
Ali terduduk lemas, setelah kepergian ayah dan ibu tirinya. Ia merenungi segala perkataan yang keluar dari mulutnya. Untuk orang tuanya.
Ia mengakui jika dirinya tidak memiliki moral. Buktinya saja ia terang-terangan mengusir ayahnya. Akan tetapi, ia berpikir jika itu lebih baik. Ketimbang ayahnya tetap bertemu. Boleh jadi ia justru akan membuat hati ayahnya semakin terluka.
“Mas!”
Ia mendongak saat bahunya dielus seseorang.
“Minumlah!”
Dahinya berkerut melihat mata istrinya yang berkaca-kaca.
'Aina menangis? Kenapa dia menangis?' batinnya penasaran.
Sepertinya ia benar-benar lupa dengan ucapan yang keluar dari mulutnya tadi. Hingga tak menyadari, jika satu kalimatnya membuat Wan Aina berkecil hati.
Melihat raut wajah suaminya yang masih merah. Entah menahan amarah atau menyesal, gadis itu berinisiatif untuk menghibur Ali
Menafikan kesedihannya sendiri.
Wan Aina memutuskan untuk ke kamarnya, mengambil sesuatu. Tiga menit kemudian ia telah kembali diruang tamu. Meskipun suami tak menyadari, kehadirannya.
“Jreng ... jreng ...jreng Mas Ali! Jangan marah-marah, nanti kamu lekas tua!”
Ali yang tadi melamun kini melirik kearah istrinya, tatapannya tak bisa diartikan.
“Wan Aina setia orangnya ... tak kan pernah mendua!” Menyengir saat tatapannya bertemu dengan manik suaminya.
Ada rasa tidak enak hati, untuk lagu yang di dibawakan kali ini. Sebab lirik lagunya sedikit menyindir status suaminya, yang memiliki dua istri. Akan tetapi melihat ekspresi Ali, yang tidak marah ia pun meneruskan lagunya kembali.
“Mas Ali, tahu enggak jawaban versi yang pas untuk kita?” Perempuan itu menaikkan alisnya sebelah. Ali bergeming, wajahnya terlihat penasaran.
Membuat gadis itu memetik senar gitar kembali.
Meneruskan lagu yang real, digabungkan dengan nyatanya sendiri.
“ Bagaimana Wan Aina mendua ... jika dia menjadi yang kedua!” sontak celotehannya membuat Ali melotot kearahnya.
Gadis itu mengatupkan bibirnya rapat, dia pikir suaminya akan tertawa. Dengan nyanyiannya, namun sepertinya malah menyinggung perasaan mas Ali nya.
Ali beranjak dari duduknya, lelaki itu meninggalkan ruang tamu. Tanpa sepatah kata pun.
Wan Aina yang tadi duduk bersila di sofa. Langsung turun dan mengejar lelaki itu keluar rumah.
“Mas Ali mau kemana? Aina tidak bermaksud untuk membuat Mas, sedih!” ujar Wan Aina berusaha menyejajarkan langkahnya dengan suaminya.
“Mas! Maafin Aina!” Mohonnya menarik lengan suaminya, yang membuat langkah Ali terhenti.
“Aina saya ingin sendiri!” Ali melepaskan tangan istrinya yang bergelayut di lengannya.
__ADS_1
Mata coklat itu kembali berkaca-kaca, saat mendapati perilaku suaminya yang terlihat kesal padanya.
“Aina minta maaf Mas!” ujarnya mendongak menatap wajah suaminya.
“Iya, tapi tolong biarkan saya menenangkan diri saya.”
“Mas Ali, mau kemana? Biar Aina obati lukanya dulu!”
Mengikuti langkah suaminya hingga teras.
“Masuk, kau tidak pakai hijab. Bagaimana jika tetangga melihatmu!” ujar Ali mendorong tubuh Wan Aina ke dalam rumah.
Tampaknya Wan Aina lupa, jika hijabnya telah dilepas. Ketika ia kembali ke kamar untuk mengambil gitar.
Ali bernafas lega ketika bisa memasukkan istri mudanya ke rumah.
Meskipun si cerewet terus berteriak memanggil namanya.
“Mas Ali! Mau kemana?” tanya Wan Aina gedor-gedor kaca.
“Jangan keluar rumah, sebelum saya pulang. Kunci pintunya!” Ali memperingatkan istrinya dari luar jendela.
Wan Aina mencebikkan bibirnya kesal, karena Ali sudah memberikan larangan yang tidak bisa ia langgar.
“Cium tangan dulu!”
Ali menempelkan punggung tangannya dikaca, agar istrinya tetap bisa mencium tangannya.
