Kau Rela Ku Lepas

Kau Rela Ku Lepas
Ch33 : Penerus Perusahaan


__ADS_3

Lelaki yang memakai baju pasien. Masih belum sadarkan diri.


Membuat tiga perempuan itu cemas dan khawatir.


Jemari tangan kiri itu bergerak, Wan Aina yang duduk di samping ranjang melihatnya.


“Mas Ali!” panggilnya bangkit dari duduknya. Yang membuat Meisya dan bik Tin menoleh.


Segera Wan Aina memencet nurse call.


Kelopak mata Ali mulai bergerak. Perlahan matanya terbuka, hal pertama yang menyapa penglihatannya ialah atap kamar bernuansa putih. Laki itu meringis saat merasakan nyeri di pergelangan tangan bagian kanan.


“Bib, kamu enggak apa-apa?” tanya Meisya mengelus kepala suaminya.


Ali mendongak, dari sorot mata Meisya. Perempuan itu terlihat sedih. Senyum Ali terkulum menandakan jika ia baik-baik saja.


Ali mulai mengalihkan pandangannya ke sisi kana. Ia baru sadar jika tangannya diperban.


Belum sempat dia bertanya, Dokter datang dan memeriksa kondisinya.


“Tangan saya tidak akan diamputasi kan Dok?” tanyanya yang membuat Dokter itu tersenyum simpul.


“Tidak perlu khawatir, dari hasil MRI scan. Bapak hanya mengalami pergeseran tulang saja.”


“Untuk itu apa suami saya harus menjalani operasi?” tanya Meisya cemas.


“Untuk hal ini Dokter, bisa mengarahkan kembali. Tulang tangan ke posisi normal secara perlahan tanpa prosedur bedah Bu!” jelas dokter, yang membuat semua bernafas lega.


“Dan saya sarankan, Ibu segera menebus obat tramadol. Mengingat nyeri yang dialami pasien sangat sensitif,” katanya memegang tangan pasien. Yang membuat Ali mendesis tertahan.


Setelah mengecek Dokter itu pamit keluar.


Ali memandang kedua istrinya bergantian. Rasanya kudua istrinya tidak memiliki upaya untuk menebus obat.


“Bik, tolong tebus obat ke Depo Farmasi, seperti yang dikatakan oleh dokter. Istri, tolong berikan catatan dari Dokter!” tukasnya menahan kesal. Sebab kedua istrinya hanya diam saja.


Setelah bik Tin keluar, Wan Aina segera bersuara.


“Mas Ali kalau butuh sesuatu bilang sama Aina.”


Bersamaan dengan itu pintu terbuka kembali, suster datang. Mendorong troli makanan untuk pasien. Melihat hal ini kedua perempuan itu bersuara, “Biar saya yang menyuapinya.”


Suster itu terdiam, bingung. Memandang kedua perempuan itu bergantian.


“Siapa yang akan menyuapi pasien?” Suster itu kembali bertanya.


“Saya!” jawab Meisya dan Wan Aina serempak.


Mampu membuat Ali melengos. Dia sangat malu, karena tingkah kedua istrinya. Dan sejak kapan Meisya memiliki sifat kompetitif.


“Suster, bisa menaruh makanan saya di overbed table. Nanti saya akan makan,” ucapnya yang mendapat bantahan dari Suster.

__ADS_1


“Bagaimana bisa, jika tangan kanan Bapak patah?”


“Tangan kiri saya masih bisa kan?” sinisnya, melayangkan sindiran untuk kedua istrinya.


Yang seolah menjadikan sakitnya sebuah bahan kompetisi. Dan siapa yang paling sigap merawatnya, dia yang menang.


“Biar saya saja, yang menyuapinya Dok,” ujar seseorang dari belakang. Membuat semuanya menoleh.


Paruh baya itu berjalan tergopoh-gopoh, membawa plastik berisi obat.


“Suster tolong bantu majikan saya untuk duduk,” ujar bik Tin, melupakan jika kedua istri majikannya juga ada di ruangan.


Hal ini mampu membuat keduanya tersentil.


Ali terkekeh getir, se-peninggalan Suster.


“Apa kalian, ingin menghibur saya? Dengan cara memperlihatkan bahwa kalian lebih unggul satu sama lainnya?” ujarnya menerima suapan dari bik Tin.


Kedua istrinya itu menunduk dalam. Caranya menyindir terlihat santai, namun menohok.


“Kalian bisa pulang, biar Bik Tin saja yang menemani saya....”


“Aku ingin menemani Mas!” ucap Wan Aina cepat.


Berbeda dengan Meisya yang diam menunduk. Melihat hal itu Ali, mengangguk paham.


“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa gerak-gerik kalian seperti orang yang lagi marahan,” cecarnya, meminta tolong pada bik Tin untuk mengambilkan minuman.


