Kau Rela Ku Lepas

Kau Rela Ku Lepas
Ch29 : Pikirkan Konsekuensi


__ADS_3

Beberapa Minggu yang lalu, Ali datang kembali ke Banten menjemput Meisya. Permasalahannya dengan Wan Aina, telah selesai detik itu juga.


Semua berjalan dengan lancar.


Akan tetapi Minggu ke empat , setelah pulang dari Banten. Permasalahan-permasalahan mulai muncul kembali.


Seperti malam ini. Saat dia bersama dengan istri mudanya.


“Mas, aku sudah siap melakukan kewajibanku sebagai seorang istri,” ujar Wan Aina menunduk dalam.


Set ... Seketika Ali menginjak rem yang membuat mobilnya berhenti mendadak. Hingga membuat tubuh Wan Aina terjerembab ke depan, keningnya membentur dasboard.


Gadis itu mendesis kesakitan. Namun suaminya malah terdiam dengan tatapan kosong.


“Mas, kau kenapa?” tanya Wan Aina menarik lengan suaminya.


Ali diam, sepertinya lelaki itu. Terkejut dengan ucapan istrinya. Jujur saja ia bahagia, saat istri mudanya belum siap disentuh olehnya. Namun malam ini semua rasa aman yang pernah ada itu hilang.


“Mas....”


“I-iya ada apa?” tanya Ali menatap Wan Aina.


“Ada apa ...ada apa? Kamu yang kenapa tiba-tiba ngerem mendadak ...kau tahu tidak ... karena kau mengerem mendadak mobil di belakang. Ngamuk dan terus menyalakan klakson....”


Wan Aina menoleh ke belakang.


Benar saja, seorang lelaki berkulit hitam, mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil. Dan berteriak, “Anjing ... kenapa berhenti tiba-tiba. Matamu buta ... Cepat jalan Njing....!” Teriakan dari belakang terdengar ditelinga Ali.


Membuat lelaki itu segera tancap gas. Jangan sampai orang meneriakinya keluar, dan menggedor pintu mobilnya.


Di perjalanan pulang kali ini, Ali lebih banyak diam. Bahkan tak ada niatan untuk bertanya, mengenai kesiapan Wan Aina. Untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.


Stelah sampai di rumah ia langsung merebahkan tubuhnya ke kasur. Berusaha memejamkan matanya, untuk melupakan ucapan Wan Aina tadi saat di mobil.


“Mas ...mas lihat deh?”


Matanya yang tadi terpejam, seketika ia buka, saat istrinya memanggilnya. Dan betapa terkejutnya ia, mendapati istrinya sedang berputar-putar mengenakan pakaian kurang bahan itu.


Ali mengusap wajahnya kasar. Cobaan macam apa ini, ada nafsu yang bergejolak. Namun ada pula sesuatu, yang berusaha menahan dirinya. Entah apa ia tidak tahu.


Apa itu semacam ego. Atau mungkin benteng pertahanan yang telah ia bangun, tanpa sadar.


“Kamu dapat baju seperti itu dari mana?”


Lelaki itu kembali membaringkan tubuhnya.


“Ya tadi saat di mall, aku beli,” sahut Wan Aina mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


Melihat reaksi suaminya terlihat biasa saja. Dan kini lelaki itu, justru menggulung tubuhnya dengan selimut. Membuatnya kesal.


“Ganti baju gih ... nanti kamu kedinginan. Inikan musim penghujan,” saran Ali berharap tak menyinggung perasaan istrinya.


Baginya apa yang dilakukan oleh Wan Aina itu hal yang mulia. Dimana seorang istri berusaha menyenangkan hati suami. Ia menghargai itu, akan tetapi. Untuk saat ini, ia memang belum bisa menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami dari Wan Aina.


Alasannya terlalu kompleks.


“Kenapa ... kenapa gitu? Apa bajunya jelek ... atau tidak pantas dengan tubuhku?” ujarnya dengan suara bergetar.


Ali yang berada di bawah selimut, menghela nafas berat. Malam ini ia harus memberikan pengertian kepada istrinya. Cepat ia menyibak selimut, dan duduk bersila.


“Duduk di sini,” ujarnya menepuk ranjang supaya istrinya mendekat.


Gadis itu hanya menurut, dan duduk di depannya.


Ali melengos saat melihat bagian tubuh istrinya yang memorak-porandakan imannya.


“Kau tahu bagaimana pendapat saya tentang pakaian yang kau kenakan?”


Istrinya menggeleng.


“Jika saya mengatakan, saya tertarik dan saya tidak bisa menahan hasrat. Apa kau percaya?”


Lelaki itu terlihat menahan sesuatu yang begitu menyiksanya. Sekali lagi dia berhasrat, tapi alam bawah sadar menahannya.


“Jangan tertawa,” ujar Wan Aina mengusap wajah suaminya.


Seketika Ali terdiam. Perlahan lelaki itu menarik kedua tangan istrinya. Digenggamlah tangan istrinya erat.


Mata keduanya bersilobok. Tiga bulan menikah membuat keduanya tak canggung lagi, untuk saling menatap.


