
Tak pernah terduga sebelumnya, jika hari ini Ali kedatangan tamu istimewa. Ayah dan ibu tirinya datang disiang hari untuk bertamu.
Wan Aina yang tadi sedang mencuci, langsung keluar menemui mertuanya. Saat Ali memanggilnya.
“Ada keperluan apa Ayah kemari?” tanyanya menghempas bokongnya ke sofa.
“Memang tidak boleh, seorang Ayah datang ke rumah anaknya!” sinis Brahmanta.
Ali tak menanggapi.
Wan Aina yang berdiri di samping suaminya, dia hanya diam melihat interaksi ayah dan anak.
Terlihat perang dingin.
Gadis itu melirik kearah perempuan, yang duduk di samping mertuanya. Ia bingung kenapa ibu mertuanya, terlihat masih muda.
Bahkan mungkin saja umurnya hanya terpaut berapa tahun dengan suaminya. Pasalnya saat mereka menikah, Ia tak melihat keberadaan perempuan itu.
“Sepertinya kehidupanmu sekarang lebih berwarna,” celetuk Brahmanta, membuat wajah Ali beringas.
Apa yang terjadi padanya saat ini. Ayahnya juga berkontribusi terhadap masa depannya. Mengingat beberapa bulan yang lalu ayahnya terang-terangan memintanya untuk menikah kembali.
“Menantu apa sudah ada kabar baik untuk kami?” tanya Brahmanta menatap Wan Aina dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
Mendengar pernyataan dari mertuanya, Wan Aina tidak berani mengangkat kepala. Mimik wajahnya terlihat gusar.
Ia teringat keputusan suaminya, untuk tidak menyentuhnya sebelum, ia benar-benar siap. Tentu saja hal itu membuatnya bernafas lega, akan tetapi mendengar pertanyaan ayah mertuanya. Ia jadi takut, jika suaminya mengubah keputusannya.
Ali mendongak menatap wajah istrinya, yang berubah pucat. Seolah baru mendapatkan sebuah ancaman. Lelaki itu menarik pergelangan tangan Wan Aina, yang membuat gadis itu duduk di sampingnya.
“Tenanglah kau tidak perlu, takut! Saya akan menepati janji saya,” bisiknya pelan.
'Ini bukan hanya tentang janjimu, akan tetapi ada yang lebih aku takuti' batinnya melirik ayah mertuanya.
“Ayah rasa kau sudah jatuh cinta dengannya.”
Ali menoleh kearah suara yang baru saja menggema di telinga.
“Apa artinya cinta jika pada akhirnya berkhianat?” Perkataan Ali membuat wajah Brahmanta berubah beringas.
“Rasa cinta itu akan menghilang seiring berjalannya waktu! Namun cinta sejati itu ada bukan karena nafsu, melainkan komitmen yang kita buat dengan diri kita sendiri. Untuk tetap dan terus mencintai pasangan kita, meskipun sudah tidak ada lagi yang bisa kita cintai di dalam dirinya.” Lelaki itu menarik nafas sejenak.
__ADS_1
“Cinta bukan kata sifat melainkan harus ada action di dalamnya! Itu berarti seseorang yang memutuskan untuk mencintai, mereka harus berusaha menerima segala sesuatu yang ada dalam diri pasangannya. Baik-buruknya, muda-senjanya, sehat-sakitnya. Dan bukannya malah mencari hal baru diluaran sana! Saat pasangan sedang sakit berbaring di kasur.” Ia memberi jeda sejenak.
“Apa pantas seorang pasangan menunggu pasangannya mati? Agar bisa menikah kembali! Ah ... tidak! Menunggu itu tidak enak, mending langsung nikah. Dan menunggu detik-detik kematian, pasangannya yang dari pahit selalu bersama!” Ali menatap tajam ayah dan ibu tiri bergantian. Rahang Ali mengeras.
Entah mengapa Wan Aina merasa jika suaminya. Sedang meluapkan segala kekesalan.
Ali menarik nafas panjang. Sebelum akhirnya kembali melanjutkan ucapannya, “Itulah pembunuh yang tidak akan mendapatkan balasan dari hukum. Sungguh Hebat prok ...prok...!” ia bertepuk tangan. Menutup mulutnya rapat, menahan tangisnya. Mungkin bisa pecah kapan saja, karena berani kepada ayahnya.
Namun disisi lain ayahnya terlalu banyak menoreh luka dihatinya. Ia hanya seorang anak, yang ingin mendapatkan dukungan dan arahan dari ayahnya, untuk masa depannya. Bukan hanya disuruh mengikuti semua keinginan ayahnya saja. Dan mengesampingkan keinginannya.
“DASAR ANAK TIDAK TAHU DIRI” teriakan Brahmanta mengejutkan semua orang.
Ali ingin berdiri, namun secepat kilat Wan Aina menarik tangan suaminya agar duduk kembali.
Marni berdiri mengelus punggung Brahmanta.
Tatapan tajam itu dilayangkan kepada anak tirinya.
“Ali harusnya kamu itu berterima kasih! Kepada Ayahmu, karena apa yang Ayahmu lakukan tujuannya itu baik. Dia menyuruhmu menikah lagi, supaya apa? Supaya kamu punya keturunan,” cecar Marni .
Membuat detak jantung Wan Aina berhenti. Entah mengapa hatinya menolak. Jika seseorang mengatakan pernikahannya dengan Ali. Terjadi karena paksaan.
