Kau Rela Ku Lepas

Kau Rela Ku Lepas
Ch60 : Kaya Yang Sesungguhnya


__ADS_3

Siang itu jam sepuluh Ali keluar dari pengadilan sidang perdananya dengan Wan Aina didampingi oleh Irene.


Jika sebelumnya sidang pertama dengan Meisya, ia yang tak datang. Maka kali ini pihak termohon hanya di wakilkan oleh kuasa hukumnya.


Tadi malam Wan Aina mengirimkan pesan padanya, jika tidak akan hadir di persidangan karena sakit.


Ia pun memakluminya, dan ia juga berharap persidangan cerai dengan istri mudanya. Lebih dipermudah lagi.


“Duh ...Al mata gua!” jerit Irene menghentikan langkah, untuk mengucek mata bagian kiri.


Ali yang tadi ingin membuka pintu mobil menoleh.


“Apa?”


“Mata gua kelilipan ... tolong tiupi!” pintanya memohon.


Ali hampir tak percaya. Ia menggeleng cepat.


“Al....”


Ali mendesis tertahan. Dan berkata, “Kalau kelilipan jangan di kucek. Bisa menyebabkan abrasi kornea,” sindirnya ketika Irene terus mengucek mata.


“Perih woy ...lu bantu kek tiupin ...malah diam! Sumpah lu benar bangK ... kalau gua minta tolong pasti ada saja alasannya ... waktu ke kondangan ...lu hampir bikin gua bertunas ...karena nunggu lu cari tuxedo di mall,” protes Irene mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu.


“Criwis ... bagian mana? Atas atau bawah?” tanyanya mendekat.


“Apanya?”


“Partikel asing yang ada di mata.”


“Bawah!”


Ali menarik nafas dalam-dalam, dan berucap, “ Sekarang berhenti mengucek.”


Irene menurunkan tangannya.


“Lu coba tarik kelopak mata bagian bawah dengan jari.”


Wanita itu mengikuti step by step dari kawannya.


“Terus bagaimana lagi....”


“ Berkedip, bisa juga putar bola mata agar partikelnya keluar!” pungkasnya menyunggingkan senyuman. Sebab ia tidak perlu repot-repot meniup mata Irene.


Sebisa mungkin ia membuat batasan dengan lawan jenisnya. Apalagi statusnya yang baru. Mungkin rentang gunjingan miring.


“Gila ...lu tahu cara ini dari mana?” tanya Irene tak percaya, jika tips dari Ali jauh lebih fleksibel. Ketimbang harus menerima uap mulut spesiesnya.


Ali mengangkat bahunya acuh. Masuk ke dalam mobil. Menuju Jakarta pusat.


“Estimasi biaya jasamu berapa Ren?” tanyanya berhenti di SPBU untuk mengisi mobil milik nona advokat.


“Berapa Mas?' tanya penjaga Pertamina.


“Full....”


Sambil menunggu ia bertanya lagi kepada Irene.


“Enggak usah, anggap saja gua balas budi sama jasa lu dulu. Yang memberikan motivasi saat gua enggak percaya dengan diri sendiri. Hingga sampai gini ... dan ya bakpao yang lu beri ke gua enggak ada duanya. Lu beli dari mana sih, gua cari sejak balik Jakarta enggak ada yang seenak bakpao lu.” Mengambil air yang disimpan di sampingnya.


Ali tersenyum tipis, mendengar seseorang memuji ibunya.


“Almarhumah ibu!”


Ali segera melajukan mobil itu kembali.


“Omong-omomg kenapa lu masih betah sendiri? Sorry nih ya bukan bermaksud kepo ... akan tetapi, kondisi saya saat ini enggak jauh beda sama lu!” liriknya membuat Irene yang main ponsel. Mendesah.


“Gimana ya, gua jelasinnya!” Menggaruk hidungnya sejenak.


“Kalau bilang bahagia enggak juga, masa sih jomblo bahagia. Apalagi seumuran kita, yah... sudah enggak jaman cari yang ganteng dan romantis. Cukup yang tanggung jawab, satu visi-misi. Itu sudah cukup ... akan tetapi saat pacaran sama mantan gua yang terakhir. Kita beda, dari perbedaan itu gua kayak ... sudahlah nikmati aja hidup ini....”

__ADS_1


“Dan gua bersyukur Tuhan, membuat gua sibuk hingga lupa cari pendamping....”


“Tapi keluarga sendiri enggak nanya gitu?”


“Keluarga gua itu orangnya santai bebas, kalau anaknya belum kawin sekalipun sudah kepala tiga. Bodoh amat, yang penting anakku menikmati hidupnya. Mungkin hal ini terasa aneh, di keluarga orang lain. Tapi ya itulah keluarga gua Al ... kapan-kapan main kek ke rumah!”


