Kau Rela Ku Lepas

Kau Rela Ku Lepas
Ch49 : Bebas Lepas....


__ADS_3

Sekalipun hati gundah, emosi dan amarah belum hilang sepenuhnya. Ia tetap harus melaksanakan tugas sebagai seorang karyawan kantor.


Dengan bekerja mungkin, dia bisa melupakan semua yang terjadi saat ini.


Namun semua itu omong kosong, jam istirahat kerja biasanya tiba begitu cepat. Namun hari ini terlihat lambat, ia juga tidak fokus dengan pekerjaannya.


“Bang, dari tadi nyimak enggak sih? Ini kita sedang buat TOR ... untuk proyek di NTT loh?” protes Aidin tiba-tiba. Yang sedang berdiskusi, mengenai latar belakang dan alasan pembangunan rumah sakit di desa Tagawiti, Kecamatan Ile Ape, dimana penduduk Tagawiti harus menempuh 24,9m atau 53 menit dengan mobil. Untuk sampai ke RSUD terdekat yang terletak di Lewoleba, Kecamatan Nubatukan.


“Woyy!' teriak Aidin sambil melemparkan pena kearah sahabatnya, membuat dua orang yang bersamanya mengalihkan pandangan kearah Ali.


Lelaki itu terkejut ketika tiba-tiba saja pena itu mengenai dadanya.


“His ... apa-apaan kau itu,” ujarnya berdiri dari duduknya. Menatap kesal Aidin, ia yakin tidak ada satupun orang yang ada di sana, berani menegurnya dengan cara kasar.


“Apa-apaan apa? Orang kita sedang serius situ, malah diam saja ...niat kerja enggak sih!” cecar Aidin yang terlihat emosi, sadari pagi pekerjaan belum selesai juga. Ditambah orang yang paling berpengaruh, justru hanya diam memainkan bolpoin.


Suasana di ruang terlihat panas, membuat Miranda dan Zulfa ketar-ketir ketakutan. Jika ada pertumpahan umpatan dari dua lelaki. Yang mereka ketahui, sangat dekat.


Ali mengusap wajah kasar, dia menyadari kesalahannya.


“Kita lanjut lagi pembahasan ini setelah istirahat,” ujar Aidin menatap jam yang melingkar di tangan, membuat kedua perempuan itu keluar dari ruangan.


Melihat Ali berdiri dengan kedua tangan bertumpu pada meja. Aidin kembali bersuara, “Kenapa? Apa ada masalah?” Membereskan berapa lembaran kertas yang berserakan di meja panjang.


Ali mengembuskan napasnya, melirik Aidin sejenak.


“Biasalah ...permasalahan kehidupan,” jawabnya santai.


Ia menang belum sempat bercerita tentang keputusan terbesarnya pada sahabatnya.


Kedua sahabat itu keluar dari ruangan meeting bersama. Aidin merengkuh pundak Ali sambil terkekeh.


Membuat Miranda dan Zulfa yang tadi sedang mengibah kejadian di ruangan, seketika mingkem.


Dengan dahi berkerut, penuh tanya. Mendapati dua lelaki itu tampak akur, seperti tak pernah ada masalah.


“Aneh banget ... gua pikir ... akan ada baku hantam,” seru Miranda menatap dua lelaki itu berjalan lawan arah darinya.


“Pak Ali sama Mas Aidin itu persahabatannya sudah kayak adik-kakak ...tau Mir, mereka sudah tahu luar dalam. Jadi wajar, meskipun pena terbang ... tidak akan ada yang namanya tawuran,” kekeh Zulfa yang berdiri di samping Miranda.


***

__ADS_1


“Loh Li tangan lu sudah sembuh?” kata Sean yang baru saja sampai di kafe langganan mereka setelah shalat Jum’at.


Dihari-hari biasa mereka lebih memilih makan di cafe kantor. Namun ketika hari Jum’at, mengharuskan mereka ke masjid. Maka keempat sahabat itu menjadi hari itu untuk berkumpul bersama.


“Seperti yang dilihat,” jawabnya menatap buku menu.


Melihat hal itu Arfa yang sekantor dengan Ali, tahu lebih awal ketimbang dua sahabatnya(Sean, Setefan)


Beda lagi dengan Aidin, pemuda itu justru tahu hal itu lebih dalam. Entah apa alasan Ali melakukan hal itu, itulah yang masih belum ia pahami.


Mereka pun terlibat percakapan yang menyenangkan.


“Lu mau gabung enggak Li, mulai dari artis hingga pebisnis ... semua ada di sana,” tawar Sean, bukan pertama kalinya ia menawari Ali untuk ikut main bola.


“Asah skil,” tukasnya kembali.


