
Sore itu Ali baru keluar dari kantornya bersama dengan Aidin. Tak seperti biasanya, kali ini Ali meminta Aidin untuk mengantarkannya ke sebuah tempat.
Tentu saja Aidin kaget mendengar perintah dari sahabatnya. Namun sekali lagi, ia enggan untuk bertanya. Dan lebih memilih memendam rasa keingintahuannya.
Dibalik kemudi sering kali Aidin melirik kearah sahabatnya yang terdiam melamun. Sadari kembali ke ruangan setelah istirahat. Ali lebih banyak diam dan fokus pada pekerjaannya.
Ali menghela nafas panjang, ingatannya kembali ketika ia dan Wan Aina sedang di dalam kamar.
Flashback on.
Pintu terbuka dari luar, Ali yang duduk di samping ranjang menoleh.
Dilihatnya sang istri sedang mengunci pintu.
Dan berjalan mendekatinya.
Membantu dirinya melepaskan armsling.
“Apa masih sakit?” tanya istrinya ketika melihatnya mendesis.
“Tidak terlalu, sudah ayo tidur,” katanya merebahkan tubuhnya. Dengan posisi memunggungi istrinya.
“Andai saja kamu tidak patah tulang, mungkin malam pertama kita tidak akan tertunda begitu lama,” ucap gadis itu menerawang, menatap siku plafon.
Ali terdiam membisu mendengar ucapan istrinya.
“Bukannya ayah ingin cucu, kamu juga ingin jadi ayahkan?” Wan Aina menatap wajah suaminya dari samping.
“Hem ...iya ayah memang ingin cucu. Dan saya juga ingin jadi ayah. Tapi apa Aina lupa dengan penjelasan Mas, waktu itu?” jawabnya memejamkan matanya.
“Tidak ... aku mengingatnya ...tapi kalau dipikir-pikir kapan manusia punya kesiapan yang full?”
“Sesimpel jika Mas Ali ditanya. Apa kau siap kecelakaan dengan retak tangan? Apa jawabannya?” Wan Aina bangkit dari duduknya, berkeliling ranjang, dan merangkak naik.
“Ayo jawab!” Mencubit pipi suaminya gemas.
“Jelas tidak mau, kamu kira saya tidak berakal,” jawab Ali setelah lama diam.
Wan Aina bertepuk tangan tertawa kecil, membuat suaminya heran.
“Kenapa tertawa?”
__ADS_1
“Ya itulah jawabannya, manusia tidak akan pernah merasa cukup kesiapan untuk menghadapi sesuatu hal yang memberatkan dirinya. Akan tetapi ...jika waktunya telah tiba, pasti kita bisa menjalankan.”
“Memang benar ...aku belum siap sepenuhnya menjadi seorang ibu. Akan tetapi ...aku percaya bahwa keadaanlah, yang akan menuntunku untuk bisa menjalani dan melewati perjalanan dari waktu ke waktu.”
Ali memukul wajahnya pelan, mendengar celotehan istrinya. Lumayan masuk akal juga pikirnya.
“Saya setuju dengan ucapanmu, akan tetapi teori yang kamu ucapkan itu belum sepenuhnya, bisa diaplikasikan dalam beberapa aspek. Dan ya ...memiliki anak itu, bukanlah keputusan yang diambil secara random. Melainkan kita sudah meprepare sebelumnya, sebab menjadi orang tua juga perlu pertanggung jawaban. Kalau kita enggak bisa mendidiknya, atau justru kita menelantarkannya....”
“Bukankah dengan ini kita merusak dunia? Darah daging yang harusnya menjadi anugerah dan kebermanfaatan bagi kita orang tuanya, dan dunia. Justru akan berdampak kebalikannya, karena kesalahan kita yang belum siap menjadi orang tua.” Ali menarik nafas sejenak.
“Contoh nih ... dengan kita tidak memiliki kesiapan. Anak kita bisa menjadi korban ke egoisan kita ... misalnya kamu hamil, kamu siap memiliki anak. Kamu beranggapan ... bayi yang ada dalam kandungan, akan lucu, normal tanpa kau berpikir ...Seandainya ... semoga enggak.” Bulu kuduk Wan Aina berdiri, mendengar kalimat terakhir ucapan suaminya.
Ali menarik nafas panjang, sungguh kalimat yang akan keluar dari mulutnya terlalu kritis akan tetapi masuk akal. “Mungkin cacat ... atau justru seorang suami harus kehilangan istrinya ketika melahirkan. Persiapan seperti ini masuk kategori ... persiapan penerimaan ... sebelum akhirnya persiapan menjalani. Jangan sampai, kamu siap menjalani tapi kamu tidak siap menerima.”
“Anak yang digadang-gadang akan normal dan bisa dipamerkan. Menjadi korban perundingan karena fisiknya. Anak yang dinanti-nanti akan membawa kebahagiaan, justru mendapatkan ketidakadilan, karena kita menganggap jika anaknya pembawa sial ...sebab saat lahir ke dunia ia merenggut nyawa Ibunya. “
Malam itu ia lupa jika kalimat terakhirnya, berhasil membuat Wan Aina berkaca pada kehidupan.
Gadis itu mengusap setetes air matanya. Penjelasan yang Ali berikan tidaklah salah, justru bisa masuk kategori relevan. Sebab ia juga merasakan dampaknya.
