
Tak terasa waktu telah berlalu. Namun Ali belum juga bisa bertemu dengan Aprit. Malam itu ia duduk di kursi penumpang. Membawa rasa putus asa, seraya menatap luaran.
“Apa kau menghindariku? Mengapa saat saya ke rumah singgah kau tidak ada?” gumamnya memejamkan matanya. Mengusap rambutnya kasar. Malam itu ia tampak kehilangan harapan.
“Berhenti di sini Pak!” pintanya membuat sopir berhenti. Ia pun lekas keluar. Menarik nafas panjang menatap jalanan yang dipenuhi oleh kesadaran. Matanya memicing ketika, mendapati sosok remaja tanggung sedang menyebrangi jalan.
“Apa itu benar dirinya?” gumamnya meyakinkan dirinya sendiri. Ketika melihat remaja tanggung yang selama ini ia cari.
Matanya membulat sempurna, ketika mendapati motor matic melaju cepat dari belakang remaja tanggung itu.
“APRIT... AWAS!” teriaknya membuat anak remaja tanggung itu menoleh kearahnya.
Reng! Kejadian secepat kilat itu membuat Ali, tertegun sejenak. Ketika tubuh Aprit terserempet motor. Membuat tubuh kurus itu jatuh terguling. Ia pun lantas berlari dengan jantung yang berdetak kencang. Keringat dingin membasahi dahinya. Wajahnya tampak khawatir.
“Aprit!” ujarnya mengangkat kepala remaja tanggung itu. Seraya menepuk pipi pelan. Melihat si empu memejamkan mata, tak sadarkan diri. Ali pun lantas berteriak meminta tolong.
Tak mendapati satupun orang yang ingin menolong. Ia berusaha memapah Aprit untuk berdiri, dan dengan gerakan cepat ia membungkukkan badannya di depan Aprit. Dan menggendongnya dipunggung.
“Kau bertahan!” gumamnya melirik wajah Aprit yang bersandar di bahunya.
Langkahnya terus berjalan, tak peduli dengan rasa lelah dan berat. Malam itu ia harus mencari rumah sakit terdekat. Namun tiba-tiba saja hujan turun, membuatnya mempercepat langkahnya. Setelah sepuluh menit berjalan ia bisa mendapatkan rumah sakit diseberang jalan.
“TOLONG ... SUSTER TOLONG SAYA,” teriaknya ketika masuk ke dalam rumah sakit. Membuat perawat berlari kearahnya seraya mendorong brankar.
“Letakan disini Mas!”
Ali lekas mendudukkan tubuh Aprit di brankar dengan bantuan perawat. Kemudian membaringkan tubuh kurus itu dan didorong ke UGD.
Ali hanya bisa menatap dokter menangani Aprit dari balik kaca. Wajahnya terlihat gusar. Dan terus berdoa untuk keselamatan remaja tanggung itu.
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya dokter keluar.
“Bagaimana keadaannya Dok?”
“Tidak ada yang serius, dia hanya shock saja. Jadi jangan khawatir,” jelas dokter itu membuat Ali bernafas lega.
Ali pun lantas masuk ke ruangan, menatap wajah Aprit yang pucat belum sadarkan diri. Ia mengelus kening remaja tanggung itu. Menatapnya penuh sayang.
__ADS_1
“Kakak harap kamu segera sadar!” ujarnya mencium kening remaja tanggung itu. Dan memutuskan untuk duduk di samping ranjang Aprit.
Waktu terus berlalu, jam dinding menunjukkan pukul setengah lima. Ali mulai mengerjap-ngjapkan matanya. Dilihatnya Aprit masih juga memejamkan matanya. Belum sadarkan diri. Hal itu membuat ia khawatir dan menemui dokter yang tadi malam menangani Aprit.
Namun sebelum itu, ponselnya berbunyi nyaring. Membuatnya mengumpat.
“Iya ada Apa?”
“Lu sudah siap berangkat ke kantor agama kan?” tanya seseorang dari sambungan telepon. Membuatnya menepuk dahi. Ia lupa jika hari ini sidang ikrar talak dengan Wan Aina.
Ali terdiam bagaimana dengan Aprit, jika ia pergi.
“Nanti saya ke sana....” Mematikan sambungan telepon. Dan mulai menghubungi seseorang.
“Saya butuh bantuan! Hari ini sidang ikrar, tapi April sedang dirawat di RS. Kamu bisa ke sini?” tanyanya.
“Oke saya tunggu!”
Setelah hampir lima menit, orang yang ada di dalam telepon datang. Membuatnya langsung meminta kunci mobil dan berlari keluar. Sebelum ke pengadilan ia memutuskan pulang ke kos dan berganti baju.
