
Seperti janjinya pulang dari kantor, ia akan pulang ke Kemang, untuk mengambil pakaiannya serta mengurus pembagian harta gono-gini. Dengan kedua istrinya.
Malam itu ketiganya sudah duduk di ruang tamu, ada beberapa dokumen yang tergeletak di meja.
“Jadi seperti yang tertera di perjanjian pranikah. Jika saya bercerai dari Meisya Alqanaah. Maka Mahbub Ali Al-Rasyid akan keluar dari rumah ini. Tidak membawa sepeser pun hartanya, kecuali pakaian dan barang peninggalan ibunya.”
Prang!
Ali dan kedua istrinya terperangah mendengar nampan jatuh ke lantai. Lelaki itu langsung berdiri menghampiri pembantunya, yang lemas.
Mungkin saja karena mendengar ucapan sang majikan.
“Bapak, apa yang Bibik dengar ta-tadi salahkan?” tanyanya di tengah rangkulan sang majikan.
“Bibik minum dulu ya?” ujar Ali menerima segelas air dari Meisya.
Lelaki itu membantu pembantunya untuk minum. Kemudian meminta bik Tin untuk duduk bergabung dengan istri-istrinya.
Ali pun lantas menjelaskan alasan mengenai perpisahannya dengan kedua istrinya. Jujur saja bik Tin menyayangkan keputusan itu. Akan tetapi ia juga tidak memiliki hak untuk berkomentar.
Baginya apa yang menjadi keputusan Ali, harus ia hargai. Meskipun sekali lagi, ia benar-benar menyayangkan jika sang majikan bercerai.
Paruh baya tua itu memikirkan nasib majikannya yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.
Malam itu Ali dihadapkan dengan air mata tiga perempuan, yang selalu bersamanya setiap harinya. Ia mengelus pundak bik Tin yang tersedu-sedu di sampingnya.
“Sudah, mending bik Tin do’akan yang baik-baik saja untuk kita semua.”
“Bibik selalu doakan keluarga Bapak, agar diberi kebaikan, hiks!”
Melihat kasih sayang antara bik Tin dan sang suami. Meisya jadi teringat kejadian awal saat ia menjadi penghuni rumah ini. Kedua orang itu sudah seperti anak dan ibu. Ali begitu menghormati bik Tin seperti orang tua sendiri. Dan bik Tin yang mengenal Ali seperti ibu kandung mengenal anaknya.
“Oke kita lanjutkan ... pembahasan ini!” ucap Ali kembali duduk tegak.
“Harta gono-gini, dihitung setelah akad berlangsung! Terkecuali rumah berlantai tiga, yang dibangun sebelum menikah oleh Mahbub Ali Al-Rasyid. Telah diperkenankan untuk Meisya Alqanaah!” ujarnya membacakan isi kedua perjanjian pranikah.
Kedua istrinya mendengar dengan sesama. Masih dalam kesedihan.
Malam itu harta menjadi tidak berharga bagi Meisya. Awalnya ia tidak setuju dengan perjanjian pranikah yang Ali buat, sebab itu menguntungkan salah satu pihak yaitu pihaknya. Dan merugikan pihak suaminya. Hampir satu Minggu lamanya ia meminta suaminya untuk mengganti perjanjian. Namun Ali tetap dalam pendirian gilanya.
“Pada bulan Juni tahun ini, ada perubahan perjanjian! Dimana nafkah yang saya berikan pada Meisya. Lima tahun lalu, sebesar 99%. Menjadi setengahnya karena Mahbub Ali Al-Rasyid telah mempersunting Wan Aina!”
Ali menghela nafas panjang sebelum kembali melanjutkannya lagi.
“Rumah dua lantai yang ditinggali oleh Wan Aina, dibeli pasca menikah dengan Meisya. Itu berarti rumah dua lantai masuk gono-gini miliki saya dan Meisya!” Ali membasahi mulutnya, melirik kearah Wan Aina yang duduk di seberangnya.
__ADS_1
“Sekarang, saya tanya ...kamu mau jual rumah minimalis itu berapa?” tanya Ali memandang Meisya.
“75% uang untuk membeli rumah minimalis adalah milikmu!” Meisya menimpali.
“Iya benar, akan tetapi sesuai perjanjian itu telah menjadi milik kita! Kalau kamu berkenan, aku ingin membelinya untuk Aina!”
“Tidak Mas, aku tidak perlu. Aku tahu aku hanya membawa raga saja. Jadi jangan pikirkan itu,” tolak Wan Aina tahu diri.
Ali menggeleng dan berkata, “Kau berhak mendapatkan harta saya Aina. Bagaimanapun kamu juga sudah merawat saya dengan baik!” Tersenyum simpul.
“Begini saja, mending perjanjian pranikah dibatalkan. Kita bagi 2 Bib ...eh Kak ...eh Bib emmm!” Meisya menepuk mulutnya yang plinplan. Saat memanggil lelaki berkemeja hitam itu.
Mendengar hal itu hati Ali berdenyut. Sepertinya panggilan Habib itu akan kembali ke kakak. Ali menghela nafas berat.
“Dengan itu, kamu bisa memberikan hak pada Aina!”
“Tidak!” tolak Ali mentah-mentah.
Membuat ruang hening selama lima menitan.
“Begini saja, biar mudah kamu jual rumah minimalis itu berapa? Kalau boleh aku beli? Namun jika tidak aku terpaksa mencari rumah baru untuk Aina!”
Meisya mendesis, karena cara berpikir Ali.
