Kau Rela Ku Lepas

Kau Rela Ku Lepas
Ch18 : Ada Aja Masalah


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul tiga dini hari, lelaki itu baru bisa memejamkan matanya, setelah mendapatkan pukulan keras di bibirnya dari sang istri.


Sudah tak heran lagi baginya mendapati hal-hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Namun bisa terjadi jika ia tidur dengan Wan Aina. Bisa dibilang jika istri mudanya lebih lincah saat tertidur.


Paling sering terjadi, biasanya saat ia bangun, akan mendapati wajahnya ditindihi kaki milik istrinya. Sedangkan kakinya akan dipeluk bak guling berisi dacron.


Lebih parahnya Wan Aina pernah menendang tubuhnya, hingga membuatnya hampir terjungkal.


“Emm.....” Bibir kecil itu bergumam seraya merenggangkan otot. Terlihat jelas jika sang empu berusaha mengumpulkan nyawanya.


Ada apakah gerangan?


Mengapa Tuan Putri yang biasanya. Setiap pagi dibangunkan oleh suaminya.


Pagi ini tergerak untuk bangun lebih dulu.


Wan Aina berusaha membuka kelopak matanya. Pagi ini yang menyapa penglihatannya adalah, wajah datar milik Ali.


“Bangun,” ujar Wan Aina menggoyangkan bahu Ali.


Namun Ali tetap bergeming. Membuat ia teringat jika dirinya sedang ngambek pada lelaki itu.


“Biarkan sajalah, mau sholat enggak sholat juga bukan urusanku. Dosa yang nanggung dirinya sendiri. Ribet amat!” Menyingkap selimut.


Jika sudah mengoceh seperti ini. Itu berarti emosi negatif sudah mulai muncul dan menguasainya.


Cepat Wan Aina ke kamar mandi. Namun saat wudhu, gadis itu mulai merenungi ucapannya kembali.


Kerumahtanggaan bukan hanya sekadar cinta. Melainkan, bagaimana sepasang suami-istri. Bisa menjadi partner yang menguntungkan.


“Itu berarti kalau aku membiarkan dia melewatkan shalat! Aku juga yang rugi!” guman gadis itu, mengingat kerugian yang akan dialami nanti sangatlah besar.


Wan Aina segera keluar dari kamar mandi. Bergegas membangunkan suaminya untuk melaksanakan shalat.


“Mas ayo subuh. Bentar lagi matahari mau ngapeli bumi!” teriaknya berharap Ali segera bangun.


Namun singa jantan justru menarik selimut untuk menutupi tubuh.


Tampaknya kekesalan sudah mengisi dada gadis itu. Pipinya memerah, karena singa jantan tak mengindahkan perkataannya.


“Ayo bangun, nanti kamu bisa kembali tidur setelah shalat,” Menarik selimut yang membungkus tubuh singa jantan.


“Lima menit lagi!” suara serak itu terucap dari bawah selimut.

__ADS_1


“Enggak ada lima menit-lima menitan ...Harta yang paling berharga adalah waktu. Sebab kita tidak bisa mengembalikannya. Ayo bangun, kalau enggak bangun aku seeretttt....”


“Seperti yang selalu kau lakukan padaku,” cecar Wan Aina, teringat setiap pagi. Jika ia susah bangun, Ali akan mengangkat tubuhnya ke kamar mandi. Kemudian mengusap wajahnya dengan air.


“Eghhhhh!” erangnya saat selimutnya ditarik oleh seseorang.


“Ya terserah kamu aja. Sebagai istri aku berusaha mengingatkanmu. Tapi kalau kamunya, tak memiliki upaya apalah dayaku.” Wan Aina segera berbalik.


Namun langkah gadis itu terhenti ketika tangannya ditarik dari belakang.


Tubuh gadis itu berputar yang mengakibatkannya, kehilangan keseimbangan. Menjatuhi tubuh suaminya.


Wan Aina menggeram kesal karena ulah suaminya. “Lepas....” teriak gadis itu, mencoba melepaskan tangan Ali yang memeluk pinggangnya erat.


“Tapi setelah itu, permintaan maaf Mas! Diterimakan ya?” Ali menatap memohon.


“Aku jadi batal karena ulahmu,” seru Wan Aina mengalihkan pembicaraan.


Mimik wajah Ali terlihat salah tingkah, bukanya menyelesaikan permasalahan. Justru tanpa sadar menambah kesalahan yang merugikan orang lain.


