
Kesalah kembali lagi dilakukan Ali. Dengan konteks yang berbeda. Jika sebelumnya atas kesadaran. Maka untuk hari itu kesalahan terjadi dari alam bawah sadar.
Gadis yang terlelap menghadap suaminya. Samar-samar telinganya mendengar orang bergumam tidak jelas.
“Istri, aku minta maaf!”
“Dan kau harus tahu jika aku begitu mencintaimu,” gumam Ali dengan mata tertutup.
Wan Aina yang merasa terganggu pun menyipitkan matanya, mengumpulkan kesadarannya yang belum kembali sepenuhnya
“Mas Ali, ini kenapa mengigau terus,” gerutunya seraya mengangkat punggungnya.
Melihat keadaan Ali yang tertidur dengan posisi terlentang.
Efek tangan patah lelaki itu harus tertidur bak kapal dilaut.
Perlahan gadis itu meletakan punggung tangannya ke dahi sang suami. “Demam,” cicitnya berangsur duduk, untuk kembali memastikan kondisi suaminya.
Cepat Wan Aina menyingkap selimut dan berlari keluar kamar, untuk mengambil baskom.
Dengan cekatan ia memeras handuk kecil, yang kemudian diletakkan di dahi suaminya. Dengan mata sayu, ia menatap kearah jam dinding.
“Masih jam dua belas,” ujarnya menahan kantuk.
Sudah kali kedua ia memeras handuk untuk mengompres suaminya. Namun kantuknya kali ini benar-benar tak tertahankan, perlahan kelopak mata hitam itu mulai tertutup. Namun saat ingat jika sedang mengompres suaminya, ia kembali terjaga.
“Tidak bisa kubayangkan, jika yang panas ini bayi. Pasti dia akan rewel dan menangis sepanjang malam,” gumamnya pelan, menatap Ali yang mengigil.
“Benar apa katanya, menjadi ibu itu enggak mudah. Apalagi saat anaknya panas, bisa-bisa stress karena cemas.”
Gadis itu raut wajah suaminya, seraya menguap. Ia memutuskan untuk bersandar dikepala ranjang, guna tetap terjaga. Namun nyatanya semua itu tidak berarti, ketika kelopak matanya kembali menutup.
Jarum jam bergerak begitu cepat. Wan Aina mulai membuka matanya kembali. Posisi tidurnya semalam, membuat badannya pegal-pegal.
“Sudah jam empat, bentar lagi subuh.”
Gadis itu segera mengambil handuk yang tersimpan di dahi suaminya.
“Semoga panasnya turun,” harapnya, meletakkan punggung tangannya ke dahi. Dan menurun ke leher.
“Syukurlah kalau lumayan enggak sepanas tadi malam,” katanya ingin turun dari ranjang.
Namun hal itu terurungkan ketika tangannya di tarik.
“Istri aku mencintaimu....”
Gadis itu menoleh. Hatinya berdebar ketika melihat tangannya di pegang suaminya.
“Aku juga mencintaimu Mas!” ujarnya menatap wajah suaminya lekat, yang masih setia tertidur.
“Eisya Al-qanaah jangan tinggalkan aku....” ucapan Ali membuat raut wajah Wan Aina berubah kesal.
Bagaimana tidak, jika ia yang tengah malam terjaga untuk mengompres. Namun nyatanya yang ada dalam pikiran suaminya hanya satu nama saja.
Cemburu sudah pasti.
Gadis itu menghempaskan pergelangan suaminya. Hingga tak sengaja menghantam tangan kanan Ali yang patah.
__ADS_1
Seketika lelaki itu terbangun. Mendesis pelan, berusaha bangkit dari tidurnya.
“Aina tolong bantu saya,” pintanya melirik kearah istrinya yang memunggunginya.
“Minta saja kepada orang yang kau cintai,” suaranya terdengar ketus.
Ali mengerutkan dahi keheranan.
Tampaknya Ali belum sadar dengan apa yang baru saja terjadi.
“Kamu kenapa? Ini masih pagi jangan ketus-ketus atuh Neng geulis,” ujarnya mode on, saat beradaptasi dengan macan betina jutek, ketika baru bangun.
Tidak tahu jika istri mudanya menirukan setiap kalimat yang ia ucapkan, tanpa bersuara.
“Kamu kenapa?” tanya Ali yang duduk di sebelah istrinya.
Namun si empu melengos, tidak mau melihat wajah lelakinya.
“Bilang sama saya,” tukas Ali mengelus rambut istrinya.
“Enggak apa-apa,” ketus Wan Aina menepis tangan sang suami yang membelai rambutnya.
