Kau Rela Ku Lepas

Kau Rela Ku Lepas
Ch08 : Tepung Dapur


__ADS_3

Bel berbunyi, paruh baya yang sedang mengelap meja makan. Berlari kecil kearah pintu utama.


Cekklek! Pintu terbuka lebar, paruh baya dengan rambut digelung itu terkejut. Tatkala melihat majikannya bersama seorang gadis cantik.


“Pagi Bik!” sapa sang majikan padanya.


Bukan Tin terdiam, bertanya kepada dirinya sendiri.


Siapa gadis yang bersama majikannya ini?


Setahunya sang majikan tipe yang jarang sekali membawa temannya ke rumah, apalagi perempuan.


Paruh baya itu mengeratkan gigi, ketika gadis di depannya memeluk lengan sang majikan. 'Cih murahan' batinnya melengos.


“Aina beliau Bik Tin, yang bekerja di sini. Dan Bik Tin, kenalkan Wan Aina istri saya!” ujar Ali meringis, perasaan aneh menyusup ke dalam hati.


Ketika memperkenalkan Wan Aina sebagai pendampingnya.


Sulit bagi bik Tin untuk mempercayai semua ini. Lelaki yang di pikir baik dan setia. Ternyata sama saja, seperti lelaki pada umumnya, jika tahu istrinya tidak bisa hamil. Maka poligami sebagai sarana jalan keluarnya.


Bukanlah solusi terhadap satu masalah hanya akan menciptakan masalah lain.


Menjadikan poligami sebagai solusi, berarti menciptakan masalah baru. Lelaki yang memutuskan untuk berpoligami. Wajib memenuhi kebutuhan istri-istrinya baik secara internal maupun eksternal, dengan adil.


“Siapa Bik?”


Meisya yang ada di dapur memutuskan untuk keluar, saat mendengar suara bel. Bik Tin menoleh, ke sumber suara yang sangat familiar itu.


Meisya berjalan mendekat kearah mereka.


Bik Tin menatap Meisya dengan rasa iba. Baru satu jam, tiba di rumah majikannya. Ia sudah mendapatkan hadiah yang mencengangkan.


Majikannya kawin lagi.


“Bib, kalian ternyata,” ujarnya Meisya mencium tangan suaminya.


Lelaki itu mengelus kepala Meisya.


Bik Tin heran mengapa sang majikan tak memberikan ciuman dipipi ibu majikannya.


'Ada yang baru yang lama terhempaskan' batinnya.


Tahukah ia jika sang majikan, ingin mencium pipi ibu majikannya?


Ada alasan dibalik itu semua?

__ADS_1


Dan itu tak seperti yang ada dalam pikirannya.


Wan Aina menerima uluran tangan Meisya. Gadis itu mencium punggung tangan, perempuan yang menjadi istri pertama Ali. Dan berpelukan sekilas.


Melihat kedekatan Wan Aina dan Meisya, tak bisa dipungkiri jika pikiran negatif itu masih melekat dalam otak bik Tin.


'Pelakor tetap saja pelakor. Sekalipun kau terlihat menghargai Ibu. Hatimu busuk, tidak akan berubah. Ibu wanita yang baik, beliau tahu cara bersikap dengan seorang yang menyakitinya' batinnya, kesal dengan istri muda majikannya.


Meisya mengerutkan keningnya, ketika sang suami menatapnya. Kemudian melirik kearah bik Tin dan Wan Aina secara bergantian.


Kode tersirat itu, membuat perempuan itu harus memaknai, apa yang ingin suaminya sampaikan.


Setelah sekian detik, Meisya baru mengerti maksud sang suami.


Kesimpulannya kode etik yang diberikan oleh sang suami. Tak jauh-jauh dari keberadaan bik Tin, yang membuat Wan Aina tak nyaman.


Dia pun lekas meminta bik Tin ke pasar.


Merasa tidak ada pembicaraan yang bisa memecahkan suasana menjadi rame. Meisya mengajak Wan Aina ke dapur untuk memasak makanan.


...***


...


Ketika para istrinya pergi ke dapur. Ali lebih memilih menonton televisi. Lima belas menit tak mendapati saluran yang ia sukai. Membuat lelaki itu bosan, dan memutuskan untuk ke dapur. Melihat apa yang dilakukan kedua istrinya.


“Yang terpenting itu, saat masak dicicipi dulu. Jangan sampai keasinan apalagi kemanisan!” sahutnya membuat kedua istrinya menoleh melemparkan senyum kearahnya.


