
Teriakan seorang lelaki yang berdiri di ambang pintu dapur, membuat gadis itu terkejut.
Dari sorot mata suaminya, Wan Aina bisa mengartikan jika Ali geram padanya.
Perlahan Meisya membalikkan badannya. Tatkala mendengar teriakkan itu.
Meisya menatap Ali dengan alis yang bertaut dibalik niqab. Perempuan itu kini menatap Wan Aina, yang menunduk sambil meremas jari-jemarinya.
“Ada apa? Kenapa kau berteriak Bib? Dan bukankah kamu sedang ziarah di makam ibu?” Sejenak Meisya lupa, dengan perkataan Wan Aina padanya.
Ali terdiam membisu, setelah kepergian Meisya dari pemakaman. Ia teringat, jika istri pertamanya tidak akan tinggal diam. Saat melihat dirinya terluka, meskipun lukanya hanya kecil. Meisya akan terus mencari tahu, hingga menemukan sebabnya.
'Istri aku tahu kau akan menayangkan hal ini pada Aina. Untunglah aku segera mengejar mobilmu. Jika tidak...' batinnya menatap tajam Wan Aina.
Berminggu-minggu lamanya lelaki itu tinggal dengan Wan Aina.
Sepertinya mulai paham dengan karakter gadis muda itu. Yang ceplas-ceplos. Apalagi saat tersulut emosi.
Itu jauh lebih akut.
Meisya bingung kenapa semuanya diam. Akan tetapi melihat sorot mata Ali, tertuju kepada Wan Aina. Mampu mengingatkannya akan perkataan Wan Aina sebelumnya.
'Aina mengatakan, jika apa yang terjadi pada Habib, adalah salahku. Sebenarnya apa yang terjadi, mengapa bibirnya luka' batin Meisya menatap Ali dengan nanar.
“Apa benar luka disudut bibirmu itu karenaku?” tanya Meisya pelan.
Wajah Ali terlihat datar tak berekspresi. Akan tetapi hal itu, memiliki makna tersendiri. Dari pandangan Wan Aina yang sekilas melirik suaminya.
Gadis itu berusaha mencari cara agar Ali tak memarahinya.
'Ya Tuhan! Tolonglah aku, bagaimana pun caranya aku harus mendapatkan ide, untuk keluar dari permasalahan ini' batin Wan Aina gelisah, ia meremas ujung bajunya.
“Aina tolong jelaskan padaku! Katakan yang sejujurnya, biar aku tahu alasan dibalik sudut bibirnya yang robek,” ucap Meisya menatap mereka berdua bergantian.
“E-e itu! Se-sebenarnya, Em-mas Ali, membuatkan sesuatu untuk Mbak Meisya!” Gadis itu menjawab terbata-bata, mengulum senyumannya dengan paksa.
Namun tak bisa dipungkiri, jika batinnya masih kesal pada Ali. Lelaki itu seolah berusaha menutupi pertengkaran yang terjadi tadi siang, di ruang tamu.
Menurut Wan Aina semua itu terjadi karena Meisya. Namun bagi Ali berbeda, pertengkaran terjadi adanya permasalahan dimasa lalu. Yang tak menemukan titik temu. Karena waktunya berdekatan dengan pernikahan keduanya, hal ini seolah-olah. Pertengkaran yang terjadi antara Ali dan ayahnya, disebabkan karena Meisya yang tak bisa memberikan keturunan.
__ADS_1
Ali terkesiap mendengar jawaban Wan Aina.
Permasalahan apalagi yang akan dibuat oleh gadis ceroboh itu.
“Benarkan Mas?” tanya Wan Aina melirik kearah Ali.
Akan tetapi dari nada bicaranya. Ada hal tersirat yang bisa lelaki itu tangkap. Gadis ceroboh itu seakan mengatakan.
Jika Ali lebih memedulikan perasaan istri pertamanya saja
Melihat Ali bergeming, hal ini mampu mengembalikan rasa curiga yang sejenak menghilang, dibena Meisya.
“Baiklah tunggu sebentar,” ujar Wan Aina berlari keluar dapur.
Saat langkahnya melewati Ali, gadis itu menatap sejenak. Disaat yang bersamaan Ali juga menatapnya.
Tatapan kedua memiliki arti tersendiri. Wan Aina segera berlari, menaiki anak tangga satu persatu.
Kini gadis itu berdiri di depan laci yang berada di sisi ranjang. Wan Aina segera membuka laci. Dan mengambil sebuah benda kecil berwarna pink.
“Hal paling berat sering terjadi. Ketika kita diminta melepaskan, sesuatu yang telah kita miliki!” gumam Wan Aina pelan, menggenggam benda itu kuat.
...***...
Dilantai bawah sepasang suami-istri itu, tampak tidak terlibat percakapan. Ali terlihat gelisah, tak mengalihkan pandangannya dari tangga.
