
“Apa yang sebenarnya terjadi Mbak? Tolong katakan yang sejujurnya,” teriak Wan Aina mengepalkan tangannya.
Ia butuh penjelasan. Mengingat jika tadi malam, sepulang dari kantor. Ali baik-baik saja. Bahkan lelaki itu menyempatkan diri untuk memberikan sebungkus martabak telor, untuknya.
Meisya tersinggung, dengan ucapan madunya. Terlebih lagi reaksi Wan Aina terlalu berlebihan dan terlihat memojokkannya.
Amarah Meisya seketika membuncah.
“Kenapa kau mengatakan hal itu Aina! Kau menuduhku?” teriak Meisya tidak terima.
Ayolah kawan!
Meisya hanyalah seorang manusia biasa. Meski ia merupakan seorang wanita yang paham akan ilmu agama, namun wajar jika ia melakukan satu kesalahan. Ia juga punya amarah dan nafsu.
Lantas mengapa orang-orang selalu menganggap wanita sepertinya tak patut khilaf?
“Hah? Menuduh? Aku hanya butuh PENJELASAN!” Wan Aina, terkekeh sinis.
Membuat lawan bicaranya, merasa direndahkan olehnya.
“Statement yang keluar dari mulutmu. Menandakan ada sesuatu yang terjadi antara kau dan mas Ali....”
“Sebelum kecelakaan terjadi....”
“Tidak mungkin kau menyalahkan dirimu sendiri ... tanpa sebab!” duganya, dari sorot matanya terpancar bahwa Wan Aina begitu mencintai Ali.
Hal ini mampu membuat Meisya terbakar api cemburu. Perempuan itu seakan tak suka, jika ada gadis lain. Terlalu perhatian dengan suaminya.
“Semua itu terjadi karena fobiamu pada petir dan guntur”
Meisya mengepalkan tangannya.
Ia teringat beberapa waktu lalu. Ali pernah cerita jika Wan Aina sangat takut kegelapan, suara petir dan guntur.
Pernyataan Meisya begitu menohok. Hingga membuat Wan Aina terdiam.
“Andai saja jika kau tidak memiliki fobia apa pun. Semua ini tidak akan terjadi. Dia tidak akan kecelakaan!” Kini Meisya menindas balik madunya.
Seraya mengusap air mata yang menetes di balik niqabnya.
__ADS_1
Satu hal yang Wan Aina pahami, apa yang terjadi pada suaminya. Berawal dari sebuah kecemburuan. Tidak bisa dipungkiri, jika Meisya cemburu karena Ali lebih mementingkan dirinya. Namun meskipun demikian, Meisya tidak berhak menyalahkan fobianya.
“Dan andai saja ...kau juga tidak cemburu ...pasti semua ini tidak akan terjadi. Semua itu salahmu Mbak!”
Mereka berdua saling menyalahkan satu sama lainnya.
“SUDAH CUKUP!” teriakan kali itu berhasil membuat dua perempuan yang saling menyalahkan menghadapnya.
Perempuan paruh baya itu terlihat kecewa dengan dua istri majikannya.
“Apa kalian tidak punya malu? Berteriak dan saling menyalahkan? Lihatlah semua orang menatap kalian.”
Meisya menunduk dalam, saat tak sengaja matanya melirik ke kanan. Ada seseorang menatapnya dengan tatapan rendah.
Pasti ibu-ibu itu mencibir tentang pakaian yang dikenakan sangat kontras dengan tingkah lakunya.
Padahal setiap orang tidak berhak memukul rata, atas kejadian ini.
Seseorang boleh menilai jika tahu akar masalahnya.
Dari sini Meisya mendapatkan sebuah pembelajaran. Bahwa sebelum ia melakukan sesuatu. Ia harus tahu apa yang dilakukan, merugikan martabat manusia lain atau tidak.
Sama halnya dengan Meisya, Wan Aina, gadis itu menunduk dalam.