“Aina tadi mengatakan siap melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, apa itu benar?”


Gadis itu mengangguk malu. Ali tersenyum melihatnya.


“Seandainya nih ...malam ini saya meminta hak itu. Apa Aina akan memberikan?” tanyanya lagi.


“Ya itu kewajibanku ... bahkan aku menyesal. Karena aku tidak langsung siap melakukan kewajiban itu. Katanya kalau nolak enggak boleh,” cicit Wan Aina.


Ali mengangguk kagum, namun kekaguman itu. Tak lantas membuatnya terbuai untuk melakukan aktivitas suami-istri.


“Okey... Aina siap melakukan hubungan dengan Mas! Pertanyaan Mas satu. Aina siap enggak menerima konsekuensi, pergulatan malam ini dikemudian hari?”


“Maksudnya?” Dahi Wan Aina berkerut, sepertinya tidak paham.


Maka sudah seharusnya ia memahamkan.

__ADS_1


“Ya kalau kita melakukan hubungan suami-istri, malam ini. Ada dua kemungkinan langsung jadi atau enggak. Nah sekarang kamu siap enggak seandainya. Janinmu berhasil dibuahi. Otomatis Aina akan jadi Ibu dalam kurun waktu sembilan bulan?”


Pertanyaan Ali berhasil membuat Wan Aina terdiam. Pikiran-pikiran tentang, morning sickness, perut membesar yang membuat seseorang susah bergerak. Sakitnya melahirkan, waktu tidur berkurang karena bayinya menangis. Semua itu berputar, Wan Aina bertanya kepada dirinya sendiri.


Apakah ia siap melewati fase-fase itu?


Apakah dia mampu, menjadi seorang ibu?


Dimana tanggung jawabnya begitu besar. Salah satu syarat menjadi ibu adalah memiliki kesabaran.


Dan gadis itu sadar, jika dirinya masih belum bisa meregulasi emosi. Jangan sampai, hal ini berdampak pada anak-anaknya.


“Apa salahnya, kitakan hanya melakukannya sekali. Tidak mungkin juga langsung hamil,” cicitnya.


Ia penasaran bagaimana rasanya. Melakukan hubungan intim. Mengingat setiap novel yang dibaca, membuatnya berfantasi dan ingin mencobanya.


Terkadang sesuatu yang kita tulis bisa mengajarkan. Sebuah kebaikan dan kesejahteraan. Namun adakalanya apa yang kita tulis, menjadi petaka bagi semua orang. Terlebih lagi apa yang telah kita tulis. Boleh jadi akan dimintai pertanggung jawabannya kelak.


“Masalahnya ...dampak tindakan kebetulan ... itu jauh lebih besar ... ketimbang kita sengaja melakukannya dan di briefing.”


“Misal nih ...kamukamu pernah membaca sebuah artikel. Atau kehidupan seseorang di sekitar kita. Kayak si A, yang belum menikah. Atau yang sudah menikah, yang belum menginginkan kehadiran seorang bayi. Akan tetapi mereka dengan mudahnya mendapatkan bayi. Padahal saat proses pembuatan. Mereka tidak mengharapkannya.”


“Lain halnya dengan seseorang yang sudah menikah lama. Apa pun ia lakukan untuk mendapatkan momongan. Namun nyatanya, belum diberikan. Meskipun sudah berusaha sekuat tenaga.”


Hatinya berdenyut, ini yang dirasakan lima tahun ke belakang. Ketika seorang bertanya kepadanya, kapan punya momongan.


“Jadi dari sini, saya memahami bahwa. Enggak semua yang kita usahakan, bisa kita dapatkan loh. Namun bukan berarti, kita akan gagal mencapai hal-hal lain yang sudah kita perjuangkan.”


“Tapi Mas, bagaimanapun aku sebagai istri. Harus ngikuti apa keinginan suami. Mas ingin punya keturunan kan? Jadi aku harus siap, mengabulkan permintaanmu.” Wan Aina menatap wajah suaminya.


“Jika kamu ‘harus' siap melakukan apa pun untuk suami. Maka saya sebagai suami, lebih memikirkan kesiapan mental istri saya. Menjadi seorang ibu ...saya tidak mau memaksa.”


“Ya sudah kalau begitu, besok kita beli pil kontrasepsi. Buat jaga-jaga.”


Ali hanya mampu tersenyum dan mengangguk. Melihat istri mudanya yang begitu antusias untuk me-prepare semua.


Wan Aina memejamkan mata saat Ali mencium keningnya. Ia bahagia, setelah perdebatan beberapa Minggu yang lalu. Suaminya terlihat lebih care padanya.


“Saya tidak bisa membayangkan, jika kita melakukan hubungan suami-istri malam ini. Dampaknya akan lebih besar ketimbang perkiraan kita,” bisiknya.


“Maksudnya?”


“Perkiraan kita satu, enggak tahunya tiga.”


Malam itu Ali menolak tanpa menyinggung perasaan istrinya. Dan dari situ. Ia belajar tentang pentingnya memikirkan konsekuensi sebelum mengambil keputusan.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2