Secara tersirat lelaki itu, mengingatkan kedua istrinya. Agar lebih jeli saat masak. Khususnya buat Wan Aina, yang sering melakukan kesalahan.


Kedua perempuan itu mengangguk, setuju dengan pendapat Ali.


“Bikin bakpao dong! Rasa abon,” katanya menarik kursi untuk duduk.


Bakpao adalah makanan kesukaannya sejak kecil, bahkan saat almarhumah ibunya masih hidup. Saat ia berangkat sekolah, sering dibekali bakpao oleh ibunya. Dan tidak ada bakpao yang lebih enak dari buatan ibunya.


Mendengar permintaan suaminya, tentu saja Meisya tidak bisa menolak. Setelah semua masakan rampung. Meisya segera menyiapkan bahan pembuat bakpao.


Wan Aina yang tidak pernah membuat bakpao, dia hanya melihat. Gadis itu tersenyum, saat Meisya menuangkan tepung ke wadah.


Dengan jailnya Wan Aina mengambil tepung. Dan mencolekkan ke pipi Meisya. Wan Aina tertawa renyah melihat ekspresi istri pertama suaminya yang kesal.


Meisya mencebikkan bibirnya, perempuan itu menoleh kearah Ali bentuk pengaduan, jika Wan Aina telah mengotori pipi.


“Balas saja!” saran Ali santai, memasukkan buah anggur ke dalam mulut.

__ADS_1


Mendapatkan dukungan dari Ali, Meisya tersenyum puas. Perempuan itu langsung mengambil segenggam tepung. Bersiap membalaskan dendam. Membuat Wan Aina berlari menjauh darinya.


Wan Aina tertawa kecil saat Meisya mengejarnya mengitari meja kompor yang terbuat dari batu bata.


Ali tersenyum mendapati hiburan yang tak pernah ia bayangkan.


Kedua istrinya terlihat seperti teman, akan tetapi itu hanya dari sudut pandang internal saja.


Tentu berbeda dengan keadaan eksternal keduanya.


“Mbak Meisya tidak adil, Aina hanya satu coretan!” ujar Wan Aina memegang perutnya yang sakit karena tertawa.


Selama Meisya selalu mengejarnya. Wan Aina terus berlari. Gadis itu menyembunyikan badannya di belakang suaminya


Mau tidak mau hal itu membuat Ali ikut, dalam permainan istri-istrinya.


Sialnya Wan Aina malah menjadikan tubuh Ali sebagai tepat perlindungan.


Berada ditengah-tengah dua perempuan, membuat Ali kebingungan sendiri.


Meisya terlihat kesusahan untuk mengelapkan tepung ke wajah Wan Aina. Pasalnya saat dia kekiri Wan Aina memutarkan tubuh Ali untuk menutupi tubuhnya.


“Bantu aku Bib!” ujar Meisya meminta pertolongan.


“Jangan mau Mas!” cicit Wan Aina yang bersembunyi di balik punggung suaminya.


Ali langsung menarik tangan Wan Aina yang tadi memegang kausnya bagian pinggang, untuk bersembunyi.


“Ayo cepat bedaki wajahnya, aku akan memegangnya!” ujar Ali memegang tangan Wan Aina ke belakang, membuat gadis itu tak berdaya. Kecuali berteriak dan menggeleng.


“Ah ... tidak adil! Mas Ali membatu Mbak Meisya!” protes Wanita Aina membuat Ali dan Meisya terkekeh mendengarnya.


“Ayo cantik kita memakai bedak dulu biar semakin cantik!” Meisya tak bisa lagi menghentikan tawanya. Ketika berhasil mengotori pipi Wan Aina.


“Buat wajahnya seperti donat yang ditaburi gula putih!” saran Ali, membuat Wan Aina menjerit dan memberontak.


Gelak tawa Meisya pecah saat melihat wajah Wan Aina, tertutup tepung. Perempuan itu memegang perutnya yang sakit, karena tertawa.


Ali yang memegangi tangan Wan Aina dari belakang, menelengkan kepalanya ke samping untuk melihat wajah Wan Aina.


Lelaki itu sekuat tenaga menahan tawanya melihat wajah Wan Aina yang putih.


Wan Aina pun terlihat kesal, karena Ali dan Meisya menertawakannya. Gadis itu segera mengusap tepung dari wajahnya. Kemudian ia mengusapkan ke pipi Ali.


Wan Aina dan Meisya tertawa renyah. melihat pipi Ali kotor.

__ADS_1


Lelaki itu langsung berlari kearah wadah tepung. Seolah siap tempur.


TBC....


__ADS_2