
Setelah pintu terbuka, Ali pun mempersilahkan sahabatnya masuk.
Aidin tampak tertegun melihat beberapa baju berserakan di atas ranjang. Namun hal itu justru membuatnya, tidak bisa lagi menutup mulutnya untuk tidak bertanya.
“Sudah pernah tinggal di sini sebelumnya?” Pertanyaan pertama Aidin kalau itu bertujuan untuk memastikan, dugaannya tidak salah.
Ali yang baru saja meletakkan tas kerjanya di atas meja, menoleh. Mendengar pernyataan sahabat.
“Seperti yang bisa dilihat,” jawabnya melirik ranjang yang berantakan.
“Tapi kenapa?” Pertanyaan yang kedua kalinya, keluar begitu saja.
Ali membuang napas pelan, lelaki itu memutuskan untuk duduk di sofa. Seraya melepaskan dasinya, dengan satu tangannya.
Hal itu menyita perhatian seorang Aidin. Pemuda itu tampak berpikir keras, bagaimana sahabatnya bisa mengenakan dasi. Jika tangannya masih sakit. Mengingat tidak ada siapapun dikamar hotel ini.
Ya ... itulah yang masih Aidin pikirkan.
“Ya pada dasarnya manusia itu. Terkadang butuh waktu untuk sendiri kan?” jawabnya kembali bertanya.
“Iya ... juga tapikan ... untuk kondisi Abang saat ini....”
“Sudah-sudah alangkah baiknya kau cepat membersihkan badan. Waktu magrib terbatas,” potong Ali yang membuat Aidin memutar badannya, berjalan kearah kamar mandi dengan gontai.
Melihat pintu tertutup, Ali lekas mencopot alas kakinya.
“Kali ini aku harus bisa memutuskan ... apa yang baik dan tidak menurutku,” gumamnya teringat pembicaraan dengan ayahnya ketika di kantor.
AliAli tahu betul ayahnya tidak terlalu setuju dengan keputusannya. Namun untuk kali ini, ia seolah berjanji kepada dirinya sendiri. Akan menjadi pemimpin yang bijaksana untuk kehidupannya di masa mendatang.
Ketika pintu kamar mandi terbuka Ali bergegas masuk, setelah ia mengatakan letak penyimpanan sajadah kepada Aidin.
Selepas sholat Aidin memutuskan untuk duduk di tepi ranjang, mengecek ponselnya. Pemuda itu menoleh ketika pintu terbuka. Bibirnya terbuka sedikit, ketika mendapati orang yang sudah ia anggap sebagai kakak lelakinya. Keluar dengan wajah yang segar, serta pakaian rapinya.
Aidin merasa ada yang beda dari pandangannya. Kaus pendek dan sarung, hal itu tidak membuat seorang lelaki terlihat berbeda dari biasanya.
Namun apa yang belum ia sadari?
Ia menelan ludahnya kasar, ketika Ali melewatinya.
Pemuda itu baru sadar, jika sang sahabat tak lagi memakai armsling maupun perban.
Aidin menatap pergelangan tangan Ali dari belakang, yang tampak baik-baik saja. Jujur saja ia masih bingung.
Akan tetapi, ia perlu menunggu untuk mendapatkan jawaban.
Nyatanya lima menitnya orang menunggu bak setahun menantikan hari besar keagamaan. Ya itulah yang Aidin rasakan, malam itu ia dibuat penasaran dengan apa yang terjadi kepada sahabatnya itu.
Ali segera melipat sajadahnya. Tak ia sadari. Jika ada sepasang mata selalu mengawasi gerak-geriknya, baik ketika shalat maupun saat ini.
“Sejak kapan tangan bisa digunakan memakai dasi, sarung hingga rukuk dengan dua tangan?” cecar Aidin langsung pada intinya.
Pemuda itu terlihat menyimpan kekesalan pada Ali.
