Kau Rela Ku Lepas

Kau Rela Ku Lepas
Ch52 : Domba Tersesat Akibat Bucin


__ADS_3

Dua hari terakhir ini, Ali akan disibukkan dengan beberapa agenda. Untuk bertemu dengan orang-orang, ini bukan mengenai pekerjaan. Melainkan personal affair, yang harus ia selesaikan.


Pagi ia sudah berada di showroom mobil, menunggu kedatangan Wan Aina.


Dan ya, bersamaan dengan itu mobil gocar berhenti di depannya. Sosok yang ia tunggu keluar, dan langsung menghampirinya. Mengulurkan tangan kearahnya.


Ia pun sempat ragu, saat punggung tangannya dicium oleh Wan Aina.


“Maaf, nunggu lama,” cicit Wan Aina merasa tidak enak.


“Sudah, enggak apa-apa ... mending kita langsung lihat-lihat,” ajaknya berjalan mendahului.


Dua orang itu berjalan melewati beberapa mobil, ditemani SPG cantik yang menjelaskan tentang beberapa tipe dan harga.


“Kamu mau yang mana?” tanya Ali berhenti, menengok kearah Wan Aina yang ada di belakangnya.


Si empu hanya bergeming, sorot matanya memindai mobil yang berjejer rapi.


“Sebenarnya, aku tidak butuh ini,” bisiknya pelan membuat Ali membungkukkan badannya sedikit. Untuk bisa mendengar ucapan gadis itu.


“Tidak baik menolak pemberian seseorang, toh juga waktu itu saya pernah ngajarin kamu menyetir!” Melirik kearah Wan Aina.


“Iya ...tapi aku belum mahir,” sanggahnya cepat.


Ali menarik nafas sejenak.


“Cepat Aina, saya harus bertemu dengan seseorang. Kamu harus cepat memilih, jangan buang waktu lagi,” katanya terlihat jengah, sebab hampir setengah jam mereka hanya berkeliling.


Mendengar hal itu, Wan Aina merapatkan bibirnya. Lelaki yang memakai kemeja biru muda itu, dulu masih suaminya. Namun saat ini lelaki itu siapa?


Pantaskah ia rewel dan membuang waktu lelaki itu?


“Mas, saja yang pilih,” pasrahnya menunduk.


“Baiklah!” Ali lekas berjalan mencari mobil yang cocok untuk Wan Aina dan cocok dikantong.


Hyundai creta activ warna glowing silver metallic. Menjadi pilihan Ali, lelaki itu masuk ke dalam kemudi.


“Kisaran harga berapa Mbak, untuk tipe yang ini?” tanyanya kepada SPG yang sedang menjelaskan bagian kabin padanya tadi.


“Untuk yang tipe ini, 288jt Pak!” Lelaki terbelalak mendengar harganya, begitupun dengan Wan Aina yang berdiri di sisi kiri mobil dekat SPG.


“Aina, suka tidak?” tanya keluar dari mobil.


Gadis itu terdiam, fitrahnya manusia menyukai hal indah dan berharga. Namun setiap pilihan dimintai pertanggungjawaban.


“Tapi, saya terus terang pajaknya 4 jutaan pertahun. Kalau kamu sanggup, saya belikan....”


Wan Aina terdiam membisu, banyak orang bisa beli mobil harga selangit, namun wajib pajaknya nunggak.


“Gimana?” tanyanya memastikan.

__ADS_1


SPG yang mengikuti mereka bertanya- tanya. Sebenarnya hubungan dua orang itu apa. Mengapa si gadis berjilbab harus membayar pajak sediri. Apakah adik-kakak, atau simpanan?


“Sebulannya Aina, harus ngumpulin duit 300.000. Terbilang cukup ringan, akan tetapi kebutuhan manusia itu, sukar diprediksi. Tiba-tiba sakit, kadang ponsel rusak, bisa dibilang pengeluaran yang tidak pernah terbesit sebelumnya. Kadang muncul begitu saja,” ungkapnya.