Menyadari, apa yang diperbuat. Bisa merusak citra dirinya sendiri dan suaminya. Mungkin orang beranggapan, jika dirinya ialah seorang pelakor. Dan titel yang pas bagi suaminya. Peselingkuh brengsek.
“Harusnya di saat-saat seperti ini ...kalian itu saling menguatkan ...bukan malah menyalahkan....”
“Rasa cemburu yang Ibu miliki tidak salah. Pun sebaliknya. Fobia yang Mbak Aina miliki juga tidak salah,” ucap bik Tin, bicara dengan dada naik turun.
“Yang salah itu cara pandang kalian menafsirkan sesuatu. Harusnya Ibu bisa melihat fobia dari sudut pandang Mbak Aina. Dan coba ibu memosisikan diri sebagai Wan Aina, yang ketakutan karena suara guntur,” ungkapnya berganti menatap Wan Aina. “Begitu pun Mbak Aina. Cobalah Mbak bayangkan ... jika Mbak ada diposisi Ibu. Dimana suamimu yang harusnya bersamamu. Justru ingin bersama istrinya yang lain. Pasti sakit dan wajar jika cemburu.”
“Tanpa kalian sadari, ego kalian telah menguasai diri. Padahal jelas, ada yang lebih berharga dan lebih penting untuk diperhatikan. Yaitu keadaan bapak!” ucapannya kesal. Meninggalkan dua istri majikannya.
***
Disisi lain, seorang lelaki itu baru saja. Sampai di ruangan kerjanya.
“Ki ...lu sudah dengar berita,” ucap Arfa berjalan tergopoh-gopoh.
__ADS_1
“Berita apa? Kawin cerai?” tanyanya santai.
“Bukan, ini soal Ali....”
“Kenapa?” Dahinya berkerut.
“Kecelakaan nabrak pembatas.”
Aidin memekik tak percaya “Apa?”
“Enggak mungkin, orang tadi malam. Minta ditemani ke RS!” sangkal Aidin.
“RS? Ngapain ke RS?” selidik Arfa menaruh curiga.
***
Aidin terdiam membisu, tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya.
Jika Ali memintanya untuk menemani konsultasi masalah kesehatan jiwa. Bahkan Ali juga memberikan tanggung jawab padanya, untuk mencarikan psikiater yang tepat. Namun dibalik itu semua. Aidin tahu, jika Ali berusaha menerima keadaannya.
“Din, kalau saya menemui psikiater itu berarti saya gila,” ujar Ali kala itu seraya menenggak minuman bersoda. Tertunduk dalam.
“Nah karena Abang, berusaha menemui psikiater itu berarti. Memiliki effort untuk sembuh ...kan tujuannya untuk berobat. Samalah seperti manusia yang punya penyakit tipes menemui dokter untuk berobat. Bedanya yang sakit raga bukan jiwa,” Malam itu Aidin menjadi support system yang bisa diandalkan.
Membuat sahabatnya yakin, bahwa keputusannya untuk menemui psikiater adalah hal yang tepat.
“Toh juga Dokter belum mendiagnosis. Masih panjang untuk berduaan dengan psikiater,” kekeh Aidin berusaha menenangkan.
***
“Heh kenapa bengong? Ali ke RS ngapain?” Arfa memukul pundak Aidin.
Membuat pemuda itu tersadar dari lamunannya.
“Apa sih Pak? Demen banget nabok-nabok,” kesalnya mengelus pundaknya.
“Gini aja nanti jam istirahat kita ke RS. Untuk menjenguk Abang, jangan lupa share ke GC, sekarang kita harus kerja,” kata Aidin segera mengakhiri pembicaraan.
Bertujuan agar Arfa tidak terus bertanya alasan Ali ke rumah sakit. Sebab bagi Aidin sudah tugasnya, menyembunyikan sesuatu yang harus dijaga.
__ADS_1
TBC...