Sekuat tenaga Ali menahan tawa, pagi itu, ia harus beradaptasi menjadi anak SMA, yang membujuk pacarnya karena cemburu.
Maka izinkanlah Ali menjadi Dilan next generation.
“Wanita kalau bilang enggak apa-apa, memiliki arti sebaliknya,” komentarnya.
“Ada apa, ayo katakan.”
Cepat Wan Aina turun dari ranjang. Memasang wajah bersungut-sungut.
Ali menghela nafas, kehidupannya. Sudah tidak bisa lagi dinikmati. Dari hari ke hari, ia mencoba menempatkan dirinya. Sebagai suami dari dua perempuan, dengan sifat yang berbeda.
Tuntutan penempatan diri, tidak cukup dalam hubungan rumah tangga saja. Dalam lingkup yang lebih luas, seperti bersosialisasi dengan rekan kerjanya. Ia juga masih belajar.
Andai saja ia masuk katagori organisme mimikri seperti bunglon. Yang mudah beradaptasi untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungannya.
Mungkin beban pikirannya sedikit berkurang.
Sebab bisa klop, dimana wae jeung iraha wae.
“Kalau kamu enggak bilang yang sejujurnya. Bagaimana saya bisa tahu?” kata Ali menatap punggung istrinya yang mulai menjauh.
“Apa maksud perkataanmu? Meminta bantuan kepada orang yang saya cintai? Berarti enggak ada salahnya dong, kalau saya meminta bantuanmu. Saya kan....”
Belum selesai ia berbicara, terlebih dahulu ia dikejutkan dengan istrinya yang membanting pintu.
“Astagfirullah, mau kamu apa Aina?” gumamnya mengelus dada.
***
Sekalipun seorang istri marah kepada suaminya. Percayalah mereka tidak benar-benar, mencampakkan suaminya.
Perempuan makhluk paling pencemburu itu, tak akan mudah melepaskan tanggung jawabnya. Untuk merawat suaminya.
Begitu pun dengan istri mudanya.
__ADS_1
Gadis itu, tetap memberikan perhatiannya.
Meskipun raut wajahnya masih mengeras menahan amarah.
Ali memandang istrinya lekat, ketika sang empu mengelap tangannya dengan air hangat.
Penuh kehati-hatian.
Tangannya terulur mengelus kepala istrinya.
Namun singa jutek, langsung menggeleng, seolah tak mau disentuh.
“Tangan dikondisikan jika enggak mau aku tekan dengan handuk,” ancamnya terdengar lucu.
Lelaki itu terkekeh, yang membuat wajah Wan Aina cemberut.
“Dokternya kalau galak kayak kamu. Pasiennya akan kabur, jangan jutek.”
Si empu yang dikomentari tak menyahut. Gadis itu mulai membalut tangan suaminya dengan perban.
“Kalau sakit bilang, nanti aku bisa lebih pelan-pelan,” ujarnya mendongak.
“Rasa sakit itu hilang begitu saja. Jika melihat senyummu,” godanya membuat sang istri yang tadi sedang membalut lukanya. Kembali menatapnya.
“Benar?”
Ia mengangguk kecil.
“Baiklah kalau begitu, aku akan menggigit pergelangan tanganmu yang patah ini,” ujar Wan Aina
Gadis itu mulai membuka mulutnya untuk menggigit tangan suaminya. Namun sejurus kemudian sang suami mendorong kepalanya untuk menjauh.
“Jangan macam-macam....”
“Kamu sendiri yang bilang, hanya dengan melihat senyumanku rasa sakit hilang. Ya sudah kita buktikan, jangan sampai menjilat ucapan sendiri,” ketus Wan Aina dengan wajah bersungut-sungut.
“Sini saya jilat pipimu.”
Ali menarik kerah baju Wan Aina agar mendekat.
Gadis itu berteriak kegelian saat merasakan lidah suaminya bermain di pipinya.
Suaminya benar-benar kurang ajar, pikirnya.
“Edan kamu Mas ....” Komentar Wan Aina ketika Ali mendorong tubuhnya hingga ringsek di sudut sofa.
Gadis itu mengusap pipinya kasar. Dan kembali berteriak ketika tubuh suaminya condong kearahnya.
“Apa yang bisa kamu lakukan dengan satu tangan,” Wan Aina tersenyum sinis, menatap tangan Ali yang belum memakai gendongan.
“Oke ...ya, memang saya tidak bisa melakukan apa pun. Tapi kamu bisa.” Tersenyum penuh arti.
Wan Aina tidak paham dengan ucapan suaminya. “Apa maksudnya?”
Ali mendekatkan bibirnya ke telinga istrinya. Lelaki itu berbisik, yang membuat wajah Wan Aina menggeram.
TBC...
__ADS_1