Wan Aina menghela nafas berat, ia bingung. Bagaimanapun ia bukan dari keluarga berada, pekerjaan saja belum ia dapat.


“Aku bingung, sebenarnya aku tidak butuh semua ini. Tapi aku menginginkan,” jujur Wan Aina pelan.


Bisa didengar oleh Ali, namun tak bisa didengar oleh SPG.


Lelaki itu pun meminta izin untuk keluar berdiskusi dengan Wan Aina.


“Aina, saya target mobilmu 285 juta, silahkan kamu pilih sendiri. Tapi sebagai orang terdekat, saya ingin kamu, bijaksana. Kamu mau lanjutin kuliahkan?” tanyanya melipat kedua tangannya di dada.


Wan Aina yang berdiri di depannya mengangguk pelan.


“Mana yang menurutmu lebih penting, kuliah, atau uang yang saya kasih, dijadikan modal usaha biar melimpah, atau beli mobil? Atau kamu mau ketiga-tiganya, tapi ya itu ... mobilnya enggak sebagus tadi. Akan tetapi investasi berupa pengalaman (kuliah dan bisnis). Tentu lebih baik.”


“Menurut Mas Ali gimana?” tanya pada orang yang lebih berpengalaman.


Ali tampak berpikir, sebelum berucap, “Saya ingin dapat tiga-tiganya, meskipun saya tidak memiliki Hyundai. Sebab saya bisa milikinya, jika saya belajar dan berusaha,” singkatnya tersenyum tipis.


Setelah menimbang-nimbang, akhirnya gadis itu memilih satu mobil berwarna putih, dengan harga standar dan pajak yang tidak terlalu memberatkannya.


Ali pun diperkenalkan untuk melakukan test driver diarea dekat diler.


“Oh ...ya Aina! Bukan maksud menggurui atau mengurusi urusanmu. Sebagai seorang yang masih berstatus suami, yang diakui oleh negara. Saya mau, kamu cintai dirimu sendiri. Sebab jika kamu mencintai dirimu sendiri. Orang yang berada di dekatmu akan merasakan kebahagiaanmu.” Liriknya kearah gadis yang duduk di samping kemudi.


“Kita itu hampir sama, ayah kita berego besar. Untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Saya tidak mau. Kamu seperti saya, hidup bukan atas kehendakmu. Dulu kamu menikah dengan saya, karena ayahmu! Maka ke depannya, Aina harus berjalan atas kemauan sendiri.” Membuang napas kasar.


“ Maaf sekali lagi!” imbunnya.


Wan Aina mengangguk paham, sungguh berat baginya. Melepaskan suami seperti Ali. Lelaki yang bisa mengayomi, menuntun, mengajari apapun padanya. Perhatian Ali, bukan hanya sebagai suami. Namun lelaki itu bisa mencakup semua status, disaat tertentu. Baginya sang suami adalah guru terbaik kehidupan.


“Aina, jika seseorang bertanya mengenai rumah yang kau tepati. Bilang saja kamu nyewa pada saya, meskipun sertifikat akan saya rubah menjadi namamu. Saya tidak mau, jika sertifikat itu jatuh ke tangan yang salah. Dan digadekan untuk melunasi hutang yang tidak kamu lakukan. Sedikit egois diperlukan untuk menjadikan milikmu, tetap dalam genggaman,” penuturan tersirat itu bisa dipahami oleh lawan bicaranya.


***


Setelah dari showroom mobil, Ali bergegas menemui temannya. Lelaki itu langsung turun dari ojek online. Masuk ke kantor sahabatnya, hari Sabtu kantor tampak sepi.


“Siang, bro! Sorry saya telat,” ujarnya bersalaman sejenak.


“It’s okey ... silakan duduk.” Sean mempersilahkan.


“Ada apa kemari? Apa ada yang bisa dibanting,” katanya menyalakan rokoknya.