Ali mendongak, dia menutup bibirnya rapat. Ketika menyadari ucapannya.
“it’s okay, aku ingin mendengar penjelasan ini dari sudut pandanmu. Untuk menemukan paradigma baru,” ujarnya.
Gadis itu tahu jika suaminya merasa bersalah karena perumpamaan yang Ali buat, cukup menampar dirinya.
Melihat hal itu Ali lantas berusaha duduk dan bersandar di kepala ranjang. Merengkuh tubuh istrinya untuk bersandar di bahunya.
“Saya minta maaf!” pintanya dengan dagu yang bertumpu di kepala istrinya.
Merasakan kepala istrinya mengangguk, lelaki itu lantas memberikan kecupan manis di kepala.
“Tapi lanjutkan ya?” Rasa penasaran Wan Aina membuat suaminya kembali melanjutkan pembahasan sebelumnya.
“Sebagai orang tua, jangan sampai kita melakukan diskriminasi terhadap anak. Sebab pada dasarnya orang tua berperan penting terhadap kehidupan anaknya. Orang tua adalah role model, dan orang pertama yang memfasilitasi masa depan anak. Salah satunya tingkah laku. Jika orang tua kasar ...anak pasti mengikuti ....”
“Terlebih lagi dampak psikologis child abuse antara lain penarikan diri, ketakutan, tindak agresif, emosi yang labil, depresi, cemas, merasa minder, merasa tidak berharga, dan lain sebagainya. Hingga merasa keberadaannya tidak penting.”
“ Misalnya lagi ... seumpama anak kita ingin sesuatu. Tapi menurutmu itu tidak penting, kamu pun menjewer telinganya, mencubit atau membentak. Perilaku orang tua yang seperti ini, akan dicontoh oleh anaknya ketika ia berada di lingkungan yang berbeda atau ketika sudah menjadi orang tua. Sekali lagi karena keegoisan kita dan parenting kita yang salah. Kita berkontribusi merusak dunia.”
“Dulu saat umur saya tujuh tahun. Teman saya itu menjadi korban orang tuanya. Dia tuntut untuk menjadi pintar, dia dikekang dalam rumah. Dijambak, kekerasan dalam bentuk verbal dan non verbal ia dapatkan.”
__ADS_1
“Namun ia tetap diam karena ia tahu, ia akan kalah jika melawan orang tuanya. Akan tetapi jika ia keluar dari sangkarnya, dalam lingkungan sekolah. Ia menjadi brengsek dan membantai teman-temannya secara brutal.”
“Maksudnya, dia mencari pelampisan gitu?” tanya Wan Aina memainkan kancing baju suaminya.
Ali mengangguk setuju. “Jadi kesimpulannya untuk menjadi orang tua kita harus mempersiapkan segala hal, terutama penerimaan dan kesabaran. Apapun keadaannya, jika sudah memutuskan sebagai orang tua kita harus siap menerima semuanya.”
“Sebab keturunan adalah anugerah yang harus kita rawat dan jaga. Jujur loh, Mas tuh salut dengan orang diluar sana yang berhati besar. Mau menerima keadaan buah hatinya dalam keadaan apapun. Dan bahkan atlet-atlet difabel itu, pasti memiliki orang tua yang tangguh karena berhasil membuat anaknya memiliki kemampuan yang hem,” ujarnya menguap menahan kantuk.
“Tidur yuk ...toh juga Mas tidak bisa memberikan nafkah untuk malam ini,” godanya yang memuat Wan Aina memukul dadanya.
“Mesum eh....”
“Kamu dulu, dari awal yang ngatain mesum siapa? Eh semakin kesini nggakk tahunya kamu.” Gelak tawa Ali pecah memenuhi ruangan.
“Bukan begitu, aku tuh pernah baca artikel. Jika seorang perempuan mengajak duluan ada banyak hal yang ia dapat, mulai dari diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang, mencatat pahalanya sama halnya seorang yang memerdekan seratus budak.”
Ali memasang mimik wajah tidak percaya. “Yang benar?
“Embuh....” Wan Aina membelakangi tubuhnya.
...***
...
Mengingat hal itu Ali tertunduk, tentunya ia memiliki alasan tersendiri. Mengapa sampai saat ini tidak ia menggauli istrinya.
Lelaki itu tersadar ketika mobil yang ia tumpangi berhenti.
“Sampai!” Aidin memarkirkan mobilnya di samping mobil-mobil lain.
Ali segera melepaskan sabuk pengaman, dan berkata, “Mampir sebentar apa, bentar lagi adzan magrib.”
“Oke lah.” Cepat menyetujui tawaran sahabatnya. Mungkin saja hal ini akan membawanya menemukan jawaban dari rasa penasarannya.
Aidin mengekori langkah Ali masuk ke lobby hotel. Dan langsung masuk ke lift. Membuat Aidin menggumam,” Sejak kapan ia Check-In?” Menaruh curiga.
Sadar jika lift terbuka ia langsung keluar mengikuti langkah sahabatnya, dengan membawa rasa penasaran yang membuncah.
Tiba di ruangan 507, Ali mengetukkan cardlock pada kotak sensor yang membuat kamar terbuka.
TBC...
__ADS_1