Kau Rela Ku Lepas

Kau Rela Ku Lepas
Ch59 : Punya Kembaran


__ADS_3

...~Kehidupan sejati dijalani ketika perubahan kecil terjadi~ - Leo Tolstoy...


Mungkin itu yang Ali rasakan saat ini. Dimana dulunya, setiap malam nongkrong bareng dengan teman kosnya. Sudah Seminggu yang lalu hal seperti itu tidak ada.


Entah apa yang menjadi faktor utamanya.


Ia tidak tahu!


Akan tetapi mungkin itulah cara kerja dunia.


Apa yang pernah ada bisa hilang kapan saja. Ya sama halnya, semangatnya saat pertama gabung ke grup basket karena ditawari Bastian. Ia begitu antusias, kesenangannya saat memasuki lapangan basket, membuncah. Ketika mendengar namanya dikumandangkan.


Hasrat memasukkan bola basket ke ring, setelah berhasil mendrible bola. Dan mengecoh lawan adalah hal yang paling mendebarkan baginya. Namun sudah Seminggu lamanya, gairahnya menurun.


Hal itulah yang membuat ia mencari hal baru.


Keadaannya yang sebatang kara, mengharuskannya untuk mencari kebahagiaannya sendiri.


Dari hal ini ia paham, pada dasarnya. Tidak ada satupun manusia, yang akan tetap bersamanya. Kecuali raganya sendiri.


Sahabat, ayah, perempuan yang ia cintai. Yang ia pikir akan selalu ada bersamanya, saat ia membutuhkan. Ternyata tidak bisa selalu bersamanya.


Semua manusia yang ia temui, mempunyai durasi waktu sendiri. Ada yang panjang, ada pula yang pendek. Bahkan mungkin ada pula yang harus di berikan sebuah jeda. Kemudian berlanjut. Mungkin itu yang terjadi pada sahabatnya terkhusus Aidin.


Pemuda yang bisa dibilang selalu ada bersamanya. Akhir-akhir ini, juga sibuk mengurus ibunya yang sakit.


“Tiramisu dan air putih saja,” pesannya ketika pelayan kafe bertanya.


Duduk ditengah-tengah pengunjung kafe, setidaknya membuatnya terhibur.


Meskipun ia hanya sendiri, dibandingkan pengunjung lainnya yang datang dengan teman, pacar, hingga keluarga.


Akan tetapi karena adanya live musik malam itu, membuatnya hanyut dalam lirik lagunya. Namun yang menyita perhatiannya justru, si penyanyi.


Anak laki-laki yang memiliki tinggi kurang lebih 142,5cm. Berhasil membuat mata Ali tak berpaling. Hingga tak menyadari jika pesanannya telah diletakkan di meja.


“Saat menyanyi lagu barat suaranya terdengar fasih, namun untuk Indo terlihat kagok,” komentarnya mengelus dagunya berpikir.


Malam itu ia seakan lupa, jika beberapa hari lagi ia akan sidang pertama dengan Wan Aina. Dan ia juga lupa akan kehadiran Meisya yang selalu ada dalam mimpinya saat ia tidur.


Awalnya ia menolak mimpinya itu. Namun semakin ia menolak, maka semua itu bisa membuatnya gila. Ia pun mencoba menerima menganggap mimpinya adalah hal yang wajar. Mengingat bersama dengan Meisya, terbilang lama.


Hingga jam sepuluh ia memutuskan untuk kembali ke tempat kos. Merebahkan tubuhnya dikasur tipis, dan lengan sebagai bantal. Menatap plafon putih kecoklatan, yang basah jika hujan datang.


Entah mengapa pikirannya tak bisa lepas, dari sosok anak lelaki yang baru ia temui di kafe, meski ia tak bisa melihat paras anak lelaki itu dengan jelas. Disebabkan ia duduk jauh dari tempat perform.


