Kau Rela Ku Lepas

Kau Rela Ku Lepas
Ch19 : Andai


__ADS_3

Setelah melaksanakan sholat Jum’at bersama dengan para sahabatnya. Ali memutuskan untuk makan di kafe, terletak tak jauh dari kantor. Hanya butuh lima menit untuk sampai ke kafe dengan jalan kaki.


Lelaki itu memesan beberapa makanan, sedangkan ketiga sahabatnya sibuk dengan ponselnya masing-masing.


“Lu benar mau cuti?” Arfa membuka pembicaraan sambil meletakkan ponsel ke meja. Bersamaan dengan pesanan datang.


“Hmm!” jawabnya, memasukkan ponselnya kembali ke saku . Setelah mengirimkan pesan pada Wan Aina.


“Berapa hari? Kita harus segera menyelesaikan proposal teknis jalan!” sahut Aidin mengebu-gebu tak terima.


“Harusnya sebagai satu tim itu bisa solit,” tukas Aidin kembali.


“Nah iya, harusnya lu memberi tahu orang yang seteam lu lah. Sebelum ambil cuti,” timpal Sean melirik kearahnya.


“Heran, dengan pikiran lu pada. Saya hanya cuti sehari doang.“


“Kemarin istri dapat kabar jika neneknya sedang sakit. Oleh karena itu setelah pulang kerja. Kita langsung otw,” jelasnya memasukkan makanan ke dalam mulut.


“Istri yang mana nih?” Pertanyaan Sean mampu menghentikan aktivitasnya yang sedang mengunyah. Setelah menikah kembali sahabatnya suka sekali menggodanya.


“Pakai tanya segala pasti Meisya lah,” celetuk Arfa yang membuat Aidin tersenyum kearah Ali penuh arti.


“Kenapa sih lu, enggak pernah nyebut Mei dengan nama saja?” tanya Arfa penasaran, dari zaman Ali menikah hingga sekarang. Ia tak pernah mendengar sahabatnya memanggil. Perempuan berniqab itu hanya dengan nama saja.


“Ya kan memang dia istriku, enggak ada salahnya kan?” jawabnya menyungging senyum, untuk mengejek Aidin.


“Ya deh Bang, yang punya istri sah-sah aja. Tapi enggak usah mengejek yang jomblo, ya kan Fa?” Lirik Aidin kearah duda satu anak di hadapannya.


“Lah kalau saya, jomblo memang ada sebabnya. Lah lu Ki sebabnya apa?” sinis Arfa.


“Se-sebabnya terlalu Ba-banyak,” ledek Sean, membuat kedua sahabatnya tertawa.


Aidin tersenyum kecut.


“Alasan dibalik lu enggak manggil nama Mei kenapa ?”


Dimata Sean, Ali adalah lelaki yang tidak neko-neko. Lelaki yang memiliki umur sepuluh tahun lebih muda darinya, begitu menghormati Meisya, dan mungkin saja bisa dijadikan sebagai panutan menjadi suami yang baik. Di kalangan teman-temannya.


“Tidak ada yang sepesial. Hanya saja saya ingin berbeda dari yang lain. Istilah yang bisa memanggil dengan kata sapaan itu hanya saya. Ibunya aja enggak akan memanggilnya seperti itu,” jelas Ali.


“Jelas! Orang ibunya kalau manggil Nak, Nduk, Ning!” kesal Aidin.

__ADS_1


“Nah itulah sebabnya saya memanggil istri. Kalau saya kasih panggilan Mawar, Zahra, atau apalah. Jelas semua kalangan bisa mengikuti. Dari orang tuanya sendiri hingga saudaranya. Yang lebih parahnya kalian juga bisa ngikut manggil dia Mawar. Enggak lucu dong!”


“Andai saja dulu saya sadar lebih cepat. Pasti saya tidak akan menyesal karena, kehilangan dia saat melahirkan buah hati kami,” sahut Arfa menunduk. Mengingat mendiang istrinya.


Ali dan kedua temannya hanya bisa menghela nafas. Simpati dengan keadaan Arfa.


Lelaki itu teringat, kejadian dimana Arfa curhat padanya. Jika setelah menikah hampir lima bulan, Arfa tak pernah menyentuh Magda. Arfa mengatakan tidak memiliki hasrat pada Magda. Ia sempat tak percaya dengan perkataan sahabatnya itu.


Namun sekarang ia percaya. Sebab merasakan hal itu sendiri pada Wan Aina.


Istri keduanya memang lebih berisi, wajahnya masih segar. Namun hal itu tak lantas membangkitkan gairahnya. Ini terdengar abnormal, akan tetapi dalam kehidupan nyata hal ini ada.


“Sudahlah toh di akhir hidupnya, kamu juga berusaha menjadi suami yang baik. Jangan nyesel terurus, nanti Aidin juga ngikut nyesel karena enggak kawin-mawin.” Sean mengalihkan pembicaraan, yang membuat sahabatnya tertawa. Memporak-poranda kesedihan duda satu anak itu.


