
Sudah seminggu lamanya, ia tinggal di kos-kosan. Bagi Ali, ini bukan hal yang pertama. Sebab pasca SMA, ia kabur dari rumah ayahnya. Pergi ke pelosok Jawa, dengan cara nebeng truk satu ke satunya. Namun tak lama tinggal di Semarang, menjadi buruh kuli ngaduk semen. Ayahnya bisa menemukannya, dan ia diajak kembali ke Jakarta untuk meneruskan kuliahnya.
Kala itu Ali memberikan sarat pada ayahnya. Yang harus dilakukan. Yakni menguliahkan dirinya di luar negeri, sebab ia tak sudi. Tinggal dengan ibu tirinya.
Ponselnya berdering, membuat lelaki yang baru saja menunaikan sholatnya. Langsung berdiri dan menjawab teleponnya.
“Apa Ren?” tanya duduk di kasur tipis nan kecil.
Jujur saja sehari menepati kasur pribadinya, badannya sakit-sakit. Mungkin karena tidak biasa. Namun lama kelamaan semua jadi nyaman-nyaman saja.
“Jadwal sidang perceraian, sama Meisya dua Minggu lagi,” info Irene lewat sambungan telepon.
“Tanggal berapa tuh?” Menggaruk rambutnya, ternyata perceraiannya menyita waktu yang cukup lama.
“4 hari Senin!”
“Tanggal 4, saya enggak bisa hadir. Ada survei lapangan di NTT....”
“Lu jangan bohong ...lu mau mangkir kan dari sidang pertama lu. Ya kan ...lu udah enggak sabar jadi duda hahahaha!”
Ali memijit pelipisnya, mendengar tuduhan yang Irene berikan padanya.
“Buang-buang waktu, kalau saya harus duduk dan mendengarkan hakim mendamaikan kedua belah pihak, negosiasi untuk memilih mediator.”
“Buat apa Ren? Jelas-jelas saya ingin cerai. Tapi perlu diingat, saya tidak mangkir tanpa alasan. Memang tanggal 3-5 itu saya ke NTT!”
Mungkinn sudah takdirnya,” sambungnya lagi.
“Lu enggak boleh gitu ... mediasi itu dilakukan untuk memperoleh kesepakatan kedua belah pihak. Siapa tahu, lu sama pihak istri lu mau berdamai. Dan mencabut laporan, Al masalahnya kalau dua kali lu mangkir dari mediasi, yang akan dijadwalkan nanti....”
“Otomatis lu langsung menghadap hakim majelis, untuk sidang lanjutan! Lu pikir-pikir dulu, jangan emosi,” tutur Irene berusaha, bernegosiasi dengan kawannya. Agar mempertahankan pernikahan. Meskipun ia tahu, bagaimana kondisi rumah tangga Ali yang terbilang cukup ruwet.
“Ya bagus dong, sekalian saja lu enggak usah datang. Biar cepat jalannya, langsung pembacaan ikrar talak,” ujarnya menarik nafas sejenak, sebelum melanjutkan ucapannya, “Saya lelah, jika harus berlama-lama berurusan dengan pengadilan. Kerjaan jadi terbengkalai, saya serahkan semua ke kamu Ren. Masalahnya ini bukan cuma satu kasus. Kamu belum mendaftarkan surat perceraian untuk Aina kan?”
Lelaki itu teringat beberapa bulan yang lalu. Sebelum menikah dengan Wan Aina. Ia juga berurusan dengan pengadilan agama, untuk mengajukan permohonan poligami. Tujuannya agar Wan Aina mendapatkan kartu nikah.
Namun takdir berkata lain, belum setengah tahun. Ia kembali berurusan dengan pengadilan agama. Dengan konteks yang hampir sama.
“Belum, gua nunggu lu sidang sama yang ini dulu, baru nanti gua buat surat kedua!”
“Kalau lu enggak bisa hadir, sebagai advokat gua tetap menjalankan tugas gua!” katanya bersungguh-sungguh. Sepertinya Irene tipe wanita ambisius dan miliki ego yang tinggi.
“Terserah Nona advokat, saya akan hadir saat pembacaan ikrar talak saja. Gua tutup mau cari makan!”