Lelaki itu seolah tidak sabar menunggu kemunculan Wan Aina. Hingga tak menyadari jika Meisya, sadari tadi memperhatikannya.
Suara alas kaki menuruni anak tangga, menghilangkan keheningan yang sempat terjadi.
Hal ini mampu membuat Ali yang tadi sempat menunduk, seketika mendongak. Dilihatnya Wan Aina menuruni anak tangga, menyembunyikan kedua tangannya di belakang.
'Apa yang akan terjadi? Jika istri meminta hadiah yang tadi Aina katakan, bahkan aku tidak menyiapkan sesuatu yang istimewa untuknya' batin Ali melirik kearah Meisya.
“Aina kau benar-benar membuatku dalam masalah!” gumam Ali menunduk.
Seketika Wan Aina menghentikan langkahnya. Tepat di depan suaminya. Ketika telinganya tak sengaja mendengar suaminya menggumam.
Manik mata Wan Aina, memancarkan kekecewaan yang mendalam pada Ali.
__ADS_1
Hal ini tentu membuat Ali yang baru mengangkat kepalanya, merasa bersalah. Ketika tahu jika istri mudanya berdiri di depannya.
Gadis itu berlari, meninggalkan suaminya.
“Tara!” seru Wan Aina memperlihatkan sebuah gelang tali yang tadi sempat disembunyikan di tangannya.
Meisya menutup mulutnya yang tertutup niqab. Perempuan itu tidak percaya dengan hadiah yang ada di tangan Wan Aina.
“Gelang?” tanya Meisya memegang gelang tali yang masih dipegang Wan Aina.
Gadis itu mengangguk dan tersenyum lebar. Tidak dengan hatinya, yang berat. Memberikan gelang buatannya sendiri kepada orang lain.
Lima langkah dari tempat kedua wanita itu berdiri, seorang Ali terkejut.
Ketika Wan Aina memberikan barang pribadi untuk Meisya.
Ali tahu bagaimana perjuangan istri mudanya, membuat gelang tali itu. Wan Aina membuat gelang itu. Supaya bisa menemaninya bergadang karena harus menyelesaikan pekerjaan kantor. Lelaki itu mengusap wajahnya kasar, dia benar-benar merasa bersalah kepada istri mudanya. Yang rela memberikan barang berharganya, kepada Meisya. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.
“Tunggu dulu, memang ada sangkut pautnya gelang ini.” Mengacungkan gelang tali kearah Ali. “Dengan bibirmu yang robek. Terus kenapa dari tadi kamu gelisah Bib?” tanya Meisya.
Wan Aina yang memunggungi suaminya, itu menunduk. Ia ingin tahu. Sejauh mana Ali bisa menutupi kebohongan yang berlangsung detik ini juga, dari Meisya.
Tiga detik tidak ada jawaban dari Ali. Membuat Wan Aina, membalikkan badannya. Terlihat jelas jika Ali berusaha mencari ide. Akan tetapi, tampaknya sang suami tidak berbakat dalam kasus bersilat lidah.
“Tentu saja ada Mbak! Sebenarnya saat Mas Ali, ingin menempelkan hiasan hati di gelang, hiasannya jatuh. Mas Ali yang terlalu bersemangat untuk segera menyelesaikan karyanya. Dia terburu-buru mengambil hiasan yang terjatuh di lantai. Hingga tak menyadari, jika ada meja di depannya. Alhasil sudut bibirnya robek karena terbentur siku meja kaca. Mbak tahu sendirilah siku meja diruang tamu tajam!” jelas Wan Aina panjang yang membuat Meisya mengangguk.
Tidak dengan Ali, lelaki itu tidak tahu harus bangga atau marah. Mendapati istri mudanya, gampang mengada-ngada cerita yang tidak pernah terjadi.
“Tapi kenapa dia gelisah?”
Wan Aina mengela nafas berat, apa hari ini dia harus menjadi pembohong profesional untuk menyelamatkan dirinya dan suaminya.
“Pikir saja, Mbak! Jika seseorang ingin memberikan sebuah kejutan untuk orang yang dicintainya. Namun tiba-tiba temannya yang usil menggagalkan usahanya, pasti si empu gelisah! Nah itulah yang menggambarkan keadan Mas Ali sekarang. Saat dengar aku mengatakan. Robeknya bibir Mas Ali terjadi karena Mbak Meisya! Dia seperti marah dan bahkan suaranya terdengar menakutkan,” sindir Wan Aina di akhir kalimat. Mampu membuat lelaki itu salah tingkah.
Wan Aina memalingkan wajahnya saat tahu jika suaminya menatapnya dari jarak lima langkah. Sekuat tenaga gadis itu menahan tangisannya agar tidak pecah.
“Apa kau juga membuatkannya?”
TBC....
__ADS_1