Ali mulai mengendarai mobilnya, keluar dari kompleks perumahan. Lelaki itu menyetir mobil hanya dengan tangan satu. “Astagfirullah!” ujarnya memijat pelipisnya.
Ia kembali menghela nafas panjang, jika teringat kejadian satu jam yang lalu. Dimana ia berperilaku tidak baik terhadap ayahnya. Akan tetapi tak bisa ia pungkiri, amarahnya terjadi karena ayahnya yang memancingnya.
Mobil putih itu mulai memasuki gapura, tak berselang lama. Ia mengurangi kecepatan mobil. Ketika sampai di tempat tujuan. Lelaki itu memarkirkan mobilnya, di samping beberapa mobil dan motor.
Ia segera melepaskan seat belt, dan keluar dari mobil. Berjalan melewati pepohonan yang ditanam di kanan-kiri jalan.
Langkah kakinya melewati beberapa tanah yang dipasangi batu nisan. Sepuluh langkah dari tempatnya berdiri, ia melihat seorang perempuan berdiri dari jongkoknya. Terlihat jelas, jika perempuan itu baru selesai ziarah dimakam yang sama, yang akan ia kunjungi siang ini.
Perlahan ia melangkahkan kakinya mendekati perempuan berpakaian serba hitam.
...***
...
Perempuan itu membalikkan badannya. Betapa terkejutnya ia, mendapati sosok lelaki yang berdiri di belakangnya.
Melihat tubuh perempuan di depannya terhuyung ke belakang, Ali segera menahan punggung perempuan itu. Mata keduanya terkunci, ada percikan sinar dari sorot mata perempuan itu. Tatkala tahu lelaki yang menahan tubuhnya tak lain adalah kekasihnya. “Bib!”panggilnya mencekam baju sang suami.
Ali menegakkan tubuh Meisya. Kini kedua orang itu saling berhadap-hadapan. Sorot mata Meisya sendu, saat melihat sudut bibir Ali berdarah.
__ADS_1
“Ini kenapa?” Tangan Meisya terangkat ingin memegang sudut bibir Ali. Namun sebelum itu terjadi, Ali segera mencekalnya.
“Tak perlu khawatir, ini hanya luka kecil. Pulanglah, biarkan aku menenangkan diri.”
Meisya mengangguk tidak bertanya kembali. Seakan paham dengan sifat lawan bicaranya.
Ali memeluk tubuh Meisya terlebih dahulu, sebelum akhirnya perempuan itu meninggalkannya.
Kini lelaki itu berjongkok di pusara makam ibunya.
Meisya yang sudah menjauh dari pusara mertuanya, perempuan itu menoleh ke belakang.
'Aku tidak tahu, apa yang terjadi padamu. Namun melihat raut wajahmu seperti tadi, aku merasa kau sedang bersedih. Tapi apa yang membuatmu sedih? Bukankah ini hari Sabtu, kau tidak kerja. Itu berarti bukan masalah kerjaan. Dan kenapa bibirmu terluka?' batinnya bingung.
Menatap punggung Ali dari kejauhan.
“Akan aku temui Aina, siapa tahu dia tahu tentang hal ini!” Meisya segera meninggalkan pemakaman. Bergegas menemui Wan Aina.
Meisya memasukkan mobilnya ke garasi terlebih dahulu. Sebelum memutuskan ke rumah madunya.
Tok ... tok....
Ketukan dari luar terdengar hingga dapur. Wan Aina yang baru saja ingin masak untuk makan siang, segera berlari keluar.
“Siapa? Tidak mungkin mas Ali!” gumam gadis itu, menyambar hijab yang tersampir di sofa.
Wan Aina terlebih dahulu memakai hijab instan sebelum membukakan pintu untuk tamunya.
“Mbak Meisya!”
Gadis itu lantas menyuruh istri tua suaminya masuk.
“Lagi apa?”
“Masak!” jawab Wan Aina berjalan kearah dapur, yang dikuti Meisya dari belakang.
Setelah sepuluh menit mengobrol. Meisya memutuskan untuk bertanya mengenai Ali kepada Wan Aina.
“Aina, tadi aku enggak sengaja ketemu dia, kau tahu kenapa dia seperti itu. Terus kenapa sudut bibirnya luka?” tanya Meisya penuh kehati-hatian.
Meski Meisya tak menyebutkan nama Ali, Wan Aina tahu jika yang dibicarakan adalah Ali, yang tak lain adalah suami mereka.
Mendengar pernyataan Meisya, mata Wan Aina memerah. Gadis itu teringat pertengkaran antara ayah mertua dan suaminya.
Bukankah bibir Ali sobek tak lain karena Ali membela Meisya.
“Semua itu gara-gara Mbak Meisya!” ujarnya mengepalkan tangannya.
“AINA!”
__ADS_1
TBC...