Wan Aina terus meronta, namun suaminya justru menggulingkan badan ke kanan. Membuat tubuh keduanya beralih posisi.


Detak jantung Wan Aina berdetak tak karuan, pasalnya ini kali pertama. Ada lelaki sedang push up di atasnya.


“Ya tapi dimaafkan dulu....”


Tampaknya Ali tak sadar dengan posisinya saat ini. Ia seolah lupa dengan cinta pertamanya. Setiap kali ia ingin berperilaku lebih kepada Wan Aina. Entah mengapa ia ingat dengan Meisya.


Mungkin hal itu pula yang membuatnya sampai detik ini tak menyentuh Wan Aina.


Terlebih lagi Wan Aina juga terlihat belum siap. Untuk melakukan kewajibannya.


Bukankah itu menguntungkan baginya?


Tak perlu memutar otak untuk berbohong.


“Su-Buh!” sentak Wan Aina.


***


Ali yang selesai mandi, langsung mencari keberadaan istrinya. Dilantai bawah.


“Aina pagi ini enggak usah masak.” Kata Ali memberi tahu.

__ADS_1


Wan Aina yang sedang mencincang bawang seketika menghentikan aktivitasnya. Gadis itu membalikkan badan, dengan dahi berkerut. “Kenapa? Mau makan di rumah mbak Meisya heem?”


Ali mendesis mendengar sindiran istrinya.


“Bukan begitu, saya hanya ingin mengajakmu keluar cari makan ...sekalian bersepeda, olahraga biar energinya bermanfaat untuk kesehatan jasmani, bukan hanya untuk emosi.”


Sekilas perkataan lelaki itu tak ada niatan tertentu. Namun entah mengapa Wan Aina tersindir.


“Oh ...jadi dimata Mas Ali energiku terbuang sia-sia karena marah-marah,” geram Wan Aina, mengeratkan genggaman tangan yang memegang pisau.


Ali menghela nafas berat, bisa-bisanya Wan Aina memiliki prasangka buruk padanya.


“Kamu itu kenapa sih mudah banget terpancing emosi.”


“Saya itu berusaha memahamimu. Tapi kamu selalu saja begini ... Tolong pahami keadaannya. Saya juga butuh waktu untuk menempatkan diri saya, sebagai suami dari dua wanita.”


Lelaki itu mulai terlihat kesal dengan tingkah Wan Aina. Namun sekuat tenaga, ia berusaha untuk tidak marah.


“Saya mengajakmu bersepeda, tujuannya. Agar saya mendapatkan maaf darimu.” Ia menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya, “ Karena kejadian kemarin. Saya juga merasa bersalah, atas apa yang kamu lakukan. Demi tidak memberi tahukan yang sesungguhnya padanya. Kamu rela memberikan gelang berhargamu ...oleh sebab itu, tadi malam saya bersamamu.”


“Padahal seharusnya saya bersama dia. Semua itu saya lakukan untuk mendapatkan maaf darimu. Saya juga ingin menghiburmu, biar tidak sedih.”


Wan Aina menundukkan kepalanya mendengar penjelasan panjang dari lawan bicaranya.


Ali membuang napas kasar. Menahan emosi yang bisa meledak kapan saja.


“Sudahlah saya tidak mau memaksamu,” katanya meninggalkan dapur.


Wan Aina yang tadi menunduk perlahan, mengangkat kepalanya.


“Mas mau kemana?”


Pertanyaan kali itu seketika menghentikan langkah Ali. Ia memejamkan matanya. Dari nada bicaranya Wan Aina seperti menahan tangis.


Sial ia kembali merasa bersalah. Entah mengapa akhir-akhir ini hidupnya berat.


Apalagi jika menyangkut masalah keluarga.


Menjadi suami dari dua wanita itu tak semudah yang dibayangkan. Tak seindah diceritakan. Salah ambil keputusan, akan mendapatkan komplain dari salah satunya.


'Jika aku mengatakan ingin ke rumah utama. Pasti akan menyakiti perasaannya. Akan tetapi hanya istri yang bisa membuatku lebih baik. Kalau aku disini bisa-bisa aku tidak kuat menahan emosi yang sadari malam berusahaku pendam' batinnya frustrasi.


“Tidur!”

__ADS_1


TBC...


__ADS_2