“Semua itu terjadi karena salahnya,” emosi Wan Aina naik.


Ali melirik kearah Meisya yang tetap bergeming.


“Dia yang menyebabkan kamu kecelakaan. Dan asal kau tahu saja Mas ... dia menyalahkan fobiaku,” adu Wan Aina yang mendapat respons dengan dahi berkerut.


“Aku minta maaf,” ujar Meisya menahan tangisnya.


Perempuan itu berlari keluar ruangan suaminya. Ali menatap punggung istri pertamanya yang mulai menghilang dari balik pintu.


Lelaki itu memejamkan matanya. Sama halnya dengannya, saat merasa bersalah dan sedih. Meisya akan menenangkan diri dengan cara menyendiri.


“Aina bisa bantu saya minum obat?” tanyanya.


Ia berpikir tidak pas untuk memberikan nasehat panjang kepada istri mudanya. Untuk saat ini, di khawatirkan istri mudanya akan menilai. Jika ia berpihak kepada Meisya.


Setelah minum obat, Ali memutuskan untuk istirahat.


***


Jam menunjukkan pukul setengah dua belas. Lelaki paruh baya itu masuk ke ruangan VVIP.


“Dimana semua istrinya? Mengapa tidak ada yang menemaninya.” Rahangnya mengeras, ketika tak mendapati satu pun orang yang menjaga anaknya.

__ADS_1


Tatapan paruh baya itu berubah sendu, ketika melihat putra semata wayangnya terbaring dengan tangan dan kepala diperban.


Brahmanta mengusap kepala putranya.


Membuat sang empu terbangun. Ali mendongak, ia terkejut saat tatapan matanya bersilobok dengan ayahnya.


Hatinya menghangat, ketika tatapan Brahmanta, berbeda dari biasanya.


“Ayah....”


“Kok bisa tahu kalau Ali, disini?”


Brahmanta berdeham sejenak untuk menetralisir perasaannya.


“Pembatumu, yang memberi tahu. Sejujurnya Ayah ingin datang tadi pagi. Tapi ada beberapa kerajaan yang harus segera diselesaikan.” Brahmanta menarik kursi untuk duduk di samping putranya.


“Oh ya kemana istri-istrimu, kenapa mereka tidak menjagamu,” dengusnya tidak suka.


Cekklek pintu kamar mandi terbuka. Mampu membuat kedua orang itu terdistraksi. Wan Aina segera merapikan hijabnya, ketika mendapati ayah mertuanya berada di ruangan suaminya.


“Ayah kapan datang?” sapa Wanita Aina menyalami ayah mertuanya.


Namun paruh baya itu menolak. Melihat istrinya tersinggung dengan sikap ayahnya, Ali berucap, “Aina, ada sebabnya Ayah menolak. Kamu kan baru selesai wudhu, Ayah enggak mau kamu batal,” jelasnya tersenyum tipis.


Ia tahu betul sifat ayahnya. Brahmanta tipikal yang ingin dimengerti, tanpa harus membuang waktu untuk menjelaskan.


“Hemmm ... segeralah shalat ... biar Ayah menjaga suamimu,” singkat Brahmanta.


Wan Aina mengangguk tanpa bersuara.


“Mei kemana dia? Terus dimana pembatumu itu?”


Ali terdiam ternyata hampir tiga jam. Meisya belum kembali. Apa yang dilakukan perempuan itu?


Pikiran Ali berkecamuk. Satu hal yang pasti, mungkin saat ini istrinya sedang merenung. Karena kecelakaan yang terjadi padanya, bertepatan dengan percekcokan yang terjadi tadi malam.


'Aku harap kamu tidak menyalahkan dirimu atas keadaanku' batinnya teriris.


“Dia cari makanan untuk Aina, sedangkan bik Tin mungkin saja pulang. Mengambil baju ganti untuk mereka,” bohongnya menutupi prahara rumah tangganya.


“Li, Ayah memutuskan untuk pensiun. Sudah saatnya kamu meneruskan perusahaan kakekmu,” ungkap paruh baya berambut putih, berhasil membuat Ali mendelik.


“Aku belum siap Yah, semakin tinggi jabatan semakin besar pula tanggung jawab,” jelas Ali menghela nafas berat, sebelum melanjutkan ucapannya, ”Saat ini aku berusaha beradaptasi menjadi seorang suami, dari dua istri. Kalau aku mengambil tanggung jawab sebagai penerus perusahaan. Rasanya terlalu berat.”


“Terus berapa lama lagi, kau mau mengambil alih posisiku?”


“Sudah saatnya Ayah pensiun Li!”


Ali terdiam membisu, sebab ia tak pernah ingin memiliki jabatan tertinggi di perusahaan kakeknya.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2