
Butuh waktu kurang lebih lima menit, bagi Wan Aina untuk meredam tangisannya. Dengan keadaan yang masih lemas, ia beranjak dari tempat tidur ke lemari pakaian. Tatapan matanya kosong, masih teringat jelas. Suara lelaki yang berprofesi sebagai polisi memberi tahu, jika suaminya mengalami kecelakaan.
Ia segera keluar dari kamarnya. Untuk memberi tahukan kabar ini kepada Meisya. Namun sebelum itu, ia akan menemui bik Tin. Untuk menemaninya keluar rumah. Cepat ia mengetuk pintu kamar pembantunya.
Tak butuh waktu lama pintu terbuka.
Paruh baya itu terkejut. Mendapati istri kedua majikannya berdiri menghadapnya. Dengan buliran bening yang terus meluncur deras membasahi pipi.
“Mbak Aina kenapa?” tanya bik Tin, menguap.
Dengan bibir bergetar Wan Aina berusaha mengeluarkan suara. “Emm ...mas!”
“Bapak? Bapak kenapa Mbak?” sahut bik Tin cepat, ketika Wan Aina tak menyelesaikan ucapannya. Justru sesenggukan.
“Mas A-li ke-kecelakaan Bik!” Paruh baya itu menutup mulutnya tak percaya.
“Astagfirullah, bapak ....” ucapannya tak terselesaikan ketika, istri muda majikannya memeluknya. Sambil menangis histeris.
Paruh baya itu menepuk punggung Wan Aina berusaha menenangkan. Dan berkata, “Mbak Aina sabar ...Insya Allah, bapak akan baik-baik saja!”
“Bik ...antarkan saya ke rumah mbak Meisya ya?” Menggenggam tangan bik Tin kuat.
Paruh baya itu mengangguk.
Hujan deras malam itu, membuat Wan Aina dan bik Tin berjalan dengan hati-hati karena jajanan licin. Tepat di depan pintu Wan Aina segera menekan bel tanpa henti.
“Apa mbak Meisya enggak dengar Bik?” tanya Wan Aina melirik kearah bik Tin sekilas.
Rasa takut Wan Aina kembali hadir saat petir dan guntur kembali mengusik Indranya. Gadis itu menunduk menutupi kedua telinganya dan memejamkan matanya.
Bersamaan dengan itu pintu terbuka lebar.
Mengingat sadari Ali pergi, Meisya tidak tertidur kembali.
“Aina! Bik Tin?” ujar Meisya terkejut.
Sejujurnya sempat ragu baginya membukakan pintu untuk seseorang di jam dini hari.
Namun mengingat mungkin saja itu suaminya, ia lekas membuka pintu. Setelah menutupi wajahnya dengan kerudung.
“Mbak Meisya ...Emm—mas A-li Mbak!” ujarnya terbata-bata.
“Dia kenapa Aina? Kenapa kau menangis?” ujarnya merasakan sinyal-sinyal kurang baik.
“Di ... dia ...ke ... kecelakaan!”
Seketika tubuhnya mundur. Badannya lemas, hingga kedua kakinya tak sanggup menahan beban tubuhnya sendiri.
__ADS_1
“Enggak-enggak mungkin....” Penyangkalan pertama membuatnya merasa. Jika yang terjadi pada suaminya adalah salahnya.
Wan Aina dan bik Tin, berusaha menguatkan Meisya yang menangis menyebut nama Ali.
Wan Aina memeluk tubuh Meisya erat. Keduanya terlihat terpukul dengan kejadian ini. Namun mereka juga berusaha menguatkan satu sama lainnya.
“Mbak mending kita langsung ke TKP saja.”
Perempuan itu mengangguk lemah.
Perjalanan ke TKP dihabiskan oleh Meisya untuk mengingat kembali kejadian, ia dan suaminya bertengkar. Perempuan itu mencekam setir mobil kuat.
Menyesal itu sudah tentu.
Bahkan rasanya ia ingin berteriak dan meminta waktu dikembalikan.
Sebelum akhirnya suaminya kecelakaan.
Buliran bening terus menetes di balik niqabnya.
Berulang-ulang ia meminta maaf kepada suaminya.