“Nasweb ...nasweb setiap kali kita ngumpul. Status saya selalu menjadi obat pelipur lara....” kesal Aidin memasukkan makanan dengan cepat.


“Dahlah Bang, gini saja. Senin kan cuti, bisa enggak itu dijadikan waktu. Untuk mencarikan calon bini.”


Ali lantas menggeleng cepat, tak sudi mengambil tanggung jawab yang baru Aidin berikan padanya.


Hal itu membuat kedua temannya kembali terkekeh.


“Wajah tampan tidak bisa memerdekakan kehidupan ya Aidin ini....” cetusnya mengangkat tangannya memanggil pelayan.


Stelah makan siang ketiga lelaki kembali ke kantor. Sedangkan Sean kembali ke kantornya yang terletak tidak jauh dari TAW.


“Saya perlu approval dan tanda tangan pak Dirut! Mengenai proyek yang baru saja tadi di bahas,” kata Miranda berdiri dari duduknya. Dan map biru ditangannya.


Mendengar hal itu Ali lantas berdiri dari duduknya. “Biar saya saja yang menemui beliau,” tegasnya penuh rasa percaya.


Setelah pertengkaran di rumah Wan Aina. Ali memang belum sempat bertemu dengan ayahnya kembali.


“Benar Pak?” tanya Miranda serius.


Lelaki itu mengangguk seraya meminta map biru dari rekan kerjanya. Dengan langkah lebar, ia masuk ke dalam lift.


Berdiri di depan pintu direktur utama. Membuatnya menarik nafas dalam-dalam.


Tok ... Cukup satu ketukkan ia sudah mendengar jawaban seseorang dari dalam ruangan.


Lelaki itu pun langsung membuka pintu ruangan atasannya.

__ADS_1


“Siang Pak!” sapanya menyembulkan kepalanya.


Mendengar suara femiliar yang sudah berminggu-minggu tak di dengar. Seketika membuat Brahmanta mendongak. Putra semata wayangnya mengulum senyuman padanya. Namun senyuman itu bukan dari anak untuk ayah. Melainkan dari seorang pegawai kepada atasan.


Brahmanta menghela nafas berat, sebelum akhirnya menyuruh karyawannya masuk.


“Begini Pak tujuan saya kemari, ingin menjelaskan proyek yang tadi dibahas.”


Brahmanta melirik kearah lelaki yang mengenakan kemeja tosca. Yang tengah menjelaskan proyek yang akan segera digarap. Senyuman samar terlihat di bibir paruh baya itu. Melihat putranya yang selalu totalitas saat bekerja.


“Jika Anda setuju dengan proyek ini. Pak Dirut bisa menandatanganinya. Akan tetapi, jika Anda ingin mempelajarinya kembali. Itu jauh lebih bagus.” Ali menutup pembahasan mengenai proyek.


Brahmanta langsung mengalihkan pandangannya. Tatkala matanya bersilobok dengan putranya.


Melihat hal itu Ali beranggapan. Jika sang ayah masih kesal.


“Ya, nanti saya akan pelajari lagi. Kau boleh pergi sekarang.”


Namun putra semata wayangnya bergeming.


Membuat paruh baya itu mengerutkan keningnya.


“Ada apa?” Nadanya kian berubah seperti seorang ayah yang bertanya kepada anaknya.


“Li!” panggilnya ketika putranya diam.


“Ali minta maaf, atas perbuatan Minggu lalu,” ujarnya tertunduk penuh penyesalan.


Ruangan seketika hening. Sepasang anak dan ayah itu larut dalam pikirannya masing-masing. Jujur saja berhari-hari Brahmanta menunggu kedatangan putranya.


Meminta maaf padanya.


Tampaknya lelaki paruh baya itu. Mengenal betul bagaimana sifat putarnya, yang begitu menghargainya.


Bahkan Brahmanta bisa memastikan, jika sedikit saja ia memberikan perhatian ke putranya. Dia yakin sang putra akan jauh menghargai dirinya, atau justru akan bucin padanya. Namun semua itu hanya angan.


Karena ia tahu, hal itu tidak akan terjadi sebab ulahnya sendiri.


“Ali tidak bermaksud mengusir Ayah kala itu. Apa yang aku lakukan, itu untuk kebaikan bersama. Ayah pasti paham maksudnya.”


Tentu saja lelaki paruh baya itu mengerti. Alasan ia mengusir, bertujuan. Supaya ia tak melakukan hal yang menyakiti jiwa ayahnya.

__ADS_1


TBC...


Andai disini mengandung penyesalan. Baik perilaku Brahmanta terhadap Ali, pun sebaliknya. Dan Arfa yang menyesali masa lalunya.


__ADS_2