Ada rasa kagum, yang membuatnya ingin mengenal lebih dekat lagi.


“Huft!” Menghela nafas panjang, berharap hari segera berganti. Agar ia diberi kesempatan untuk bertemu anak lelaki tadi, yang mungkin umurnya 12 tahunan.


Kini tangannya merogoh ke dalam saku celana. Ia mengambil ponselnya, membuka aplikasi rekam, yang perlahan memutar lagu.


(Pesawat kertas-JKT48) versi anak lelaki tadi.


“Untungnya tadi sempat meminta tolong mbak-mbak merekam suaranya,” gumam Ali ingat, bagaimana ia bisa mendapatkan rekaman suara anak lelaki yang mencuri perhatiannya.


***

__ADS_1


Malam telah berganti, pagi itu ada yang berbeda, hingga membuatnya bahagia. Bagaimana tidak, jika dimalam-malam sebelumnya Meisya menjadi bunga tidurnya.


Maka malam tadi berbeda, anak lelaki yang ia temui di kafe. Berhasil mengambil alih.


Iya entah siapa anak lelaki itu, yang berhasil membuatnya tergila-gila.


Minggu itu Ali terlihat lebih bersemangat untuk menjalankan aktivitasnya. Mulai dari joging, hingga pergi GM untuk melakukan angkat beban.


Jam sembilan tadi, Bastian teman baru yang dikenalnya ketika di lapangan bola, dan salah satu orang yang mengajaknya gabung ke grup basket. Mengundangnya datang di aqiqahan anak pertama.


“Oke Bro! Jam satu kan?” tanyanya meletakkan handuk kecil yang tadi digunakan mengusap keringat.


Tak perlu waktu lama setelah sholat dzuhur, ia langsung menjalankan motor yang baru diadopsinya. Setelah pulang dari pengadilan agama (ikrar talak Meisya)


Motor metic berwarna hitam itu, ia beli dalam keadaan seken. Baginya yang terpenting adalah manfaat apa yang diberikan barang yang ia miliki pada dirinya. Bukan respect orang lain, karena ia memiliki barang itu.


Sampai di halaman rumah Bastian, Ali terdiam sejenak diatas motornya. Melihat situasi yang ramai.


Sebelum akhirnya masuk ke dalam. Mencari tuan rumah yang mengundangnya.


Ia tersenyum simpul, ketika mendapati Bastian duduk mendekap tubuh mungil anaknya.


“Congratulation Ndan! Semoga menjadi berkah,” ujar Ali menepuk pundak Bastian dari samping.


Membuat si empu kaget. “Makasih Bro sudah datang.”


“Siapa namanya?” tanyanya mengelus pipi bayi itu dengan jari.


Hatinya kembali bergetar, jika Tuhan bertanya apa yang dia inginkan. Mungkin ia tak segan meminta untuk menjadikan dirinya sebagai seorang ayah.


“Kayak nama lu...”


Istri Bastian yang mendengar ucapan suaminya hanya tersenyum.


“Maksudnya gimana?” Ali menenggak air.


“Jujur saja gua terinspirasi nama lu Ndan!”


Ndan adalah kata sapaan yang Bastian ucapkan saat mereka bersama yang diambil dari kata komandan.


“Makanya gua nadzar, jika anak gua lahirnya normal. Namanya gua kasih nama seperti Ali. Jadilah Mahbubah Alia Al-Rasyida.”


“Awalnya dia protes,” ujar Bastian melirik kearah istrinya. Membuat si empu menunduk.


“Tapi setelah tahu maknanya, dia langsung setuju.”


Ali mengangguk kecil, dia tahu arti rentetan kata itu. Wanita terkasih, Alia yang memiliki arti tertinggi, atau mulia. Dan Al-Rasyid sendiri diambil dari 99 sifat Allah yang bermakna Maha Pandai.


