Kau Rela Ku Lepas

Kau Rela Ku Lepas
Ch27 : Pertengkaran Virtual


__ADS_3

Ponsel yang tergeletak di atas kasur itu berkali-kali mendengking.


Bertepatan dengan itu, pintu kamar mandi terbuka. Ali bergegas mengambil ponselnya.


“Aina?” gumamnya.


Setelah pulang dari meeting di Bintaro, ia dan Aidin tak langsung pulang ke Jakarta.


Mereka memutuskan menginap di hotel sebab ban mengalami kebocoran. Terlebih lagi keluar dari perusahaan Home Di Home. Jam kantor telah selesai.


Ia pun menyarankan untuk menginap semalam di hotel. Mengingat energi Aidin mulai terkuras. Karena melakukan meeting dadakan bersama team work. Semalam sebelum perform di perusahaan pak Artono.


Aviary Hotel Bintaro. Malam itu membuatnya tertidur pulas. Tidak ada jadwal terbangun di sepertiga malam.


Hingga jam enam empat lima, mereka kembali ke perusahaan. Mengambil beberapa dokumen, yang akan dibahas di Bandung.


Pukul sebelas Ali dan Aidin kembali melakukan dinas, hingga pukul tiga sore. Hujan deras membuat keduanya terjebak.


“Ngalamat ... enggak mungkin kita ke Jakarta kalau hujannya segede ini.”


“Jadi mau gimana?” tanya Ali yang kala itu duduk di balik kemudi.


“Badanku remuk, gara-gara. Tempat meetingnya jauh-jauh ... Anjirrrr mau enggak mau, kita harus boking hotel untuk semalam lagi,” gerutu Aidin menghempaskan kepalanya ke kursi.


“Tapi ini masih jam tiga, jam kantor masih dua jam lagi.”

__ADS_1


“Sama aja kita sampai kantor karyawan sudah bubar. Atau malah hanya satpam saja.”


...***...


Ali segera mengangkat telepon dari istrinya.


“Iya, Assalammu’alaikum!” jawabnya seraya duduk di ranjang.


“Mas ... kenapa enggak ngabarin aku. Kalau kamu ada di Jakarta!” omel Aina hingga tak menjawab salamnya.


'Darimana bocah ini tahu, kalau hari Selasa aku sudah di Jakarta' batin Ali.


Mengingat jika ponselnya baru saja, aktif kembali. Setelah sehari semalam mati, karena habis baterai. Ali tak sempat mengisi daya, saat menginap di hotel Bintaro. Ponselnya kembali terisi 37% saat berada di kantor. Kebetulan hanya charger milik Miranda yang cocok dengan tipe ponselnya.


“Jawab dulu salamnya, saya mendoakan keselamatan untukmu. Masak enggak di balas....”


“Jawab dulu pertanyaanku, kamu itu bikin aku kepikiran. Katanya mbak Meisya ... kamu sudah berangkat sejak hari Selasa. Tapi kenapa enggak pulang?”


“Saya ada kerjaan yang tidak bisa di tinggalkan,” jelasnya enteng.


“Iya tapi kenapa enggak ngabarin aku ...kalau kamu ada di Jakarta! Mbak Meisya telepon ke aku, Rabu malam. Menanyakan keberadaanmu. Tentu saja aku terkejut ...dan harus memutar otak. Untuk menutupi kesalahan yang kau buat....”


“Tidak mungkin aku bilang, jika kau tidak pulang ke rumah. Bisa-bisa kau memarahiku karena membuat perempuan yang kau cintai kepikiran, tentang keadaanmu,” sindir Wan Aina.


Membuat Ali tertusuk oleh ucapannya. Ternyata wanita itu tipikal, memaafkan bukan berarti melupakan.

__ADS_1


“Atau memang jangan-jangan. Kau tidak menganggapku sebagai istri. Oleh sebab itu, tidak penting bagimu ...memberikan kabar padaku.”


Saat Ali ingin angkat bicara, suara istri mudanya kembali terdengar.


“Iya kan? Buktinya saja, aku menelepon kau tidak mengangkatnya,” katanya terdengar menahan tangis.


Ali mengeratkan giginya, rasanya malam ini. Dia tidak butuh mendengar semua tuduhan. Yang istri mudanya lontarkan padanya.


“Hahahaha ... akunya aja terlalu kepdan menganggap diriku sebagai istrimu. Jelas-jelas pernikahan kita bukan atas dasar cinta,” ucap Wan Aina terkekeh getir.


“Sudah bicaranya?” geram Ali dengan suara berat.


Membuat Wan Aina yang ada di sebrang sana merapatkan bibirnya.


“Kau tidak memberikan kesempatan untuk saya menjelaskan. Kau terus saja mengatakan. Saya tidak menganggapmu istri. Saya terlalu mencintai dia ... hingga tak mau jika dia kepikiran. Atau apalah ... terserah apa katamu.”


“Sebab kamu tidak pernah tahu. Bagaimana rasanya, menjadi saya. Apa kau tahu? Susahnya menempatkan diri sebagai seorang suami dua wanita.”


“Dan apa kau pikir, saya tidak berusaha menjadi suami yang adil.”


“Ketahuilan saya sadar, jika saya terlalu mencintainya. Saya juga tahu, perasaan kamu yang tersakiti oleh kebenaran ini.”


“Tapi saya juga mau, kamu tahu. Jika selama saya menikahimu ...Saya ingin bisa adil, bukan hanya itu....”


“Saya juga berusaha menyayangimu, mengimbangimu. Istilah dari segi usia. Kita beda jauh. Saya berusaha mencari cara yang pas, menjadi suami anak muda masa kini. Karena saya tahu, karakter Ali suaminya Eisya. Tidak cocok dengan karakter Ali suaminya Aina, pun sebaliknya. Saya masih berusaha menepatkan diri saya, dari titik A ke titik B. Dan itu konstan ... bahkan jika saya salah menepatkan diri saya. Saya menyakiti semuanya.” Ali mengusap wajahnya kasar.

__ADS_1


“Tapi kau tidak tahu itu kan? Kau hanya bisa menuntut dan menuntut....” tegas Ali kesal. Lelaki itu langsung memutuskan sambungnya tanpa pamit kepada istri mudanya.


TBC....


__ADS_2