam.


Seolah meminta energi positif, dari Pemilik Kehidupan.


“Entah mengapa kehidupan berubah ...setelah menikah kembali.”


“Pikiranku bertambah kacau, jika teringat. Dan bagaimana aku memperlakukan keduanya. Rasanya tidak bisa adil....”


“Aku merasa, setiap yang aku lakukan. Semua keliru. Jika aku baik dengan yang satu, pasti yang satunya kalah. Jika aku bersama dengan yang satu, pikiranku tertuju pada yang tidak bersamaku.” Ali menghela nafas berat, semua ini terlalu sulit baginya.


“Lantas aku harus bagaimana, Tuhan ... tolong tunjukkan jalan terbaik untukku,” ujarnya memohon dengan harapan.


Kini pikirannya kembali ke kejadian awal. Bagaimana ia bisa, ada di titik ini.


Ali bangkit dari duduknya, dan mencari sesuatu di bagian penyimpanan mushaf. Setelah menemukan hal yang dicari ia kembali duduk bersila.


Ali mulai mencorat-coret kertas HVS, dengan beberapa jawaban dari pertanyaannya sendiri.


“Alasan pertama ...karena kamu tahu ...jika kamu tidak bisa memberikan keturunan.” Mata Ali berlinang, jika teringat vonis dokter pada istrinya.


Itu sungguh menyakitkan.


“Akan tetapi, alasan pertama ini. Memiliki tiga sub kategori jalan keluar.” Kembali ia mencoret kertas menjadi tiga bagian.


“Pertama(l), menerimanya —memutuskan hidup seperti apa yang ditakdirkan. Meskipun tidak adanya buah hati. Seseorang tidak bisa dikatakan selalu sedih dan tidak pula bahagia. Akan tetapi, dengan saling menguatkan dan menerima takdir. Kita pasti bisa menjalani. Sekalipun seseorang memandang sebelah mata.”

__ADS_1


“Sebab dalam dunia ini ada yang memilih jalan hidup seperti itu. Dan langgeng....”


“Kedua(ll) seseorang yang tidak memiliki anak. Tak jarang memilih untuk mengadopsi. Hal ini bisa diartikan —menerima takdir sekaligus berusaha memperbaiki keadaan. Bagus ini! Ada kerja kerasnya. Harusnya aku dulu menemukan cara ini, sebelum akhirnya aku terjun ke jurang pernikahan. Sial ... kenapa ide ini baru datang saat udah nikah,” ujarnya mencorat-coret kertas dengan kesal.


“Akan tetapi, sepertinya keputusan ini. Tidak bisa dibilang mulus. Sebab boleh jadi ada beberapa kemungkinan ...yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Ini berarti ... subkatagori kedua— Memiliki konsekuensi cukup besar.”


“Ketiga(lll) menjadikan poligami sebagai ... jalan keluar. Yang biasanya, yang ngebet untuk kawin cowok. Tapi mengapa malah istri, yang memaksa. Apa yang membuat dia memutuskan semua ini?” berpikir keras, menggaruk rambutnya.


“Coba analisa dari sudut pandang versi cewek.”


“Pertama hal yang tidak dibutuhkan perempuan. Berbagi cinta, menahan cemburu, dibanding-bandingkan, kehidupan yang abnormal, tekanan batin hingga membuat depresi.”


“Pandangan kedua ...ingin melihat suaminya bahagia dan mengikuti beberapa ajaran —Akan tetapi ...pilihan kedua ini — tidak worth it dibandingkan dengan hal yang tidak diinginkan dalam berumah tangga.”


“Lantas mengapa seorang istri bersikeras meminta suaminya poligami?” Ali menggigit bibir penasaran.


“Tekanan!” Satu kalimat meluncur dari mulut tanpa seizinnya.


“Pertama tekanan dari suami, aku tidak pernah menekannya untuk hal-hal kecil. Apalagi mengenai keturunan. Dan lagi setelah aku tahu. Jika istri tidak bisa memberikan keturunan. Sekalipun aku tak pernah marah atau mengeluh. Bahkan aku berusaha menjadi penyemangat yang baik ...itu berarti bukan ini penyebabnya.”


“Kedua tekanan dari dirinya sendiri ... Aku rasa istri tak sekeras itu pada dirinya. Mengingat jika dia melakukan kesalahan, dia tidak pernah mencaci maki dirinya sendiri. Beda denganku —Akan tetapi ini tidak menutup kemungkinan. Aku rasa 65% bisa menjadi penyebabnya.”


“Yang terakhir tekanan dari lingkungan .... dibagi menjadi dua. Pertama keluarga, kedua masyarakat. Tekanan terakhir ini cukup signifikan —Hal ini bisa terjadi. Disebabkan omongan-omongan yang tidak enak masuk ke dalam otak —Yang menghasilkan persepsi negatif.”


“Hingga membuatnya mengambil keputusan secara impulsif. Tanpa memikirkan konsekuensi kedepannya.” Lelaki itu kembali menghela nafas sejenak, menatap kertas HVS yang full coretan tinta.


Titik temu sepertinya mulai ditemukan. Nafas Ali memburu, itu berarti selama ini Meisya tertekan. Namun ia tak menyadarinya.


Ia mulai menulis dua angka di samping kata ‘impulsif' 87%.


Lelaki itu terlihat lemas, mengetahui kemungkinan yang bisa jadi benar adanya.

__ADS_1


“Tapi ucapan siapa yang berhasil menghasut pikiranmu?” gumamnya, berpikir keras.


TBC....


__ADS_2