Kau Rela Ku Lepas

Kau Rela Ku Lepas
Ch13 : Goda


__ADS_3

“KENAPA? Kenapa aku tidak boleh melakukan kewajibanku sebagai seorang istri?” Wan Aina berteriak, meluapkan segala kekesalannya kepada suaminya. Setiap ia ingin membantu, Ali selalu menolak.


Lelaki yang tadi melepaskan kancing kemejanya, seketika menghentikan aktivitasnya membuka kancing. Ia tak menyangka jika istrinya akan marah-marah seperti saat ini.


“Apa Mas Ali hanya ingin mbak Meisya saja, yang menepati surga? Hah?” tuduh Wan Aina, menatap wajah suaminya dengan berani.


Ali terbelalak tak percaya mendengar tuduhan Wan Aina kepadanya. Entah setan apa yang merasuki istrinya sekarang hingga berani, membentaknya.


“Ya kan, istilah dia adalah perempuan yang kau cintai hiks.” Wan Aina kembali berucap dengan deraian air mata.


Lelaki itu mengusap wajahnya kasar, rasanya ingin berteriak. Karena kelakuan Wan Aina, yang terbilang melampaui batas. Akan tetapi ia memilih menahan diri untuk tidak memarahi istrinya. Rasa lelah seharian bekerja, belum juga hilang. Namun mengapa istri mudanya malah menambah bebannya.


Ali memijit pelipisnya, ketika Wan Aina kembali sesenggukan.


Pikirannya benar-benar penat.


“Apa yang kau inginkan?” tanyanya dengan nada datar, mampu membuat Wan Aina diam seketika.


“Kau hanya ingin melakukan tugasmu sebagai istri kan? Lakukan! Ayo bantu saya melepaskan kancing kemeja saya, kebetulan masih dua!” ujarnya melangkahkan kakinya mendekat kearah Wan Aina, sontak gadis itu mundur ketakutan.

__ADS_1


Lima tahun mengarungi bahtera rumah tangga dengan Meisya, sekalipun ia tak pernah. Meminta istrinya untuk menyiapkan baju, air, hal-hal kecil seperti itu. Ia lakukan sendiri, karena ia tahu. Jika pekerjaan seorang istri juga tak kalah banyak.


Melihat Ali terus melangkah kearahnya, Wan Aina jadi takut. Gadis itu terus mundur hingga tak menyadari, jika beberapa centi saja. Punggungnya akan menatap tembok.


Wan Aina tertegun mendapati punggungnya tertatap tembok. Ia ingin segera melarikan diri. Namun Ali lebih dulu menghadangnya dengan gerakan tangan, yang bertumpu pada tembok. Gadis itu hanya mampu menelan ludahnya dengan kasar, saat suaminya mengungkung tubuhnya.


“Ayo sekarang bantu saya melepaskan baju!” pinta Ali, membuat nyali Wan Aina menciut. Nafas gadis itu memburu ketika tak sengaja melihat dada bidang suaminya.


Melihat mimik wajah Wan Aina ketakutan dicampur canggung, entah mengapa Ali jadi ingin menggoda. Bocah satu itu.


Tangan Ali yang tadi bertumpu pada tembok, kini memegang pergelangan tangan Wan Aina. Ia bahkan bisa merasakan dinginnya tangan Wan Aina.


Namun hal itu, justru membuatnya semakin ingin menggoda. Dan menuntun tangan Wan Aina untuk menyentuh dadanya.


Sekuat tenaga Wan Ain berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Ali, yang sedang mengarahkan tangannya untuk meraba dada.


“Aku enggak mau!” teriak Wan Aina yang tadinya marah menjadi kesal karena ulah jail suaminya.


“Ya sudah kalau begitu bantu saya melepaskan kancing dong,” bisik Ali yang membuat Wan Aina meremang.

__ADS_1


Sekuat tenaga Wan Aina mendorong tubuh suaminya, agar menjauh darinya. Namun nyatanya itu semua sia-sia. Ali justru semakin mengikis jarak dengannya.


“MAS ALI!” Wan Ain memekik ketika dadanya dan dada milik suaminya sedikit lagi menempel.


“Saya masih menunggu loh. Kancing kemeja saya dilepaskan olehmu....” goda Ali, membuat Wan Aina menggeleng menutup kedua telinganya.


Seolah keramat bagi telinganya, mendengar suara Ali seperti barusan.


“Setelah itu bantu juga untuk membukakan—“ Belum sempat Ali meneruskan ucapannya, Wan Aina berteriak, “Aku enggak dengar! Mas Ali MESUM!”


Lelaki kembali mengerutkan keningnya karena ucapan Wan Aina, padahal ia hanya ingin mengatakan agar Wan Aina membukakan pintu kamar mandi untuknya. Akan tetapi, lawan bicaranya itu justru menangkap perkataannya dengan keliru.


Wan Aina memukul dada Ali keras. Agar bisa keluar dari kungkungan menyiksa kala itu.


Ali meringis memegangi dadanya. Membuat tangkapannya lepas.


Lelaki itu bisa melihat, Wan Aina berlari terbirit-birit keluar kamar.


“Huft, dasar bocah! Tadi sok ingin bantu melepaskan kancing kemeja, baru didekati sedikit saja sudah menciut,” Ali geleng-geleng kepala karena tingkah Wan Aina.

__ADS_1


“Syukurlah aku tidak perlu repot-repot membuat alasan, untuk tidak menggaulinya!” ujarnya masuk ke dalam kamar mandi.


TBC...


__ADS_2