Ali mengangguk paham, jika Irene memiliki support system yang begitu solid dari pihak keluarga.


Ia tidak.


“Kalau boleh tahu nih ... saat lu kesepian apa sih yang lu lakukan? Istilah tanggung jawab lu, cuma buat diri sendiri. Beda sama yang sudah nikah. Mungkin ada diskusi panjang yang membuat mood kembali lagi, dan tentu tidak merasa kesepian.”


Irene memperbaiki duduknya dengan satu kaki terangkat dan menatap Ali.


“Ya ngumpul family, BESTie, kalau lelah dan enggak mood, gua akan pergi kemanapun, membebaskan diri gua dari rasa sepi. Gua suka mendaki....”


“Menyenangkan sekali. Emang sama mantan terakhir beda keyakinan?”


Menjadi orang yang ingin tahu ternyata tidak melulu negatif. Dari rasa keingintahuan kita bisa belajar dari pengalaman orang lain. Namun seseorang harus tahu, dimana ia harus berhenti. Mencari tahu tentang sesuatu hal yang tidak memiliki impact positif terhadap diri sendiri.


“No!” Berpikir sejenak, untuk melanjutkan ucapannya atau tidak. Terlihat bingung. “I decided for childfree....”


Mendengar jawaban Irene, Ali terpekik tak percaya,” Apa?”


Sungguh ia tak percaya jika wanita yang duduk di sampingnya itu. Memutuskan untuk tidak memiliki keturunan.


Ali yang sadar dengan perubahan mimik wajah Irene. Ia merasa tidak enak hati. “I’m sorry ... mungkin reaksinya terlalu berlebihan. Because our views are opposite (Sebab pandangan kita berlawanan)”


...***


...


Waktu terus berlalu. Ali tak menyangka, jika di umurnya yang hampir menginjak kepala empat. Hatinya bisa berbunga-bunga, bak anak SMP yang sedang jatuh cinta dengan teman sekelasnya.


Hatinya bukan berbunga-bunga karena ingin bertemu gebetan barunya. Melainkan karena akan melihat perform anak lelaki yang ia temui di kafe beberapa Minggu yang lalu.


Motor matic itu terus berjalan membelah jalanan kota Jakarta.


“Jumbo Mang, untuk toping full keju!” pesannya duduk di motor matic sambil membuka ponselnya.


Entah mengapa ia jadi ingat dengan ucapan Irene beberapa waktu yang lalu. Yang memutuskan untuk childfree .


“Manusia ... terlalu labil, dan kurang bersyukur. Disisi lain ada yang bisa hamil, tapi enggak mau hamil. Disisi lain ada yang ditakdirkan tidak hamil, namun ingin punya keturunan....” Menghembuskan nafas kasar.


Setelah menunggu hampir 25 menitan. Ia segera melajukan motornya dengan kecepatan diatas rata-rata.


Hal ini membuatnya ingat, akan panggilan neneknya Meisya yang diberikan padanya.


Rosidi.


Setelah sepuluh menit perjalanan akhirnya ia sampai tujuan. Ali merapikan rambutnya terlebih dahulu, sebelum akhirnya melangkah ke teras rumah bercat putih.


Lelaki itu menekan bel beberapa kali. Hingga akhirnya pintu dibuka oleh perempuan berambut pendek.


“Wah ... tamu kehormatan datang. Silakan masuk,” ajak perempuan itu menyuruh Ali masuk.


Dari ruang tamu ia mendengar suara berisik.


Sepertinya sedang beradu mulut.


“Duh ...maaf ya Li! Anak-anak kalau mengumpul sukanya berantem. Kamu duduk saja dulu, saya panggilkan Papahnya Ra!” kata Olive merasa tidak enak dengan sahabat suaminya.


Ali mengangguk paham, seraya memberikan buah tangan yang ia bawa pada Olive.


“Duh Li harusnya enggak usah repot-repot! Tapi terima kasih loh.”


“Tunggu disini Li, Cicik panggilkan Sea! Semoga solatnya sudah selesai!” katanya meninggalkan ruang tamu.


Ali mengangguk dan menghempaskan bokongnya ke sofa, seraya menatap setiap ruangan yang didominasi warna kuning keemasan. Rumahnya tidak terlalu besar tapi nyaman dan tatanan ruangannya juga cantik.


“Waduh ada tamu toh? Kenapa enggak bilang-bilang?” ujar Sean dari belakang, membuat Ali menoleh dan berdiri.

__ADS_1


Mereka pun bersalaman, dan di waktu yang bersamaan Olive datang dengan nampan berisi martabak dan teh hangat.