Mendengar pernyataan itu Ali menoleh dan berkata, “Emmm ... mungkin tiga hingga empat mingguan.”
__ADS_1
“Apa?” pekik Aidin terkejut, ketika mendengar jawaban yang cukup santai dari Ali.
“Alasannya apa?” Pemuda yang berusaha untuk tidak terlalu kepo dengan urusan orang lain.
Ternyata tak bisa untuk tidak bertanya, jika sudah dibuat tercengang dengan kebenaran-kebenaran yang tidak masuk akal.
“Kau akan tahu, jika sudah waktunya ....”
Jawaban tersirat itu, justru membuatnya semakin penasaran. Namun ia juga harus menahannya.
Atau justru mengalihkan pembicaraan lain. Meski konteksnya tidak beda jauh. “Sudah berapa hari disini?”
“Seminggu,” jawabnya mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang diketuk.
Ali segera berjalan dan membuka pintu kamar hotelnya. Ia mempersilahkan waiterss masuk, untuk meletakan makanan yang tadi sempat ia pesan sebelum sholat.
“Terima kasih atas pelayanannya,” ucap Ali, membuat waiterss mengangguk pelan.
Pembicaraan yang sempat terpotong karena kedatangan waiterss. Sepertinya akan berlanjut kembali, ketika Aidin turun dari ranjang menuju sofa.
“Seminggu? Apa istri-istrimu tidak protes?” tanyanya seraya mengelap supit dengan tisu, sebelum menyantap menu asian breakfast.
Bahan utama dari mie goreng yang dilengkapi irisan ayam goreng asam manis, toge, dan aneka dimsum lainnya.
“Atau jangan-jangan istrimu ... tidak tahu mengenai ini ... dengan alasan dinas luar kota,” tuduh Aidin ketika tak mendapatkan jawaban dari Ali.
Membuat si empu susah mengunyah makanan.
***
Masih teringat jelas dalam ingatan. Seminggu yang lalu tepatnya, setelah percakapan panjang dengan Wan Aina mengenai malam pertama.
Mulai dari, apa ia hidup atas keinginan sendiri?
Atau ia justru hidup atas perintah orang lain.
Lantas apa yang membuatnya, tidak menggauli istri mudanya?
Dan apa iya, dia bisa mempertahankan pernikahannya dengan keadaan yang seperti itu.
Seminggu lamanya tinggal di hotel.
Ia mulai menggali satu-persatu pertanyaannya sendiri.
“Hidup seperti apa yang aku inginkan?” tanyanya kala itu yang duduk lesehan samping ranjang.
“Apakah selama ini aku hidup ... sudah mengikuti keinginanku, atau justru aku adalah wayang yang dicontrol oleh dalang?”
Membenturkan kepalanya ke pinggiran kasur, mengingat masa lalunya. Yang tak berjalan atas kehendaknya sendiri.
Tentunya hal ini pernah terbesit dalam pikirannya, namun ia acuhkan. Dengan konsultan ke psikiater, ia jadi sadar jika hidupnya bukan atas kehendaknya sendiri. Dan dari situ ia mulai lebih awareness dengan kenyataan pahit itu.
Malam kedua menginap di hotel. Ia pergunakan untuk membaca lagi tulisan. Mengenai alasan dibalik ia tidak menyentuh istri mudanya.
“Pertama aku pikir itu karena ...aku tidak bisa mengkhianati Eisya ... namun setelah tiga kali aku bertemu psikiater ... yang membantu aku mengubah sudut pandangku menjadi lebih positif ... ternyata alasan terakhir ini cukup valid.” Tangannya bergerak melingkari sebuah kalimat panjang dalam jurnal pribadinya. 'Tanpa disadari ... ternyata alam bawah sadar ... mengatakan bahwa aku takut ... jika tidak bisa mempertahankan pernikahan ini.’
__ADS_1
Tangan Ali berhenti, dia mengambil nafas sejenak.
