
Siapa pun yang melewati kamar nenek. Atau sekadar duduk di ruang tamu, pastilah telinganya akan mendengar seperti ******* seseorang yang kehilangan nafas.
Dibarengi dengan seseorang mengatakan, “Istighfar Nek ... Astagfirullah hal adzim....”
“Astagfirullah hal adzim....” Kembali Ali mendengar Atan meminta nenek beristigfar.
“Allahuma shollu ‘alaa Sayyidina Muhammad wa ‘ala aali Sayidina Muhammad....”
Entah mengapa rasanya sulit untuk melangkahkan kaki ke kamar nenek. Ia hanya mematung di depan pintu. Dan ingatannya kembali, pada pengalaman pertamanya kehilangan seseorang yang ia cintai.
“Astagfirullah ... apa yang sedang aku bayangkan. Bukannya wajar, kang Atan meminta nenek beristigfar ... Tujuannya kan mengingatkan nenek kepada Allah SWT.” Meninggalkan ruang tamu.
Ali yang tampak asik bicara dengan paruh baya, yang notabenenya adalah tetangga pondok. Seketika pamit undur diri, ketika melihat mobil memasuki gerbang. Cepat ia menghampiri mobil putih yang sudah terparkir di samping masjid.
“Kok malam-malam kemari Om?” tanya Ali setelah pengemudi mobil keluar.
“Baru sempat Li, pekerjaan di Kalsel, tidak bisa aku tinggalkan ...oleh sebab itu. Kita baru bisa jenguk nenekmu saat ini,” jawabnya menerima uluran tangan Ali.
“Bulik sehat kan?” tanyanya, pada wanita paruh baya yang baru keluar dari pintu samping berjalan kearahnya.
“Alhamdulillah, kapan kamu datang kemari?” tanya paruh baya yang diketahui adik kandung ibu mertuanya.
“Sudah dua hari tiga malam, setelah mendapatkan kabar kalau nenek sakit dan terus memanggil nama istri....”
Ketiga orang itu pun berjalan menuju rumah Abah. Sesekali para santri menyapa dengan mengangguk pelan sebagai penghormatan.
“Memang di Kalimantan proyek apa yang Om garap?
Lelaki itu berjalan di samping, paruh baya berbadan gempal.
“Pembangunan jalan tol Banjarbaru-Batulicin.”
Ali mengangguk paham, sebelum bertanya,” Kabupaten Tanah Bambu?”
Om mengangguk membenarkan.
“Untuk ruas jalan Om?”
“160 kilometer....”
“Wah estimasi anggaranya sendiri sampai beberapa? “
“14,3triliyun. Pembebasan tanah 240 milyar. Badan jalan paling ya sekitar — 4,85 triliyun.”
__ADS_1
Rasa penasaran Ali kian membuncah. Mendengar penjelasan Om mertua. “Wah lumayan juga ya. Ada kendala tersendiri dalam membangun tolnya Om?”
“Kendalanya ada tujuh buah jembatan yang harus dibangun. Empat di antaranya sudah selesai dan tiga lagi sedang dikerjakan. Harapannya nanti bisa dilewati sepeda motor dan mobil double gardan.”
Pembicaraan mengenai infrastruktur. Terjeda saat mereka masuk ke dalam rumah.
Disadari atau tidak pada dasarnya. Pertemuan keluarga jauh terkadang terjadi di waktu-waktu tertentu. Salah satunya saat keluarga sakit atau menggelar acara sakral seperti pernikahan.
Mungkin itu pun terjadi pada ibu mertua dengan adiknya. Mereka saling berpelukan dan bertanya bagaimana kabarnya. Sebelum akhirnya, bulik San memutuskan untuk masuk ke kamar nenek.
“Lah, Mei dimana?” tanya bulik San setelah hampir lima belas menit di dalam kamar.
Mendengar nama istrinya di panggil, cepat Ali menoleh. Mempertajam penglihatan, mencari keberadaan istrinya.
“Dik Mei sedang makan Bulik! Sadari tadi selalu duduk di samping nenek,” sahut menantu ketiga Abah, seraya menimang bayi di gendongan.
Mendengar hal itu Ali bernafas lega, setidaknya istrinya mau makan. Meski sedang cemas mengkhawatirkan keadaan nenek.
“Abah, masuk ke kamar nenek dulu. Lanjutkan saja pembicaraannya,” ujar Abah, memegang pundak Ali supaya bisa berdiri.