“Nama adalah doa, jadi harapan gua. Semoga putriku menjadi wanita terkasih yang sangat mulia, di hadapan dzat Yang Maha Pandai!”


“Jadi saya punya kembaran nih ceritanya?” canda Ali yang membuat orang tertawa.


Setelah sejamaan bertamu di rumah Bastian, ia langsung pulang. Namun berbeda dengan hari biasanya. Hung dkk, yang biasanya baru balik kos bada magrib, Minggu itu tampaknya sedang asyik menikmati hari libur.


“Mas ... dari mana?” teriak Jomed, ketika motornya melewati mereka.


“Aqiqahan!” Ikut berteriak karena tempat parkir berada di pojokan.

__ADS_1


Ali segera turun dan melepas helmnya. Berjalan menuju tempat kosnya, namun saat ia ingin ke atas Jomed meneriakinya.


“Mas enggak mau gabung?”


“Saya ganti baju santai dulu!”


“Wokey ....” Mengacungkan jempol kearahnya.


Jam menunjukkan pukul tiga sore, mobil berwarna putih itu parkir di depan kos-kosan cowok.


Ali yang asik main karambol dengan teman kosnya tak mendengar deru mobil berhenti.


“Mas, Mbak Irene datang!” Jomed mengganggu konsentrasinya. Saat ingin membenturkan bidak, masuk ke kantong.


Mendengar hal itu ia langsung kelimpungan menoleh memastikan apa benar. Atau Jomed berusaha ngeprank dirinya.


Dan benar saja, nona advokat baru keluar dari mobil dengan kebaya merah jambu dan sepatu berhak tinggi.


“Al ...lu kenapa enggak siap-siap?” teriak Irene dari kejauhan.


Berhasil membuat Ali kesal, karena teriakan Irene membuat mulut Hung dkk, mencie-ciekan dirinya.


“Ciuwit ...kawal sampai sah Nih...” Hung bersorak ria.


Membuat Ali menatap tajam.


“Ngapain siap-siap?” tanyanya berjalan mendekati Irene yang sepertinya kesusahan berjalan dengan jarik dan sepatu berhak tinggi.


“Ngapain lu bilang ...tadi subuh gua udah chat lu, minta untuk ditemani kenikahan orang! Lu enggak baca heh?”


“Emang saya siapa?” tanyanya melipat kedua tangannya di dada.


“Woyyy ... ternyata Mas Ali bisa menggoda!” teriak Hung dkk, yang membuat Ali menoleh.


“Hah? Apa ada yang salah dengan pertanyaan saya? Sopir juga bukan!” ketusnya kembali menatap Irene.


“Lu ya Al....” Memukul bahu Ali keras membuat lelaki itu meringis dan mengusap bahunya yang panas.


“Gua sebagai teman, udah mau bantu lu banyak. Nah sekarang gua minta bantuan, lu nya nolak. Anjir ...ya sudah kalau gitu gue mundur dari kuasa hukum lu ... urusin sendiri kasus lu!” ocehan Irene dengan lafadz cepat.


Ali menghela nafas panjang, berdebat dengan Irene. Tak akan membuatnya menang.


“Mana, kuncinya?” pintanya meminta kunci dari tangan Irene.


Wanita itu tampak ragu, memberi kuncinya pada kawannya.


“Lu benar?”


“I -ya!” tegasnya.


“Ya tapi lu enggak pakai baju ini kan?” Irene menunjuk tubuh Ali dari atas ke bawah.


“Memang kenapa ada yang salah heh? Mana kuncinya?” Ali menarik kunci mobil dari tangan Irene dan berjalan kearah mobil.


“Al ...lu jangan malu-maluin gua. Masa ke kawinan pakai celana cinos sama kaus!” meneriaki Ali dari belakang. Berlari mengejar kawannya yang membuka pintu mobil.


“Hahahaha, Mas Ali benar-benar nekat!” seru Hung.

__ADS_1


__ADS_2