Jam sepuluh ia baru keluar dari pengadilan agama. Wan Aina lagi-lagi tak datang. Namun ia tak peduli dengan hal itu. Sebab yang terpenting saat ini adalah keadaan Aprit. Ia langsung menjalankan mobil kearah rumah sakit.
“Apa dia sudah sadar?” tanyanya memandang wajah Aprit dan Nazel bergantian.
“Sepuluh menit, Anda keluar dia sadar.”
Nazel pun mulai menceritakan semuanya. Awal pertama Aprit membuka mata, dan bertanya dimana dia sekarang. Dan siapa kau? Bukankah sebelum aku sadarkan diri, aku melihat kak Ali yang meneriaki aku ditepi jalan? Lantas dimana kak Ali. Hingga kembali tidur, setelah makan.
“Makasih Zel!” ujar Ali menepuk pundak Nazel.
“Saya ingin, Abang mengetahui sesuatu!” ujar Nazel memutarkan sebuah rekaman.
“Tuhan! Bagaimana seandainya jika Ali tahu, jika aku yang memprofokasi Meisya untuk memperbolehkan Ali menikah lagi. Aku telah banyak menyakiti hati putraku, lantas bagaimana aku bisa memperbaiki semua.....” Nazel mematikan ponselnya.
Wajah Ali mengeras, ia ingin marah dengan ayahnya. Setelah tahu, ternyata dalang di balik kehidupannya adalah ayahnya sendiri. Sekuat tenaga Ali berusaha menahan amarahnya.
Tak disadari dari keduanya, rekaman itu juga didengar oleh remaja yang terbaring di ranjang.
__ADS_1
“Kau dapat itu dari mana Zel?” tanyanya lemas.
“Waktu itu saya ingin masuk ke ruangan Bapak! Akan tetapi sebelum itu terjadi saya mendengar beliau berteriak keras, entah marah atau penyesalan! Saya tidak tahu pasti! Jujur saya tak sengaja merekamnya, saya berpikir ini berguna untuk Abang. Maaf jika saya lancang!” Menunduk dalam.
Ali menarik nafas dalam-dalam. Berusaha sabar, menskipun susah. Namun ketika ia mendengar orang merintih, ia menajamkan penglihatannya ke arah ranjang.
“Prit! Kau bangun?” ujarnya mendekati Aprit. Membatu remaja tanggung itu, duduk.
“Bagaimama kabarmu? Kakak minta maaf atas ucapan kakak dulu!” ujarnya menatap manik Aprit penuh penyesalan.
Remaja tanggung itu hanya diam. Ia tidak mendengar, suara direkaman tadi. Beberapa detik dan berkata, “Terima kasih!”
Ali mengerutkan keningnya heran.
“Untuk Apa?”
“Telah menyelamatkan!”
Ruang hening sejenak. Sebelum akhirnya Ali mengatakan sesuatu.
“Prit, boleh Kakak mengatakan sesuatu?” tanyanya berusaha mengambil keputusan cepat.
Aprit mengerutkan keningnya, melirik kearah Nazel yang menatapnya. Membuatnya salah tingkah. Dan memandang Ali, seraya mengangguk.
“Kakak mau bicara terus terang sama kamu. Kakak tau mungkin ini salah, tapi Kakak butuh ke jelasan. Dan ini juga baik untukmu, dan hubungan kita. Kakak ingin tanya sekali lagi. Kamu mau enggak, jadi putraku?”
“Aku tidak memaksamu. Jika kamu menolak, aku tidak akan marah. Kita masih bisa berteman. Aprit juga enggak perlu menghindari Kakak lagi. Yang membuatmu, harus kehilangan pekerjaan. Rasanya itu terlalu menyakitkan.” Menarik nafas sejenak, dan melanjutkan lagi. “Kakak ingin kamu dewasa dan bijaksana. Pikirkanlah masa depanmu....”
Aprit menarik nafas sejenak, sekali lagi ia menatap mimik Ali. Lelaki yang baik, menyenangkan dan perhatian. Yang berhasil membuatnya penasaran. Mengapa selalu duduk di kursi 07 saat ia nanggung.
“Thank you, for everything you have given me. Affection, care and comfort as a friend and son. And yes... I want to be with kak Ali!”
Mata Ali melebar ketika mendengar jawaban, mengharukan dari Aprit. Ia pun lantas memeluk Aprit dengan penuh kebahagiaan. Tak Terasa air mata jatuh membasahi pipinya. Ia mulai melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Aprit yang tersenyum simpul kerahnya. Melihat hal Nazel hanya mampu tersenyum penuh haru.
“Terima kasih!” ucapannya mengelus kepala Aprit dan menghujani kecupan sayangnya seorang ayah kepada anaknya.
...TAMAT!.
__ADS_1
...