Ali langsung keluar dari kamar kosnya, dari atas ia bisa melihat. Beberapa anak remaja, sedang memesan makanan kepada pemilik kos.
Lelaki itu langsung turun dan ikut berbaur dengan teman kosnya, yang umurnya kurang lebih setara dengan Wan Aina.
“Buk saya mie instan pakai cabe, tolor sama nasi!” pesan Ali membuat paruh baya itu mengacungkan jempolnya.
“Duduk sini Mas, bareng kita!” seru lelaki yang ia kenal namanya Jomed.
Ia pun tak bisa menolak, benar apa yang dikatakan Irene. Kos-kosan lebih tepat untuknya yang sendiri, ketimbang kontrakan yang identik dengan ibu-ibu yang memiliki pasangan. Atau bapak-bapak pekerja, dari luar Jakarta.
Mendengarkan lagu, diiringi oleh petikan ukulele dan bunyi meja yang dipikul bersama, membuatnya kadang lupa dengan masalahnya. Ya seperti saat ini, delapan pemuda yang duduk bersamanya. Sedangkan menyanyi, entah apa judulnya lagunya. Ia tidak tahu, namun lirik lagunya menggambarkan keadaan rumah tangganya.
(Armada-Bebaskan Diruku)
__ADS_1
Mendengar liriknya, Ali terlihat emosional. Perasaan sedih, marah, menyayangkan keadaannya. Melebur menjadi satu, hingga tak sadar jika pesanannya telah datang.
“Nih Mas, silahkan dinikmati!” ujar gadis cantik yang kalau tidak salah putrinya ibu kos.
Lelaki itu menjawabi dengan anggukan kepala. Dan gadis itu meninggalkan mereka setelah mengatakan pesanannya.
“Baru keluar kamar, jangan-jangan baru telepon sama calon istri ya Mas?” tanya pemuda berambut cepak.
Ali mengerutkan keningnya, sambil mengunyah. “Calon istri?”
“Iya Mbak-mbak yang waktu itu nganterin Mas Ali pindahan, yang mobilnya warna putih seret biru!” sahut pemuda yang duduk di sampingnya.
Lelaki itu tahu baru paham, maksud dari remaja yang duduk bersamanya malam itu.
“Bukan ... dia dulu teman SMP saya, kita hanya sebatas rekan dan partner kerja saja. Kebetulan dia sedang ngurus kasus saya!” Kembali menyeruput kuah mie yang pedas.
“Ouh ...tak kira cemceman Mas, tapi cocok loh. Mbaknya cantik, Masnya juga gagah.”
Puja puji memang selalu ia dengar akhir-akhir ini. Entah kebetulan atau memang kenyataannya begitu.
“Ah, gagah dari mananya?” sangkalnya memukul pundak orang yang ada di sampingnya.
“Benar Mas!”
“Sudah, makan saja....”
Setelah semua piring kotor dibereskan. Mereka tak langsung pergi ke kamarnya masing-masing.
Terkadang ia ikut bergadang hingga jam sepuluh, agar saat mapan tidur dia tak perlu. Memikirkan nasibnya.
“Rokok Mas!” tawar Jomed menyodorkan rokok kearahnya.
“Enggak bisa rokok atau bagaimana?” sahut Reno.
“Bukan, saya tanya sama kalian. Pertama rokok umur berapa?” tunjuknya kepada mereka semua.
Kebanyakan dari mereka mengatakan saat SMP kelas satu.
“Kalian kalah sama saya! Saya rokok pertama, kata ibu saya saat saya TK!” jujur Ali membuat delapan pemuda yang bersamanya tak percaya.
“Masa sih Mas?”
“Saya awalnya tidak percaya ... tapi ibu saya mengatakan begitu ...dulu Kakek saya dari ibu, orangnya tidak terlalu berpengalaman. Oleh karena itu, saya diajarin rokok diusia yang masih kecil. Dan jika kalian tanya rasanya bagaimana ... saya lupa.”
“Tapi kata ibu saya, saya langsung bisa mengeluarkan asap dari hidung!” pungkasnya membuat salah satu diantara mereka bertepuk tangan.
“Berarti itu untuk terakhir rokok Mas?” tanya pemuda yang duduk di pojokan.