“ Memilih tak menggaulimu ... menurutku itu pilihan yang tepat. Sebab aku belum bisa menerima apa yang akan terjadi ke depannya. Seandainya kau hamil ... lantas bagaimana aku menjelaskan pada anakku, tentang keluarganya. Kenapa berbeda dari yang lain?”
“Itu kalau hubungan masih bisa dipertahankan. Bagaimana jika perceraian itu terjadi? Bukannya ini akan menjadi pukulan keras bagi anak kita.”
“Jangan sampai anakku, mengikuti jejakku yang broken home....”
“Inilah alasanku ... memilih untuk tetap memakai armsling ... mengingat sebelum kecelakaan ...kau meminta hak yang harusnya aku beri sejak awal pernikahan ... namun sekali lagi untuk saat ini aku belum bisa.”
Ali mendongak menatap atap hotel, ketika kembali membaca tulisannya.
“Pengecut ...” teriaknya yang dilontarkan untuk dirinya sendiri.
“Hanya dengan itu ... aku tidak perlu repot-repot membuat alasan. Untuk menolak permintaanmu.” Ali mengusap wajahnya kasar.
Tanpa disadari ia telah menjadi pembohong, selama berminggu-minggu.
Sore ketiga menjadi penyewa kamar 507.
Ia mulai bertanya kepada dirinya ssendiri.
Apa iya, dia bisa mempertahankan pernikahannya?
Mengingat beberapa alasan yang bertentangan.
Baik itu dari dirinya sendiri maupun dari pihak istri-istrinya.
Lelaki itu berdiri tegap, menatap jalanan macet yang dipenuhi kendaraan bermotor dan mobil dari lantai kamar hotel yang ia singgahi.
Ingatannya kembali ketika, ia dan Meisya bertengkar dua Minggu yang lalu. “Bagaimana kau bisa mengambil keputusan secara impulsif. Tanpa memikirkan konsekuensi, karena keputusanmu itu, hubungan kita jadi rumit.” Menarik napas sejenak, melipat tangannya di dada.
“Dulu kau yang meminta untuk adil. Sekarang semua berubah, kau mulai cemburu dan menyesali keputusanmu. Aku begitu mencintaimu Eisya ... namun mengapa kau justru mematahkan keyakinanku ... dengan cara ...kamu lebih percaya dengan orang lain ... ketimbang suamimu sendiri.”
Tatapannya sendu, hatinya susah memaafkan kesalahan yang Meisya perbuat. Meskipun citanya lebih mendominasi.
“Apa artinya rumah tangga ... jika dilandasi oleh keterpaksaan? Aku terpaksa menyetujuinya, karena ingin menyelamatkanmu dari sumpah gila ... yang kau buat ... bodoh dan aku menyesali keputusanku sendiri,” ujarnya memukulkan kepalan tangannya sendiri dengan telapak tangannya.
“Begitupun denganmu dan Aina ... nasib kalian berdua tidak beda jauh ... jika Aina menerima karena ayahnya ...maka kau terpaksa mengikhlaskan suamimu ... karena tekanan orang lain.”
“Kita bertiga adalah korban dari keegoisan seseorang. Sudah saatnya kita memutuskan rantai yang membuat kita tercekik ini.” Sorot matanya tajam.
...***
...
“Ehem!”
“Heh malah bengong?” ujar Aidin menyenggol pundak Ali, membuat sumpit yang dipegang Ali terjatuh ke lantai.
Lelaki itu berdecak sebal. Menatap sumpitnya berserakan di dekat kakinya.
Melihat hal itu Aidin meringis merasa bersalah. “Sorry ... enggak sengaja ....”
“Sini pinjamkan sumpitnya, saya sudah lapar...” ujarnya ketika melihat makanan sahabatnya sudah tak bersisa.
__ADS_1
Dengan cepat Aidin menyodorkan sumpit berkasnya. Aidin bernafas lega ketika Ali tak mempermasalahkan kesalahannya.
TBC...