Cepat ia mengerem saat jarak mobilnya dekat dengan kerumunan orang.
Ketiganya keluar dari mobil.
Bersamaan dengan itu, empat orang mendorong brankar masuk ke dalam ambulance. Saat mereka ingin mendekat, pintu ambulance segera ditutup.
Meisya segera berbalik kearah mobil, yang diikuti oleh Wan Aina dan bik Tin.
Hingga tak menyadari bagaimana kondisi mobil suaminya yang parah.
“Mbak lebih cepat lagi,” perintah Wan Aina memasang sebuk pengamanan.
Meisya menatap jalanan lurus, dan mulai menambah kecepatannya.
Hingga mobilnya bisa berada tepat di belakang ambulance.
Dalam ambulance sosok lelaki itu terbaring tak sadarkan diri. Perawat lelaki itu membersihkan darah yang keluar dari pelipis kanan.
...***...
Duduk di samping kemudi membuat Wan Aina terus melafalkan doa. Yang ia perkenankan untuk kebaikan dan keselamatan sang suami. Sesekali ia menyeka buliran bening yang membasahi pipi.
Begitu pun dengan bik Tin. Paruh baya itu menangis jika mengingat. Semua kebaikan dan kedekatan yang terjalin baik antara dirinya dan sang majikan. Dimatanya Ali bukanlah lelaki yang neko-neko. Baik sebelum menikah atau setelah membina rumah tangga dengan Meisya. Ali tetaplah Ali yang dulu.
Namun semua perubahan mulai terjadi ketika sang majikan memutuskan untuk menikah kembali. Baik secara fisik maupun emosional. Ya itulah yang dirasakan bik Tin.
__ADS_1
Ketiga perempuan itu keluar dari mobil. Menghampiri empat perawat yang mendorong brankar masuk rumah sakit. Namun saat di ruangan resepsionis. Satu perawat berbalik arah menghampiri ketiga perempuan itu.
“Ibu-ibu ini keluarga dari pasien?”
“Iya benar! Saya istrinya!” jawab Meisya dan Wan Aina serempak.
Berhasil membuat perawat lelaki itu bungkam seketika.
Keduanya itu saling menatap.
“Baiklah siapa yang akan mengisi formulir pendaftaran pasien?” tanya perawat lelaki itu.
Memasang wajah apatis.
“Biar Mbak Meisya saja,” ujar Wan Aina berlari mengejar bangkar yang didorong oleh tiga perawat
Melihat hal itu Meisya hanya bisa terdiam. Ada nyeri dihatinya, ketika ia ingin segera menghampiri suaminya.
Nyatanya terhalang oleh pengisian formulir. Rasa sesal kembali hadir. Mengapa dulu, ia menyuruh suaminya menikah kembali.
Nyatanya tak selamanya berbagai itu indah. Apalagi menyangkut perasaan.
Bik Tin mengelus pundak majikannya. Yang membuat Meisya tersadar dan segera mengisi formulir pendaftaran.
Lain halnya dengan Wan Aina, gadis itu harus berpisah dengan raga suaminya. Ketika dokter menutup pintu ruang rawat untuk menangani pasien.
Meisya segera menghampiri istri muda suaminya. Yang terlihat cemas, saat melihat para dokter bersiap menangani Aki.
“Mbak Meisya, dia akan baik-baik saja kan?” tanya Wan Aina dengan tatapan lurus menatap suster membuka jaket Ali.
Meisya terdiam, menatap nanar. Sang suami yang tak berdaya.
Tahu jika tangisnya akan pecah, perempuan itu segera membungkam mulutnya.
Dan berlari keluar rumah sakit.
Agar tidak membuat kegaduhan. Tangisnya seketika pecah saat berada di taman rumah sakit.
“Semua ini salahku ... aku mohon maafkan aku Bib!” teriaknya penuh kehampaan.
“Maksudnya?”
Meisya terkejut mendengar suara yang tak asing lagi ditelinganya.
Perempuan itu berdiri dari duduknya, membalikkan badannya.
Kini tubuh mereka saling menghadap satu sama lain, dan kursi taman menjadi pemisahnya.
__ADS_1
Tatapan Wan Aina terlihat tajam. Seolah menahan amarah dan kecewakan yang mendalam.
TBC...