“Ah ... kapan-kapan, saya harus nyelesain permasalahan. Omong-omong, ada yang kenal dengan pengacara enggak nih?”


Ketiganya tampak terkejut dengan ucapan Ali.


“Pengacara?” Aidin kembali memastikan. Apa yang di dengar itu benar.


Ali mengangguk kecil, membuat Arfa angkat bicara, “Ada masalah apa lu, sampai harus bawa pengacara, masalah tanah yang dilelang?”


“Lu bercanda?” tanya Sean serius.


“Enggak lah, lu pikir ada gitu orang bercanda mengenai perceraian,” ujarnya memasukkan makanan ke dalam mulut.


“Sama siapa?” lontar Arfa, membuat Ali mengumpat dan menendang kaki pria itu dikolong meja. Si empu meringis kesakitan.


“Sial, mentang-mentang saya punya dua bini, tanyanya enggak pakai filter.” Ketiga tertawa renyah mendengar jawaban Ali.


“Eh, benar tahu Li, istilah kan ada dua. Nah antum pilih yang mana?” tanggap Arfa menyeruput ramennya.


“Mereka bukan sebuah pilihan ... saya juga tidak mau, hidup dengan rasa bersalah karena menyakiti hati yang ini, untuk bersama yang itu.”


“Mungkin memang perpisahan ini baik untuk kami bertiga,” ungkapnya dengan tatapan kosong.


Membuat ketiganya iba, jujur saja mereka tidak menyangka akan mendapatkan kabar yang tidak mengenakkan dari rumah tangga sahabatnya.


Dari situ Aidin mulai tahu, alasan Ali menginap di hotel. Namun ia belum tahu, alasan yang sesungguhnya. Mengenai tangan Ali yang sudah sembuh lama. Namun lelaki yang sudah ia anggap sebagai kakak lelakinya, justru menyembunyikan dari semua orang.

__ADS_1


“Saya butuh orang yang tahu hukum... sahabatnya sedang kesusahan harusnya dibantu,” seru Ali.


“Gua sih enggak punya rekomendasi bro....” sahut Sean cepat.


“Ada kok, bahkan lu kenal sama orangnya,” sahut Arfa, membuat Ali memandangnya dengan kerutan halus di dahi.


“Siapa?”


“Airin!”


Ali tampak berpikir keras, berusaha mengingat nama, yang kata Arfa ia mengenalnya.


“Airin, siapa? Kok asing banget ditelinga!”


“Irene, teman SMP dulu, yang biasanya dipalakin sama, kakak kelas kita.”


“Ouwh ...si kuncir kuda, yang bajunya sering kotor dibagian sikut dan bahu. Ngomong dari tadi dong ... pakai bilang Airin segala,” cetus Ali yang membuat Sean dan Aidin hanya diam menyimak.


“Banjingaaan lu yang ngasih dia nama panggilan Airin, seluruh sekolah memanggilnya Ran-ren. Jangan-jangan ada udang di dalam wajan lagi,” sinis Arfa mengejek.


“Ck ... konsepnya enggak gitu, bro! Masa-masa sekolah kan identik dengan pencarian validasi, sifat kompetitif. Ya itulah yang saya lakukan dulu, dimana huruf 'i' jadi 'ai” Lelaki itu tertawa renyah mengingat kealayan yang pernah dulu ia lakukan.


“Identik jadi aidentik,” seru Aidin terbahak.


“Nah ... iya itu kan memudahkan kita untuk membaca bahasa Inggris kan ... tinggal perbaiki penulisannya.”


“Gimana lu mau, gunain jasa Airin sebagai advokat?” potong Arfa.


“Emmm ....coba deh lu contact ... kalau dianya okey, saya okey!”


“Lu yang punya masalah ngapain, gua yang contact dia. Ya lu lah, gua kirim nomornya sekarang.” Menyalakan layar ponselnya.


“Saya enggak enak Fa, masa contactan saat ada perlunya saja. Tolong lah, lu basa-basi, ke dia. Bilang kalau Ali, sedang ada masalah kek, atau apalah terserah lu, gua serahkan ke lu....”


“Tunggu kita telat, ucapan lu tadi. Maksudnya apa contactan saat ada perlunya saja? Lu ngarep? Setelah ini lebih intensif gitu?” goda Sean yang membuat Ali mendelik.


“Masa iddah aja belum terlaksana, masa sudah menyiapkan pancingan woyy....” seru Aidin tersenyum kecut kearah Sean.


“Din, lelaki tak punya masa Iddah. Yang ia punya adalah masa indah, ya kan Li, bebas ... lepas ...melayang kau, melayang jauh....”Mengedipkan matanya pada Ali.


“Presetannnn....”

__ADS_1


TBC...


__ADS_2