Kau Rela Ku Lepas

Kau Rela Ku Lepas
Ch43 : Akhir Yang Tersirat


__ADS_3

Terhitung sudah delapan Minggu, pasca kecelakaan. Namun Ali masih saja menggunakan gendongan tangan. Entah memang masih sakit. Atau justru ada alasan dibalik semua itu.


“Aina, boleh saya bertanya sesuatu?” tanya meletakkan sendok makan dipiring.


“Apa?” jawab Wan Aina menegakkan kepalanya, setelah tadi fokus pada piring sarapannya.


“Mas, ingin tahu alasan kamu. Menerima Mas sebagai suamimu. Istilah kamu bisa mendapatkan yang lebih dari Mas!” Menenggak air sejenak, sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya, “Emmm .... lebih tampan, atau justru lebih muda. Ya istilahnya sefrekuensi, dan juga tidak perlu berbagi cinta malahan.”


Wan Aina menarik nafas, mendengar pertanyaan suaminya. Gadis itu melipat kedua tangannya diatas meja, menunduk lesu.


Melihat hal itu, Ali jadi teringat kejadian seminggu yang lalu. Percekcokan yang terjadi antara dirinya dengan Meisya, berakhir damai.


Meskipun tidak bisa dipungkiri. Kala itu hatinya masih kesal, karena istri pertamanya lebih mengindahkan perkataan orang lain. Ketimbang dirinya selaku suami.


“Aina....” Ali menatap istrinya yang duduk berseberangan dengannya.


“Apa aku harus menjawab?” jawaba Wan Aina pelan.


Ali mengangguk pelan, dia bersyukur. Jika istri mudanya berterus terang padanya. Sebab dengan itu, mungkin akan ada titik terang. Untuk hubungan rumah tangganya dengan kedua istrinya.


“Aina ...Mas ingin memiliki istri yang mau berterus terang. Sebab dengan saling terbuka kehidupan akan jauh lebih baik. Karena kita bisa menyelesaikan permasalahan bersama-sama,” pintanya yang mampu mengingatkan ia, akan visi misi yang dulu ia buat dengan Meisya.


Namun sang istri justru melanggarnya.


'Apa artinya visi misi yang kita buat dulu istri. Disana tertulis, kita harus saling terbuka satu sama lainnya. Namun kau ... hingga saat ini. Kau tidak jujur padaku, siapa dalang di balik keputusan gilamu itu' batinnya, tampak belum bisa memaafkan kesalahan yang Meisya perbuat.


Meskipun hubungan keduanya baik-baik saja.


Wan Aina yang tak sengaja melirik tangan suaminya yang mengepal, dia jadi ketakutan sendiri.


‘Apa aku harus jujur, apa dia akan memarahiku. Kalau aku diam. Aku harus bagaimana Tuhan?' batinnya menutup wajahnya dengan kedua tangan.


“Aina, kenapa diam?” Ali kembali bersuara membuat Wan Aina menurunkan tangan yang dipergunakan menutup wajahnya.


“Memangnya, apa yang Mas Ali dapat, jika Aina bicara yang sejujurnya?” tanyanya ragu, gadis itu memainkan kedua jari kukunya diatas meja.


Alis kanan Ali naik, mengisyaratkan jika ia terkejut dengan pernyataan istri mudanya. Bukannya ia sudah memberikan penjelasan, tentang pentingnya keterbukaan.

__ADS_1


“Bukan saya yang mendapatkan. Akan tetapi kamu, yang mendapat predikat sebagai istri teladan. Sebab kau mau menuruti permintaan suamimu,” jelasnya asal.


Ternyata dari tadi Wan Aina tidak benar-benar mendengarkan ucapannya.


Wan Aina mengangguk kecil, jawaban suaminya sangat memberikan validasi padanya.


Ali melirik jam dinding menunjukkan pukul setengah tujuh. Ia menarik nafas panjang, dan berkata, “Ayo katakan, jangan diam saja.”


Wan Aina menarik nafas dalam-dalam, sebelum akhirnya. Memutuskan untuk terbuka kepada suaminya.


“Sebenarnya ... semua itu terjadi karena ayah memiliki banyak hutang....”


“Ayah senang berjudi ... setiap kali ia menang ...maka semakin banyak uang yang ia pertaruhkan. Ayah berpikir bahwa dewa Fortuna akan terus berpihak padanya. Namun semua itu hanya ilusinya saja hiks....”


Ali melotot tidak percaya dengan cerita istrinya. Lelaki itu memegang tangan istrinya erat.