“Ck ... yang ada tulang saya remuk! Tulang rusuk bentar lagi hilang, tulang yang lain janganlah,” sahutnya tertawa renyah sambil menyeruput minuman bersoda.


Sean terbahak-bahak, hingga terbatuk-batuk.


“Ehem ... tulang rusuk katanya dipertemukan dengan pemiliknya. Sekarang kenyataannya berbeda, tulang rusuk meninggalkan pemeluknya!” canda Sean membuat Ali geleng-geleng, dan berucap,”Sudah lama saya peluk guling, bukan tulang rusuk.”

__ADS_1


“Eh ya lu kesini mau ngapain?” Mengeluarkan asap dari mulut.


“Begini ... saya butuh uang.”


“Lah ... bukanya lu harusnya dapat pembagian gono-gini?” Sean dengan dahi berkerut.


Ali menghela nafas panjang, dan menceritakan perjanjian pranikah yang ia buat dulu.


“Lu bukan royal ... tapi goblok.” Komentar Sean mendengar cerita dari sahabatnya.


Ali hanya mampu menelan ludahnya saja.


“Lu enggak tahu, alasan saya buat perjanjian itu. Sebenarnya itu bentuk effort saya, untuk mempertahankan pernikahan saya dengan Eisya. Seandainya tiba dimasa, saya sudah tidak cinta lagi pada dia. Saya bosan dengannya. Hanya dengan cara takut kehilangan harta, saya diberi ruang untuk menumbuhkan rasa cinta itu kembali. Ya istilahnya, saya mempertahankan pernikahan ini karena harta. Akan tetapi disitulah, saya mendapatkan waktu, untuk merenungkan hal-hal baik, dan berusaha menumbuhkan hasrat cinta. Dan perceraian tidak ada akan terjadi Bro!”


“Masuk akal teori lu itu. Tapi nyatanya menyesatkan, sekarang lihat. Bertahun-tahun lu banting tulang, hasilnya bukan untuk lu. Sumpah gue enggak habis pikir, sama kegoblokan lu,” sinis Sean gemas dengan cara berpikir sahabatnya.


“Ya Tuhan! Mengapa domba satu ini, tidak paham,” maki Sean.


Ali mengusap wajah kasar, memijat pelipisnya.


“Makanya jadi laki-laki tuh jangan bucin. Sumpah gua geregetan sama lu,” geram Sean berdiri dari duduknya memukul udara. Bentuk pelampiasan.


“Bucin itu makanan apa?” sahut Ali dengan wajah datarnya.


“Astaga lu enggak tahu bucin?” tanyanya. Ali menggeleng bodoh.


“Budak Cinta ....”


“Omong kosong, zaman dulu budak dimerdekakan. Zaman sekarang harusnya sudah lenyap. Saya bukan budak cinta, tapi saya kalau mencintai itu totalitas,” sanggahnya tidak terima.


“Agrh ... ngomong sama orang bucin enggak ada gunanya. Lu mau pinjam berapa?”


“Setengah M!”


“Memang investasimu enggak bisa dijual?” tanyanya.


“Untuk yang obligasi negara, tiga bulan lagi jatuh tempo. Kalau dijual ...rugi juga, lu tahukan saham harganya menurun,” tukasnya.


“Nah, yang bentuk emas?” Tersenyum menyeringai.


Ali melengos tidak menjawab.


“Kekayaan lu mencapai berapa, emas ada, obligasi oke, saham he’em, property ayo, reksadana jugakan?”


“Omong kosong!”


“Gila kekayaan lu tak terhingga! Pantas saja lu berani ngasih matan istri lu banyak. Orang sebelum kawin lu udah punya kekayaan.”


“Ah ...lu kayak enggak tahu saja dunia investasi. Kadang untung, tapi juga kadang gagal, kalau harga turun,” keluhnya.


“Lu bayar, pakai tanah lu yang ada di Bintaro ya,” ujarnya seraya memijat ponsel

__ADS_1


Ali mendelik tajam.


TBC...


__ADS_2