“Apa yang bisa kamu harapkan dari istri pertamamu itu. Harusnya kau bangga karena Ayahmu, mampu mencarikan gadis cantik seperti istri keduamu ini,” ujar Marni penuh emosi.
“Tutup mulut Anda!” ujarnya pelan menahan diri untuk tidak berperilaku diluar kendalinya.
“Aku mengatakan yang sesungguhnya, Istri pertamamu itu Mandul!”
“SAYA BILANG TUTUP MULUT ANDA! WAHAI JA ...LANG!” teriak Ali menendang meja yang terbuat dari kaca.
Lelaki itu berdiri nafasnya memburu, matanya memerah tangannya terkepal.
Nyali semoga orang yang ada di sana menciut melihat kemarahannya.
Bahkan perempuan tadi yang mengatai istrinya mandul, wajahnya berubah pucat.
Brahmanta membisu inilah kali pertama. Dia melihat putra semata wayangnya, marah besar. Hingga melampiaskan semua kemarahan dengan merusak barang-barang yang berada di dekatnya.
“Saya katakan, jangan sekali-kali Anda berani menghina istri saya!” Menunjuk ibu tirinya bentuk peringatan keras.
“Saya tidak peduli ...jika Anda membenci saya. Dan saya juga tidak tahu apa alasan Anda membenci saya ...kalau pun saya membenci Anda ...itu wajar ... sebab Anda perusak rumah tangga orang tua saya!” teriaknya penuh emosi, membuat urat lehernya tertarik.
__ADS_1
“Saya heran kenapa saya merasa Anda seperti terancam dengan keberadaan saya? Hingga Anda membenci saya. Apa ini soal harta Ayah?” sinisnya berkacak pinggang.
Pagi itu ia tak memberikan kesempatan untuk siapa pun memotong ucapannya.
Hari ini dia ingin menumpahkan segala kekesalan, yang telah menumpuk di dalam dadanya.
“Kalau begitu kenapa Anda tidak memberikan putra kepada suamimu! Kalian menikah sejak saya berumur tujuh belas tahun. Itu berarti pernikahan kalian sudah 19 tahun, lamanya! Harusnya saat ini umur anak Anda sudah remaja. Dan akan menjadi pewaris perusahaan TAW! Saya jamin, saya tidak akan, bertengkar dengan anak Anda soal kekuasaan! Karena saya tidak butuh semua popularitas dan kekayaan secara instan!”
“Dan Ayah!” Mengalihkan pandangannya kearah orang tuanya. “Ayah tetap bisa tenang karena telah memiliki pewaris kedua, dari istri Ayah sekarang! Dan tidak perlu menyuruh aku menikah kembali!”
Deg! Jantung Wan Aina kembali nyeri, saat mendengar ucapan suaminya. Ia tahu saat ini Ali tak sadar dengan perkataan yang keluar dari mulut, karena tersulut emosi. Akan tetapi hal ini membuatnya, merasa kehadirannya tidak dinginkan oleh siapa pun.
Termasuk ayah kandungnya sendiri.
“Tapi Ayah ingin kamu yang mengelola perusahaan kakek kamu. Dan Ayah menginginkan penerus darimu!”
“Apa bedanya? Mau Ali atau putra dari istri Ayah sekarang. Sama-sama darah daging Ayah ...itu berarti cucu kakek juga. Tapi kenapa hingga sekarang tidak memiliki anak? Jangan-jangan....” Lelaki itu menyunggingkan senyuman. Menggantung ucapannya, melirik ibu tirinya.
PLAK! Tamparan keras itu mampu membuatnya meringis, menahan perih di bagian sudut bibirnya.
Wan Aina menutup mulutnya tidak percaya. Saat ayah mertuanya menampar suaminya begitu keras. Hingga membuat suaminya tertunduk dalam.
“Mas!” Gadis itu memberanikan diri untuk memegang lengan suaminya.
Namun Ali bergeming.
Ia menatap nanar pantulan wajahnya dilantai. Tamparan keras ayahnya, membuat ia sadar. Jika ia telah melampaui batas sebagai seorang putra. Ada rasa sesal, mengapa hari ini ia terpancing emosi. Ada pula rasa kecewa terhadap ayahnya. Memukulnya hanya karena ia bicara kurang sedap kepada ibu tirinya.
Bagaimana dengannya?
Apa ayahnya tidak memikirkan perasaannya saat Meisya dihina oleh Marni.
Cepat ia mengusap matanya dengan kasar, berharap linangan mata yang mulai menggenang di pelupuk mata menghilang.
Sadari dulu dia sudah merasakan kepahitan, meskipun hidupnya bergelimang harta. Akan tetapi itu semua tidak berarti.
Disaat teman seusianya menjadikan ayah mereka sebagai seorang teman. Maka lain halnya dengan dirinya. Belasan tahun usianya. Ia telah kehilangan perhatian dari ayahnya, tatkala almarhumah ibunya terbaring sakit.
Ia mengangkat kepalanya perlahan, menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. Luka di bagian bibir, tak ada apa-apanya. Dibandingkan luka hati yang telah ia dapatkan dari dulu. “Keluar dari rumahku! Sebelum rasa hormatku berkurang, pada kalian” tegasnya menunjuk pintu keluar.
TBC...
__ADS_1