“ Hingga pada, suatu ketika. Ada seseorang datang ke rumah, kala itu aku sedang di dapur.” Wan Aina mengusap air matanya dengan satu tangan. Dan tak melepaskan tangan satunya yang menyatu dengan milik suaminya.


“Mereka berteriak menagih hutang. Jika hari itu kita tidak bisa melunasi hutang kita, maka kita harus pergi meninggalkan rumah berserta sertifikatnya.”


“Ayah meminta waktu sehari lagi untuk bisa melunasi hutang-hutangnya.” Mata Wan Aina memerah, nafasnya memburu. Gadis itu berdiri dari duduknya dan memukul meja keras, seraya berkata, “Omong kosong ... bagaimana caranya bisa mendapatkan uang ratusan juta. Dalam sehari semalam....”


Ali tertegun melihat amarah istri mudanya berbeda dari biasanya.


“Mas Ali kau tahu, jika ayahku membenciku hiks!” Gadis itu kembali mengusap air matanya dengan lengan.


Melihat hal itu Ali langsung berdiri mengitari meja, mendekap tubuh istrinya supaya tenang.


“Dia selalu bilang, aku ini anak pembawa sial. Ibuku mati ketika melahirkan aku. Ketika umur tujuh tahun, aku hampir diserempet mobil. Tapi aku selamat, karena kakakku menyelamatkan diriku. Meski nyawanya yang menjadi taruhannya.”


“Mas apa aku seburuk itu? Apa aku benar-benar pembawa sial dalam kehidupan orang lain?” Mendongak menatap suaminya dengan air mata yang mengalir deras.


Ali menggeleng, tak kuasa melihat istrinya menangis. Hal ini mampu membuatnya semakin merasa bersalah, karena sering kali membuat Wan Aina marah. Entah karena pure kesalahannya atau hanya salah pemahaman.


Gadis itu menenggelamkan kepalanya di bahu suaminya. Yang membuat suaminya mengelus kepalanya dengan lembut.


Setelah tiga detik diam, Wan Aina memutuskan untuk kembali bercerita.

__ADS_1


“Setelah kepergian dua orang penagih hutang itu. Ayah keluar tidak tahu kemana, namun saat ia kembali. wajahnya begitu semringah. Melihat hal itu aku lantas bertanya. Ayah kenapa bahagia.”


“Dia tertawa, sambil memberikan selembar kertas. Itulah kali pertama aku melihat wajahmu.”


Tidak perlu diceritakan lagi, Ali sudah tahu alur ceritanya. Lelaki itu memejamkan matanya menahan amarah. Atas ketidakadilan yang terjadi pada Wan Aina.


“Aku ingat bagaimana ayah mengatakan. Jika aku akan menikah dengan lelaki yang ada di foto itu. Sebab ada seseorang yang mau melunasi hutang ayahku dengan cara aku mau menikah denganmu dan segera memberikan keturunan....”


Entah mengapa dalam hati Ali membenci pikiran picik Brahmanta. Dia yakin seseorang yang mau melunasi hutang ayahnya Wan Aina adalah ayah kandungnya sendiri.


'Bagaimana ayahku bisa kenal dengan ayahnya Aina yang penjudi itu.’ Batinnya murka.


“Bahkan aku baru tahu, sejam sebelum menikah, jika aku akan dijadikan yang kedua....” tambahnya menangis histeris.


Membuat Ali menepuk pundaknya pelan.


“Aina, Mas tanya kamu bahagia enggak nikah sama Mas. Jujur....” Ali melerai pelukannya, lelaki itu mengusap air mata istrinya dengan lembut.


Wan Aina mengangguk kecil.


“Benar?”


“Aina bahagia, mendapatkan suami seperti Masnya!”


“Tapi pernikahannya dilandasi oleh keterpaksaan loh. Bukannya saya sering marah sama kamu?” tanyanya lagi.


“Aina tidak menyesal akan pernikahan yang terpaksa ini. Namun aku menyayangkan keadaannya.”


Jawaban Wan Aina membuat Ali memantapkan keputusan yang akan ia ambil ke depannya.


“Aina apa kau bisa merasakan cinta dari saya?” tanyanya memegang dagu istrinya.


Gadis itu mendongak menatapnya. Dan menganggukkan pelan.


“Kau memang milikku yang harus tetapku jaga....” Ali memberikan ciuman manis di kedua pipi istrinya.


TBC....

__ADS_1


__ADS_2