“Dah tua ...mau berdiri saja lutut cenut-cenut, kamu juga gitu enggak Mad?” tanya Abah kepada adik iparnya, suami dari bulik San.
“Biasa Kang, kadang tangan suka nyut-nyutan saat mengangkat sesuatu,” jawab Om Jamad memijat tangannya.
Terhitung empat menit, Abah masuk ke dalam. Tiba-tiba saja Atan keluar dengan wajah yang rendum. Dadanya juga naik turun. Dengan suara bergetar, ia berucap,”Nenek sudah tidak ada....”
Ali terenyak mendengar ucapan kakak iparnya. Seluruh orang yang ada diruang tamu terkejut. “Inalilahi wa innailaihi rujiun!”
“Emakkk ....” Ibu langsung berlari membawa tangisannya ke dalam kamar.
Sebagian cucu menantu nenek, menangis memanggil nama nenek. Sebagian yang lain keluar untuk memberikan kabar kepada para pengurus pondok dan santri.
Lantas dimana cucu kesayangan nenek? Mengapa tidak terlihat.
Di bagian dapur sosok perempuan baru saja berdiri dari duduknya. Untuk mengambil air dilemari pending.
Namun telinganya mendengar kegaduhan dan tangisan saling bersahutan. Menggiring perasaan tidak enak dalam hati.
“Mbah buyut jangan mati....” teriakan seorang anak SD terdengar di telinga Meisya.
Disaat yang bersamaan Ali yang baru saja sampai di ambang pintu dapur. Langsung berlari kearah istrinya yang berpegang pintu kulkas, dalam keadaan tak bertenaga.
“Istri...!” Ali memegang tubuh Meisya.
__ADS_1
“Nenek hiks ... kembalikan Nenekku...” tangisnya seketika pecah.
“Nenek ... kenapa, menilap Mei!” teriak Meisya menyesal karena di detik-detik terakhir. Sang nenek ia tidak berada di sampingnya.
Ali berusaha menenangkan istrinya, lelaki itu memeluk tubuh istrinya erat.
“Nenek sudah tenang ....Nenek tidak merasakan sakit lagi. Istighfar ... Astagfirullah hal adzim!” kata Ali berusaha membuat istrinya sadar.
Tidak ada yang salah dengan air mata yang menetes atas kepergian seseorang. Akan tetapi upaya menempatkan hati untuk ikhlas saat kehilangan sebuah anjuran.
“NENEK....” teriak Meisya kencang.
Ali terpukul dengan kesedihan yang istrinya rasakan. Dengan posisi yang masih memeluk erat tubuh istrinya. Ia mencium kepala istrinya, seraya bergumam. “Astagfirullah ... Astagfirullah hal adzim....” ucapannya kini diikuti oleh istrinya.
“Aku sudah enggak punya nenek lagi Bib ...hiks....”ujar Meisya menyembunyikan wajahnya di dada sang suami.
Ali terdiam, apa yang bisa dikatakannya. Kepada seseorang yang kehilangan. Rasanya tidak masuk akal, jika menyuruhnya sabar.
“Minum dulu.”
Lelaki itu menyingkap celah niqab istrinya, agar sedotan bisa sampai dibibir.
Setelah Meisya tenang, Ali menuntun istrinya ke luar dapur. Ia juga merasakan genggaman tangan Meisya begitu kuat. Terlihat jika sang istri butuh transferan energi darinya.
Sadari keluar dari dapur, Meisya berusaha menahan tangisnya. Namun ketika langkahnya ada di depan pintu kamar nenek. Kakinya kaku, jika mengingat nenek telah pergi.
“NENEK....” Semua orang mendengar teriakkan Meisya, menoleh ke sumber suara.
Ali kesulitan saat tiba-tiba, tubuh istrinya melemas.
“Mei...!” teriak Arsa saat melihat tubuh adiknya akan tumbang.
Secepat kilat Arsa berlari kearah adik iparnya, yang tampak kuwalahan. Menangani orang pingsan.
“Bawa ke kamar saja,” saran Arsa memegangi pundak Meisya.
Ali mengangguk dan segera membopong tubuh istrinya.
“Di kamarku saja Li!” lanjut Arsa meneriaki Ali dari belakang.
Ali terlihat ragu, akan tetapi saat istri Arsa mengangguk sebagai bentuk persetujuan. Ia pun mantap membawa Meisya ke kamar Arsa.
TBC...
__ADS_1