“Sudah begini saja, ini rumahmu dan kau sendiri yang bangun. Anggap saja 750 juta! Sedangkan rumah dua lantai yang kita beli tahun lalu, 245 juta! Dalam perjanjian pranikah, kamu telah memberikan rumah ini padaku dengan cuma-cuma! Untuk memenuhi janji itu, aku ambil rumah ini! Dan sudah jadi hak Aina sebagai istrimu juga mendapatkan sepertiga hartamu! Maka rumah minimalis itu menjadi milik Aina! Aku mendapat 77,5% atas rumah tiga lantai ini. Sedangkan Wan Aina mendapat 22,5% . Berupa rumah yang ia tinggali. Jadi kita mendapatkan harta darimu cuma-cuma.”
“Tinggal kamu mau ngasih tambahan apa ke Aina!”
Dengan berat hati Ali pun menerima, usulan Meisya. Mereka bertiga menandatangani perjanjian yang diambil.
“Aina, besok pagi kita ketemu di showroom mobil! Kamu bisa milih mobil seperti miliknya,” lirik Ali kearah Meisya.
“Tidak perlu Mas, apa yang Mas berikan sudah cukup!” tuturnya berdiri di depan rumah Meisya.
“Besok saya sharelock!”
“Dan untuk kamu” Tunjuknya pada Meisya.
“Besok sore, saya antar kamu pulang ke rumah Abah! Untuk dikembalikan, dulu ayah saya meminta dengan baik! Dan sudah kewajiban saya mengembalikan dengan rasa hormat!” ucapnya segera menarik dua koper ke mobil. Untuk menghindari percakapan dengan Meisya.
Lelaki itu tidak kuat menahan kesedihannya. Jika teringat perpisahannya dengan Meisya.
Ali segera memasukkan koper ke bagasi. Meisya dan Wan Aina juga gerak cepat membantu sang suami mengambil tiga koper lagi.
Lelaki itu segera menutup bagasi setelah mengucapkan terima kasih dengan kecanggungan yang hakiki.
__ADS_1
Ia segera membuka pintu mobil, rasanya ragu untuk segera masuk. Ada beberapa hal seolah menariknya untuk kembali. Lelaki itu menoleh ke belakang, dua perempuan itu sedang menatapnya. Ali lantas berbalik arah menghampiri keduanya. Saat berada di depan Meisya dan Wan Aina, ia tak bisa jika tidak memeluk salah satunya.
Mata Meisya membulat sempurna ketika lelaki, yang entah masih berstatus suami atau tidak memeluknya erat.
Melihat hal itu Wan Aina yang berdiri di samping Meisya melengos. Dengan mata berkaca-kaca.
Dari situ ia tahu, jika kedua pasangan itu saling mencintai satu sama lain.
Ali terus mengusap punggung Meisya, dia menikmati pelukan istri pertamanya, yang selalu mengusik ketenangannya ketika ia sendirian.
“Lanjutkan kehidupanmu ... aku berdoa semoga kau dipertemukan dengan orang yang baik. Jangan bersikap terlalu baik, boleh jadi itu awal dari kehancuran. Sesekali kamu harus egois untuk menjadikan milikmu, selalu dalam genggamanmu!” bisiknya tak kuasa menahan air matanya.
Perlahan tangan Meisya terangkat, membalas pelukan suaminya. Perempuan itu menangis mendengar nasihat tersirat dari suaminya, kalimatnya seperti menyindir keadaan yang terjadi sekarang. Dimana asal-muasalnya terjadi karena kebaikannya merelakan suaminya menikah kembali.
“Aku minta maaf ... dan aku berdoa. Semoga kau diperkenankan bertemu dengan perempuan hebat, yang memahamimu dengan baik! Siapapun orang yang bertemu denganmu mereka beruntung! Aku yakin itu....”
Pelukan itu membuat mereka larut dalam perpisahan cinta. Mereka harus melepaskan, karena beberapa alasan. Ali segera mengusap air matanya, dan melerai pelukannya.
Lelaki itu memeluk tubuh Wan Aina, namun tak seemosional saat dengan Meisya.
“Apa ini arti perkataanmu dulu Mas?” tanya disela pelukan.
“Apa?”
“Kamu milikku yang harus tetapku jaga?”
Ali tersenyum mendengarnya, karena ucapan Wan Aina benar.
“Mas tidak ingin menghancurkan masa depanmu, katanya mau cari kerjaan sambil lanjutin S2!”
“Terima kasih atas canda tawa yang pernah kau beri. Mas minta maaf, jika selalu menyakiti perasaan Aina!”
“Bapak, jangan tinggalkan Bibi!” teriakan itu membuat Ali meleraikan pelukannya.
Ali hanya geleng-geleng kepala, melihat pembantunya lari membawa tas berisi pakaian.
“Bibi mau kemana?” tanya Ali santai.
“Mau ikut Bapak kemanapun!” jawabnya dengan nafas tersengal-sengal.
“Bik, dengarkan Ali! Untuk saat ini saya tidak tahu saya akan tinggal di mana. Saran Ali, mendingan Bibi tetap tinggal bersama Eisya! Ali janji suatu saat nanti, jika saya sudah memiliki tempat tinggal sendiri! Saya akan mencari Bibi kemari, untuk tinggal dengan saya!”
“Ini janji seorang anak lelaki pada, wanita paruh baya yang sudah ia anggap sebagai ibu!” Ali memegang tangan paruh baya itu penuh keyakinan. Sorot matanya terlihat melembut.
Mata paruh baya itu berkaca, dan mengelus rambut majikannya bak putranya sendiri.
__ADS_1
TBC...