“Bisa dibilang seperti itu ... saya pribadi tidak ingin merokok masalahnya Bro!” jelas Ali.
“Wah ...itu yang hebat. ... bisa rokok tapi enggak mau rokok!”
Pembicaraan itu berlanjut panjang. Hingga akhirnya ada salah satu dari mereka. Mengeluh uangnya habis. Mendengar hal itu Ali hanya diam.
“Gua juga enggak punya, simpan Hung!”
“Apalagi gua, mamak belum TF. Soalnya adik-adik di desa butuh beli seragam,” sahut Jomed.
__ADS_1
Ali memandang wajah Hung yang kelas.
“Uang buat apa Bro?” tanya Ali ingin tahu.
“Begini Mas, besok saya harus buat makalah, uang saya hanya tinggal 200rb. Saya bingung ...ayah belum transfer, terus terang saja ... saya belum bayaran. Sebab baru masuk jadi pelayan Indomaret, tiga Minggu yang lalu,” keluh Hung memegangi kepalanya.
“Terus makalahnya habis berapa?” tanyanya menatap.
“250Mas! Saya butuh 200.000 lagi”
Ali menghela nafas pelan, jujur saja ia belum bisa sepenuhnya. Percaya dengan ucapan pemuda di depannya itu.
Ini nature manusia, sebagai bentuk kewaspadaan terhadap sesuatu yang tidak diinginkan.
“Jujur, saya tidak bisa meminjam uang, sebesar yang tadi kamu ucapan. Saya hanya bisa menjaminkan 50.000!” Ali merogoh saku celananya, disana ia mendapat tiga lembar pecahan.
“Nih 50.000, yang lebihnya kamu bisa buat beli bensin!” katanya menambahkan 30.000.
“Untuk makan, kamu minta saja sama ibu kos, nanti saya yang bayar!”
Hung langsung berdiri dari duduknya dan mencium punggung tangan Ali.
“Makasih, Mas saya janji akan membayar utang saya!”
“Iya tapi enggak usah cium tangan segala. Kamu bukan istri saya,” ujarnya menarik tangannya dari genggaman Hung.
Berhasil membuat beberapa dari mereka tertawa.
“Bu, kalau Hung minta makan kasih saja. Saya yang bayar! Tapi kalau dia ...berdalih maksa nukar, uang makanya dengan rupiah, jangan diberi!” tegasnya berdiri dari duduknya. Membuat semua orang yang ada di sana terdiam.
Ternyata orang baik, tidak melulu mudah percaya. Mereka memiliki cara untuk tidak, dimanfaatkan keadaannya.
Dan itulah yang bisa dilihat dari Ali. Lelaki itu tetap membantu, dengan caranya sendiri. Bukan mengikuti dan menerima, ucapan orang yang meminta bantuannya.
“Hung, jaminan apa yang bisa kau berikan pada saya?” tanyanya memasukkan kedua tangannya di saku celana.
Hung terdiam membisu, tampak berpikir, “ Saya antar Mas, saat berangkat kerja!”
Ali menggeleng, jaminan pertama tidak cocok.
“Kau mengeluarkan tenaga dan finansial, yang berbentuk bensin. Saya pijami kamu uang, agar bisa berangkat kuliah.”
Tujuh pemuda yang ada di sana, sedang melihat jalannya negosiasi antara peminjam dan yang dipinjami.
Alasan Ali negosiasi di depan publik. Tujuannya satu, agar anak muda yang ingin meminjam uang padanya atau pada orang lain. Berpikir terlebih dahulu, sebelum memutuskan untuk meminjam sesuatu.
“Saya cucikan dan setrikain pakai kerja, Mas Ali!”
“Okey deal!” Ali menjabat tangan Hung, dengan senyuman merekah.
Anak muda harus diajarkan tanggung jawab.
“Saya keatas dulu!” pamitnya, melambaikan tangannya. Dan meninggalkan tempat nongkrongnya.
“Gila, Mas Ali benar-benar tegas dan bijaksana banget!” ucap ibu kos, menatap si empu dari belakang.
Membuat Hung dan tujuh pemuda mengangguk serempak.
__ADS_1
TBC...