“Bawaannya ... Cicik hidangkan lagi Li! Kebetulan stok makanan habis. Ini salah Papah enggak mau, antar Mamah belanja,” kesal Olive menatap tajam Sean.


Ali hanya tersenyum melihat sahabatnya diomelin Olive. Perempuan yang berpindah keyakinan sebelum akhirnya memutuskan menikah dengan Sean.


“Coba saja kalau Papah, bolehin Mamah nyetir sendiri, pasti enggak akan kehabisan bahan. Bukan begitu Li?”


Ali hanya mengangguk saja.


“Sudah sana pergi ...ini aib loh ...kok dipertontonkan kepada orang luar!” seru Sean mengusir Olive dengan gerakan mata.


“Masih ada Sean ... masih ada!” tegur Ali melihat punggung Olive menjauh.


“Gua bersyukur banget punya bini kaya Oliv. Setelah menikah, dia benar-benar nurut,” puji Sean seraya mengambil satu batang rokok dari wadahnya.


“Kak Bi, ajak adik-adik kemari. Om Ali nya disapa dulu!” teriak Sean kearah ruang keluarga.


Tak butuh waktu lama, remaja cantik yang mungkin tingginya sebatas bahu Sean. Berjalan menggiring dua adiknya ke ruang tamu.


“Wah ...Kakak sudah besar cantik lagi!” puji Ali mengelus kepala Gavbiru lembut.


“Makasih Om!” jawabnya, seraya membimbing tangan adiknya yang berumur dua tahun salim dengan om Ali.


“Aduh ...Ini Monna ya?” gemas Ali mencubit pipi bocah gembul berumur dua tahun.


“I-ya!” tersenyum lebar.


“Omong-omong tumben kemari! Oh iya lupa, Transferan lu udah masuk.” Mengambil martabak dan memakannya.


Ali yang tadi menatap Gavbiru kembali membimbing adiknya masuk ke ruang keluarga, menoleh. Saat Sean bertanya.


“Iya, saya kesini ingin mengucapkan terima kasih. Sudah dipercaya hutang sebesar itu....”


“Oh ...ya ampun. Kesini hanya ingin bilang terima kasih. Astagfirullah, nelpon aja kali. Jadi enggak perlu buang energi.”


“Omong-omong bunga obligasi lu, tahunan?”


Ali menggeleng, lelaki itu terbatuk-batuk membuatnya berdeham sejenak. Dan berkata, “Dibayar setelah jatuh tempo bres.”


Sean geleng-gelen menyesap rokoknya. “Lu beli harganya berapa?”


“Adalah!” tertawa, sambil mengangkat cangkir tehnya.


“Sumpah bertahun-tahun kenal. Lu itu enggak pernah menyinggung aset pribadi lu, secara jelas. Gua dengar lu punya tanah di Kemayoran itu dari Arfa.”


“Gila-gila ... lu juga enggak pernah ganti mobil. Meskipun Mei, juga punya mobil. Setia juga ya lu, sama benda-benda yang lu miliki,” pujinya mengelus dagu.


“Bahkan ponsel lu saja, itu keluaran 8 tahun yang lalu kan?”


Ali menaikkan alisnya mengiyakan.


“Disaat teman sekantor kameranya sudah dua, versi terbaru semua. Lu nggak ada niatan untuk ikut tren?”


Ali menggeleng.


“Ternyata .. kekayaan yang sesungguhnya ...ialah yang tak terlihat....” Menyilangkan kakinya di kaki satunya.


“Lu mulai investasi umur berapa?”


“Ya kuliahan, waktu itu ikut reksa dana pertama di Australia ... maklum masih awam dengan dunia investasi jadi ikutnya reksa dana, enggak kuat beli saham, obligasi apalagi deposito....”


“Ikut reksa dana itu pun karena punya penghasilan sendiri, jadi pelayan restoran. Sedangkan untuk sehari-harinya, bokap menjatah sendiri. Ya kalau enggak gitu, uang apa yang saya buat inves hahaha!” Menggaruk tengkuknya.


“Tahun pertama di perusahan A okey nih, saya nyoba perusahaan lain. Bommm ... manajer investasi yang ini kinerjanya buruk, lu tahukan kita sudah ngeluarin biaya ...eh... malah tak sesuai ekspektasi. Tapi dari situ saya belajar banyak....” Ali memberi jeda sejenak, kemudian melanjutkan kembali.


“Investasi itu tidak melulu tentang hasil besar. Alangkah baiknya hasil lumayan. Tapi konstan.”


TBC...


Menurut laman HeylawEdu, istilah childfree mengacu kepada keputusan seseorang ataupun pasangan yang memutuskan untuk tidak memiliki keturunan atau tidak memiliki anak.

__ADS_1


__ADS_2